Indonesia taklukkan Sri Lanka 5-0 penyisihan Asia Mixed Team 2019

Jakarta (ANTARA) – Tim bulu tangkis Indonesia berhasil menyapu bersih kemenangan atas Sri Lanka dengan skor 5-0 di babak penyisihan pertama grup C kejuaraan Badminton Asia Mixed Team 2019 yang diselenggarakan di Hong Kong.

Dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org, pada laga perdana yang berlangsung pada Selasa (19/3) itu, lima sektor perwakilan Indonesia masing-masing menyumbangkan poin kemenangan bagi Tim Merah Putih.

Poin pertama disumbangkan oleh pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow yang sukses mengalahkan Sachin Dias/Thilini Pramodika Hendahewa dalam dua gim dengan skor 24-22 dan 21-15.

Poin kedua dihasilkan dari sektor tunggal putra yang diwakilkan oleh Ihsan Maulana Mustofa usai mengalahkan Dinuka Karunaratna dalam dua gim dengan perolehan angka 21-9 dan 21-14.

Poin ketiga diberikan melalui penampilan pasangan ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Frengky Wijaya Putra yang sukses menumbangkan Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka dalam dua gim dengan skor 21-8 dan 21-17.

Selanjutnya, poin ke-empat dimenangkan oleh pemain tunggal putri Fitriani dengan mengalahkan Dilmi Dias dalam dua gim dengan skor 21-15 dan 21-6.

Terakhir, sebagai penutup kemenangan Tim Garuda, poin kelima yang diperoleh dari sektor ganda putri melalui penampilan Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta melawan Thilini Pramodika Hendahewa/Kavidi Sirimannage dengan skor 15-21, 21-6 dan 21-11.

Dengan hasil tersebut, Indonesia sementara menduduki posisi pertama di grup C. Tim Garuda akan menjalani laga berikutnya melawan Thailand. Pertandingan tersebut akan berlangsung pada Kamis (21/3).

Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 atau disebut juga Tong Yun Kai Cup 2019 berlangsung mulai 19 hingga 24 Maret 2019 dan bertempat di Stadion Queen Elizabeth, Hong Kong.

Kejuaraan tersebut menggunakan sistem Piala Sudirman yang memainkan lima sektor. Babak penyisihan grup akan meloloskan dua negara yang kemudian akan diundi pada babak perempat final.

Terdapat empat grup dalam kejuaraan tersebut. Grup A terdiri dari Jepang dan Hong Kong. Grup B terdiri dari Taiwan, India dan Singapura. Grup C terdiri dari Indonesia, Thailand dan Sri Lanka. Grup D terdiri dari China, Malaysia dan Makau.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susy puas dengan permainan timnas di penyisihan Asia Championship

Jakarta (ANTARA) – Manajer tim Indonesia Susy Susanti mengaku cukup puas dengan permainan timnas di babak penyisihan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 dengan mengantongi keunggulan penuh 5-0 atas Sri Lanka.

“Semua pertandingan hari ini berjalan sesuai prediksi, di atas kertas kami masih unggul. Meskipun masih ada sedikit adaptasi lapangan. Ada menang angin, kalah angin, menjadi kendala sedikit buat pemain kami,” kata Susy melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Selasa malam.

Menurut Susy, laga pertama kali ini masih dimanfaatkan tim Indonesia untuk penyesuaian lapangan.

Selain itu, meski menang telak dari Sri Lanka, namun Susy menilai lawannya tersebut juga sudah bermain dengan cukup baik di babak ini.

“Mereka (timnas) masih coba arahnya mau ke mana dan ada yang belum pas. Ini yang harus diperhatikan buat pertandingan berikutnya. Tapi secara keseluruhan mereka main cukup baik. Sri Lanka tadi juga cukup lumayan penampilannya,” katanya menambahkan.

Poin pertama Indonesia disumbangkan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad-Winny Oktavina Kandow dengan skor 24-22 dan 21-15, atas Sachin Dias-Thilini Pramodika Hendahewa.

Laga ini berlangsung cukup ketat, sebelum akhirnya Tontowi-Winny berhasil mengantongi kemenangan.

Tiga wakil berikutnya berhasil memenangkan pertandingan dengan lebih mudah, seperti Ihsan Maulana Mustofa, Sabar Karyaman Gutama-Frengky Wijaya Putra, dan Fitriani sukses menang dengan skor meyakinkan.

Di partai penutup, ganda putri Della Destiara Haris-Rizki Amelia Pradipta mendapat perlawanan dari pasangan Thilini Pramodika Hendahewa-Kavidi Sirimannage.

Keduanya harus kehilangan game pertama, sebelum akhirnya merebut kemenangan di dua game berikutnya.

Menurut Della dan Rizki, kondisi angin cukup mempengaruhi penampilannya kali ini dengan skor 15-21, 21-6, dan 21-11 yang akhirnya berbuah kemenangan 5-0 untuk Indonesia.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Putri Indonesia kalahkan Sri Lanka pada laga perdana Asia Mixed Team

Jakarta (ANTARA) – Tim putri bulu tangkis Indonesia berhasil mengalahkan tim Sri Lanka pada laga perdana babak penyisihan Grup C kejuaraan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 yang berlangsung di Hong Kong.

Dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org, terdapat dua sektor putri yang menyumbang poin kemenangan untuk Indonesia. Pertama, dari sektor tunggal putri yang diwakilkan oleh Fitriani.

Bermain di partai ke-empat, Fitriani mengalahkan Dilmi Dias dalam dua gim yang berlangsung selama kurang lebih 24 menit dengan skor 21-15 dan 21-6.

Selanjutnya, yaitu sektor ganda putri diwakilkan oleh Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta yang mengalahkan pasangan Thilini Pramodika Hendahewa/Kavidi Sirimannage dalam tiga gim dengan skor 15-21, 21-6 dan 21-11.

Keberhasilan Della/Rizki menyempurnakan kemenangan Tim Merah Putih atas Tim Sri Lanka dalam babak penyisihan Grup C dengan total skor 5-0.

Poin pertama kemenangan Indonesia diberikan oleh pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow. Poin kedua dari tunggal putra Ihsan Maulana Mustofa dan poin ketiga dari ganda putra Sabar Karyaman Gustama/Frengky Wijaya Putra.

Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 atau disebut juga Tong Yun Kai Cup 2019 berlangsung mulai 19 hingga 24 Maret 2019 dan bertempat di Stadion Queen Elizabeth, Hong Kong.

Kejuaraan tersebut menggunakan sistem Piala Sudirman yang memainkan lima sektor. Babak penyisihan grup akan meloloskan dua negara yang kemudian akan diundi pada babak perempat final.

Terdapat empat grup dalam kejuaraan tersebut. Grup A terdiri dari Jepang dan Hong Kong. Grup B terdiri dari Taiwan, India dan Singapura. Grup C terdiri dari Indonesia, Thailand dan Sri Lanka. Grup D terdiri dari China, Malaysia dan Makau.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Permainan cepat Ihsan tumbangkan Karunaratna

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra Ihsan Maulana Mustofa melalui permainan cepat berdurasi 34 menit sukses menumbangkan pemain Sri Lanka Dinuka Karunaratna dengan skor 21-9 dan 21-14.

Pada kemenangan di Queen Elizabeth Stadium, Hong Kong, Selasa, Ihsan menyumbangkan poin kedua untuk Indonesia pada babak penyisihan grup C Badminton Asia Mixed Team Championships 2019.

“Secara keseluruhan ‘feeling’ mainnya sudah dapat tapi belum puas saja, merasa belum all out. Saya sudah coba untuk mengeluarkan permainan, tapi rasanya belum semua keluar. Kalau dilihat tadi lawannya juga lumayan bagus. Tadi juga sempat antisipasi juga. Kalau saya lengah ya lumayan,” kata Ihsan melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Sebelumnya pasangan Tontowi Ahmad-Winny Oktavina Kandow juga sudah merebut poin pertama untuk timnya, sehingga dengan demikian Indonesia sementara unggul 2-0 dari Sri Lanka.

Di babak penyisihan berikutnya Indonesia akan berhadapan dengan Thailand.

Jika diturunkan kembali, Ihsan mengatakan ingin tampil lebih fokus lagi dan kembali menyumbangkan poin bagi tim Merah Putih.

“Kalau diturunkan lagi harus lebih fokus lagi. Karena di pertandingan terakhir saya evaluasinya fokusnya masih kurang. Jangan terlalu beban dengan menang kalah,” ujar Ihsan.

Baca juga: Indonesia optimistis kalahkan Sri Lanka di laga perdana Asia Mixed Team

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tontowi/Winny rebut poin pertama Asia Mixed Team 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow berhasil merebut poin pertama dari Sri Lanka dalam babak penyisihan Grup C kejuaraan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 yang berlangsung di Hong Kong.

Pada laga perdana tersebut, Tontowi/Winny unggul atas pasangan Sri Lanka Sachin Dias/Thilini Pramodika Hendahewa dalam dua gim yang berlangsung selama kurang lebih 32 menit dengan skor 24-22 dan 21-15.

Meskipun berhasil memenangkan dua gim langsung, Baik Tontowi maupun Winny mengaku saat ini masih berada dalam tahap penyesuaian di lapangan. Keduanya pun mengaku sempat beberapa kali menemui kesulitan dan tertinggal poin dari lawan.

“Ini baru pertandingan pertama, dan kami masih penyesuaian lapangan. Kami kalah start dari lawan. Pada gim pertama, mereka langsung main cepat. Kami tidak menyangka itu,” kata Tontowi melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Selain penyesuain di lapangan, pria berusia 31 tahun itu juga mengaku masih harus menambah kekompakan saat bertanding bersama Winny di lapangan, mengingat keduanya belum lama tampil sebagai pasangan ganda campuran.

“Pastinya, kekompakan harus ditambah. Kami baru beberapa kali main bersama. Saya belum mengerti apa maunya Winny, dan Winny juga belum mengerti saya mau apa. Dengan komunikasi yang lebih banyak, semoga penampilan kami semakin baik,” ujar Tontowi.

Sementara itu, berkaitan dengan laga perdana tersebut, Winny juga mengaku masih melakukan penyesuaian lapangan. Selain itu, dia pun terus melatih kekompakan sekaligus meningkatkan komunikasi dengan Tontowi.

“Di gim pertama, kami telat start dan kurang siap. Lalu, kami kejar di gim kedua. Untuk seterusnya, masih banyak yang harus diperbaiki, terutama kekompakan dan komunikasi harus lebih ditingkatkan lagi,” ungkap Winny.

Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 atau disebut juga Tong Yun Kai Cup 2019 berlangsung mulai 19 hingga 24 Maret 2019 dan bertempat di Stadion Queen Elizabeth, Hong Kong.

Kejuaraan tersebut menggunakan sistem Piala Sudirman yang memainkan lima sektor. Babak penyisihan grup akan meloloskan dua negara yang kemudian akan diundi pada babak perempat final.

Terdapat empat grup dalam kejuaraan tersebut. Grup A terdiri dari Jepang dan Hong Kong. Grup B terdiri dari Taiwan, India dan Singapura. Grup C terdiri dari Indonesia, Thailand dan Sri Lanka. Grup D terdiri dari China, Malaysia dan Makau.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia optimistis kalahkan Sri Lanka di laga perdana Asia Mixed Team

Jakarta (ANTARA) – Manajer tim bulu tangkis Indonesia Susi Susanti mengaku yakin tim Garuda akan meraih kemenangan saat menghadapi Tim Sri Lanka pada laga perdana kejuaraan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 yang berlangsung di Hong Kong pada Selasa (19/3) malam.

Menurut dia, dia atas kertas, kekuatan tim Indonesia masih berada di atas Sri Lanka. Dia pun optimistis tim Merah Putih mampu meraih kemenangan penuh 5-0.

“Seharusnya Indonesia bisa menang, karena di atas kertas, tim Indonesia masih di atas Sri Lanka. Semoga Indonesia bisa main dengan bagus,” kata Susi seperti dikutip Antara melalui laman resmi badmintonindonesia.org, Selasa.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan laga perdana kejuaraan tersebut juga dapat sekaligus dimanfaatkan oleh seluruh atlet untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di lapangan.

“Saya berharap semoga semua atlet bisa tampil dengan baik, maksimal dan penuh konsentrasi. Laga pertama ini bisa juga dimanfaatkan untuk penyesuaian lapangan,” ungkap Susi.

Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 atau disebut juga Tong Yun Kai Cup 2019 berlangsung mulai 19 hingga 24 Maret 2019 dan bertempat di Stadion Queen Elizabeth, Hong Kong.

Kejuaraan tersebut menggunakan sistem Piala Sudirman yang memainkan lima sektor. Babak penyisihan grup akan meloloskan dua negara yang kemudian akan diundi pada babak perempat final.

Terdapat empat grup dalam kejuaraan tersebut. Grup A terdiri dari Jepang dan Hong Kong. Grup B terdiri dari Taiwan, India dan Singapura. Grup C terdiri dari Indonesia, Thailand dan Sri Lanka. Grup D terdiri dari China, Malaysia dan Makau.

Pada partai pertama, ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow akan berhadapan dengan Sachin Dias/Thilini Pramodika Hendahewa. Di partai kedua, pemain tunggal putra Ihsan Maulana Mustofa akan melawan Dinuka Karunaratna.

Selanjutnya di partai ketiga, ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Frengky Wijaya Putra akan berhadapan dengan Sachin Dias/Buwaneka Goonethilleka. Pada partai keempat, tunggal putri Fitriani akan menghadapi Dilmi Dias.

Terakhir, partai kelima, pasangan ganda putri Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta akan melawan Thilini Pramodika Hendahewa/Kavidi Sirimannage.

Baca juga: Tunggal putri tidak ditarget di Asia Mixed

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia satu grup dengan Denmark dan Inggris di Piala Sudirman

Jakarta (ANTARA) – Dalam hasil undian kejuaraan Piala Sudirman 2019 yang dikeluarkan di Nanning China, Selasa, Indonesia masuk dalam grup 1B bersama dengan Denmark dan Inggris.

Grup 1 menjadi kelompok terbesar dengan total mencapai 13 negara peserta dari total 32.

