Momota cetak sejarah juara All England bagi Jepang

Memenangkan turnamen ini merupakan mimpi saya sejak kecil

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putra Kento Momota berhasil mencetak sejarah sebagai juara tunggal putra pertama asal Jepang dalam All England setelah mengalahkan wakil Denmark Viktor Axelsen pada pertandingan final di Birmingham Inggris, Minggu malam waktu setempat.

Momota, seperti dipantau Antara di Jakarta, Senin dini hari, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam tiga gim 21-11, 15-21, 21-15 selama 81 menit permainan atas pemain peringkat enam dunia itu dalam All England 2019.

“Memenangkan turnamen ini merupakan mimpi saya sejak kecil. Kemenangan turnamen ini merupakan hal besar dalam hidup saya dan memberikan kepercayaan diri yang besar,” ujar Momota dalam akun Twitter All England.

Momota mengatakan pencapainnya bukan hanya meraih gelar juara dalam turnamen berusia 120 tahun itu. “Saya telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai orang di Jepang. Saya harap kemenangan ini akan membawa kemajuan dalam bulu tangkis di Jepang,” ujar pemain berusia 24 tahun itu.

Peraih gelar juara dunia 2018 itu berjanji akan meningkatkan kemampuannya sebagai pemain bulu tangkis sehingga dapat membantu orang lain yang juga ingin bermain bulu tangkis.

Catatan kemenangan atlet peringkat satu dunia itu atas Axelsen pun menjadi 11-1 setelah pertemuan terakhir kedua pemain pada turnamen Indonesia Masters 2019.

Sementara, Axelsen mengakui Momota berhak atas gelar juara dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu karena telah tampil prima sejak 2018.

“Saya akan menyampaikan ucapan selamat baginya. Tapi, saya akan kembali lagi lebih kuat dan bermain lebih bagus pada masa depan,” kata Axelsen.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Baca juga: Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Chen Yufei gagalkan “three-peat” All England Tzu Ying

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putri China Chen Yufei tidak menyangka dapat menjegal mimpi wakil Taiwan Tai Tzu Ying untuk mencetak tiga gelar juara All England berturut-turut atau three-peat pada laga final di Birmingham, Inggris, Minggu waktu setempat.

“Saya sangat gembira dan tidak menyangka bisa mengalahkan juara bertahan dalam dua gim sekaligus. Saya sangat lepas ketika mengekspresikan kegembiraan itu,” kata Chen Yufei dalam akun Twitter All England, Minggu malam.

Chen yang menempati unggulan ketiga meraih gelar juara All England 2019 dengan menundukkan Tai Tzu Ying sebagai pemain unggulan pertama 21-17, 21-17 selama 41 menit permainan.

“Saya kira kondisi fisik dan mental saya sudah lebih matang sekarang dibanding tahun lalu,” kata pemain berusia 21 tahun itu.

Kemenangan pada final All England 2019 itu sekaligus menjadi kemenangan pertama Chen Yufei atas Tai Tzu Ying dalam 12 kali pertemuan kedua pemain. Atlet Taiwan itu masih mendominasi catatan pertemuan dengan 11-1.

“Saya sudah dapat menjaga tempo permainan saya di lapangan hari ini. Saya kira itu kunci kemenangan saya,” kata Chen.

Baca juga: Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Bukan hanya mematahkan harapan Tai Tzu Ying mencetak tiga gelar beruntun, gelar Chen Yufei sekaligus mengembalikan tahta juara tunggal putri All England untuk China setelah gelar yang diraih Wang Shixian pada 2014.

Sementara, Tai Tzu Ying mengatakan pola permainannya tidak banyak berubah dari pertandingan sebelumnya dalam All England 2019.

“Saya kira permainan Chen Yufei tadi sangat stabil. Dia tidak banyak membuat kesalahan sebagaimana yang lakukan. Itu menjadi pelajaran bagi saya dari permainan dia hari ini,” ujar pemain berusia 24 tahun itu.

Baca juga: Hendra/Ahsan lega bisa capai gelar kedua All England

Baca juga: Hendra pastikan dua hari pulih cedera

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan lega bisa capai gelar kedua All England

Kami mengucapkan terima kasih kepada para suporter, baik yang berada di Inggris ataupun di Indonesia. Mereka sudah mendukung dan mendoakan kami

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mengaku lega karena telah meraih gelar kedua turnamen All England setelah jeda lima tahun sejak 2014.

“Tentu kami senang dan bersyukur bisa juara All England untuk kedua kalinya setelah lima tahun lamanya,” kata Hendra selepas pertandingan seperti tercantum dalam akun Twitter All England yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu malam.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu berhasil meraih gelar juara All England 2019 setelah menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit permainan atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para suporter, baik yang berada di Inggris ataupun di Indonesia. Mereka sudah mendukung dan mendoakan kami,” kata Hendra.

Sementara, Ahsan mengaku perjuangannya bersama Hendra hingga tembus putaran final turnamen tingkat Super 1000 itu tidak mudah, terutama ketika Hendra harus terkena cedera betis pada laga semifinal, Sabtu.

“Ini adalah turnamen yang sangat bergengsi dan pertandingan ini tidak mudah bagi kami. Kami bisa melalui itu, apalagi koh Hendra masih kuat tadi. Kami bersyukur bisa juara,” kata Ahsan.

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar pada 2017 dan 2018.

Hanya saja, Kevin/Marcus harus tersingkir pada pertandingan putaran pertama All England 2019 dari pasangan China Liu Cheng/Zhang Nan.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis
 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra pastikan dua hari pulih cedera

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan memastikan kondisi betisnya yang cedera akibat salah menumpu pada pertandingan semifinal akan pulih dalam dua hari.

“Tidak apa-apa. Dua hingga tiga hari sudah oke. Ini tidak serius,” kata Hendra tentang cederanya seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Minggu malam.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu berhasil meraih gelar juara All England 2019 setelah menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit permainan atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Baca juga: Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun itu setelah gelar juara All England pada 2014. Pada 2014, Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

“Saya fokus pada pertandingan hari ini dan sebisa mungkin tidak memikirkan kaki saya. Sakitnya masih terasa, tapi ini lebih baik dibanding kemarin,” ujar pemain berusia 34 tahun itu tentang perjuangannya menahan rasa sakit demi meraih gelar All England 2019.

Hendra mengaku motivasinya bersama Ahsan untuk menang pada setiap pertandingan All England 2019 sangat tinggi dan mencapai laga final. “Kami tidak ingin kalah begitu saja. Ada rasa istimewa menjadi juara dalam turnamen paling tua dan bergengsi seperti ini,” kata pemain asal klub Jaya Raya Jakarta itu.

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Sementara, Ahsan mengaku tidak ingin menyerah dari pasangan muda Malaysia pada laga final All England 2019 walaupun harus kehilangan gim pertama.

“Kami tetap berusaha memberikan perlawanan dan menerapkan strategi kami. Kami hanya bisa mengandalkan fokus permainan selain pengalaman bertanding,” kata Ahsan.

Ahsan mengaku harus bersaing dengan pemain-pemain muda bersama Hendra pada setiap turnamen internasional. Tapi, pemain asal klub PB Djarum itu masih menyimpan semangat untuk bertanding selain ketenangan dalam keadaan tertekan.

“Hadiah shuttlecock ini akan kami simpan bergantian. Satu bulan di tempat saja, satu bulan di tempat koh Hendra,” kata Ahsan tentang hadiah juara All England 2019.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra- Ahsan juara All England

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan menjabat pasangan Malaysia Aaron Chia dan Wooi Yik Soh usai memenangi final ganda putra All England di Birmingham, Inggris, Minggu (10/3/2019). ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Andrew Boyers/foc.

Meski terganggu cedera, Hendra/Ahsan raih gelar kedua All England

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses merebut gelar kedua All England setelah menang pada laga final All England 2019 di Birmingham, Inggris, Minggu, meskipun Hendra tidak tampil 100 persen akibat cedera betis yang dialami sehari sebelumnya.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu, menurut situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Minggu, menang dalam tiga gim 11-21, 21-14, 21-12 selama 49 menit atas ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

“Saya tidak memikirkan cedera, saya hanya fokus pada pertandingan,” ujar Hendra  dalam wawancara di tepi lapangan seusai pertandingan.

Sehari sebelumnya pada pertandingan semifinal, Hendra mengalami cedera betis dan sempat mendapat perawatan tim medis.

Keberhasilan pada final All England 2019 itu menjadi kemenangan ketiga pasangan Hendra/Ahsan atas ganda Malaysia peringkat 18 dunia tersebut.

Gelar juara pada 2019 itu menjadi gelar kedua Hendra/Ahsan dalam turnamen berusia 120 tahun tersebut setelah gelar juara All England pada 2014. Pada saat itu Hendra/Ahsan menang atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19 pada laga final.

Keberhasilan Hendra/Ahsan merebut gelar juara pada 2019 menjadi kesuksesan Indonesia untuk tetap mempertahankan gelar All England pada nomor ganda putra setelah pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar pada 2017 dan 2018.

Hanya saja, Kevin/Marcus harus tersingkir pada pertandingan putaran pertama All England 2019.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Baca juga: Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Chen/Jia merasa pas-pasan walau juarai All England

Kunci kesuksesan kami adalah tetap mempertahankan mental bertanding dan tidak menyerah sampai akhir pertandingan,

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putri Chen Qingchen/Jia Yifan menyatakan bukan siapa-siapa dalam deretan pemain China meskipun berhasil meraih gelar juara All England 2019 di Birmingham Inggris, Minggu waktu setempat.

“Kami masih merasa, kami adalah pemain yang biasa-biasa saja di China. Kami ingin meningkatkan kemampuan kami selama ini,” kata Jia Yifan dalam akun Twitter All England yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu malam.