Direktur Event BWF Darren Parks menyampaikan bahwa hasil undian ini seharusnya mampu memberikan sebuah pengalaman turnamen yang hebat.

“Kami begitu menantikan kedatangan para pemain elit ke kota ini dalam delapan hari aksi berkelas bulutangkis,” tutur Parks seperti dilansir laman BWF, Selasa.

Berikut hasil undian BWF Piala Sudirman 2019 yang akan berlangsung pada 19-26 Mei di Nanning, China:

Grup 1
1A: Jepang, Thailand, Rusia
1B: Indonesia, Denmark, Inggris
1C: Taiwan, Korea, Hongkong
1D: China, India, Malaysia

Grup 2
2A: Belanda, Prancis, Amerika Serikat, Vietnam
2B: Jerman, Kanada, Singapura, Israel

Grup 3
3A: Irlandia, Australia, Selandia Baru, Nepal
3B: Swiss, Sri Lanka, Slovakia, Lituania

Grup 4
Makau, Greenland, Kazakstan

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia bersiap hadapi Badminton Asia Mixed Team Championships 2019

Jakarta (ANTARA) – Tim bulu tangkis Indonesia tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 yang akan berlangsung pada 19-24 Maret di Stadion Queen Elizabeth, Hong Kong.

“Untuk kejuaraan kali ini, kami memasang target bisa sampai ke babak semifinal. Lebih bagus lagi kalau bisa lebih,” kata Manajer Tim Bulu Tangkis Indonesia Susi Susanti melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Senin.

Pada babak penyisihan, tim Merah Putih berada di Grup C bersama Thailand dan Sri Lanka. Dia pun berharap di akhir babak penyisihan nanti, Indonesia bisa keluar sebagai juara Grup C.

“Di babak penyisihan grup, kami yakin bisa lolos sekaligus menjadi juara grup. Namun, kami berharap tidak hanya menjadi juara grup, tetapi juga bisa sampai ke semifinal, atau bahkan lebih,” ujar Susi.

Pada laga perdana Badminton Asia Mixed Team Championships 2019, Indonesia dijadwalkan akan berhadapan dengan Sri Lanka pada Selasa (19/3). Kemudian, Indonesia akan menghadapi Thailand pada Kamis (21/3).

“Sebagai awalan, kami ingin memenangkan dua pertandingan di babak penyisihan itu dulu. Tim yang kami bawa untuk bertanding memang bukan tim inti, karena tujuan kami dalam kejuaraan ini adalah mengumpulkan poin untuk para atlet,” tutur Susi.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan sama halnya dengan Indonesia, negara-negara lainnya juga tidak membawa tim inti mengingat padatnya jadwal pertandingan atau kompetisi lain yang harus diikuti oleh para atlet.

“Di tengah padatnya jadwal pertandingan, kami harus bisa memilah dan memilih turnamen yang sesuai kebutuhan. Soal peluang, kalau dilihat dari kekuatan lawan bisa dibilang merata. Mungkin baru akan lebih ramai setelah masuk ke perempat final,” ungkap Susi.

Kejuaraan Badminton Asia Mixed Team Championships 2019 menggunakan sistem Piala Sudirman yang memainkan lima sektor. Babak penyisihan grup akan meloloskan dua negara yang kemudian akan diundi pada babak perempat final.

Terdapat empat grup dalam kejuaraan tersebut. Grup A terdiri dari Jepang dan Hong Kong. Grup B terdiri dari Taiwan, India dan Singapura. Grup C terdiri dari Indonesia, Thailand dan Sri Lanka. Grup D terdiri dari China, Malaysia dan Makau.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian juara Swiss Terbuka 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto sukses merebut gelar juara di ajang Swiss Terbuka 2019 usai menaklukkan Lee Yang/Wang Chi-Lin dari Taiwan dengan skor 21-19, 21-16.

“Alhamdulillah hari ini kami bisa bermain dengan baik di permainan tadi, kami banyak adu drive. Kami unggul di permainan depan dan lawan banyak mengangkat bola, kami lebih sabar,” kata Rian melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Senin dinihari.

Pada gim pertama, kedua pasangan terus berkejaran angka bahkan perolehan poin tak pernah terpaut jauh.

Fajar-Rian yang tampil lebih stabil di poin kritis, akhirnya mampu memenangkan pertandingan dan menyabet gelar juara yang pertama bagi pasangan tersebut di tahun 2019.

“Gelar ini pasti menambah percaya diri kami, setelah kalah di semifinal All England minggu lalu dan kalahnya mepet. Mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih baik lagi,” tutur Rian menambahkan.

Pasangan ini meski sempat mengira perjuangan di final akan sulit namun tetap optimistis bisa mengalahkan lawan mereka.

“Dari pertama main sudah yakin dengan diri kami maupun dari tipe main lawan. Pasangan Taiwan ini bagus, pukulannya kencang. Dari awal masuk lapangan sudah timbul keyakinan. Tapi kami masih banyak melakukan kesalahan, kami sudah benar mainnya, tapi saat lagi ramai, kami mati sendiri,” ujar Fajar.

Di turnamen ini, Indonesia memiliki wakil lain di final selain Fajar/Rian, yaitu pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari juga melaju ke final, namun mereka dikalahkan oleh Mathias Bay Smidt/Rikke Soby asal Denmark dengan skor 18-21, 21-12, dan 16-21.

Selanjutnya, Fajar/Rian akan segera menuju ke Hong Kong untuk mengikuti turnamen beregu Tong Yun Kai Cup 2019.

Baca juga: Indonesia punya dua wakil di final Swiss Terbuka

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rinov/Pitha gagal rebut gelar juara Swiss Terbuka 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran Indonesia Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari gagal merebut gelar juara turnamen bulu tangkis level super 300 Swiss Terbuka 2019 yang diselenggarakan di Stadion St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu.

Rinov/Pitha harus puas menjadi juara kedua turnamen Swiss Terbuka 2019 karena dikalahkan pasangan unggulan kedelapan dunia yang berasal dari Denmark, yakni Mathias Bay-Smidt/Rikke Soby.

Pada partai puncak tim Merah Putih ditaklukkan dalam tiga gim dengan skor 18-21, 21-12 dan 16-21 yang berlangsung selama  56 menit.

Berkaitan dengan pertandingan tersebut, Rinov mengaku tidak mampu keluar dari tekanan lawan, terutama pada akhir gim pertama.

Meskipun sempat unggul pada gim kedua, Rinov/Pitha tidak mampu menjebol pertahanan lawan di gim ketiga dan berakhir dengan kekalahan.

“Hari ini permainan kami tidak seperti kemarin-kemarin, kelihatan sekali tidak lepas dan tertekan. Kekalahan hari ini lebih banyak dikarenakan faktor non teknis, bukan perasaan tegang karena ini final,” kata Rinov dalam siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Minggu malam.

Sementara itu, bersama Rinov, Pitha bertekad untuk terus memperbaiki pola permainannya, terutama dari segi fokus, pertahanan serta kekuatan, Dengan begitu, kedepannya mereka akan mampu mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

“Kami bersyukur dengan hasil final ini. Tapi banyak yang harus diperbaiki lagi. Kami juga harus belajar bagaimana caranya bermain aman. Semoga kedepannya kami bisa tampil lebih baik lagi, lebih maksimal lagi,” ungkap Pitha.

Turnamen Swiss Open 2019 berlangsung mulai 12 hingga 17 Maret 2017 di stadion St. Jakobshalle, kota Basel, Swiss. Total hadiah yang diperebutkan oleh para pemain mencapai 150.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Rinov/Pitha melangkah ke semifinal Swiss Terbuka 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Juara All England Hendra/Ahsan disambut Wiranto di Bandara

Jakarta (ANTARA) – Kedatangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan ke Tanah Air setelah meraih gelar All England 2019 disambut langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yang juga Ketua PP PBSI, Wiranto, bersama perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu.

“Hari ini kembali kita dapat membuktikan di All England kita masih bisa menyabet satu gelar ganda putra, saudara Hendra dan Ahsan, kembali dapat memberikan pengabdian terbaik,” ujar Wiranto dalam sambutannya.

Ia yakin prestasi yang diraih ganda peringkat empat dunia itu semakin mendorong untuk mengembalikan supremasi perbulutangkisan Indonesia di dunia.

Sementara itu Deputi Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta yang mewakili Menpora Imam Nahrawi menyebut kemenangan Hendra dan Ahsan akan menginspirasi generasi muda Indonesia.

“Mas Hendra, Mas Ahsan telah membuktikan ternyata masih eksis dengan umur yang dikategorikan senior. Kenapa saya katakan ini diapresiasi karena tentu akan menginspirasi generasi muda kita,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menyerahkan bonus sebesar Rp240 juta untuk masing-masing pemain.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Juara ganda putra All England 2014 itu berhasil merebut gelar kedua mereka meski Hendra sempat mengalami cedera ketika bertanding di semifinal.

Pada pertandingan final, mereka mengalahkan wakil Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik dalam tiga gim selama 49 menit dengan skor 11-21, 21-14, 21-12 pada Minggu (10/3)

Setelah meraih kemenangan di Inggris mereka langsung bertolak ke Basel untuk berlaga di Swiss Terbuka. Namun langkah Hendra/Ahsan harus terhenti pada babak perempat final setelah dikalahkan pasangan Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin dalam tiga gim dengan skor 26-25, 7-21, 12-21 pada Sabtu (16/3).

Dalam sambutannya Hendra dan Ahsan menyampaikan terima kasih kepada Ketua PBSI dan jajaran Kemenpora untuk penjemputan serta rasa syukur dan harapan mereka setelah menjadi juara All England.

“Saya harap seterusnya dapat memberikan prestasi lagi buat ke depannya. Dan saya berharap juga dengan Ko Hendra dengan berhasilnya kita di juara All England ini memotivasi atlet-atlet yang lain, yang muda-muda untuk lebih keras lagi berjuang,” ujar Ahsan dalam sambutannya.

Ganda yang memiliki julukan “Daddies” itu mengaku belum akan pensiun dalam waktu dekat dan masih menargetkan untuk lolos ke Olimpiade 2020.

“Ke depan mungkin dari kami berdua sih, kita coba penginnya lolos ke Olimpiade ya. Cuman itu memang enggak mudah, persaingan ketat sekarang. Cuman ya kita pasti berusaha maksimal,” kata Hendra.

Baca juga: Hendra Setiawan tetap ke Swiss dengan menahan sakit betis
 

Pewarta: Prisca Triferna Violetta
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia punya dua wakil di final Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pertaruhan Indonesia di Swiss Terbuka 2019 akan ditentukan oleh dua wakil pada laga puncak turnamen ini, yaitu melalui pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy-Pitha Haningtyas Mentari dan pasangan ganda putra Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto.

Rinov-Pitha menjadi wakil pertama yang lolos ke babak tersebut dengan menumbangkan wakil Taiwan Lu Ching Yao-Lee Chia Hsin dengan skor 21-13, 19-21, dan 21-9.

Sementara Fajar-Rian yang merupakan unggulan keempat ini mengalahkan Marcus Ellis-Chris Langridge dari Inggris dengan skor 21-16 dan 21-19.

“Di gim pertama kami bisa menerapkan permainan dengan baik. Tapi di gim kedua, lawan menemukan pola main mereka. Pertandingan jadi ramai dan kami kejar-kejaran poin. Alhamdulillah kami bisa menang di poin kritis,” ujar Rian seperti dilansir laman PBSI, Minggu.

Sedangkan Fajar, mengatakan bahwa mereka sempat melakukan kesalahan dalam servis sehingga bisa dimanfaatkan lawan untuk mengejar angka.

“Memang tadi banyak masalah di servis, dua kali dinyatakan fault. Kalau soal servis, yang terpenting itu keyakinan, rasa percaya dirinya harus ditingkatkan. Di gim kedua, lawan memang menemukan ritme permainan. Saya sudah mengantisipasi kalau lawan mereka, tidak mau terpancing emosi,” tutur Fajar menerangkan.

Di babak final, Fajar-Rian akan berhadapan dengan wakil Taiwan Lee Yang-Wang Chi-Lin, di mana kedua pasangan ini tercatat belum pernah saling bertemu.

“Kebanyakan pemain Taiwan kan pukulannya kencang, kami harus antisipasi pukulan bola panjang mereka. Kami juga akan pelajari permainan mereka karena mereka pasangan baru, kami akan nonton video pertandingan mereka dan diskusi dengan pelatih soal strategi yang akan diterapkan,” ujar Rian.

Babak final Swiss Open 2019 akan dilangsungkan pada hari Minggu mulai pukul 12.00 waktu Basel atau sekitar pukul 18.00 WIB.

Baca juga: Rinov/Pitha hadapi ganda Denmark di final Swiss Terbuka

Baca juga: Tundukkan Wahyu/Ade, Fajar/Rian ke semifinal Swiss Terbuka

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rinov/Pitha hadapi ganda Denmark di final Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari sukses menembus babak final turnamen bulu tangkis level super 300 Swiss Terbuka 2019, dan akan menghadapi ganda Denmark pada final di Stadion St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu.

Satu tiket ke final tersebut didapatkan pasangan Rinov/Pitha setelah menumbangkan pasangan asal Taiwan Lu Ching Yao/Lee Chia Hsin pada babak empat besar, Sabtu, dalam tiga gim 21-13, 19-21, 21-9.

Rinov mengaku sempat kehilangan kendali pada gim kedua, sehingga terus bermain di bawah tekanan lawan. Namun pada gim ketiga, keduanya berhasil bangkit dan merebut kendali permainan.

“Di gim kedua, lawan mengubah pola permainannya, jadi lebih berani, no lob, sedangkan kami banyak membuat kesalahan sendiri. Tapi di gim ketiga, kami lebih siap lagi, banyak ambil pelajaran dari gim kedua,” kata Rinov melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.

Sementara itu, Pitha mengaku sudah memiliki keyakinan akan memenangi pertandingan tersebut sejak gim pertama.

“Dari awal, kami yakin bisa menang, karena sudah enak mainnya. Tapi di gim kedua mereka mengubah pola main, dan kami tidak siap. Di gim ketiga, kami lebih fokus, kalau kehilangan satu poin, harus tambah satu poin lagi, dan begitu seterusnya,” ujar Pitha.