Chen/Jia yang menempati unggulan lima dalam turnamen tingkat Super 1000 itu menang 18-21 22-20 21-11 atas ganda Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara selama 83 menit permainan.

“Ini adalah momentum luar biasa bagi kami bisa meraih gelar All England pada tahun ini. Kami telah mengalahkan lawan-lawan yang berat pada putaran awal pertandingan. Itu memberikan motivasi dan kepercayaan diri bagi kami untuk menghadapi sisa pertandingan,” ujar Jia Yifan.

“Kunci kesuksesan kami adalah tetap mempertahankan mental bertanding dan tidak menyerah sampai akhir pertandingan,” ujar Chen Qingchen.

Gelar juara All England 2019 itu sekaligus mengembalikan gelar All England ganda putri bagi China setelah Bao Yixin/Tang Yuanting meraih gelar di Birmingham pada 2015.

Pada All England 2018, Chen/Jia terhenti pada laga perempat final setelah kalah dari ganda Jepang Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto dalam tiga gim 21-14, 17-21, 15-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Final ganda putra All England

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan beraksi menghadapi pasangan Malaysia Aaron Chia dan Wooi Yik Soh dalam final ganda putra All England di Birmingham, Inggris, Minggu (10/3/2019). ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Andrew Boyers/foc.

Fajar/Rian gagal jumpa Hendra/Ahsan di final All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal berjumpa dengan senior mereka Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pada final All England 2019 setelah kalah pada laga semifinal di Birmingham Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

Fajar/Rian sebagai pasangan unggulan delapan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam tiga gim 21-12, 20-22, dan 19-21 dari pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik selama 59 menit permainan.

Pasangan Indonesia peringkat sembilan dunia itu punya peluang untuk menang dalam dua gim setelah menyusul tiga poin dari 17-20 menjadi 18-20, 19-20, dan 20-20. Tapi, mereka seakan tampil tidak tenang dan harus merelakan gim kedua ke tangan Malaysia 22-20.

Fajar/Rian bahkan terus memberikan tekanan kepada lawan yang menduduki peringkat 18 dunia itu pada gim ketiga. Tidak menyerah walau tertinggal 10-13 dan 12-16. Pasangan Tanah Air itu kembali menyusul lawan lima poin sekaligus dari 12-16 ke 17-16.

Namun, permainan harus berakhir dengan kemenangan pihak Negeri Jiran setelah gim penentuan menghasilkan 21-19.

Hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu menambah catatan kekalahan Fajar/Rian dari Aaron/Soh selepas perjumpaan terakhir kedua pasangan pada Malaysia Masters 2019.

Fajar/Rian pun tidak berhasil menantang senior mereka Hendra/Ahsan yang terlebih dahulu masuk laga final dengan mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-19, 21-16.

Hendra/Ahsan yang menempati peringkat tujuh dunia punya catatan dua kali kemenangan atas Aaron/Soh yaitu pada Malaysia International Challenge 2018 dan Indonesia Masters 2019.

Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Baca juga: Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Praveen/Melati terjegal unggulan pertama pada semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Langkah atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti menuju final All England 2019 terjegal ganda unggulan pertama asal China pada semifinal di Birmingham, Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

Praveen/Melati sebagai pasangan non-unggulan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu dini hari, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dari Zheng Siwei/Huang Yaqiong dalam tiga gim 21-13, 20-22, 13-21 selama 53 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 itu.

Hasil pertandingan All England 2019 menjadi kekalahan keempat Praveen/Melati dari pasangan peringkat satu dunia itu. Kedua ganda terakhir kali berhadapan pada turnamen Indonesia Masters 2019 dengan skor 16-21, 12-21 bagi kubu Merah-Putih itu.

Praveen/Melati sebenarnya punya peluang untuk masuk pertandingan final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menyusul perolehan poin 20-17 pada gim kedua.

Hanya saja, permainan ganda Indonesia peringkat 15 dunia itu seakan tidak stabil dan tersusul lima poin sekaligus sehingga kehilangan momentum kemenangan dalam dua gim.

Pada gim ketiga, permainan Praveen/Melati mulai menurun dan sering melakukan kesalahan seperti bola keluar garis lapangan ataupun membentur net. Sedangkan Zheng/Huang terus merapatkan pertahanan mereka.

Perolehan skor pasangan Tanah-Air itu pun jauh dari ganda China itu yaitu 6-12, 10-14, 11-20, hingga permainan berakhir 13-21.

Meskipun ganda campuran Praveen/Melati gagal, Indonesia punya satu wakil yang telah memastikan diri masuk putaran final turnamen berusia 120 tahun itu. Mereka adalah pasangan putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Indonesia masih berpeluang untuk mengirimkan wakil lain ganda putra pada final All England 2019 jika pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto sukses melibas ganda putra Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada semifinal.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Praveen/Melati akui gugup saat “match poin” semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran bulu tangkis Tanah Air Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mengaku gugup menjadi penghalang untuk lolos ke final All England 2019 dan terhenti pada semifinal yang berlangsung di Birmingham Inggris, Sabtu malam waktu setempat.

“Saat kedudukan 20-17 gim kedua, saya bermain dengan gugup walaupun seharusnya bisa lebih fokus. Saya buang dua poin. Kami juga terus kehilangan angka pada pada posisi 20-19. Permainan gim kedua itu berpengaruh pada gim penentuan,” kata Melati seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu.

Praveen/Melati kalah dari ganda unggulan pertama Zheng Siwei/Huang Yaqiong dalam tiga gim 21-13, 20-22, 13-21 selama 53 menit dalam turnamen tingkat Super 1000 itu.

Melati mengatakan usahanya bersama Praveen untuk kembali bangkit pada gim ketiga tidak berhasil dan terus tertekan permainan lawan. “Lawan sudah mengantisipasi dan menebak permainan kami,” ujarnya.

Sementara, Praveen mengungkapkan kekecewaannya karena kehilangan momentum satu poin untuk merebut peluang gelar juara turnamen berusia 120 tahun itu.

“Sebenarnya pada gim pertama, lawan tidak dapat mengeluarkan kemampuan mereka. Mereka pada pola permainan yang tidak unggul,” ujar Praveen yang pernah meraih gelar juara All England 2016 bersama Debby Susanto.

Hasil pertandingan All England 2019 menjadi kekalahan keempat Praveen/Melati dari pasangan peringkat satu dunia itu. Kedua ganda terakhir kali berhadapan pada turnamen Indonesia Masters 2019 dengan skor 16-21, 12-21 bagi kubu Merah-Putih itu.

Meskipun ganda campuran Praveen/Melati gagal, Indonesia punya satu wakil yang telah memastikan diri masuk putaran final turnamen berusia 120 tahun itu. Mereka adalah pasangan putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Indonesia masih berpeluang untuk mengirimkan wakil lain ganda putra pada final All England 2019 jika pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto sukses melibas ganda putra Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada semifinal.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra “ngeyel” akan main final All England walau cedera

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan memastikan akan tetap berusaha bermain pada laga final All England 2019 pada Minggu waktu setempat meskipun terkena cedera betis pada pertandingan semifinal.

“Betis saya terasa sakit, pegal dan sedikit nyeri. Besok, saya tetap main, terasa sakit ataupun tidak. Saya mendapatkan terapi tadi setelah pertandingan. Semoga keadaan besok bisa leih baik,” kata Hendra di Birmingham, Inggris seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Minggu dini hari.

Ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses menembus putaran final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu setelah mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 sepanjang 44 menit.

Baca juga: Demi final All England, Hendra terkena cedera betis
Baca juga: Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

“Kondisi betis saya masih seperti tadi setelah bertanding. Pada gim pertama poin 17, saya merasa kurang pas saat bertumpu pada kaki kanan,” ujar pemain berusia 34 tahu itu.

Pasangan Tanah Air yang menjadi juara dunia 2013 dan 2015 itu merupakan ganda putra juara All England 2014 yang mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada laga pertama.

Ganda peraih medali emas Asian Games 2014 itu menunggu calon lawan dari hasil pertandingan semifinal antara ganda putra lain Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy
Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Hendra/Ahsan melaju ke final

Pasangan ganda putera Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi setelah berrhasil menambah satu poin saat melawan ganda putera Jepang Keigo Sonoda dan Takeshi Kamura dalam babak semi final All England 2019, di Birmingham Arena, Inggris, Sabtu (9/3/2019). Hendra/Ahsan menang atas ganda Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dua gim langsung 21-19, 21-16 ANTARA FOTO/Reuters-Andrew Boyers/hp.

Demi final All England, Hendra terkena cedera betis

Jakarta (ANTARA) – Perjuangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menuju final All England 2019 harus diwarnai cedera betis kanan Hendra pada gim kedua laga semifinal yang berlangsung di Birmingham Inggris, Sabtu.

“Koh Hendra tetap mau berjuang, jadi kami harus tetap bertanding. Tempo permainan kami berubah. Lawan juga mengubah pola permainan yang justru menguntungkan bagi kami karena mereka banyak angkat bola,” kata Ahsan selepas pertandingan seperti disiarkan situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Sabtu malam.

Pasangan peraih medali emas Asian Games 2014 itu menembus final turnamen All England 2019 setelah mengalahkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 selama 44 menit pada turnamen tingkat Super 1000 itu.

“Kami sempat khawatir karena pola permainan harus berubah. Lawan berusaha mengarahkan bola ke sisi belakang lapangan. Tapi, kami bersyukur dapat mengatasi itu dan meraih poin,” kata Ahsan tentang usahanya bersama Hendra hingga terkena cedera betis.

Ahsan mengaku tidak ingin bermain dengan pola main cepat sebagaimana diharapkan lawan. “Sebisa mungkin, kami mengendalikan permainan atau kami akan dipontang-panting oleh lawan,” katanya.

Hendra tidak dapat mengikuti sesi wawancara selepas pertandingan karena harus mendapatkan perawatan cedera. Pemain senior bulu tangkis Indonesia itu terkena cedera akibat tidak dapat menumpu dengan sempurna beban tubuhnya setelah melakukan lompatan smes.