Pada final Minggu (17/3), pasangan Merah Putih itu akan berhadapan dengan ganda Denmark Mathias Bay-Smidt/Rikke Soby, yang mengalahkan Lu Kai/Chen Lu dari China dalam tiga gim dengan perolehan angka 20-22, 21-19 dan 23-21.

Terkait pertandingan final tersebut, baik Rinov maupun Pitha mengaku akan berusaha mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk mengharumkan nama Indonesia.

“Biasanya pasangan Eropa tipe mainnya tidak jauh berbeda satu sama lain. Mereka banyak membuat taktik. Bagaimanapun juga, kami tetap punya peluang untuk memenangkan pertandingan, peluangnya 50-50,” ungkap Rinov.

Baca juga: Langkah Ginting di Swiss Terbuka terhenti di semifinal

Baca juga: Tiga perwakilan Indonesia lolos ke semifinal Swiss Terbuka 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Langkah Ginting di Swiss Terbuka terhenti di semifinal

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting harus menelan kekalahan dari Shi Yuqi, pemain asal China, dengan skor 9-21 dan 17-21 di babak semifinal Yonex Swiss Terbuka 2019,.

Tidak tanggung-tanggung, kekalahan Ginting di semifinal Swiss Terbuka ini merupakan yang keenam kalinya, melansir laporan badmintonindonesia.org, Sabtu.

Pada kedudukan 1-1 di gim pertama, atlet asal Cimahi ini sempat terpeleset sehingga engkel kanannya terasa sakit.

“Waktu saya mau ambil bola yang agak jauh, saya terpeleset. Lansung minta semprot sama dokter tapi tahannya tidak lama. Sakit sih, tapi masih bisa ditahan karena saya pikir juga sudah tanggung ke semifinal. Pelatih sempat bilang, kalau sakit jangan dipaksakan, nanti jadi lebih parah,” katanya.

Menurut dia, nyeri di engkelnya ternyata sudah dirasakan sejak pertandingan di babak pertama saat melawan Thomas Rouxel dari Perancis.

Di gim pertama hari ini Ginting tak dapat mengimbangi permainan Shi, bahkan banyak pukulan-pukulan Shi yang tak berbahaya namun tidak dapat dikembalikan dengan baik oleh Anthony.

Sempat mendekat 15-17 di gim kedua, Ginting kembali gagal mengamankan gim kedua dan harus merelakan tiket final jatuh ke tangan Shi.

“Di gim kedua saya merasa ada peluang, tidak mau ragu-ragu dan tidak memikirkan sakitnya. Gim kedua sudah lumayan enak mainnya, tapi ketinggalannya terlalu jauh,” katanya menambahkan.

Mengomentari kekalahan beruntun atas Shi, Anthony mengaku banyak pukulan-pukulan Shi yang tak cocok dengannya.

“Variasi-variasi stroke-nya dia kurang enak. Kalau lawan yang lain kan saya masih bisa rancang serangan. Kalau sama dia, saya kurang dapat kesempatan untuk menyerang. Dari sebelum-sebelumnya juga merasa seperti itu. Saya sudah coba berbagai cara untuk mengatasi dia, dari ladeni relinya, dan jaga serangannya, tapi dia memang powernya kuat dan cepat,” ujar Ginting menerangkan.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiga perwakilan Indonesia lolos ke semifinal Swiss Terbuka 2019

Jakarta (ANTARA) – Indonesia berhasil mengirimkan tiga perwakilan untuk berlaga di babak semifinal turnamen bulu tangkis level super 300 Swiss Terbuka 2019, yakni dari sektor ganda campuran, ganda putra dan tunggal putra.

Kemenangan tim Garuda diawali dari sektor ganda campuran, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari yang mengalahkan pasangan asal Inggris Marcus Ellis/Lauren Smith dalam tiga gim dengan skor 19-21, 21-14 dan 21-17.

Selanjutnya, disusul oleh pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto usai menumbangkan rekan satu timnya, yakni Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso dengan skor 21-10 dan 21-17.

Tak lama kemudian, kemenangan juga diraih oleh tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting yang menumbangkan peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 Lin Dan dari China dalam tiga gim dengan perolehan 14-21, 21-8 dan 21-11.

Di babak semifinal, Rinov/Pitha akan berhadapan dengan pasangan Chinese Taipei Lu Ching Yao/Lee Chia Hsin, sedangkan Fajar/Rian akan bertemu Marcus Ellis/Chris Langridge asal Inggris, dan Anthony akan menjamu Shi Yuqi dari China.

Sementara itu, pasangan ganda putra yang baru saja memenangkan gelar All England 2019 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan tidak dapat melaju ke semifinal karena dikalahkan oleh Lee Yang/Wang Chi-Lin dari Taiwan dengan skor 26-24, 7-21 dan 12-21.

“Kami sudah berusaha bermain dengan semaksimal mungkin, tapi ternyata penampilan lawan lebih bagus dan mereka juga masih fresh,” kata Ahsan seperti dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org Sabtu.

Lebih lanjut, Hendra mengungkapkan kekalahan tersebut tidak ada kaitannya dengan cedera betis yang dialaminya, namun murni dikarenakan penampilan lawan yang jauh lebih baik.

“Tidak ada masalah dengan cedera betis saya. Kekalahan ini memang karena lawan tampil lebih baik. Tenaga mereka lebih besar, pertahanan rapat, serangannya keras dan kami kalah kecepatan,” ungkap Hendra.

Meskipun demikian, keduanya tetap bersyukur atas hasil yang telah didapatkan dan berjanjin untuk terus berlatih meningkatkan performa, stamina dan kekuatan untuk tampil di laga-laga berikutnya.

Baca juga: Rinov/Pitha melangkah ke semifinal Swiss Terbuka 2019

Baca juga: Dua ganda putri Indonesia gagal ke perempat final Swiss

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ginting bangkit untuk kalahkan Lin Dan di Swiss

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putra  Indonesia Anthony Sinisuka Ginting berhasil bangkit dari kekalahan di game pertama dan lolos ke semifinal turnamen Yonex Swiss Terbuka 2019 dengan mengalahkan pemain China Lin Dan dengan skor 14-21, 21-8, dan 21-11.

“Pada game pertama, stamina lawan masih full dan pergerakan kakinya cepat, dia mengontrol reli di lapangan. Sedangkan saya mainnya kurang sabar dan mau cepat-cepat mematikan lawan,” kata Ginting melansir laporan badmintonindonesia.org, Sabtu.

Di game pertama, pemain asal Cimahi ini mengakui bahwa ia bermain terburu-buru dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

“Di game kedua dan ketiga, saya bermain lebih sabar dan meladeni reli-reli dia. Kalau ada kesempatan baru saya menyerang. Saya merasa pergerakan kaki stroke dan staminanya enak,” katanya menambahkan.

Di babak semifinal Ginting akan menghadapi Shi Yuqi, dengan catatan pertemuan sementara 5-0, angka keunggulan bagi Shi.

“Shi lebih muda dari Lin Dan, pergerakannya lebih cepat. Menghadapi dia harus lebih sabar dan jangan buru-buru saat mau menyerang,” kata Ginting menjelaskan pola permainan calon lawannya itu.

Baca juga: Tundukkan Wahyu/Ade, Fajar/Rian ke semifinal Swiss Terbuka

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tundukkan Wahyu/Ade, Fajar/Rian ke semifinal Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto memastikan tiket semifinal Swiss Terbuka 2019 usai menang dalam “perang saudara” melawan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso dengan skor 21-10 dan 21-17.

Menurut mereka, salah satu kunci kemenangan dilakukan melalui menonton banyak video pertandingan Wahyu/Ade pada malam sebelum laga dan sembari membaca teknik permainan mereka.

“Kami sudah mengantisipasi pola main mereka, semalam kami menonton video pertandingan mereka. Kami kan sering latihan bersama, jadi tadi sebetulnya mereka juga beberapa kali menebak pengembalian bola dari kami. Kami sudah saling tahu, tapi mungkin hari ini kami lebih siap,” kata Fajar melalui keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu pagi.

Pertandingan tersebut juga berjalan cukup cepat, hanya sekitar 28 menit.

“Di game kedua, lawan lebih memaksa di bola-bola depan, lebih berani dan tidak mudah membuat kesalahan sendiri,” ujar Rian.

Di babak semifinal, Fajar/Rian akan berhadapan dengan Marcus Ellis/Chris Langridge dari Inggris atau Pranaav Jerry Chopra/Chirag Shetty dari India.

“Menurut kami, kansnya merata karena sudah sampai babak semifinal, pasti yang lolos yang terbaik semua,” kata Rian.

Fajar/Rian menjadi wakil kedua yang lolos ke semifinal, di mana sebelumnya pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy-Pitha Haningtyas Mentari juga bernasib serupa.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rinov/Pitha melangkah ke semifinal Swiss Terbuka 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran Indonesia Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari berhasil melangkah ke babak semifinal turnamen bulu tangkis level super 300 Yonex Swiss Terbuka 2019.

Dalam pertandingan yang berlangsung di stadion St, Jakobshalle itu, Rinov/Pitha sukses memenangkan tiket ke semifinal usai menumbangkan pasangan asal Inggris Marcus Ellis/Lauren Smith dalam tiga gim dengan skor 19-21, 21-14 dan 21-17.

Kekalahan yang sempat dialami oleh Rinov/Pitha pada gim pertama ternyata tidak menurunkan semangat keduanya untuk kembali bangkit dan melanjutkan pertandingan dengan usaha semaksimal mungkin.

“Tadi kami agak susah menerapkan pola permainan karena bolanya berat. Tapi tenaga lawan juga ternyata tidak terlalu kuat, jadi kami coba bertahan terus di lapangan,” kata Rinov seperti dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org, Sabtu dini hari.

Pada gim kedua, Rinov/Pitha mencoba menekan lawan dan memegang kendali permainan. Di gim ketiga, meskipun sempat terjadi kejar-mengejar skor, tim Merah Putih akhirnya memenangkan pertandingan tersebut.

“Lawan kami lebih berpengalaman. Meskipun ketinggalan skor, mereka tetap tidak mau menyerah. Kami pun demikian, terus menekan lawan dan memegang kendali permainan,” ujar Rinov. Sementara itu, senada dengan Rinov, Pitha juga mengaku terus mencoba bertanding sekuat tenaga di lapangan. Pada gim kedua, perempuan berusia 19 tahun itu pun merasa yakin dapat memenangkan pertandingan.

“Saya banyak buang poin di gim pertama. Di gim kedua, Rinov mengingatkan saya supaya terus menyerang. Stamina pasti menurun, tapi tetap saya paksa. Pada gim kedua, kami yakin bisa menang karena poinnya tidak beda jauh,” tutur Pitha.

Pada babak semifinal nanti, Rinov/Pitha akan berhadapan dengan pasangan ganda campuran asal Taiwan Lu Ching Yao/Lee Chia Hsin.

“Di babak semifinal nanti, peluang untuk menang itu tetap ada. Yang paling penting adalah kami harus tetap fokus dan langsung memegang kendali permainan,” pungkas Rinov.

Turnamen Swiss Open 2019 berlangsung mulai 12 hingga 17 Maret 2017 di stadion St. Jakobshalle, kota Basel, Swiss. Total hadiah yang diperebutkan oleh para pemain mencapai 150.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satu-satunya wakil tersisa di China Masters kandas

Jakarta (ANTARA) – Satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di turnamen bulutangkis Lingshui China Masters 2019, yaitu ganda putra Sabar Karyaman Gutama-Frengky Wijaya Putra, kandas di perempat final.

Pasangan unggulan ketiga itu pada pertandingan babak delapan besar di Agile Stadium Lingshui, Hainan, China, Jumat, kalah oleh pasangan tuan rumah Huang Kaixiang-Wang Zekang dua set langsung, 15- 21, 12-21. Pasangan China unggulan keenam itu hanya membutuhkan waktu 36 menit untuk mengakhiri perlawanan pasangan Indonesia tersebut.

Menurut catatan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), ini adalah pertemuan pertama antara pasangan peringkat 43 dan 53 dunia itu.

Dengan kekalahan ganda putra tersebut, maka tidak ada lagi wakil Indonesia pada turnamen super 100 berhadiah total 75.000 dolar AS itu.

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rionny Mainaky resmi tangani tunggal putri Pelatnas

Jakarta (ANTARA) – PP PBSI mengumumkan penunjukkan Rionny Frederik Lambertus Mainaky sebagai pelatih utama tunggal putri Pelatnas Cipayung.

“Sudah diputuskan Rionny Mainaky menjadi pelatih utama tunggal putri. Resminya mulai melatih tanggal 1 April. Tapi di akhir bulan Maret ini, Rionny sudah ada di Cipayung,” kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Susy Susanti dalam siaran pers yang diterima Jumat.

Rionny akan bertugas didampingi oleh Minarti Timur sebagai asisten pelatih utama sektor ini dan Herli Djaenudin, pelatih atlet pratama.

Pemanggilan pelatih sudah dilakukan PBSI sejak awal tahun, namun nama Rionny baru diumumkan sekarang, karena menunggu kontraknya dengan Jepang selesai. Susy mengatakan tak ingin mengganggu komitmen Rionny dengan Jepang yang baru berakhir setelah All England 2019 pekan lalu.

“Kami mau saling jaga. Dengan dia masih terikat kontrak dengan Jepang, kami tidak mau mengganggu. Kami ada kode etik juga. Kami tidak mau kontrak Rionny dengan Jepang kemarin, terganggu di tengah jalan. Kami dari PBSI dan Rionny juga sepakat hubungan kami dengan Jepang ke depannya akan tetap baik,” ujar Susy.

Disebutkan bahwa proses pencarian calon pelatih utama tunggal putri sudah dilakukan sejak tahun lalu, dan PBSI sudah mengantongi beberapa nama. Namun dengan berbagai pertimbangan dan kebutuhan, nama Rionny akhirnya diputuskan untuk mengisi posisi pelatih utama tunggal putri.

“Kami tidak menutup mata kalau putri-putri Jepang saat ini bagus-bagus dan kuat. Sementara tunggal putri kami memang paling ketinggalan dibanding sektor lain. Kami mau menciptakan yang terbaik seperti di Jepang. Kami melihat karakter, tekad, semangat dari atlet-atlet Jepang. Ternyata kan ada pelatih Indonesia di sana, Rionny Mainaky. Kami lakukan pendekatan dan akhirnya beliau setuju,” jelas Susy.

Susy mengakui bahwa sebelumnya sempat ada beberapa nama yang masuk, namun tidak mudah untuk menentukan nama yang dipilih untuk melatih tunggal putri.

“Memang mencarinya gampang-gampang susah. Kalau melatih kan bukan cuma chemistry, tapi juga kami melihat program, kebutuhan, pastinya pengalaman dan mencetak prestasi. Dari semua penilaian itu, disaring, didiskusikan, ada kesepakatan, kecocokan dan visi misi, akhirnya kami putuskan, sepertinya yang paling cocok adalah Rionny,” ungkap peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.

Pengalaman Rionny yang sudah menjadi pelatih di klub dan tim nasional Jepang diharapkan mampu meningkatkan kualitas tunggal putri Indonesia. Susy juga berharap Rionny bersama pelatih tunggal putri lainnya bisa saling bersinergi.

“Background Rionny yang lama di Jepang kan sudah paham mengenai karakter dan kebiasaan atlet sana. Lalu juga untuk penanganan dia juga untuk semua lini. Sebelumnya di klub Jepang sudah memegang ganda campuran, tunggal putri, tunggal putra. Saya pikir dia bisa combine untuk melatih di sini. Kebutuhan kami saat ini semuanya ada di Rionny. Dan dia mau pulang (ke Indonesia) juga. Pas juga kontrak dia selesai. Bukan suatu kebetulan, tapi saya pikir memang jodohnya,” sambung Susy.

“Di sisi lain, visi misi Rionny dengan para pelatih tunggal putri Indonesia saat ini cocok. Sekarang kan tunggal putri juga menunjukkan ada kemajuan. Jadi saya mau Rionny dan Minarti menjadi satu tim yang solid,” kata Susy menambahkan.
 

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua ganda putri Indonesia gagal ke perempat final Swiss

Jakarta (ANTARA) – Dua ganda putri Indonesia, Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto dan Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela gagal melaju ke babak perempat final turnamen bulu tangkis level super 300 Swiss Terbuka 2019.

Pasangan Yulfira/Jauza gagal terlebih dahulu saat menghadapi ganda putri asal Bulgaria Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva. Pada babak kedua itu, tim Merah Putih dikalahkan dalam dua gim dengan skor 20-22 dan 12-21.

“Di gim kedua, kami mau membalikkan keadaan seperti waktu gim pertama, tapi lawan sudah terlanjur membaca pola permainan kami, jadi tidak bisa kami kendalikan lagi,” kata Yulfira dikutip dari laman resmi PBSI, Jumat.

Sementara itu, sambung dia, pasangan asal Bulgaria itu tidak mengubah pola permainannya sama sekali pada gim kedua, namun arah bola serta pola permainan tim Garuda sudah dapat dibaca oleh lawan dengan mudah.

“Kendala yang kami rasakan, yaitu ketika berada di poin-poin kritis, kami jadi terburu-buru, padahal sebetulnya sudah bisa memimpin dari awal. Waktu mau mencoba membalikkan pola permainan seperti awal lagi, malah jadi lebih susah,” ujar Yulfira.

Senada dengan Yulfira, Jauza juga mengaku bermain terburu-buru saat berada di poin kritis, sehingga banyak bola yang terlepas dari pukulan. Untuk selanjutnya, dia pun berjanji akan berusaha bermain dengan lebih tenang.

“Waktu gim poin, pertahanan lawan semakin rapat, sedangkan saya malah terburu-buru. Jadi, ketika ada bola-bola tanggung, malah lepas. Sayang sekali, harusnya bisa dapat poin. Kedepannya, kami harus bermain lebih tenang, lebih sabar dan lebih fokus,” ungkap Jauza.

Selain Yulfira/Jauza, pasangan ganda putri Indonesia yang juga gagal melaju ke babak perempat final, yaitu Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela.

Fadia/Agatha ditaklukkan oleh pasangan asal China yang baru saja meraih gelar All England 2019, Chen Qingchen/Jia Yifan dalam dua gim dengan skor 17-21 dan 14-21.

Dengan hasil tersebut, maka tidak ada perwakilan Indonesia dari sektor ganda putri yang berhasil melangkah ke babak perempat final turnamen Swiss Terbuka 2019.

Baca juga: Rinov/Pitha unggul atas Ronald/Annisa di Swiss Terbuka

Baca juga: Fadia/Agatha taklukkan pasangan AS pada laga perdana Swiss Terbuka

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Langkah Jonatan terhenti di babak kedua Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Langkah pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie harus terhenti di babak kedua Yonex Swiss Terbuka setelah kalah dari pebulutangkis asal India Subhankar Dey dengan skor 21-12, 20-22, 17-21.

Penampilan Jonatan (Jojo) sudah cukup baik pada game pertama, namun pada game kedua, performa Jojo mulai menurun dan pergerakannya melambat sehingga Dey pun memanfaatkan kesempatan ini untuk terus memberi tekanan.

“Hari ini lawan bermain bagus, tidak gampang mati dan ulet. Dia kejar terus kemana pun bola saya arahkan. Beberapa kali saya serang, pertahanannya rapat sekali. Waktu bola-bola saya jauh-jauhkan dari dia pun masih bisa dijangkau,” tutur Jojo melalui keterangan resmi dari badmintonindonesia.org, Kamis malam.

Meski mengaku sudah mengantisipasi bahwa lawannya merupakan petarung yang ulet, namun peraih medali emas di Asian Games 2018 ini tetap kesulitan menembus teknik-teknik Subhankar.

“Sayangnya di game kedua, saya sudah mengejar 20-20 tapi hasilnya begini. Saya sudah coba turunkan bola dulu karena permainan belakangnya kan bagus. Serangan-serangannya banyak yang akurat,” katanya menambahkan.

Masih ada satu kesempatan mengirim wakil di nomor tunggal putra lewat Anthony Sinisuka Ginting yang malam ini akan bertanding melawan Daren Liew dari Malaysia.

Sedangkan Tommy Sugiarto hanya mampu menjajal babak pertama setelah dihentikan Mark Caljouw dari Belanda dengan skor 21-17, 10-21 dan 17-21.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda putra Wahyu-Ade lolos ke perempat final kalahkan rekan senegara

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Indonesia Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira-Ade Yusuf Santoso berhasil maju ke perempat final Yonex Swiss Terbuka 2019 setelah mengalahkan Berry Angriawan-Hardianto yang merupakan rekan senegara melalui laga sengit tiga game dengan skor 21-19, 10-21, 22-20.

Wahyu-Ade nyaris saja kehilangan poin kritis saat Berry-Hardi lebih dulu mencapai match point dengan kedudukan 20-19.

Namun satu servis Berry yang menyangkut di net membuka peluang bagi Wahyu-Ade untuk menyalip ketertinggalan skor.

“Waktu ketinggalan itu kami tidak memikirkan menang-kalah, tapi fokus dapat satu poin. Karena kalau dapat satu poin kan bisa setting,” kata Wahyu melansir badmintonindonesia.org, Kamis malam.

Meski tidak menyangka dengan hasil akhirnya, namun Ade sudah menduga bahwa jalan pertandingan akan ramai dan penuh susul menyusul skor.

“Kami sudah menyangka akan ramai, ketemu Berry-Hardi memang selalu ramai. Terakhir ketemu kami kalah adu setting. Kali ini motivasi kami lebih, masak sih kalah waktu adu setting terus,” ujar Ade menambahkan.

Di babak perempat final, Wahyu-Ade akan kembali bertemu dengan sesama rekan sepelatnas yaitu Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto.

“Memang kami maunya sama-sama ketemu wakil Indonesia, supaya Indonesia tetap punya wakil di semifinal,” kata Ade.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rinov/Pitha unggul atas Ronald/Annisa di Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari mengalahkan rekan satu timnya, yakni Ronald Alexander/Annisa Saufika di babak kedua turnamen Swiss Terbuka 2019 yang berlangsung pada Kamis (14/3).

Dalam turnamen bulutangkis level super 300 tersebut, pasangan Rinov/Pitha berhasil menang straight gim atas Ronald/Annisa dengan skor 21-14 dan 24-22. Dengan demikian, Rinov/Pitha berhak melaju ke babak perempat final.

“Dalam pertandingan tadi, kami sudah tahu kelemahan masing-masing. Jadi, kami sudah tahu bagaimana caranya menyerang kelemahan lawan,” kata Rinov melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Untuk selanjutnya, pria berusia 19 tahun itu mengaku akan lebih fokus pada saat menjalani laga perempat final nanti, mulai dari awal sampai akhir pertandingan.

“Kekuatan pemain sekarang sudah merata. Siapa yang langsung bisa membaca situasi di lapangan, maka dia yang akan menang,” ujar Rinov.

Sementara itu, senada dengan Rinov, Pitha juga mengaku akan lebih menjaga fokus selama permainan berlangsung. Dia pun berharap dapat keluar sebagai pemenang turnamen bulutangkis tersebut.

“Target saya harus bisa sampai ke final Swiss Terbuka 2019. Bahkan kalau bisa, saya berharap sekalian menjadi juara,” ungkap Pitha.

Di babak perempat final Swiss Terbuka 2019, Rinov/Pitha akan berhadapan dengan ganda campuran asal Inggris Marcus Ellis/Lauren Smith.

Pada babak sebelumnya, Marcus/Lauren berhasil menyingkirkan pasangan asal Perancis Gaetan Mittelheisser/Audrey Mittelheisser dalam dua gim dengan skor 21-13 dan 21-15.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sabar/Frengky perpanjang asa Indonesia di China Masters 2019

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Frengky Wijaya Putra memperpanjang asa Indonesia di Lingshui China Masters 2019 setelah banyak wakil yang harus angkat koper dari kejuaraan dengan level Super 100 itu.

Berlaga di Lingshui Agile Stadium 2, China, Kamis, unggulan ketiga tersebut berdasarkan data di laman BWF menang dengan dua gim langsung, 21-6 dan 21-16.
Kemenangan ini membawa pasangan Sabar/Frengky melangkah ke babak delapan besar.

Pada babak perempat final China Masters 2019, pasangan muda Indonesia ini akan berhadapan dengan unggulan keenam asal tuan rumah China, Huang Kaixiang/Wang Zekang.

Kemenangan Sabar/Frengky itu sedikit mengobati kekalahan pasangan ganda putri Indonesia Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto yang dikandaskan tim Taiwan Kuo Yu Wen/Lin Wan Ching.

Febriana/Ribka yang juga berstatus unggulan ketiga itu harus terhenti dalam dua gim langsung dengan skor 9-21 dan 16-21 dalam waktu 38 menit.

Perolehan poin pasangan peraih medali perak Kejuaraan Dunia Junior 2018 itu tak kunjung bisa menyalip pasangan Taiwan karena terus tertinggal sejak menyamakan angka 1-1. Pasangan Febriana/Ribka harus menyerah dengan skor 9-21.

Pada gim kedua pasangan Febriana/Ribka mampu mengambil poin pertama dan keunggulan bertahan hingga kedudukan 10-8. Namun, sang lawan mampu menekan dan mengambilalih keunggulan. Pasangan Indonesia itu akhirnya kembali harus menyerah dengan skor 16-21.

Sebelum melaju ke babak dua China Masters 2019, Febriana/Ribka sempat menumbangkan pasangan tuan rumah Chen Yingxue/Lin Fangling pada babak perdana 32 besar, Rabu (13/3), dengan skor 21-14, 21-15.

Pewarta: Fitri S dan Zuhdiar Laeis
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Langkah Ihsan terhenti di 16 besar Lingshui China Masters

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putra Indonesia Ihsan Maulana Mustofa harus terhenti langkahnya pada turnamen Lingshui China Masters 2019, Hainan, China, Kamis seusai dikalahkan wakil Malaysia Iskandar Zulkarnain.

Pada pertandingan yang berlangsung selama 1 jam 7 menit tersebut, unggulan pertama kejuaraan tersebut berdasarkan data dari BWF yang dipantau dari Jakarta menyerah dengan skor 21-14, 13-21, 9-21.

Ihsan mengawai pertandingan dengan cukup bagus karena langsung unggul 7-0 di gim pertama. Keunggulan ini terus bertahan meski sang lawan juga memberikan perlawanan. Pada gim pertama pemain asal Tasikmalaya ini unggul dengan skor 21-14.

Keadaan mulai berbalik pada paruh pertama gim kedua, ketika pemegang peringkat ke 40 BWF ini tertinggal tiga poin dengan angka 8-11. Keadaan tersebut tidak berubah banyak hingga akhir. Poin Ihsan ditahan pada angka 13 oleh lawannya yang menempati peringkat 125 dunia itu.

Gim ketiga berjalan cukup alot di awal dengan adanya kejar-kejaran satu-dua poin. Namun, di paruh pertama Ihsan kembali tertinggal dengan poin 9-11. Usai jeda, poin Iskandar terus melesat sedangkan Ihsan tidak menambah poin lagi hingga akhir permainan.

Ihsan menyusul pasangan ganda campuran Adnan Maulana dan Mychelle Chrystine Bandaso yang juga tersingkir dari turnamen tersebut setelah kalah dari ganda campuran Taiwan, Yang Ming-Tse dan Wu Ti Jung dalam tiga gim pertandingan 21-13, 20-22, 15-21.

Selang dua hari setelah Lingshui China Masters 2019 usai, Ihsan dijadwalkan akan kembali bertanding dalam Tong Yun Kai Cup 2019 yang digelar oleh Badminton Asia Confederation di Hongkong,19-24 Maret mendatang.

Baca juga: Pulih dari cedera, Ihsan merasa puas dengan performanya

Baca juga: Ihsan bangkit setelah tertinggal di set pertama dari Ryotaro

Pewarta: Suwanti dan Prisca
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fadia/Agatha taklukkan pasangan AS pada laga perdana Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putri bulu tangkis Indonesia Siti Fadia Silva Ramadhanti/Agatha Imanuela sukses menaklukkan pasangan asal Amerika Serikat (AS) Emily Kan/Isabel Zhong pada babak pertama turnamen Swiss Terbuka 2019.