Peraih gelar juara dunia 2013 dan 2015 itu itu sempat meminta pertolongan dokter pertandingan hingga dua kali agar diperbolehkan memasang decker dan penyemprotan cairan penahan rasa sakit di betisnya.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada putaran pertama.

Indonesia masih menyisakan satu wakil ganda putra pada semifinal yaitu Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Pasangan Fajar/Rian akan menghadapi ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik untuk memperebutkan satu tempat di final.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Baca juga: Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Semi final ganda putera

Pasangan ganda putera Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi setelah berrhasil menambah satu poin saat melawan ganda putera Jepang Keigo Sonoda dan Takeshi Kamura dalam babak semi final All England 2019, di Birmingham Arena, Inggris, Sabtu (9/3/2019). ANTARA FOTO/Reuters-Andrew Boyers/hp.

Hendra/Ahsan tembus final sekaligus jaga harapan juara All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses menembus putaran final turnamen All England 2019 setelah mengalahkan ganda Jepang pada laga semifinal di Birmingham, Inggris, Sabtu.

Hendra/Ahsan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Sabtu malam, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas ganda Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-19, 21-16 selama 44 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 itu.

Kemenangan dalam semifinal All England 2019 itu merupakan kemenangan ketiga pasangan Merah-Putih itu atas ganda peringkat tiga dunia tersebut. Namun, Hendra/Ahsan tercatat pernah satu kali kalah dari Kamura/Sonoda.

Kedua pasangan terakhir kali berhadapan pada turnamen China Terbuka 2018. Hendra/Ahsan menang 13-21, 21-17, 21-9 atas Kamura/Sonoda di China.

Pasangan Tanah Air yang menjadi juara dunia 2013 dan 2015 itu merupakan ganda putra juara All England 2014 yang mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa.

Keberhasilan Hendra/Ahsan pada pertandingan semifinal turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjaga harapan bagi Indonesia untuk merebut gelar juara pada nomor ganda putra All England 2019 setelah kekalahan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada laga pertama.

Baca juga: Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Indonesia masih menyisakan satu wakil ganda putra pada laga semifinal yaitu Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Pasangan Fajar/Rian akan menghadapi ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik untuk menuju putaran final.

Fajar/Rian punya catatan satu kali kekalahan dari Aaron/Soh pada turanamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 24-26, 15-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra akui belajar sebagai pelatih saat dampingi Tommy

Kami saling membantu saja sebenarnya

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Hendra Setiawan mengaku belajar menjadi seorang pelatih ketika mendampingi pemain tunggal putra Tommy Sugiarto pada laga putaran kedua dan perempat final All England 2019.

“Sebenarnya hari ini saya bisa mendampingi Tommy karena sudah selesai bermain. Sekalian saya belajar,” kata Hendra yang mengaku belajar menjadi pelatih dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Jumat malam.

Hendra Setiawan telah dua kali mendampingi Tommy dalam turnamen tingkat Super 1000 itu. Pendampingan pertama Hendra yaitu pada laga putaran kedua bersama Mohammad Ahsan. Hendra kembali mendampingi Tommy pada laga perempat final bersama asisten pelatih ganda campuran Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Nova Widianto.

“Kami saling membantu saja sebenarnya,” kata Hendra tentang inisiatifnya bersama Ahsan ketika menawarkan diri sebagai pendamping Tommy ketika menghadapi pemain China Huang Yuxiang.

Sementara, Tommy mengatakan kehadiran Hendra/Ahsan sebagai pendampingnya di pinggir lapangan membawa pengaruh baik karena ada yang memberikan arahan.

“Biasanya saya merasa sendiri di lapangan. Sekarang ada yang memberikan arahan, ada yang menemani saya,” kata Tommy tentang instruksi yang diberikan Hendra dan Ahsan.

  Tommy Sugiarto (tengah) saat mendengarkan arahan dari Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan (kanan). (Dok. PBSI)

Pada laga perempat final menghadapi pemain Hong Kong NG Ka Long Angus, Tommy mengucapkan terimakasih kepada Hendra dan Nova Widianto yang telah mendampinginya, termasuk kepada Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti.

“Saya berterimakasih kepada PBSI yang menawarkan bantuan pendampingan di lapangan. Saya tahu saya terbiasa dengan kondisi sendiri. Tadi ci Susy Susanti yang menawarkan kepada saya apakah butuh pendampingan pelatih,” kata pemain berusia 30 tahun itu.

Pasangan putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan telah memastikan tiket semifinal turnamen berhadia total satu juta dolar AS itu dengan mengalahkan ganda Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel dalam dua gim 21-12, 21-13.

Di sisi lain, Tommy Sugiarto dipaksa menyerah oleh NG Ka Long Angus dalam tiga gim 21-16, 14-21, 15-21 selama 69 menit permainan.

Baca juga: Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Baca juga: Tommy Sugiarto senang didampingi Hendra/Ahsan di tepi lapangan

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian ikuti Hendra/Ahsan ke semifinal All England

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto melaju ke putaran semifinal turnamen All England 2019 setelah menang atas ganda Malaysia pada laga perempat final di Birmingham Inggris, Jumat.

Fajar/Rian, seperti dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam dua gim sekaligus 22-20, 21-12 selama 40 menit permainan atas ganda Goh V Shem/Tan Wee Kiong.

Kemenangan dalam All England 2019 itu semakin menambah keunggulan Fajar/Rian atas Goh/Tan dalam catatan pertemuan mereka menjadi 2-0. Kedua pasangan terakhir kali berhadapan pada turnamen Malaysia Masters 2018 dengan skor 14-21, 24-22, 21-13 atas pasangan peringkat 14 dunia itu.

“Kami sempat tertinggal dari lawan pada gim pertama. Kami mencoba bermain lebih fokus lagi,” ujar Rian selepas pertandingan seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Fajar mengatakan permainan Goh/Tan berubah tempo lambat pada gim kedua sehingga sempat mempengaruhi permainan kubu Indonesia itu.

“Ketika perolehan poin 13-11, serangan mereka membentur net. Itu menambah kepercayaan diri kami,” kata Fajar tentang poin keuntungan pada gim kedua.

Fajar/Rian masih menunggu calon lawan dari pertandingan antara ganda China Liu Cheng/Zhang Nan dengan ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Sebelumnya, pasangan putra senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan telah memastikan tiket semifinal terlebih dahulu dengan mengalahkan ganda Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel dalam dua gim 21-12, 21-13.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Hendra/Ahsan melaju ke semifinal

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kanan) dan Mohammad Ahsan berusaha mengembalikan kok kearah ganda putra Jerman Mark Lamsfuss dan Marvin Seidel pada babak perempat final All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Jumat (8/3/2019). Pasangan Hendra/Ahsan lolos ke semifinal usai mengalahkan unggulan keenam asal Jerman Lamsfuss/Seidel dengan skor 21-12 dan 21-13. ANTARA FOTO/Widya Amelia – Humas PP PBSI/hma/hp.

Tommy dipaksa menyerah pada perempat final All England

Jakarta (ANTARA) – Pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto dipaksa menyerah pada laga perempat final turnamen All England 2019 dari pemain Hong Kong NG Ka Long Angus di Birmingham Inggris, Jumat.

Tommy kalah dalam tiga gim 21-16, 14-21, 15-21 selama 69 menit permainan dari pemain peringkat 15 dunia itu.

Catatan pertemuan mantan atlet pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI)) itu dengan Angus pun menjadi 4-3 setelah hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu.

“Saya bisa mengendalikan permainan pada gim pertama. Tapi, kecepatan saya menurun pada gim kedua. Lawan juga mengubah strategi permainannya ketika saya terburu-buru untuk menyamakan poin,” ujar Tommy seperti tercantum dalam situs PBSI, yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam.

Pada gim ketiga, Tommy mengaku terus tertekan oleh permainan Angus yang mendapatkan keuntungan dari kesalahan-kesalahan kubu Indonesia itu.

“Lawan sudah mendapatkan kepercayaan dirinya pada gim ketiga. Pertandingan tadi terasa melelahkan dari stamina. Saya merasakan pemulihan tenaga saya kurang cepat,” ujarnya.

Pada pertandingan perempat final itu, Tommy mendapatkan pendampingan dari atlet ganda putra Hendra Setiawan dan asisten pelatih ganda campuran PBSI Nova Widianto.

“Saya berterima kasih kepada PBSI yang menawarkan bantuan pendampingan di lapangan. Saya tahu saya terbiasa dengan kondisi sendiri. Tadi ci Susy Susanti yang menawarkan kepada saya apakah butuh pendampingan pelatih,” kata pemain berusia 30 tahun itu.

Dengan kekalahan Tommy Sugiarto berarti Indonesia telah kehilangan wakil pada nomor tunggal putra. Sebelumnya Anthony Sinisuka Ginting kalah pada laga pertama. Sedangkan Jonatan Christie tersingkir pada laga kedua turnamen tingkat Super 1000 itu.

Baca juga: Langkah Owi/Winny terhenti di tangan Jepang
Baca juga: Ketut/Rizki kalah pada perempat final All England 2019
Baca juga: Hendra/Ahsan tembus semifinal All England 2019

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Ganda campuran Indonesia

Ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad (kanan) dan Winny Oktavina Kandow beraksi dalam babak perempat final kejuaraan bulutangkis All England melawan pasangan Jepang Arisa Higashino/Yuta Watanabe, di Birmingham Arena, Inggris, Jumat (8/3/2019). ANTARA FOTO/Reuters/Andrew Boyers/hp.

Langkah Owi/Winny terhenti di tangan Jepang

Owi/Winny sempat unggul 20-17 pada gim pertama dan hanya butuh satu poin untuk merebut kemenangan awal. Tapi, ganda Jepang peringkat tiga dunia itu terus menekan mereka dan justru mengambil gim pertama.

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis campuran Tanah Air Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow dipaksa menyerah oleh pasangan Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino pada laga perempat final All England 2019 di Birmingham Inggris, Jumat.

Ganda Owi/Winny, seperti dipantau Antara di Jakarta, Jumat, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam dua gim langsung 22-24, 19-21 selama 46 menit permainan.

“Pertandingan tadi menjadi pelajaran bagi kami karena kami gampang membuang poin. Kami sudah unggul tiga-empat poin, tapi mudah tersusul lawan. Kami sering kehilangan poin pada akhir permainan,” kata Owi seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Owi/Winny sempat unggul 20-17 pada gim pertama dan hanya butuh satu poin untuk merebut kemenangan awal. Tapi, ganda Jepang peringkat tiga dunia itu terus menekan mereka dan justru mengambil gim pertama.

“Lawan adalah pasangan lama yang sudah berpengalaman dan kompak. Sedangkan kami adalah pasangan baru,” ujar Owi.

Sementara, Winny mengatakan permainannya lebih baik pada perempat final dibanding laga sebelumnya dalam All England.

All England 2019 menjadi turnamen ketiga Owi/Winny setelah turnamen Spanyol Masters 2019 dan Jerman Terbuka 2019. Pasangan baru itu akan kembali bermain pada Kejuaraan Beregu Asia di Hong Kong 2019.

Sektor ganda campuran masih menyisakan satu wakil Indonesia pada perempat final All England 2019. Mereka adalah pasangan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang akan berhadapan dengan unggulan keempat Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dari Thailand.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ketut/Rizki kalah pada perempat final All England 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putri Indonesia Ni Ketua Mahadewi Istirani/Rizki Amelia Pradipta kalah dari ganda Jepang pada laga perempat final turnamen All England 2019 di Birmingham, Inggris, Jumat.

Ketut/Rizki, seperti dipantau Antara di Jakarta, Jumat, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam dua gim 16-21, 17-21 selama 48 menit permainan dari pasangan Koharu Yonemoto/Shiho Tanaka.

Hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu menjadikan catatan pertemuan kedua pasangan menjadi imbang 1-1. Kedua ganda terakhir kali berhadapan pada turnamen Malaysia Masters 2019 dengan kemenangan Ketut/Rizki 21-13, 19-21, 21-11.

Rizki/Ketut kehilangan enam poin berturut-turut setelah unggul 15-12 pada gim pertama. Yonemoto/Tanaka pun balik mengembalikan keadaan menjadi 18-15.

“Permainan depan net mereka lebih baik pada hari ini. Pertemuan terakhir dengan mereka kami menang, maka kami berharap bisa memetik kemenangan lagi. Tapi, penampilan mereka tidak seperti sebelumnya dan mereka lebih siap dari kami,” kata Rizki seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sementara, Ketut mengaku terlambat untuk mengantisipasi perubahan pola permainan lawan. “Mereka ambil keuntungan dari servis dan langsung mempercepat tempo permainan. Kami malah tertekan dari mereka,” kata Ketut.

Meskipun Indonesia telah kehilangan satu wakil pada perempat final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu, masih ada satu ganda putri lain yaitu Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang akan bertanding juga pada perempat final.

Greysia/Apri akan menghadapi pasangan China Chen Qingchen/Jia Yifan sebagai pertandingan kelima mereka dalam turnamen internasional.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan tembus semifinal All England 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Merah-Putih Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berhasil menembus putaran semifinal turnamen All England 2019 setelah menaklukkan ganda Jerman pada pertandingan perempat final di Birmingham Inggris, Jumat.

Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 itu, seperti dipantau Antara di Jakarta, Jumat, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam dua gim langsung 21-12, 21-13 selama 27 menit permainan dari ganda Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel.

Hendra/Ahsan masih menanti calon lawan pada laga semifinal dari hasil pertandingan antara ganda China Han Chengkai/Zhou Haodong dengan wakil Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

Pasangan Indonesia itu punya catatan keunggulan 2-0 atas ganda China Han Chengkai/Zhou Haodong. Sedangkan atas Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, Hendra/Ahsan unggul 2-1.

Baca juga: Hendra/Ahsan fokus pertandingan tanpa beban All England 2014

Indonesia masih punya harapan untuk menambah wakil pada semifinal turnamen berusia 120 tahun itu jika ganda Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang atas pasangan Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong pada pertandingan perempat final.

Pasangan medali emas Asian Games 2014 itu menjadi wakil pertama Indonesia yang tembus pada semifinal turnamen tingkat Super 1000 itu menyusul kekalahan dua wakil lain sebelumnya yaitu ganda putri Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rizki Amelia Pradipta dan ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow.

Ketut/Rizki kalah dari pasangan Jepang Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto 16-21, 17-21. Sedangkan Owi/Winny takluk di tangan ganda campuran Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino 22-24, 19-21.

Baca juga: Hendra/Ahsan uji lapangan All England dengan persiapan penuh

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Tommy Sugiarto melaju ke perempat final

Pebulu tangkis putra Indonesia Tommy Sugiarto  mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis Cina Huang Yuxiang pada babak kedua All England 2019 di Arena Birmingham, Inggris, Kamis (7/3/2019). Tommy melaju ke babak perempat final setelah mengalahkan  Huang Yuxiang  dengan skor  22-24, 21-17 dan 21-16. ANTARA FOTO/Handout/Humas PP PBSI/Widya Amelia/wsj.

All England: Fajar dan Rian kandaskan ganda putra Cina

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Muhammad Rian Ardianto (kanan) dan Fajar Alfian berusaha mengembalikan kok ke arah ganda putra Cina Ou Xuanyi dan Ren Xiangyu pada babak kedua All England 2019 di Arena Birmingham, Inggris, Kamis (7/3/2019). Pasangan Fajar/Rian lolos ke babak perempat final setelah mengalahkan pasangan Ou Xuanyi/Ren Xiangyu dengan skor 13-21, 21-19 dan 23-21. ANTARA FOTO/Handout/Humas PP PBSI/Widya Amelia/wsj.

Tommy Sugiarto senang didampingi Hendra/Ahsan di tepi lapangan

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto mengakui kehadiran pasangan atlet putra Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan di pinggir lapangan pada pertandingan putaran kedua All England 2019 membawa pengaruh baik.

“Mereka yang menawarkan. ‘Mau ditemani atau tidak?’ Biasanya saya merasa sendiri di lapangan. Sekarang ada yang memberikan arahan, ada yang menemani saya,” kata pemain berusia 30 tahun itu seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat dini hari.

Tommy berhasil memenuhi target pribadinya yaitu lolos ke putaran perempat final All England 2019 sebagai perbaikan atas catatan edisi 2018 yang hanya mencapai putaran kedua.

Mantan atlet pemusatan latihan nasional PBSI itu menang atas wakil China Huang Yuxiang dalam tiga gim 22-24, 21-17, 21-16 pada pertandingan yang berlangsung Kamis (7/3) setempat.

“Mereka memberikan instruksi teknis karena mereka sebelumnya juga pernah bermain sebagai pemain tunggal. Mereka tentu mengerti permainan tunggal,” kata Tommy tentang instruksi Hendra dan Ahsan baginya.

Baca juga: Didampingi Hendra/Ahsan, Tommy penuhi target All England

Pertandingan Tommy tidak berjalan mudah karena dia diganjar kartu merah oleh wasit akibat dianggap menunda permainan.

“Saya tidak mendapatkan peringatan pertama, tapi langsung diberi kartu merah,” kata Tommy mempertanyakan keputusan wasit.

Tommy menjadi satu-satunya wakil Merah-Putih pada laga perempat final turnamen tingkat Super 1000 itu setelah pemain lain Jonatan Christie tumbang pada laga kedua.

Jonatan kalah dari pemain India Srikanth Kidambi dalam tiga gim 17-21, 21-11, 12-21.

Baca juga: Jonatan tersingkir dari All England 2019

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jonatan ungkap alasan kekalahannya, kulit jari kaki robek

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, mengungkapkan kondisinya yang harus menahan rasa sakit di awal gim ketiga putaran All England 2019 hingga akhirnya menelan kekalahan melawan wakil India Srikant Kidambi di Birmingham, Inggris, Kamis (7/3) setempat.

“Ketika kedudukan 2-1 gim ketiga, saya merasa kulit jari kaki kiri saya sobek dan agak berdarah. Saya sudah mencoba untuk menahan, tapi terasa perih sekali. Rasa perih itu mempengaruhi pergerakan saya sehingga menjadi lambat,” kata atlet berusia 21 tahun itu sebagaimana dilansir laman resmi PBSI, Jumat dini hari WIB.

Jonatan kalah dalam tiga gim 17-21, 21-11, 12-21 selama 58 menit permainan dari pemain India peringkat delapan dunia itu.

Hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu pun mengubah catatan pertemuan kedua pemain menjadi imbang 3-3. Sebelumnya pada turnamen Indonesia Masters 2019, Jontan menang atas Kidambi dalam dua gim 21-18, 21-19.

“Hari ini, Srikanth bermain lebih bagus. Dia tidak banyak melakukan kesalahan sendiri. Dia bisa menerapkan strategi yang tepat melawan saya,” ujar Jonatan yang mengaku Srikanth akan melepaskan gim kedua demi menerapkan strategi pada gim ketiga.

Baca juga: Jonatan tersingkir dari All England 2019

Sementara, pemain asal klub Tangkas Jakarta itu mengaku tidak dalam kondisi terbaiknya pada laga kedua turnamen tingkat Super 1000 itu. Jonatan mengakui kesalahan-kesalahan yang dibuatnya sehingga menambah perolehan angka bagi lawan.

“Saya banyak melakukan kesalahan sendiri yang semestinya tidak saya lakukan,” kata Jonatan.