Dalam turnamen bulu tangkis level super 300 yang berlangsung di Kota Basel, Swiss, tersebut, pasangan Fadia/Agatha mengalahkan Emily/Isabel dalam dua gim langsung dengan skor 21-5, 21-10.

“Hari ini, kami bisa mengatasi lawan dengan baik. Tapi setelah ini, di babak kedua nanti kami akan ketemu unggulan pertama,” kata Fadia melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Pada babak kedua turnamen Swiss Open 2019, Fadia/Agatha akan bertemu dengan pasangan asal China yang baru saja meraih gelar All England 2019 Chen Qingchen/Jia Yifan.

“Persiapan kami, yaitu latihan tambah power dan pertahanan. Kami cukup yakin dengan pertahanan dan power kami. Mudah-mudahan kami bisa mengimbangi mereka (Chen/Jia),” ujar Fadia.

Sementara itu, Agatha Imanuela mengaku akan tampil secara maksimal mengerahkan seluruh upaya saat menghadapi pasangan ganda putri yang saat ini menduduki peringkat empat dunia tersebut.

“Kalau pemain senior, fokusnya lebih tahan. Akurasi pukulannya juga lebih bagus. Saat menghadapi mereka, kami akan bermain lepas saja. Semua hasil latihan akan kami keluarkan, kami maksimalkan,” ungkap Agatha.

Turnamen Swiss Terbuka 2019 diselenggarakan di Stadion St. Jakobshalle, kota Basel, Swiss, pada 12 hingga 17 Maret 2019. Total hadiah yang diperebutkan oleh seluruh pemain mencapai 150.000 dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Ginting susul Jojo ke putaran dua Swiss Terbuka
Baca juga: Hendra-Ahsan tak ingin lengah di Swiss Terbuka

 

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra-Ahsan tak ingin lengah di Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan mengaku tak ingin lengah meski pun sudah merebut gelar juara All England 2019 pekan lalu.

Pada pertandingan babak pertama di turnamen tingkat Super 300 ini, lebih rendah dari All England yang merupakan turnamen level Super 1000, Hendra-Ahsan menang dua game langsung dari pasangan asal Denmark Mathias Bay-Smidt-Lasse Molhede dengan skor 21-16 dan 21-18.

“Lawan hari ini cukup bagus, tidak mudah dimatikan. Kami coba fokus dan tidak mau mereka jadi tambah bagus lalu kami kewalahan, sebisa mungkin banyak menekan,” ujar Ahsan melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Kamis dinihari.

Baca juga: Dua ganda Indonesia bertemu di babak awal Swiss Terbuka

Menurut pemain asal Palembang ini, meski yang ia jalani merupakan turnamen Super 300 namun bukan berarti bisa mengurangi fokus permainan.

“Harus tetap fokus, tidak bisa dibilang lebih mudah karena lawannya tidak jauh beda, sama saja seperti di All England,” kata Ahsan setelah pertandingan.

Hendra pun senada dengan Ahsan terkait fokus permainan di gelaran ini.

“Kami percaya diri tapi jangan terlalu kepedean. Nanti kalau di lapangan tidam terlalu enak mainnya malah jadi bingung sendiri,” tutur Hendra menegaskan.

Hendra yang sempat mengalami cedera betis di semifinal All England kini mengaku kondisinya lebih baik.

“Saat ini sudah 85 persen, ada sakit sedikit tapi tidak terlalu mengganggu. Mudah-mudahan bisa sampai akhir, tapi kami mau memikirkan satu-satu pertandingan dulu,” sebut Hendra.

Pada babak kedua keduanya akan bertemu dengan Mark Lamsfuss-Marvin Seidel, di mana kedua pasangan ini sudah bertemu di All England 2019 dengan hasil menang mudah bagi Indonesia dengan skor 21-12 dan 21-13.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ginting susul Jojo ke putaran dua Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting mengikuti jejak Jonatan Christie yang melaju ke babak kedua Swiss Terbuka 2019, usai menundukkan wakil dari Perancis Thomas Rouxel dengan skor 21-19 dan 21-14.

Sempat tertinggal 9-13 di game pertama, Ginting kemudian menyusul dan berhasil menyamakan kedudukan 16-16. Dari titik ini, Anthony mampu mengambil alih permainan.

“Di awal game pertama, saya belum dapat mainnya. Saya sudah coba, tapi saya banyak membuat kesalahan sendiri,” tutur Ginting melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Kamis dinihari.

Begitu pun di game kedua, pemain asal Cimahi ini pun mampu memegang kendali permainan dengan mudah.

Ginting mengakui bahwa penampilannya di beberapa turnamen terakhir memang tak menggembirakan dan telah mengevaluasi kekurangan-kekurangannya tersebut.

“Dari cara main dan faktor non-teknis seperti yakin di lapangan. Kalau sudah tahu cara mainnya, waktu poin mepet, poin penting, saya tidak yakin pukulannya, jadi mati sendiri,” katanya mengungkapkan.

Di babak kedua Swiss Terbuka, ia akan bertemu dengan Daren Liew dari Malaysia, di mana keduanya belum pernah bertemu di pertandingan.

“Tipe mainnya Daren itu menyerang. Kami belum pernah bertemu, sama-sama masih meraba permainan masing-masing, yang paling penting siapkan pikiran dan fokus dulu,” ujar Ginting.

Baca juga: Ganda campuran Indonesia berhadapan di putaran dua Swiss

Masih ada satu kesempatan menambah wakil tunggal putra lewat Tommy Sugiarto yang akan bertanding melawan Mark Caljouw dari Belanda.

Dalam kejuaraan tingkat Super 300 ini Indonesia mengirim 11 wakil untuk bertarung pada tanggal 12-17 Maret.

Sebanyak tiga wakil tunggal putra, empat ganda putra, dua ganda putri dan dua ganda campuran akan bertarung memperebutkan hadiah sebesar Rp2,1 miliar.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Taklukkan Lee, Jojo ke putaran dua Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Atlet tunggal putra Jonatan Christie atau Jojo lolos ke putaran dua Yonex Swiss Terbuka usai menaklukan Lee Zii Jia dari Malaysia dengan skor 21-9 dan 21-17 hanya dalam waktu 29 menit.

Sempat menang mudah di game pertama, pemain asal klub Tangkas Intiland ini sempat kesulitan mengendalikan permainan di game kedua dan beberapa kali ia tertinggal dalam perolehan poin.

Saat tertinggal 14-17, Jonatan melesat dengan meraih tujuh angka berturut-turut dan mengunci perolehan angka lawan, melansir laporan badmintonindonesia.org, Rabu malam.

“Di game kedua saya banyak melakukan kesalahan sendiri, karena saya mau coba mempercepat tempo main. Tapi jadinya malah terburu-buru mau mematikan. Maunya pergerakan kaki lebih cepat dan aman, netting juga mau cepat jadinya justru tersangkut. Saat mau ‘smash’, sudah ditunggu sama lawan,” kata peraih medali emas di Asian Games 2018 ini.

Di babak kedua, Jonatan akan bertemu dengan pemain asal India Subhankar Dey. Dalam catatan rekor pertemuan dengan Dey, Jonatan tercatat unggul 2-0.

“Dia adalah pemain yang bagus dan sering ikut turnamen di Eropa, jadi dia sudah lebih beradaptasi dengan kondisi di sini. Pokoknya jangan anggap remeh siapapun lawan, harus tetap fokus,” katanya menilai calon lawannya itu.

Dua tunggal putra Indonesia masih akan bertanding yaitu Anthony Sinisuka Ginting yang berhadapan dengan Thomas Rouxel dari Prancis, serta Tommy Sugiarto menghadapi Mark Caljouw dari Belanda.

Baca juga: Jonatan akui beruntung menang dua gim atas Lee Dong Keun

Baca juga: Kegiatan Jojo dan Ginting kala senggang

Baca juga: Sorakan “Jojo Ganteng” sambut Jonatan Christie masuki lapangan

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Babak pertama Swiss Open 2019, Ronald/Annisa kalahkan Rusia

Pasangan Rusia itu termasuk pemain lama, jadi kami coba supaya lebih tahan di lapangan.

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia Ronald Alexander/Annisa Saufika berhasil mengalahkan pasangan Rusia Evgenij Dremin/Evgenia Dimova pada hari pertama turnamen Swiss Open 2019.

Pada laga perdana turnamen level Super 300 yang berlangsung pada Selasa (12/3) tersebut, tim Merah Putih berhasil menundukkan pasangan asal Rusia dalam tiga gim dengan skor 16-21, 21-15 dan 21-16.

“Sebetulnya kualitas kami di atas mereka, namun kami masih mencari pola main yang tepat. Di gim pertama, kami sempat ragu-ragu. Tapi di gim kedua dan ketiga, permainan kami semakin mulus,” kata Annisa melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Meskipun sudah meraih kemenangan pada babak pertama, dia mengaku akan tetap memperbaiki pola permainannya bersama Ronald sekaligus meningkatkan fokus saat di lapangan, sehingga hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi.

“Di babak kedua, kami akan mencoba bermain dengan lebih baik, lebih fokus lagi. Kami menyadari bahwa kesalahan yang sering kami lakukan adalah membuang poin sendiri. Jadi, bukannya dimatikan oleh lawan, malah kami yang mati sendiri,” ujar Annisa.

Senada dengan Annisa, Ronald Alexander juga mengaku banyak melakukan kesalahan selama permainan. Di pertandingan selanjutnya, pria berusia 25 tahun itu akan mencoba memperbaiki pola permainannya bersama Annisa.

“Pasangan Rusia itu termasuk pemain lama, jadi kami coba supaya lebih tahan di lapangan. Pada gim pertama, kami banyak membuat kesalahan sendiri. Namun setelah itu, kami langsung memperbaikinya dan lebih fokus,” ungkap Ronald.

Pada babak kedua, pasangan Ronald/Annisa akan berhadapan dengan rekan satu timnya sendiri, yakni Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Keduanya tercatat belum pernah bertemu sebelumnya.

Pasangan Rinov/Pitha melaju ke babak kedua Swiss Open 2019 usai menghentikan perlawanan Jakub Bitman/Alzbeta Basova asal Republik Ceko dalam dua gim langsung dengan skor 21-13 dan 21-14.

Turnamen Swiss Open 2019 berlangsung mulai 12 hingga 17 Maret 2017 di stadion St. Jakobshalle, kota Basel, Swiss. Total hadiah yang diperebutkan oleh para pemain mencapai 150.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua ganda Indonesia bertemu di babak awal Swiss Terbuka

Jakarta (ANTARA) – Dua ganda putra Indonesia harus bertemu di babak awal Swiss Terbuka saat pasangan Berry Agriawan-Hardianto dan Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira-Ade Yusuf Santoso bertemu di putaran kedua.

Pasangan unggulan ketujuh Berry Agriawan-Hardianto maju ke putaran kedua setelah membukukan kemenangan tiga gim 21-16, 19-21, 21-13 atas pasangan Jepang lainnya Akira Koga-Taichi Saito pada pertandingan putaran pertama di St. Jakobshalle, Basel, Rabu.

Pasangan Wahyu Nayaka-Ade Yusuf Santoso juga harus bermain tiga gim melawan pasangan Belanda Jacco Arends-Ruben Jille 23-21, 18-21, 21-19 untuk membukukan tempat di babak 16 besar.

Kemenangan kedua pasangan membawa mereka bertemu untuk memperebutkan satu tempat di babak perempat final.

Selain mereka, unggulan keempat Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto juga sudah membukukan tempat di putaran kedua setelah menang 21-14, 21-17 atas pasangan kualifikasi asal Jepang Mahiro Kaneko-Yunosuke Kubota.

“Alhamdulillah bisa menang, hari ini kami lebih banyak penyesuaian lapangan, karena kondisi shuttlecock nya agak berat. Jadi enakin dulu mainnya,” ujar Fajar kepada laman PP PBSI.

Indonesia masih punya satu ganda putra lainnya, unggulan ketiga yang juga juara All England Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan yang pertandingannya melawan pasangan Denmark Mathias Bay-Smidt-Lasse Molhede belum digelar.

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua ganda putra Indonesia ke babak dua usai kalahkan Jepang

Jakarta (ANTARA) – Dua tim ganda putra Indonesia berhasil maju ke babak kedua Yonex Swiss Terbuka 2019 setelah mengalahkan tim Jepang.

Ganda putra yang pertama menikmati kemenangan ialah Berry Angriawan-Hardianto yang mengalahkan pasangan Akira Koga-Taichi Saito dengan skor 21-16, 19-21, dan 21-13 dalam pertandingan berdurasi 1 jam dua menit.

Sementara pasangan kedua yaitu Fajar Alfian-Muhammad Rian Ardianto berhasil menang dua set 21-14 dan 21-17 atas Mahiro Kaneko-Yunosuke Kubota.

Pasangan Fajar-Rian lebih beruntung karena hanya perlu 31 menit untuk menundukkan lawan mereka, berbeda dengan Berry-Hardianto yang terlibat dalam “rubber game”.

“Alhamdulillah bisa menang. Hari ini kami lebih banyak penyesuaian lapangan karena kondisi shuttlecock nya agak berat. Jadi enakin dulu mainnya,” kata Fajar melansir badmintonindonesia.org, Rabu.

Keduanya pun begitu menikmati permainan dan mendapat keuntungan dari lawan yang justru kerap membuat kesalahan.

“Tadi lawan banyak melakukan kesalahan sendiri, kami banyak dapat poin dari kesalahan mereka,” tutur Rian menambahkan.

Terkait dengan evaluasi penampilan mereka, Rian mengatakan bahwa mereka akan lebih fokus belajar pada poin kritis.

“Kami belajar, saat poin kritis masih belum bisa konsisten. Sebelumnya kami bisa menang di poin kritis, tapi besoknya kami kalah di poin-poin kritis juga. Kami harus belajar lagi bagaimana cara mengatasinya,” katanya.

Selain kedua ganda putra tersebut, masih ada satu pasangan lagi yang tengah bertarung yaitu Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira-Ade Yusuf Santoso yang menghadapi pasangan dari Belanda Jacco Arends-Ruben Jille dari Belanda.