Meskipun Jonatan tersingkir, Indonesia masih punya harapan pada nomor tunggal putra menyusul keberhasilan Tommy lolos laga putaran kedua. Tommy melaju ke perempat final setelah menang atas pemain China Huang Yuxiang 22-24, 21-17, 21-16.

Tommy sukses memenuhi target pribadinya untuk mencapai hasil lebih baik dibanding All England 2018 yaitu putaran perempat final walau sempat terganjar kartu merah.

Sebelumnya pada laga putaran pertama, Anthony Sinisuka Ginting harus pulang lebih awal setelah kalah dari pemain Hong Kong NG Ka Long Angus dalam tiga gim 18-21, 21-13, 11-21.

NG Ka Long Angus akan menjadi calon lawan bagi Tommy pada laga perempat final yang akan berlangsung Jumat waktu setempat.

Baca juga: Didampingi Hendra/Ahsan, Tommy penuhi target All England

Baca juga: Tommy Sugiarto senang didampingi Hendra/Ahsan di tepi lapangan

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jonatan tersingkir dari All England 2019

Jakarta (ANTARA) – Pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie tersingkir pada turnamen All England 2019 setelah kalah dari wakil India Srikanth Kidambi pada laga putaran kedua di Birmingham, Inggris, Kamis.

Jonatan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam tiga gim 17-21, 21-11, 12-21 selama 58 menit permainan.

Hasil pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu pun mengubah catatan pertemuan kedua pemain menjadi imbang 3-3. Sebelumnya pada turnamen Indonesia Masters 2019, Jontan menang atas Kidambi dalam dua gim 21-18, 21-19.

Meskipun Jonatan tersingkir, Indonesia masih punya harapan pada nomor tunggal putra menyusul keberhasilan Tommy lolos putaran kedua. Tommy melaju ke perempat final setelah menang atas pemain China Huang Yuxiang 22-24, 21-17, 21-16.

Tommy sukses memenuhi target pribadinya untuk mencapai hasil lebih baik dibanding All England 2018 yaitu putaran perempat final walau sempat terganjar kartu merah.

Sebelumnya pada laga putaran pertama, Anthony Sinisuka Ginting harus pulang lebih awal setelah kalah dari pemain Hong Kong NG Ka Long Angus dalam tiga gim 18-21, 21-13, 11-21.

NG Ka Long Angus akan menjadi calon lawan bagi Tommy pada laga perempat final yang akan berlangsung Jumat waktu setempat.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Permainan depan kunci kemenangan laga kedua Fajar/Rian

Jakarta (ANTARA) – Penguasaan permainan depan net pada poin-poin terakhir gim ketiga menjadi kunci kemenangan pasangan atlet bulu tangkis putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada pertandingan putaran kedua All England 2019 di Birmingham Inggris, Kamis.

“Pertandingan tadi berlangsung dramatis karena kami belum menemukan pola permainan pada gim pertama. Kami mencoba bangkit pada gim kedua. Pada gim ketiga, kami memimpin lalu tersusul karena sempat kehilangan fokus. Tapi, kami kembali menguasai permainan dan menang,” kata Fajar seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam.

Panda Fajar/Rian menang atas pasangan China Ou Xuanyi/Ren Xiangyu dalam tiga gim 13-21, 21-19, 23-21 selama 61 menit pada turnamen tingkat Super 1000 itu.

Fajar mengatakan penguasan permainan depan pada poin-poin kritis diperolehnya bersama Rian setelah berdiskusi dengan pelatih ketika jeda permainan.

“Jika kami menghadapi Ou/Ren lagi, kami harus siap dengan pola permainan cepat. Mereka sangat mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Mereka juga jarang bermain bertahan maka kami harus fokus sejak awal permainan, “kata Fajar.

Baca juga: Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England

Pada laga perempat final turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu, Fajar/Rian akan melawan ganda Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong sebagai pertemuan kedua mereka setelah turnamen Malaysia Masters 2018.

Pada Malaysia Masters 2018, Fajar/Rian menang 14-21, 24-22, 21-13 atas ganda peringkat 14 dunia itu.

“Kami harus tetap waspada karena mereka adalah pasangan peraih medali perak Olimpiade Rio 2016. Mereka tentu punya banyak pengalaman,” kata Rian tentang laga perempat final yang akan dihadapinya itu.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Didampingi Hendra/Ahsan, Tommy penuhi target All England

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto berhasil memenuhi target pribadinya dalam turnamen All England 2019 dengan mencapai putaran perempat final setelah menang pada laga kedua atas pemain China Huang Yuxiang di Birmingham Inggris, Kamis.

Tommy, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam tiga gim 22-24, 21-17, 21-16 selama 80 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 itu.

Tommy pun semakin mengukuhkan dominasi atas Huang Yuxiang menjadi 3-0 setelah hasil pertandingan putaran kedua All England 2019 itu.

Kemenangan Tommy juga tidak lepas dari dukungan pasangan atlet putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menjadi pendamping di pinggir lapangan Birmingham Arena ketika Tommy bertanding.

“Itu inisiatif Hendra dan Ahsan untuk mendampingi saya ketika bertanding. Itu juga menjadi penyemangat saya karena ada yang mendampingi saya,” ujar Tommy dalam pesan singkat kepada media di Jakarta.

Meskipun telah memastikan diri mencapai target pribadi yaitu masuk putaran perempat final All England dan mendapatkan dukungan dari sesama pemain non-pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Hendra/Ahsan, Tommy sempat mendapatkan kartu merah dari wasit karena telat masuk lapangan pada jeda gim ketiga.

Tommy mengaku tidak mendapatkan peringatan dari wasit ketika akan memberikan kartu merah untuknya.

Pada pertandingan putaran perempat final, Tommy akan menghadapi pemain Hong Kong NG Ka Long Angus. Tommy punya catatan empat kemenangan dan dua kekalahan atas pemain peringkat 15 dunia itu.

Baca juga: Tommy ikuti Jonatan ke putaran kedua All England

Sebelumnya pada All England 2018, Tommy harus terhenti pada laga putaran kedua setelah kalah dari H.S. Prannoy dalam dua gim 10-21, 19-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi/Winny hempaskan ganda campuran Malaysia di Inggris

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow berhasil menghempaskan wakil Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying pada pertandingan putaran kedua All England 2019 di Birmingham Inggris, Kamis.

Pasangan atlet Merah-Putih peringkat 164 dunia itu, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas Chan/Goh dalam tiga gim 21-15, 16-21, 23-21 selama 56 menit permainan.

“Saya bilang ke Winny, dalam kejuaraan penting, kita harus selalu dalam keadaan siap pada poin kritis. Tadi, bola mati karena kami tidak siap,” kata Owi tentang usahanya untuk membimbing pasangan yang juga juniornya itu.

Owi/Winny tampil tanpa beban menghadapi Chan/Goh sebagai pasangan unggulan lima dalam turnamen tingkat Super 1000 itu. Ganda Indonesia itu juga sukses menjebol pertahanan lawan dengan penempatan bola-bola yang sulit dikembalikan.

“Strategi permainan kami sudah benar sejak awal permainan. Tapi, kami sempat terpancing pola permainan lawan pada gim kedua. Kami mendapatkan instruksi dari pelatih pada gim ketiga dan mengembalikan strategi seperti gim pertama,” ujar Owi.

Sementara, Winny mengakui kesalahan permainannya pada poin-poin terakhir karena tidak fokus pada pertandingan. “Saya sempat punya beban karena harus berpasangan dengan bang Owi. Ketika bertanding, beban itu tidak ada lagi dan dia lebih rileks seperti layaknya seorang teman,” kata Winny.

Pada laga perempat final, Owi/Winny masih menunggu calon lawan dari hasil pertandingan antara ganda China Lu Kai/Chen Lu dengan pasangan Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Indonesia masih berpeluang menambah wakil pada perempat final All England 2019 menyusul pasangan lain Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang akan bertanding pada laga kedua melawan ganda Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan fokus pertandingan tanpa beban All England 2014

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan tidak menaruh pencapaian juara pada 2014 sebagai target dalam turnamen All England 2019 dan lebih fokus pada pertandingan.

“Itu adalah gelar yang pernah kami dapatkan pada lima tahun lalu. Saat ini, kami fokus pertandingan demi pertandingan saja dan yang lalu biar berlalu,” kata Ahsan seperti tercantum dalam akun Twitter All England pada Kamis malam.

Pasangan atlet medali emas Asian Games 2014 itu menang atas ganda Rusia Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov dalam dua gim 21-19, 21-18 selama 32 menit permainan.

Hasil pertandingan putaran kedua All England 2019 itu menjadi kemenangan keempat Hendra/Ahsan selama pertemuan mereka menghadapi pasangan Rusia peringkat 23 dunia itu.

“Kami bersyukur bisa menang. Pertandingan tadi tidak mudah. Kami harus fokus terus karena mereka punya serangan yang baik. Saya juga selalu berusaha menurunkan bola ketika menyerang,” kata Ahsan.

Sementara, Hendra mengatakan suasana pertandingan turnamen tingkat Super 1000 itu selalu meriah setiap tahunnya. “Saya senang bisa bermain di sini,” katanya.

Pada laga perempat final turnamen berusia 120 tahun itu, Hendra/Ahsan akan menghadapi pasangan Jerman Mark Lamsfuss/Marvin Seidel.

Hendra/Ahsan menjadi juara All England 2014 setelah mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa 21-19, 21-19.

Pasangan lain ganda putra Merah-Putih yang juga lolos ke laga perempat final All England 2019 adalah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.

Fajar/Rian menang atas pasangan China Ou Xuanyi/Ren Xiangyu dalam tiga gim 13-21, 19-21, 23-21 selama 61 menit. Pada laga perempat final, Fajar/Rian akan melawan ganda Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong sebagai pertemuan kedua mereka setelah turnamen Malaysia Masters 2018.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan terus melaju dalam All England

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto serta Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan terus melaju dalam turnamen All England dengan memenangkan laga putaran kedua di Birmingham Inggris, Rabu waktu setempat.

Hendra/Ahsan, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam, dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas pasangan Rusia Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov dalam dua gim 21-19, 21-18 selama 32 menit permainan.

Kemenangan dalam All England 2019 menjadi kemenangan keempat Hendra/Ahsan selama pertandingan mereka menghadapi pasangan Rusia peringkat 23 dunia itu.

Sementara, ganda Fajar/Rian menang atas pasangan China Ou Xuanyi/Ren Xiangyu dalam tiga gim 13-21, 21-19, 23-21 selama 61 menit.

Kemenangan dua pasangan Merah-Putih itu setidaknya masih menjaga harapan bagi Indonesia untuk memetik gelar juara pada nomor ganda putra dalam turnamen berusia 120 tahun itu.

Sebelumnya pada laga pertama, pasangan andalan Tanah Air Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon harus tersingkir pada laga pertama dari ganda China Liu Cheng/Zhang Nan 19-21, 22-20, 17-21.

Dua pasangan lain yaitu Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso serta Berry Angriawan/Hardianto juga tersingkir pada pertandingan putaran pertama.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tommy: Saya tidak boleh kalah oleh keadaan

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto menyatakan targetnya dalam All England 2019 untuk bermain lebih baik dibanding pencapaiannya pada 2018 yang terhenti pada pertandingan putaran kedua.

“Pasti ada pengaruh. Tapi, saya berusaha untuk tetap tampil fokus dan tenang. Saya tidak boleh kalah oleh keadaan. Saya datang ke sini untuk fokus bertanding,” kata Tommy dalam pesan singkat kepada media di Jakarta, Kamis, tentang pertandingannya pada laga pertama All England 2019 tanpa didampingi pelatih.

Tommy melaju ke putaran kedua turnamen tingkat Super 1000 itu setelah menaklukkan pemain tuan rumah Rajiv Ouseph dalam dua gim 21-16, 21-19 dalam permainan sepanjang 40 menit.

Tommy mengaku berhasil mengalahkan Rajiv Ouseph dengan strategi meningkatkan tempo permainan, terutama pada poin-poin terakhir.

Pada pertandingan putaran kedua yang akan berlangsung pada Kamis waktu setempat, Tommy akan menghadapi pemain China Huang Yuxiang.

“Bermain dengan pelatih tentu lebih menguntungkan. Pelatih tahu situasi karena berada di luar lapangan. Kalau sendiri, terasa sulit untuk mengubah situasi yang cepat,” kata pemain non-pemusatan latihan nasional (pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) itu.

Tommy menjadi wakil kedua tunggal putra Indonesia yang lolos pada putaran kedua turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu setelah Jonatan Christie yang mengalahkan pemain Korea Selatan Lee Dong Keun dalam dua gim 21-16, 21-19 selama 46 menit permainan.

“Banyak pemain yang menunggu turnamen besar ini. Saya berharap penampilan tunggal putra mencapai terbaik dan saya berusaha maksimal pada pertandingan berikutnya,” kata pemain berusia 30 tahun itu.

Namun, langkah Tommy dan Jonatan tidak dapat diikuti Anthony Sinisuka Ginting yang kalah terlebih dahulu dari pemain Hong Kong Ng Ka Long Angus. Ginting kalah 18-21, 21-13, 11-21 dalam permainan selama 58 menit melawan Angus.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England: Greysia/Apriyani kalahkan pasangan Inggris

Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu (kiri) dan Greysia Polii berusaha mengembalikan kok kearah ke ganda putri Inggris Chloe Birch/Lauren Smith pada babak pertama All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Rabu (6/3/2019). Greysia/Apriyani melaju ke babak berikutnya usai mengalahkan wakil tuan rumah Chloe Birch/Lauren Smith dengan skor 21-19 dan 21-15. ANTARA FOTO/Widya Amelia – Humas PP PBSI/hma/hp.

All England: Tontowi/Winny menang

Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Winny Oktavina Kandow (kiri) dan Tontowi Ahmad berusaha mengembalikan kok kearah ganda campuran Indonesia Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami pada babak pertama All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Rabu (6/3/2019). Ganda campuran Tontowi/Winny berhasil melaju ke babak kedua setelah menang atas pasangan Indonesia Alfian/Marsheilla dengan skor 21-7 dan 21-18. ANTARA FOTO/Widya Amelia – Humas PP PBSI/hma/hp.

Praveen/Melati tumbangkan Hafiz/Gloria dalam All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti menumbangkan sesama pasangan Tanah Air Hafiz Faizal/Melati Daeva Oktavianti dalam pertandingan putaran pertama All England 2019 di Birmingham, Inggris, Rabu malam waktu setempat.

Praveen/Melati, seperti dipantau Antara di Jakarta, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam tiga gim 17-21, 21-18, 21-19 selama 55 menit permainan atas pasangan peringkat 10 besar dunia itu.

Praveen/Melati semakin dominan dalam pertemuannya dengan Hafiz/Gloria setelah pertandingan turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu. Kedudukan Praveen/Melati menjadi 3-1 atas Hafiz/Gloria.

Indonesia memastikan dua pasangan campuran melaju ke putaran kedua All England 2019 yaitu Praveen/Melati dan Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow.

Ganda Owi/Winny masuk putaran kedua turnamen berusia 120 tahun itu setelah mengalahkan pasangan lain Merah-Putih Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami dalam dua gim 21-7, 21-18.

Sebelumnya dalam persiapan turnamen, Praveen mengakui pertemuannya dengan Hafiz/Gloria adalah pertandingan yang merugikan bagi Indonesia karena harus saling mengalahkan pada putaran pertama.

“Kami memberikan permainan terbaik kami. Kekuatan kami saling imbang dan kami berlatih bersama. Kami sudah saling tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing,” kata Praveen seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.

Selain Hafiz/Gloria dan Alfian/Marsheilla, dua pasangan lain nomor ganda campuran Indonesia juga harus tersisih dari turnamen tingkat Super 1000 itu. Mereka adalah Ronald Alexander/Annisa Saufika dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

Ronald/Annisa kalah dari pasangan Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie dalam dua gim 16-21, 11-21. Sedangkan Rinov/Pitha dipaksa menyerah oleh pasangan Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich dalam tiga gim 24-22, 21-23, 17-21.Praveen/Melati tumbangkan Hafiz/Gloria dalam All England

Pasangan atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti menumbangkan sesama pasangan Tanah Air Hafiz Faizal/Melati Daeva Oktavianti dalam pertandingan putaran pertama All England 2019 di Birmingham, Inggris, Rabu malam waktu setempat.

Praveen/Melati, seperti dipantau Antara di Jakarta, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam tiga gim 17-21, 21-18, 21-19 selama 55 menit permainan atas pasangan peringkat 10 besar dunia itu.

Praveen/Melati semakin dominan dalam pertemuannya dengan Hafiz/Gloria setelah pertandingan turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu. Kedudukan Praveen/Melati menjadi 3-1 atas Hafiz/Gloria.

Indonesia memastikan dua pasangan campuran melaju ke putaran kedua All England 2019 yaitu Praveen/Melati dan Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow.

Ganda Owi/Winny masuk putaran kedua turnamen berusia 120 tahun itu setelah mengalahkan pasangan lain Merah-Putih Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami dalam dua gim 21-7, 21-18.

Sebelumnya dalam persiapan turnamen, Praveen mengakui pertemuannya dengan Hafiz/Gloria adalah pertandingan yang merugikan bagi Indonesia karena harus saling mengalahkan pada putaran pertama.

“Kami memberikan permainan terbaik kami. Kekuatan kami saling imbang dan kami berlatih bersama. Kami sudah saling tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing,” kata Praveen seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.

Selain Hafiz/Gloria dan Alfian/Marsheilla, dua pasangan lain nomor ganda campuran Indonesia juga harus tersisih dari turnamen tingkat Super 1000 itu. Mereka adalah Ronald Alexander/Annisa Saufika dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

Ronald/Annisa kalah dari pasangan Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie dalam dua gim 16-21, 11-21. Sedangkan Rinov/Pitha dipaksa menyerah oleh pasangan Jerman Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich dalam tiga gim 24-22, 21-23, 17-21.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Greysia/Apriyani melangkah ke putaran kedua All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu melangkah ke putaran kedua turnamen All England 2019 setelah menang pada laga pertama di Birmingham, Inggris, Rabu malam waktu setempat.

Greysia/Apriyani, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis dini hari, dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam dua gim langsung melawan pasangan tuan rumah Chloe Birch/Lauren Smith 21-19, 21-15 selama 41 menit permainan.

“Kami ingin langsung fokus pada awal permainan dari lawan. Kami tidak ingin kehilangan ritme permainan sehingga dapat menang,” kata Greysia seperti dikutip situs resmi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Baca juga: Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England
Baca juga: Owi/Winny menang cepat atas sesama Indonesia dalam All England
Baca juga: Tommy ikuti Jonatan ke putaran kedua All England

Greysia mengakui persaingan dalam turnamen tingkat Super 1000 itu sangat ketat karena semua pemain dunia ingin tampil terbaik dan menang di Inggris.

“Kami ingin mengeluarkan semua kemampuan kami sejak awal. Fokus semua hal sejak awal, baik pikiran ataupun teknik permainan,” kata Apriyani.

Pada laga kedua turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu, pasangan Merah-Putih itu akan menghadapi ganda China Dong Wenjing/Feng Xueying, Kamis waktu setempat.

Sebelumnya ganda putri Della Destiara Haris/Tania Oktavianti Kusumah kalah pada laga pertama dari pasangan Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan 17-21, 23-25.

Sementara, pasangan Ni Ketut Mahadewi Istarani/Rizki Amelia Pradipta akan menghadapi ganda Denmark Maiken Fruergaard/Sara Thygesen pada laga pertama All England 2019.