Sementara pasangan juara All Engand 2019, Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan baru akan bertanding sore ini melawan Mathias Bay-Smidt-Lasse Molhede dari Denmark.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rinov-Pitha siap hadapi Ronald-Annisa di Swiss

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran peringkat 19 dunia Rinov Rivaldy-Pitha Haningtyas menyatakan kesiapannya meladeni senior senegara Ronald Alexander-Annisa Saufika di putaran kedua Yonex Swiss Terbuka 2019 pada hari Kamis.

“Mungkin secara peringkat kami lebih tinggi, tapi kalau dilihat kekuatannya kan merata. Pada pertandingan nanti kami mau lebih lepas lagi, tetap mau menang,” ujar Rinov dikutip dari laman resmi PP PBSI, Rabu.

Secara data di atas kertas pasangan tersebut memang lebih unggul dibanding Ronald-Annisa yang berada di peringkat 25 dunia, namun Rinov sadar bahwa lawan mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak.

“Pasti sudah sama-sama tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, kami sudah sering latihan bersama. Kami akan main nothing to lose, mereka lebih senior,” katanya menambahkan.

Swiss Terbuka 2019 merupakan turnamen keempat dari rangkaian tur Eropa yang diikuti Rinov/Pitha, dan sebelumnya mereka juga bertanding di Spanyol Masters, Jerman Terbuka dan All England.

Keduanya pun berusaha sebisa mungkin menjaga kondisi dan stamina agar tetap tampil prima.

“Tiap malam vitaminnya tidak boleh lupa, makannya juga tidak boleh sembarangan,” kata Pitha, ketika ditanya bagaimana caranya menjaga kondisi di turnamen beruntun.

Ronald-Annisa melangkah ke babak kedua usai mengalahkan lawan dari Rusia Evgenij Dremin-Evgenia Dimova dengan skor 16-21, 21-15, dan 21-16.

Sementara Rinov-Pitha maju ke putaran kedua setelah mengalahkan pasangan Republik Ceko Jakub Bitman-Alzbeta Basova dengan 21-13 dan 21-14 hanya dalam waktu 25 menit.

Dalam kejuaraan tingkat Super 300 ini Indonesia mengirim 11 wakil untuk bertarung pada tanggal 12-17 Maret.

Sebanyak tiga wakil tunggal putra, empat ganda putra, dua ganda putri dan dua ganda campuran akan bertarung memperebutkan hadiah sebesar Rp2,1 miliar.

Baca juga: Ganda campuran Indonesia berhadapan di putaran dua Swiss

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda campuran Indonesia berhadapan di putaran dua Swiss

Jakarta (ANTARA) – Dua ganda campuran Indonesia yaitu Ronald-Annisa Saufika dan Rinov Rivaldy-Pitha Haningtyas Mentari akan saling berhadapan di putaran kedua Yonex Swiss Terbuka 2019 setelah melewati laga perdana di stadion St.Jakobshalle, Swiss.

Ronald-Annisa melangkah ke babak kedua seusai mengalahkan lawan dari Rusia Evgenij Dremin-Evgenia Dimova dengan skor 16-21, 21-15, dan 21-16 pada putaran pertama, Selasa waktu setempat.

Sementara Rinov-Pitha maju ke putaran kedua setelah mengalahkan pasangan Republik Ceko Jakub Bitman-Alzbeta Basova dengan kemenangan 21-13 dan 21-14 hanya dalam waktu 25 menit.

Meski memulai turnamen dengan hasil yang memuaskan, namun Annisa mengaku masih beradaptasi dengan pola permainan yang dilakukan di putaran pertama.

“Tadi kami masih mencari pola main yang tepat, karena ini pertemuan pertama dengan mereka. Sebetulnya kualitas kami di atas mereka, tapi di gim pertama tadi kami banyak ragu-ragu. Waktu coba fokus di gim kedua dan gim ketiga, mainnya semakin enak dan bisa menang,” tutur Annisa dikutip dari laman resmi PBSI, Rabu.

Dia pun ingin memperbaiki permainan karena masih terbayang dengan hasil yang kurang baik pada turnamen sebelumnya, ditambah pada putaran kedua harus berhadapan dengan rekan setanah air.

“Di babak kedua kami akan melawan teman sendiri, kami akan mencoba untuk main lebih fokus. Kesalahan kami adalah sering buang poin sendiri, bukan dimatikan lawan, tapi kami mati sendiri,” tutur pemain asal Cirebon Jawa Barat ini.

Senada dengan Annisa, Ronald pun ingin memperbaiki kualitas permainan agar tidak kerap melakukan kesalahan seperti saat di putaran pertama.

“Pasangan Rusia tadi pemain lama, jadi kami coba tahan di lapangan. Di gim pertama kami banyak melakukan kesalahan sendiri,” katanya singkat.

Pertandingan putaran kedua antara Ronald-Annisa dan Rinov-Pitha akan dilangsungkan pada Kamis.

Dalam kejuaraan tingkat Super 300 ini Indonesia mengirim 11 wakil untuk bertarung pada tanggal 12-17 Maret.

Sebanyak tiga wakil tunggal putra, empat ganda putra, dua ganda putri dan dua ganda campuran akan bertarung memperebutkan hadiah sebesar Rp2,1 miliar.

Baca juga: Hendra Setiawan tetap ke Swiss dengan menahan sakit betis

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan pebulutangkis muda bersaing di Daihatsu Astec Open

Medan (ANTARA) – Sebanyak 514 pebulutangkis muda mengikuti Daihatsu Astec Open (DAO) 2019 di GOR PBSI Sumut yang dimulai Selasa (12/3) hingga Sabtu (16/3) di GOR PBSI Sumut, Jalan Willem Iskandar, Medan.

Alan Budikusuma selaku perwakilan Astec di Medan, Senin, mengatakan, kejuaraan kelompok umur U-13, U-15 dan U-17 itu terus berusaha ditingkatkan setiap tahunnya, baik saat masih berdiri sendiri maupun sejak empat tahun terakhir bekerja sama dengan Daihatsu.

“Kita sudah naikkan level jadi internasional. Dengan level internasional pemain terdaftar di ranking dunia BWF. Mereka memiliki ID BWF. Saya juga sebagai pengurus PP PBSI membantu memberikan kesempatan turnamen sebanyak-banyaknya kepada daerah. Saya berharap semakin banyak pemain bulutangkis dari luar Jawa,” kata Alan.

Alan menambahkan, atlet-atlet potensi dari Sumut harus dimunculkan kembali, apalagi sudah tiga setengah tahun terakhir event seperti itu vakum di Medan.

“Saya tidak mau menyia-nyiakan potensi di Sumut. Anthony Ginting salah satu dari Medan walaupun berlatih di Bandung. Mereka ini kita siapkan untuk kejuaraan Asia Junior dan Dunia Junior. PBSI sudah menyiapkan dari usia dini. Program berkesinambungan bagus bagi pemain Indonesia bertanding. Drawing di BWF. Dengan potensi yang baik dan pengurus yang baik maka saya yakin Medan bisa bangkit,” tambahnya.

Sementara itu Rokky Irvayandi, ADM domestic Marketing Division Astra Daihatsu mengatakan, Daihatsu ingin berkontribusi dalam kejayaan bulutangkis Indonesia.

“Memasuki tahun keempat Daihatsu Astec Open. 2016 kami mencari CSR di bidang apa, akhirnya kami studi olahraga apa yang pas dan akhirnya memilih bulutangkis. Kami ingin berkontribusi mengharumkan nama indonesia di tingkat dunia. Dulunya Astec sudah ada setahun sekali di Jakarta. Jadi 7 kali dalam setahun. Kelasnya juga kami tingkatkan,” katanya.

Sementara Ketua Pengprov PBSI Sumut, Suripno Ngadimin mengatakan DAO ini merupakan kepercayaan besar yang diberikan kepada Sumut setelah tahun 2016 terakhir kali.

Apalagi dirinya yang baru tiga hari dilantik sedang berusaha membenahi bulutangkis Sumut.

“Di punggung saya makin berat doa dan dukungan terus berdatangan. Minimal satu medali untuk PON ditargetkan. Prestasi itu yang harus kita kejar. Mudah-mudahan bisa berjalan lancar.

Pewarta: Juraidi
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra Setiawan tetap ke Swiss dengan menahan sakit betis

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra juara All England 2019 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memastikan lanjut bertanding dalam turnamen Swiss Terbuka 2019 meskipun Hendra belum pulih penuh dari cederanya betis kanan.

“Masih tetap ke Swiss sampai sekarang. Kami akan lihat nanti kondisi terakhir. Semoga kondisi saya sudah lebih baik pada lusa,” ujar Hendra ketika dihubungi Antara melalui pesan singkat ponsel di Jakarta, Senin.

Ganda putra Hendra/Ahsan yang meraih gelar juara All England pada 2014 dan 2019 akan turun dalam turnamen Swiss Terbuka 2019 yang akan digelar di Basel pada 12-17 Maret 2019.

Pasangan atlet peraih medali emas Asian Games 2014 itu akan melawan wakil Denmark Mathisa Bay-Smidt/Lasse Molhede pada pertandingan putaran pertama turnamen tingkat Super 300 itu.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Hendra mengalami cedera betis kanan akibat salah tumpuan setelah melakukan lompatan smes pada laga  semifinal All England 2019, Sabtu (9/3).

“Masih sedikit (sakit) sih,” kata atlet berusia 34 tahun itu. Tapi, Hendra memastikan masih bisa bertanding dan akan tetap turun di Swiss.

“Iya (di Swiss) coba main dulu yang pasti,” ujar pebulu tangksi asal Jaya Raya itu.

Selain Hendra/Ahsan, Indonesia juga akan menurunkan tiga pasangan lain ganda putra pada turnamen berhadiah total 150 ribu dolar AS itu.

Mereka adalah ganda Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, dan Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso.

Baca juga: Hendra pastikan dua hari pulih cedera

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susi Susanti sudah anggap Hendra/Ahsan pemain pelatnas

Jakarta (ANTARA) – Manajer tim bulu tangkis Indonesia Susi Susanti mengaku sudah menganggap pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan seperti pemain jebolan pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

“Meskipun pemain profesional, Hendra/Ahsan tetap latihan di pelatnas, jadi saya tidak pernah menganggap mereka sudah di luar. Mereka tetap dianggap sebagai anak-anak kami (PBSI),” kata Susi dalam siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Senin.

Menurut dia, terlepas dari persoalan Hendra/Ahsan pemain pelatnas atau bukan, dalam pertandingan final All England 2019, keduanya telah bermain secara maksimal dan penuh perjuangan, apalagi mengingat Hendra yang sempat mengalami cedera pada betis kanannya.

“Saya percaya Hendra/Ahsan betul-betul berjuang secara maksimal, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk bangsa Indonesia. Saya rasa itu yang kita patut bangga,” ujar Susi.

Lebih lanjut, perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI itu menuturkan ada banyak hal dari penampilan Hendra/Ahsan yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi para pebulutangkis muda di tanah air.

“Banyak hal yang membuat Hendra/Ahsan patut dijadikan panutan, yaitu kedisiplinannya, perilakunya serta sikapnya saat latihan maupun di lapangan. Semuanya benar-benar mencerminkan seorang juara,” tutur Susi.

Selain itu, dia menambahkah, yang paling penting adalah adanya keinginan untuk terus berjuang dan tidak mudah menyerah demi membela Merah Putih dalam suatu turnamen bergengsi.

“Kita lihat perjuangan Hendra/Ahsan. Saya sampai menangis. Dengan Hendra cedera, peluangnya kecil. Tapi ini jadi panutan buat adik-adik, bahwa kesempatan sekecil apapun, kalau kita berusaha, pasti ada jalan,” ungkap Susi.

Seperti diketahui, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berhasil meraih gelar juara All England 2019 usai mengalahkan pasangan asal Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor 11-21, 21-14 dan 21-12 dalam laga final yang berlangsung pada Minggu (10/3) di Birmingham, Inggris.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelatih: Hendra/Ahsan belum habis karena tidak pernah menyerah

Jakarta (ANTARA) – Pelatih sektor ganda putra pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Herry Iman Pierngadi menyimpan optimisme terhadap atlet senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang masih mampu meraih gelar juara All England 2019 karena punya unggul dalam mental bertanding.

“Hendra/Ahsan belum habis. Hal yang harus ditiru dari mereka adalah sikap yang tidak pernah menyerah dalam pertandingan,” kata Herry seperti tercantum dalam situs PBSI yang dipantau Antara di Jakarta, Senin.

Ganda putra profesional Hendra/Ahsan meraih gelar juara kedua All England di Birmingham, Inggris, Minggu waktu setempat setelah menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit permainan atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

“Mereka punya mental juara walaupun kondisi fisik mereka tidak prima dan ketinggalan pada gim pertama. Mental juara mereka memang sudah kelihatan,” kata Herry IP.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

Baca juga: Susi Susanti: Hendra/Ahsan semangat baru Indonesia menuju Olimpiade

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar pada 2017 dan 2018.

Herry menilai penampilan pasangan atlet Negeri Jiran Aaron Chia/Soh Wooi Yik sudah menurun pada gim ketiga. Sedangkan pada gim kedua, pasangan muda peringkat 18 dunia itu masih sempat memberikan perlawanan kepada ganda Merah-Putih.

“Ketika Hendra/Ahsan sudah mulai kelihatan menurun dan tersusul pada gim kedua, saya bilang terus dulu, masih bisa. Dan ketika Hendra/Ahsan unggul, permainan lawan justru jadi melemah dan mati sendiri,” kata Herry.

Pelatih kepala ganda putra itu sempat meragu dengan Hendra yang akan turun pada laga final dengan kondisi betis kanan cedera ketika bertanding pada laga semifinal.

“Saya ragu sebelum Hendra bertanding. Peluangnya 50:50 karena cederanya. Saya belum tahu apakah dia bisa main atau tidak karena jalan saja masih kelihatan pincang,” katanya yang lantas menaruh keyakinan setelah melihat raut wajah Hendra yang ingin mencoba bertanding.