Baca juga: Minions gagal pertahankan gelar juara All England
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelatih akui Fitriani terpancing permainan lawan di All England

Jakarta (ANTARA) – Pelatih sektor tunggal putri pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Minarti Timur mengakui permainan Fitriani sempat terbawa pola lawan pada laga pertama All England 2019 di Birmingham, Rabu waktu setempat.

“Fitriani menang pada gim pertama. Dia berani bermain reli dan menarik lawan untuk berada di sisi belakang lapangan. Pertahanan Fitri pun sudah rapat,” ujar Minarti dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Kamis dini hari.

Fitriani kalah dalam tiga gim 21-17, 15-21, 10-21 dari pemain peringkat tujuh dunia He Bingjiao dalam pertarungan selama 54 menit pada turnamen tingkat Super 1000 itu.

Baca juga: Minions gagal pertahankan gelar juara All England
Baca juga: Tunggal putri Indonesia ludes di All England

Pada gim kedua, menurut Minarti, anak asuhannya terpancing pola permainan lawan untuk bermain bola-bola cepat dan datar. “Bola-bola datar itu adalah pola permainan lawan,” ujarnya.

Minarti mengatakan Fitriani justru tidak mampu keluar dari tekanan lawan yang terlanjur kembali percaya diri dengan permainannya pada gim ketiga.

Hasil pertandingan All England 2019 itu menjadi kekalahan keempat Fitriani dari atlet China tersebut setelah pada pertemuan sebelumnya pada turnamen Malaysia Masters 2019 Fitri kalah 14-21, 11-21.

Indonesia tidak menyisakan wakil pada nomor tunggal putri pada turnamen bulu tangkis All England 2019 setelah kekalahan Fitriani itu.

Sebelumnya, atlet tunggal putri Merah-Putih lainnya, Gregoria Mariska Tunjung kalah dari pemain unggulan dua asal Jepang Nozomi Okuhara pada laga pertama 17-21, 16-21 selama 39 menit permainan.

Minarti mengatakan anak-anak asuhannya akan langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen-turnamen lain yaitu Singapura Terbuka dan Malaysia Terbuka 2019.

“Mereka berdua akan turun pada dua turnamen itu. Tapi untuk Fitriani, dia juga akan turun pada pertandingan beregu Kejuaraan Asia 2019 di Hong Kong,” kata Minarti.

Baca juga: Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England
Baca juga: Greysia/Apriyani melangkah ke putaran kedua All England
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan perbesar peluang Indonesia untuk gelar All England

Jakarta (ANTARA) – Dua pasangan atlet putra bulu tangkis Tanah Air Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memperbesar peluang gelar juara bagi Indonesia pada nomor ganda putra dalam All England 2019 dengan melangkah ke putaran kedua.

Pasangan Fajar/Rian, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis dini hari, dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam dua gim 23-21, 21-14 atas pemain Korea Selatan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dalam 32 menit permainan.

Fajar/Rian pun sukses menyeimbangkan kedudukan menjadi 1-1 dari dua pertemuan mereka dengan ganda peringkat 52 dunia itu.

Sebelumnya pada turnamen Selandia Baru Terbuka 2016, Fajar/Rian kalah dari Ko/Shin dalam dua gim 13-21, 8-21.

Baca juga: Minions gagal pertahankan gelar juara All England
Baca juga: Tommy ikuti Jonatan ke putaran kedua All England
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Kesuksesan Fajar/Rian ke putaran kedua turnamen All England 2019 diikuti pasangan senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menang atas ganda tuan rumah Marcus Ellis/Chris Langride pada laga pertama.

Hendra/Ahsan yang kini menjadi pasangan atlet profesional nonpelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) itu menang 21-19, 21-12 atas Marcus/Chris selama 36 menit permainan.

Ganda peraih medali emas Asian Games 2014 itu menambah catatan kemenangan atas Marcus/Chris menjadi 3-0 setelah pertandingan All England 2019.

Fajar/Rian dan Hendra/Ahsan membuka harapan bagi Indonesia untuk mempertahankan gelar All England pada sektor ganda putra setelah tiga pasangan lain tersingkir pada laga pertama.

Tiga pasangan itu adalah juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Berry Angriawan/Hardianto, serta Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso.

Baca juga: Owi/Winny menang cepat atas sesama Indonesia dalam All England
Baca juga: Tunggal putri Indonesia ludes di All England
Baca juga: Ginting juga pulang lebih awal dari All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tommy ikuti Jonatan ke putaran kedua All England

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto mengikuti langkah sesama pemain nasional Jonatan Christie setelah menang pada laga pertama turnamen All England 2019 di Birmingham, Inggris, Rabu.

Tommy menang atas pemain tuan rumah Rajiv Ouseph dalam dua gim 21-16, 21-19 dalam permainan sepanjang 40 menit, demikian situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada Kamis dini hari.

Kemenangan dalam turnamen tingkat Super 1000 itu menambah dominasi Tommy atas pemain peringkat 33 dunia itu menjadi 7-1 setelah pertemuan terakhir mereka pada turnamen Denmark Terbuka 2018.

Di Denmark, Tommy menang atas Rajiv Ouseph dalam dua gim 12-21, 19-21.

Baca juga: Minions gagal pertahankan gelar juara All England
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Pada pertandingan putaran kedua yang akan berlangsung pada Kamis waktu setempat, Tommy akan menghadapi pemain China Huang Yuxiang.

Huang tampil mengesankan dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu setelah menaklukkan unggulan tiga Chou Tien Chen dalam tiga gim 21-14, 16-21, 24-22 pada laga pertama.

Tommy punya catatan satu kemenangan atas Huang pada turnamen India Terbuka 2017 dengan skor 21-11, 11-21, 21-15.

Sebelumnya, Jonatan Christie melaju ke putaran kedua All England 2019 dengan mengalahkan pemain Korea Selatan Lee Dong Keun dalam dua gim 21-16, 21-19 selama 46 menit permainan.

Namun, langkah Tommy dan Jonatan tidak dapat diikuti Anthony Sinisuka Ginting yang kalah terlebih dahulu dari pemain Hong Kong Ng Ka Long Angus. Ginting kalah 18-21, 21-13, 11-21 dalam permainan selama 58 menit melawan Angus.

Baca juga: Ginting juga pulang lebih awal dari All England
Baca juga: Berry/Hardianto juga tersingkir dalam All England 2019
Baca juga: Tunggal putri Indonesia ludes di All England

 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi/Winny menang cepat atas sesama Indonesia dalam All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis nomor ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow menang cepat pada laga pertama turnamen All England 2019 atas sesama pasangan Merah-Putih Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami di Birmingham Inggris, Rabu waktu setempat.

Pasangan Owi/Winny, seperti dipantau Antara di Jakarta, Kamis dini hari, dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang dalam waktu 26 menit dengan skor 21-7, 21-18 atas ganda peringkat 23 dunia itu.

“Kami sudah bermain cukup baik dengan menekan lawan. Permainan kami sedikit menurun pada gim kedua karena membuat kesalahan sendiri. Itu menjadi pelajaran bagi kami,” kata Owi seperti dikutip situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sebagai pasangan peringkat 164 dunia, Owi/Winny mampu menampilkan kekompakan permainan mereka dengan mengalahkan Alfian/Marsheilla sekaligus menjadi catatan kemenangan pertama 1-0.

“Saya belum bermain dengan tenang dan masih mudah melakukan kesalahan. Saya juga mudah untuk lengah karena ketika unggul, saya kembali mengulang kesalahan,” ujar Winny.

Baca juga: Tommy ikuti Jonatan ke putaran kedua All England
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Pada pertandingan putaran kedua, Owi/Winny masih menunggu calon lawan dari hasil permainan antara pasangan Jepang Takuro Hoki/Wakana Nagahara dengan pasangan unggulan lima asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Owi mengakui permainannya bersama Winny belum benar-benar sempurna sebagaimana ketika berduet dengan Liliyana Natsir. “Kami baru turun dalam dua turnamen sebelumnya. Suasana kekompakan memang belum betul-betul padu. Kami masih harus menjaga ketenangan bermain,” ujar Owi.

Owi/Winny sementara menjadi wakil ganda campuran Indonesia yang melaju ke putaran kedua All England 2019. Indonesia juga memastikan setidaknya satu wakil lain yang melaju ke putaran kedua.

Mereka adalah pasangan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang juga menghadapi sesama ganda Indonesia yang lain yaitu Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Sementara itu, pasangan Ronald Alexander/Annisa Saufika kalah dari wakil Malaysia Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie dalam dua gim 16-21, 11-21 pada laga pertama.

Baca juga: Minions gagal pertahankan gelar juara All England
Baca juga: Susy tidak bebankan gelar All England ke Minions
Baca juga: Tunggal putri Indonesia ludes di All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minions gagal pertahankan gelar juara All England

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet putra bulu tangkis Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon gagal mempertahankan gelar juara All England setelah kalah pada laga pertama dari pasangan China Liu Cheng/Zhang Nan di Birmingham, Inggris, Rabu waktu setempat.

Ganda Indonesia yang akrab disapa Minions itu kalah dalam tiga gim 19-21, 22-20, 17-21 dari ganda Liu/Zhang selama 67 menit permainan demikian laman resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada Kamis dini hari.

Seperti dilaporkan situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Kevin/Marcus sempat mendapatkan kartu merah setelah wasit pertandingan menilai Marcus terlambat masuk lapangan pada gim kedua selama 20 detik. Wasit memberikan satu poin bagi lawan.

“Saya tidak tahu, saya dibilang telat masuk lapangan. Padahal, saya masuk bersama waktunya dengan lawan. Pemberian kartu itu tentu berpengaruh bagi kami karena lawan dapat satu poin,” ujar Marcus.