Herry mengatakan pasangan Negeri Jiran Aaron Chia/Soh Wooi Yik menjadi ganda yang layak diperhitungkan sebagai lawan tangguh selain Goh V Shem/Tan Wee Kiong. “Mereka adalah pasangan muda, jadi mungkin belum stabil. Tapi, mereka patut diperhitungkan,” katanya.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Herry menjadi pelatih pendamping yang mengantarkan empat wakil Indonesia meraih gelar All England pada 2016 hingga 2019. Pada 2016, Herry mendampingi ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto karena pelatih ganda campuran Richard Mainaky harus kembali ke Indonesia.

Herry juga menjadi pendamping pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon ketika meraih gelar turnamen berusia 120 tahun itu pada 2017 dan 2018.

Terakhir pada 2019, Herry mendampingi pasangan atlet senior Hendra/Ahsan yang sudah menjadi pemain profesional di luar pelatnas PBSI meraih gelar turnamen tingkat Super 1000 itu.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susi Susanti: Hendra/Ahsan semangat baru Indonesia menuju Olimpiade

Jakarta (ANTARA) – Manajer tim bulutangkis Indonesia Susi Susanti menilai kemenangan yang diraih oleh pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dalam final All England 2019 memberikan semangat baru bagi Indonesia, terutama menuju Olimpiade 2020 di Tokyo.

“Biasanya kita selalu bergantung pada Kevin/Marcus. Tapi sekarang ada Hendra/Ahsan. Ini memberikan semangat baru dan keyakinan, paling tidak menuju olimpiade,” kata Susi dalam siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Senin.

Menurut dia, dengan adanya Hendra/Ahsan, ditambah pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian, menjadikan ganda putra Indonesia semakin percaya diri dalam menjalani berbagai turnamen di tingkat internasional.

Baca juga: Fajar/Rian gagal jumpa Hendra/Ahsan di final All England

“Sekarang, ganda putra kita bisa lebih percaya diri. Tapi tetap kita harus kerja keras karena persaingan semakin ketat dan sektor lainnya masih harus ditingkatkan lagi. Semua harus disiapkan dengan baik,” ujar Susi.

Lebih lanjut, perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) itu meminta kepada tim Garuda agar tidak terlena dengan kemenangan yang baru diraih oleh Hendra/Ahsan.

“Jangan terlena dengan satu kemenangan itu. Justru itu harus dijadikan awal bagi kita semua untuk terus semangat lagi mencapai yang lebih tinggi, yang lebih baik lagi di olimpiade nanti,” tutur Susi.

Sementara itu, dia mengungkapkan kekuatan Indonesia saat ini terletak di ganda putra, sehingga pembinaannya harus terus berkesinambungan. Begitu pun pembinaan di sektor ganda campuran, harus ada peningkatan.

“Di sektor ganda campuran, Tontowi/Winny sudah cukup bagus. Begitu juga dengan Praveen/Melati, hanya tinggal menerapkan strategi, pola permainan dan keyakinan diri di saat-saat akhir atau di bola-bola kritis,” ungkap Susi.

Seperti diketahui, pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berhasil meraih gelar juara All England 2019 usai mengalahkan pasangan asal Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor 11-21, 21-14 dan 21-12 dalam laga final yang berlangsung pada Minggu (10/3) di Birmingham, Inggris.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England
Baca juga: Hendra/Ahsan lega bisa capai gelar kedua All England

 

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Medali Hendra – Ahsan

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan menunjukkan medali usai memenangi pertandingan melawan ganda putra Malaysia Aaron Chia dan Soh Wooi Yik pada babak final All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Minggu (8/3/2019). Ganda putra Hendra/Ahsan menjuarai All England 2019 setelah mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor 11-21, 21-14 dan 21-12. ANTARA FOTO/Widya Amelia – Humas PP PBSI/hma/foc.

Momota cetak sejarah juara All England bagi Jepang

Memenangkan turnamen ini merupakan mimpi saya sejak kecil

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putra Kento Momota berhasil mencetak sejarah sebagai juara tunggal putra pertama asal Jepang dalam All England setelah mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen pada pertandingan final di Birmingham Inggris, Minggu malam waktu setempat.

Momota, seperti dipantau Antara di Jakarta, Senin dini hari, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam tiga gim 21-11, 15-21, 21-15 selama 81 menit permainan atas pemain peringkat enam dunia itu dalam All England 2019.

“Memenangkan turnamen ini merupakan mimpi saya sejak kecil. Kemenangan turnamen ini merupakan hal besar dalam hidup saya dan memberikan kepercayaan diri yang besar,” ujar Momota dalam akun Twitter All England.

Momota mengatakan pencapainnya bukan hanya meraih gelar juara dalam turnamen berusia 120 tahun itu. “Saya telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai orang di Jepang. Saya harap kemenangan ini akan membawa kemajuan dalam bulu tangkis di Jepang,” ujar pemain berusia 24 tahun itu.

Peraih gelar juara dunia 2018 itu berjanji akan meningkatkan kemampuannya sebagai pemain bulu tangkis sehingga dapat membantu orang lain yang juga ingin bermain bulu tangkis.

Catatan kemenangan atlet peringkat satu dunia itu atas Axelsen pun menjadi 11-1 setelah pertemuan terakhir kedua pemain pada turnamen Indonesia Masters 2019.

Sementara, Axelsen mengakui Momota berhak atas gelar juara dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu karena telah tampil prima sejak 2018.

“Saya akan menyampaikan ucapan selamat baginya. Tapi, saya akan kembali lagi lebih kuat dan bermain lebih bagus pada masa depan,” kata Axelsen.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Baca juga: Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Chen Yufei gagalkan “three-peat” All England Tzu Ying

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putri China Chen Yufei tidak menyangka dapat menjegal mimpi wakil Taiwan Tai Tzu Ying untuk mencetak tiga gelar juara All England berturut-turut atau three-peat pada laga final di Birmingham, Inggris, Minggu waktu setempat.

“Saya sangat gembira dan tidak menyangka bisa mengalahkan juara bertahan dalam dua gim sekaligus. Saya sangat lepas ketika mengekspresikan kegembiraan itu,” kata Chen Yufei dalam akun Twitter All England, Minggu malam.

Chen yang menempati unggulan ketiga meraih gelar juara All England 2019 dengan menundukkan Tai Tzu Ying sebagai pemain unggulan pertama 21-17, 21-17 selama 41 menit permainan.

“Saya kira kondisi fisik dan mental saya sudah lebih matang sekarang dibanding tahun lalu,” kata pemain berusia 21 tahun itu.

Kemenangan pada final All England 2019 itu sekaligus menjadi kemenangan pertama Chen Yufei atas Tai Tzu Ying dalam 12 kali pertemuan kedua pemain. Atlet Taiwan itu masih mendominasi catatan pertemuan dengan 11-1.

“Saya sudah dapat menjaga tempo permainan saya di lapangan hari ini. Saya kira itu kunci kemenangan saya,” kata Chen.

Baca juga: Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Bukan hanya mematahkan harapan Tai Tzu Ying mencetak tiga gelar beruntun, gelar Chen Yufei sekaligus mengembalikan tahta juara tunggal putri All England untuk China setelah gelar yang diraih Wang Shixian pada 2014.

Sementara, Tai Tzu Ying mengatakan pola permainannya tidak banyak berubah dari pertandingan sebelumnya dalam All England 2019.

“Saya kira permainan Chen Yufei tadi sangat stabil. Dia tidak banyak membuat kesalahan sebagaimana yang lakukan. Itu menjadi pelajaran bagi saya dari permainan dia hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu.

Baca juga: Hendra/Ahsan lega bisa capai gelar kedua All England

Baca juga: Hendra pastikan dua hari pulih cedera

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan lega bisa capai gelar kedua All England

Kami mengucapkan terima kasih kepada para suporter, baik yang berada di Inggris ataupun di Indonesia. Mereka sudah mendukung dan mendoakan kami

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mengaku lega karena telah meraih gelar kedua turnamen All England setelah jeda lima tahun sejak 2014.

“Tentu kami senang dan bersyukur bisa juara All England untuk kedua kalinya setelah lima tahun lamanya,” kata Hendra selepas pertandingan seperti tercantum dalam akun Twitter All England yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu malam.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu berhasil meraih gelar juara All England 2019 setelah menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit permainan atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para suporter, baik yang berada di Inggris ataupun di Indonesia. Mereka sudah mendukung dan mendoakan kami,” kata Hendra.

Sementara, Ahsan mengaku perjuangannya bersama Hendra hingga tembus putaran final turnamen tingkat Super 1000 itu tidak mudah, terutama ketika Hendra harus terkena cedera betis pada laga semifinal, Sabtu.

“Ini adalah turnamen yang sangat bergengsi dan pertandingan ini tidak mudah bagi kami. Kami bisa melalui itu, apalagi koh Hendra masih kuat tadi. Kami bersyukur bisa juara,” kata Ahsan.

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar pada 2017 dan 2018.

Hanya saja, Kevin/Marcus harus tersingkir pada pertandingan putaran pertama All England 2019 dari pasangan China Liu Cheng/Zhang Nan.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis
 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra pastikan dua hari pulih cedera

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan memastikan kondisi betisnya yang cedera akibat salah menumpu pada pertandingan semifinal akan pulih dalam dua hari.

“Tidak apa-apa. Dua hingga tiga hari sudah oke. Ini tidak serius,” kata Hendra tentang cederanya seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Minggu malam.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu berhasil meraih gelar juara All England 2019 setelah menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit permainan atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

“Saya fokus pada pertandingan hari ini dan sebisa mungkin tidak memikirkan kaki saya. Sakitnya masih terasa, tapi ini lebih baik dibanding kemarin,” ujar pemain berusia 34 tahun itu tentang perjuangannya menahan rasa sakit demi meraih gelar All England 2019.

Hendra mengaku motivasinya bersama Ahsan untuk menang pada setiap pertandingan All England 2019 sangat tinggi dan mencapai laga final. “Kami tidak ingin kalah begitu saja. Ada rasa istimewa menjadi juara dalam turnamen paling tua dan bergengsi seperti ini,” kata pemain asal klub Jaya Raya Jakarta itu.

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Sementara, Ahsan mengaku tidak ingin menyerah dari pasangan muda Malaysia pada laga final All England 2019 walaupun harus kehilangan gim pertama.

“Kami tetap berusaha memberikan perlawanan dan menerapkan strategi kami. Kami hanya bisa mengandalkan fokus permainan selain pengalaman bertanding,” kata Ahsan.

Ahsan mengaku harus bersaing dengan pemain-pemain muda bersama Hendra pada setiap turnamen internasional. Tapi, pemain asal klub PB Djarum itu masih menyimpan semangat untuk bertanding selain ketenangan dalam keadaan tertekan.

“Hadiah shuttlecock ini akan kami simpan bergantian. Satu bulan di tempat saja, satu bulan di tempat koh Hendra,” kata Ahsan tentang hadiah juara All England 2019.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra- Ahsan juara All England

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan menjabat pasangan Malaysia Aaron Chia dan Wooi Yik Soh usai memenangi final ganda putra All England di Birmingham, Inggris, Minggu (10/3/2019). ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Andrew Boyers/foc.

Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses merebut gelar kedua All England setelah menang pada laga final All England 2019 di Birmingham, Inggris, Minggu, meskipun Hendra tidak tampil 100 persen akibat cedera betis yang dialami sehari sebelumnya.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu, menurut situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Minggu, menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

“Saya tidak memikirkan cedera, saya hanya fokus pada pertandingan,” ujar Hendra  dalam wawancara di tepi lapangan seusai pertandingan.

Sehari sebelumnya pada pertandingan semifinal, Hendra mengalami cedera betis dan sempat mendapat perawatan tim medis.

Keberhasilan pada final All England 2019 itu menjadi kemenangan ketiga pasangan Hendra/Ahsan atas ganda Malaysia peringkat 18 dunia tersebut.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun tersebut setelah gelar juara All England pada 2014. Pada saat itu Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar pada 2017 dan 2018.

Hanya saja, Kevin/Marcus harus tersingkir pada pertandingan putaran pertama All England 2019.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Kunci kesuksesan kami adalah tetap mempertahankan mental bertanding dan tidak menyerah sampai akhir pertandingan,

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putri Chen Qingchen/Jia Yifan menyatakan bukan siapa-siapa dalam deretan pemain China meskipun berhasil meraih gelar juara All England 2019 di Birmingham Inggris, Minggu waktu setempat.

“Kami masih merasa, kami adalah pemain yang biasa-biasa saja di China. Kami ingin meningkatkan kemampuan kami selama ini,” kata Jia Yifan dalam akun Twitter All England yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu malam.

Chen/Jia yang menempati unggulan lima dalam turnamen tingkat Super 1000 itu menang 18-21 22-20 21-11 atas ganda Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara selama 83 menit permainan.

“Ini adalah momentum luar biasa bagi kami bisa meraih gelar All England pada tahun ini. Kami telah mengalahkan lawan-lawan yang berat pada putaran awal pertandingan. Itu memberikan motivasi dan kepercayaan diri bagi kami untuk menghadapi sisa pertandingan,” ujar Jia Yifan.

“Kunci kesuksesan kami adalah tetap mempertahankan mental bertanding dan tidak menyerah sampai akhir pertandingan,” ujar Chen Qingchen.

Gelar juara All England 2019 itu sekaligus mengembalikan gelar All England ganda putri bagi China setelah Bao Yixin/Tang Yuanting meraih gelar di Birmingham pada 2015.

Pada All England 2018, Chen/Jia terhenti pada laga perempat final setelah kalah dari ganda Jepang Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto dalam tiga gim 21-14, 17-21, 15-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Final ganda putra All England

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan beraksi menghadapi pasangan Malaysia Aaron Chia dan Wooi Yik Soh dalam final ganda putra All England di Birmingham, Inggris, Minggu (10/3/2019). ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Andrew Boyers/foc.

Fajar/Rian gagal jumpa Hendra/Ahsan di final All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal berjumpa dengan senior mereka Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pada final All England 2019 setelah kalah pada laga semifinal di Birmingham Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

Fajar/Rian sebagai pasangan unggulan delapan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam tiga gim 21-12, 20-22, dan 19-21 dari pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik selama 59 menit permainan.

Pasangan Indonesia peringkat sembilan dunia itu punya peluang untuk menang dalam dua gim setelah menyusul tiga poin dari 17-20 menjadi 18-20, 19-20, dan 20-20. Tapi, mereka seakan tampil tidak tenang dan harus merelakan gim kedua ke tangan Malaysia 22-20.

Fajar/Rian bahkan terus memberikan tekanan kepada lawan yang menduduki peringkat 18 dunia itu pada gim ketiga. Tidak menyerah walau tertinggal 10-13 dan 12-16. Pasangan Tanah Air itu kembali menyusul lawan lima poin sekaligus dari 12-16 ke 17-16.

Namun, permainan harus berakhir dengan kemenangan pihak Negeri Jiran setelah gim penentuan menghasilkan 21-19.

Hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu menambah catatan kekalahan Fajar/Rian dari Aaron/Soh selepas perjumpaan terakhir kedua pasangan pada Malaysia Masters 2019.

Fajar/Rian pun tidak berhasil menantang senior mereka Hendra/Ahsan yang terlebih dahulu masuk laga final dengan mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-19, 21-16.

Hendra/Ahsan yang menempati peringkat tujuh dunia punya catatan dua kali kemenangan atas Aaron/Soh yaitu pada Malaysia International Challenge 2018 dan Indonesia Masters 2019.

Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Baca juga: Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Praveen/Melati terjegal unggulan pertama pada semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Langkah atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti menuju final All England 2019 terjegal ganda unggulan pertama asal China pada semifinal di Birmingham, Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

Praveen/Melati sebagai pasangan non-unggulan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu dini hari, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong dalam tiga gim 21-13, 20-22, 13-21 selama 53 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 itu.

Hasil pertandingan All England 2019 menjadi kekalahan keempat Praveen/Melati dari pasangan peringkat satu dunia itu. Kedua ganda terakhir kali berhadapan pada turnamen Indonesia Masters 2019 dengan skor 16-21, 12-21 bagi kubu Merah-Putih itu.

Praveen/Melati sebenarnya punya peluang untuk masuk pertandingan final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menyusul perolehan poin 20-17 pada gim kedua.

Hanya saja, permainan ganda Indonesia peringkat 15 dunia itu seakan tidak stabil dan tersusul lima poin sekaligus sehingga kehilangan momentum kemenangan dalam dua gim.

Pada gim ketiga, permainan Praveen/Melati mulai menurun dan sering melakukan kesalahan seperti bola keluar garis lapangan ataupun membentur net. Sedangkan Zheng/Huang terus merapatkan pertahanan mereka.

Perolehan skor pasangan Tanah-Air itu pun jauh dari ganda China itu yaitu 6-12, 10-14, 11-20, hingga permainan berakhir 13-21.

Meskipun ganda campuran Praveen/Melati gagal, Indonesia punya satu wakil yang telah memastikan diri masuk putaran final turnamen berusia 120 tahun itu. Mereka adalah pasangan putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Indonesia masih berpeluang untuk mengirimkan wakil lain ganda putra pada final All England 2019 jika pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto sukses melibas ganda putra Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada semifinal.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Praveen/Melati akui gugup saat “match poin” semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran bulu tangkis Tanah Air Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mengaku gugup menjadi penghalang untuk lolos ke final All England 2019 dan terhenti pada semifinal yang berlangsung di Birmingham Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

“Saat kedudukan 20-17 gim kedua, saya bermain dengan gugup walaupun seharusnya bisa lebih fokus. Saya buang dua poin. Kami juga terus kehilangan angka pada pada posisi 20-19. Permainan gim kedua itu berpengaruh pada gim penentuan,” kata Melati seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu.

Praveen/Melati kalah dari ganda unggulan pertama Zheng Siwei/Huang Yaqiong dalam tiga gim 21-13, 20-22, 13-21 selama 53 menit dalam turnamen tingkat Super 1000 itu.

Melati mengatakan usahanya bersama Praveen untuk kembali bangkit pada gim ketiga tidak berhasil dan terus tertekan permainan lawan. “Lawan sudah mengantisipasi dan menebak permainan kami,” ujarnya.

Sementara, Praveen mengungkapkan kekecewaannya karena kehilangan momentum satu poin untuk merebut peluang gelar juara turnamen berusia 120 tahun itu.

“Sebenarnya pada gim pertama, lawan tidak dapat mengeluarkan kemampuan mereka. Mereka pada pola permainan yang tidak unggul,” ujar Praveen yang pernah meraih gelar juara All England 2016 bersama Debby Susanto.

Hasil pertandingan All England 2019 menjadi kekalahan keempat Praveen/Melati dari pasangan peringkat satu dunia itu. Kedua ganda terakhir kali berhadapan pada turnamen Indonesia Masters 2019 dengan skor 16-21, 12-21 bagi kubu Merah-Putih itu.

Meskipun ganda campuran Praveen/Melati gagal, Indonesia punya satu wakil yang telah memastikan diri masuk putaran final turnamen berusia 120 tahun itu. Mereka adalah pasangan putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Indonesia masih berpeluang untuk mengirimkan wakil lain ganda putra pada final All England 2019 jika pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto sukses melibas ganda putra Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada semifinal.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan memastikan akan tetap berusaha bermain pada laga final All England 2019 pada Minggu waktu setempat meskipun terkena cedera betis pada pertandingan semifinal.

“Betis saya terasa sakit, pegal dan sedikit nyeri. Besok, saya tetap main, terasa sakit ataupun tidak. Saya mendapatkan terapi tadi setelah pertandingan. Semoga keadaan besok bisa leih baik,” kata Hendra di Birmingham, Inggris seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu dini hari.

Ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses menembus putaran final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu setelah mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 sepanjang 44 menit.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis
Baca juga: Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

“Kondisi betis saya masih seperti tadi setelah bertanding. Pada gim pertama poin 17, saya merasa kurang pas saat bertumpu pada kaki kanan,” ujar pemain berusia 34 tahu itu.

Pasangan Tanah Air yang menjadi juara dunia 2013 dan 2015 itu merupakan ganda putra juara All England 2014 yang mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada laga pertama.

Ganda peraih medali emas Asian Games 2014 itu menunggu calon lawan dari hasil pertandingan semifinal antara ganda putra lain Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy
Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Hendra/Ahsan melaju ke final

Pasangan ganda putera Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi setelah berrhasil menambah satu poin saat melawan ganda putera Jepang Keigo Sonoda dan Takeshi Kamura dalam babak semi final All England 2019, di Birmingham Arena, Inggris, Sabtu (9/3/2019). Hendra/Ahsan menang atas ganda Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dua gim langsung 21-19, 21-16 ANTARA FOTO/Reuters-Andrew Boyers/hp.

Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Jakarta (ANTARA) – Perjuangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menuju final All England 2019 harus diwarnai cedera betis kanan Hendra pada gim kedua laga semifinal yang berlangsung di Birmingham Inggris, Sabtu.

“Koh Hendra tetap mau berjuang, jadi kami harus tetap bertanding. Tempo permainan kami berubah. Lawan juga mengubah pola permainan yang justru menguntungkan bagi kami karena mereka banyak angkat bola,” kata Ahsan selepas pertandingan seperti disiarkan situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Sabtu malam.

Pasangan peraih medali emas Asian Games 2014 itu menembus final turnamen All England 2019 setelah mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 selama 44 menit pada turnamen tingkat Super 1000 itu.

“Kami sempat khawatir karena pola permainan harus berubah. Lawan berusaha mengarahkan bola ke sisi belakang lapangan. Tapi, kami bersyukur dapat mengatasi itu dan meraih poin,” kata Ahsan tentang usahanya bersama Hendra hingga terkena cedera betis.

Ahsan mengaku tidak ingin bermain dengan pola main cepat sebagaimana diharapkan lawan. “Sebisa mungkin, kami mengendalikan permainan atau kami akan dipontang-panting oleh lawan,” katanya.

Hendra tidak dapat mengikuti sesi wawancara selepas pertandingan karena harus mendapatkan perawatan cedera. Pemain senior bulu tangkis Indonesia itu terkena cedera akibat tidak dapat menumpu dengan sempurna beban tubuhnya setelah melakukan lompatan smes.

Peraih gelar juara dunia 2013 dan 2015 itu itu sempat meminta pertolongan dokter pertandingan hingga dua kali agar diperbolehkan memasang decker dan penyemprotan cairan penahan rasa sakit di betisnya.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada putaran pertama.

Indonesia masih menyisakan satu wakil ganda putra pada semifinal yaitu Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Pasangan Fajar/Rian akan menghadapi ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik untuk memperebutkan satu tempat di final.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Baca juga: Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Semi final ganda putera

Pasangan ganda putera Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi setelah berrhasil menambah satu poin saat melawan ganda putera Jepang Keigo Sonoda dan Takeshi Kamura dalam babak semi final All England 2019, di Birmingham Arena, Inggris, Sabtu (9/3/2019). ANTARA FOTO/Reuters-Andrew Boyers/hp.

Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses menembus putaran final turnamen All England 2019 setelah mengalahkan ganda Jepang pada laga semifinal di Birmingham, Inggris, Sabtu.

Hendra/Ahsan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas ganda Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 selama 44 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 itu.

Kemenangan dalam semifinal All England 2019 itu merupakan kemenangan ketiga pasangan Merah-Putih itu atas ganda peringkat tiga dunia tersebut. Namun, Hendra/Ahsan tercatat pernah satu kali kalah dari Kamura/Sonoda.

Kedua pasangan terakhir kali berhadapan pada turnamen China Terbuka 2018. Hendra/Ahsan menang 13-21, 21-17, 21-9 atas Kamura/Sonoda di China.

Pasangan Tanah Air yang menjadi juara dunia 2013 dan 2015 itu merupakan ganda putra juara All England 2014 yang mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada laga pertama.

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Indonesia masih menyisakan satu wakil ganda putra pada laga semifinal yaitu Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Pasangan Fajar/Rian akan menghadapi ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik untuk menuju putaran final.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Kami saling membantu saja sebenarnya

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Hendra Setiawan mengaku belajar menjadi seorang pelatih ketika mendampingi pemain tunggal putra Tommy Sugiarto pada laga putaran kedua dan perempat final All England 2019.

“Sebenarnya hari ini saya bisa mendampingi Tommy karena sudah selesai bermain. Sekalian saya belajar,” kata Hendra yang mengaku belajar menjadi pelatih dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Jumat malam.

Hendra Setiawan telah dua kali mendampingi Tommy dalam turnamen tingkat Super 1000 itu. Pendampingan pertama Hendra yaitu pada laga putaran kedua bersama Mohammad Ahsan. Hendra kembali mendampingi Tommy pada laga perempat final bersama asisten pelatih ganda campuran Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Nova Widianto.

“Kami saling membantu saja sebenarnya,” kata Hendra tentang inisiatifnya bersama Ahsan ketika menawarkan diri sebagai pendamping Tommy ketika menghadapi pemain China Huang Yuxiang.

Sementara, Tommy mengatakan kehadiran Hendra/Ahsan sebagai pendampingnya di pinggir lapangan membawa pengaruh baik karena ada yang memberikan arahan.

“Biasanya saya merasa sendiri di lapangan. Sekarang ada yang memberikan arahan, ada yang menemani saya,” kata Tommy tentang instruksi yang diberikan Hendra dan Ahsan.

  Tommy Sugiarto (tengah) saat mendengarkan arahan dari Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan (kanan). (Dok. PBSI)

Pada laga perempat final menghadapi pemain Hong Kong NG Ka Long Angus, Tommy mengucapkan terimakasih kepada Hendra dan Nova Widianto yang telah mendampinginya, termasuk kepada Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti.

“Saya berterimakasih kepada PBSI yang menawarkan bantuan pendampingan di lapangan. Saya tahu saya terbiasa dengan kondisi sendiri. Tadi ci Susy Susanti yang menawarkan kepada saya apakah butuh pendampingan pelatih,” kata pemain berusia 30 tahun itu.

Pasangan putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan telah memastikan tiket semifinal turnamen berhadia total satu juta dolar AS itu dengan mengalahkan ganda Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel dalam dua gim 21-12, 21-13.

Di sisi lain, Tommy Sugiarto dipaksa menyerah oleh NG Ka Long Angus dalam tiga gim 21-16, 14-21, 15-21 selama 69 menit permainan.

Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Baca juga: Tommy Sugiarto senang didampingi Hendra/Ahsan di tepi lapangan

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto melaju ke putaran semifinal turnamen All England 2019 setelah menang atas ganda Malaysia pada laga perempat final di Birmingham Inggris, Jumat.

Fajar/Rian, seperti dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam dua gim sekaligus 22-20, 21-12 selama 40 menit permainan atas ganda Goh V Shem/Tan Wee Kiong.

Kemenangan dalam All England 2019 itu semakin menambah keunggulan Fajar/Rian atas Goh/Tan dalam catatan pertemuan mereka menjadi 2-0. Kedua pasangan terakhir kali berhadapan pada turnamen Malaysia Masters 2018 dengan skor 14-21, 24-22, 21-13 atas pasangan peringkat 14 dunia itu.

“Kami sempat tertinggal dari lawan pada gim pertama. Kami mencoba bermain lebih fokus lagi,” ujar Rian selepas pertandingan seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Fajar mengatakan permainan Goh/Tan berubah tempo lambat pada gim kedua sehingga sempat mempengaruhi permainan kubu Indonesia itu.

“Ketika perolehan poin 13-11, serangan mereka membentur net. Itu menambah kepercayaan diri kami,” kata Fajar tentang poin keuntungan pada gim kedua.

Fajar/Rian masih menunggu calon lawan dari pertandingan antara ganda China Liu Cheng/Zhang Nan dengan ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Sebelumnya, pasangan putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan telah memastikan tiket semifinal terlebih dahulu dengan mengalahkan ganda Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel dalam dua gim 21-12, 21-13.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Hendra/Ahsan melaju ke semifinal

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kanan) dan Mohammad Ahsan berusaha mengembalikan kok kearah ganda putra Jerman Mark Lamsfuss dan Marvin Seidel pada babak perempat final All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Jumat (8/3/2019). Pasangan Hendra/Ahsan lolos ke semifinal usai mengalahkan unggulan keenam asal Jerman Lamsfuss/Seidel dengan skor 21-12 dan 21-13. ANTARA FOTO/Widya Amelia – Humas PP PBSI/hma/hp.