Baca juga: Susy tidak bebankan gelar All England ke Minions
Baca juga: Berry/Hardianto juga tersingkir dalam All England 2019
Baca juga: Jojo beri harapan dalam All England

Minions, sebagai ganda putra unggulan pertama, merupakan pasangan juara bertahan pada All England 2017 dan 2018. Mereka pun menjadi harapan PBSI untuk mencetak hattrick sebagaimana ganda Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

“Saya tampil kurang baik pada hari ini. Lawan bermain lebih siap dari kami. Kami ada beban, juga tidak mempersiapkan dengan baik menuju turnamen ini,” ujar Marcus.

Sementara, Kevin mengakui permainannya harus lebih ditingkatkan karena telah kalah pada laga pertama dari pasangan 12 dunia itu.

“Tidak ada yang berubah dari permainan lawan. Mereka masih bermain dengan pola yang sama,” ujar Kevin.

Sebagai catatan, kekalahan di turnamen tingkat Super 1000 itu menjadi kali kedua bagi Minions dalam tujuh pertemuan melawan Liu/Zhang.

Baca juga: Tunggal putri Indonesia ludes di All England
Baca juga: Ginting juga pulang lebih awal dari All England

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minions angkat kaki dari All England

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri) dan Marcus Fernaldi Gideon saat bertanding melawan ganda putra Cina Zhang Nan/Liu Cheng pada babak pertama All England 2019 di Arena Brimingham, Inggris, Rabu (6/3/2019). Kevin/Marcus gagal melaju ke babak kedua setelah dikalahkan Zhang Nan/Liu Cheng dengan skor 19-21, 22-20 dan 17-21. ANTARA FOTO/Widya Amelia/Humas PP PBSI/hma/pras.

Jonatan akui beruntung menang dua gim atas Lee Dong Keun

Jakarta (ANTARA) – Pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengaku beruntung dapat lolos dari pertandingan putaran pertama turnamen All England 2019 di Birmingham, Inggris, Rabu, dalam dua gim sekaligus atas pemain peringkat 22 dunia Lee Dong Keun.

“Ada faktor keberuntungan untuk saya pada gim kedua. Pada gim pertama, saya bermain agak tegang karena pada awal permainan masih mencari pola. Saya merasakan shuttlecock pada tahun ini lebih kencang, pada tahun sebelumnya shuttlecock terasa lebih berat,” kata Jonatan seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu.

Pemain Merah-Putih yang akrab disapa Jojo itu menang atas pemain peringkat 22 dunia Lee Dong Keun dalam dua gim 21-16, 21-19 selama 46 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 tersebut.

Jonatan hampir saja harus bermain dalam tiga gim saat tertinggal jauh 11-19 pada gim kedua dari pemain peringkat 22 dunia itu. Tapi, Jonatan mengunci perolehan angka Lee pada angka 19 dan meraih sepuluh angka berturut-turut sebelum memenangkan pertandingan.

“Waktu tertinggal 11-19 itu, saya hanya berusaha bermain tanpa beban. Mungkin Lee ada trauma, sudah memimpin jauh jadi tersusul. Sebetulnya permainan dia tidak jauh beda dengan yang sebelumnya. Saya hanya lebih berusaha untuk tidak mengikuti tipe mainnya dia yang agak lambat,” ujar peraih medali emas Asian Games 2018 itu.

Pada pertandingan putaran kedua, Jonatan akan melawan tunggal putra andalan India Kidambi Srikanth. Jonatan sementara unggul 3-2 dalam catatan rekor pertemuannya dengan Srikanth. Pada pertemuan terakhir di Daihatsu Indonesia Masters 2019, Jonatan menang dua gim langsung dengan skor 21-18, 21-19.

“Srikanth masih harus melawan Brice Leverdez. Saya belum tahu untuk permainan besok,” kata Jonatan.

Pada All England 2018, Jojo terhenti pada pertandingan putaran kedua dari pemain Korea Selatan Son Wan Ho 16-21, 12-21. Jojo menang atas pemain Hong Kong Wong Wing Ki Vincent pada pertandingan pertama All England 2018 dalam dua gim langsung 21-7, 21-13.

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jojo beri harapan dalam All England

Jakarta (ANTARA) – Jonatan Christie, atlet bulu tangkis tunggal putra Indonesia, memberikan harapan bagi Tanah Air dalam turnamen All England 2019 setelah menang atas pemain Korea Selatan Lee Dong Keun pada laga pertama di Birmingham, Inggris, Rabu.

Pemain Merah-Putih yang akrab disapa Jojo itu, seperti dipantau Antara di Jakarta, Rabu, dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas pemain peringkat 22 dunia itu dalam dua gim 21-16, 21-19 selama 46 menit permainan turnamen tingkat Super 1000 tersebut.

Jonatan pun berhasil menyamakan kedudukan dengan Lee Dong Keun menjadi 2-2 dalam catatan pertemuan mereka. Terakhir kali, Jonatan melawan Lee pada turnamen Singapura Terbuka 2017 dengan hasil kalah 18-21, 16-21.

Pemain asal klub Tangkas Jakarta itu memberikan harapan bagi Indonesia setelah tunggal putra lain Anthony Ginting kalah pada laga pertama dari pemain Hong Kong NG Ka Long Angus 18-21, 21-13, 11-21 selama 58 menit permainan.

Sebelumnya, tiga wakil lain Tanah Air juga tersingkir dari All England 2019 setelah kalah pada laga pertama. Mereka adalah dua pemain tunggal putri Gregoria Mariska dan Fitriani, kemudian ganda putra Berry Angriawan/Hardianto.

Gregoria kalah dari pemain Jepang Nozomi Okuhara 17-21, 16-21. Kemudian, Fitriani kalah dari pemain China He Bingjiao dalam tiga gim 21-17, 15-21, 10-21.

Sementara, Berry/Hardianto kalah dalam tiga gim dari pasangan Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong 14-21, 21-17, 17-21 selama 51 menit permainan.

Pada All England 2018, Jojo terhenti pada pertandingan putaran kedua dari pemain Korea Selatan Son Wan Ho 16-21, 12-21. Jojo menang atas pemain Hong Kong Wong Wing Ki Vincent pada pertandingan pertama All England 2018 dalam dua gim langsung 21-7, 21-13.

Pewarta:
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Berry/Hardianto juga tersingkir dalam All England 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis putra Indonesia Berry Angriawan/Hardianto menjadi wakil keempat Tanah Air yang tersingkir pada laga pertama turnamen All England 2019 di Birmingham, Inggris, Rabu.

Berry/Hardianto, seperti dipantau Antara di Jakarta, Rabu, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kalah dalam tiga gim dari pasangan Malaysia Goh V Shem/Tan Wee Kiong 14-21, 21-17, 17-21 selama 51 menit permainan.

Kekalahan di Inggris menjadi kekalahan ketiga ganda Indonesia peringkat 16 dunia itu dari pasangan Goh/Tan. Catatan pertemuan kedua pasangan itu menjadi 3-1 bagi ganda Negeri Jiran.

Turnamen China Terbuka 2018 merupakan pertandingan terakhir kedua pasangan saling berhadapan. Di Fuzhou, China, Berry/Hardianto kalah dari pasangan peringkat 14 dunia itu dalam dua gim 20-22, 18-21.

Indonesia masih menyisakan empat pasangan lain meskipun Berry/Hardianto telah tersingkir pada laga pertama. Mereka adalah ganda andalan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Sebelumnya, tiga wakil lain Indonesia telah tumbang pada laga pertama turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu. Mereka adalah dua tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani, serta satu tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting.

Gregoria kalah dari pemain Jepang Nozomi Okuhara 17-21, 16-21. Kemudian, Ginting kalah dari atlet Hong Kong NG Ka Long Angus 18-21, 21-13, 11-21. Terakhir, Fitriani kalah dari pemain China He Bingjiao dalam tiga gim 21-17, 15-21, 10-21.

Pewarta:
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tunggal putri Indonesia ludes di All England

Jakarta (ANTARA) – Indonesia tidak menyisakan wakil pada nomor tunggal putri pada turnamen bulu tangkis All England 2019 setelah Fitriani kalah dari pemain China He Bingjiao pada putaran pertama yang berlangsung di Birmingham, Inggris, Rabu.

Fitriani, seperti dipantau dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) di Jakarta, Rabu, kalah dalam tiga gim 17-21, 21-15, 10-21 dari pemain peringkat tujuh dunia itu dalam pertarungan selama 54 menit pada turnamen tingkat Super 1000 itu.

Ini menjadi kekalahan keempat Fitriani dari atlet China tersebut setelah pada pertemuan sebelumnya pada turnamen Malaysia Masters 2019 Fitri kalah 14-21, 11-21 dari He Bingjiao.

Kekalahan pemain Indonesia peringkat 28 dunia itu pun menjadi kekalahan Indonesia pada sektor tunggal putri turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu.

Sebelumnya, atlet tunggal putri Merah-Putih lainnya, Gregoria Mariska Tunjung kalah dari pemain unggulan dua asal Jepang Nozomi Okuhara pada laga pertama 17-21, 16-21 selama 39 menit permainan.

Pada All England 2018, Fitriani kalah dari Nozomi Okuhara pada laga kedua dengan skor 13-21, 15-21. Fitri melaju ke putaran kedua All England 2018 setelah mengalahkan pemain Malaysia Sonia Cheah dalam tiga gim 16-21, 21-18, 21-9.

Fitriani menjadi satu-satunya tunggal putri wakil Indonesia pada All England 2018 itu.

Baca juga: Gregoria tersisih pada laga pertama All England

Baca juga: Kurang olah bola jadi penyebab kekalahan Gregoria

Baca juga: Ginting juga pulang lebih awal dari All England

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kurang olah bola jadi penyebab kekalahan Gregoria

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska mengakui kekalahannya dari pemain Jepang Nozomi Okuhara karena kurang mengolah bola dan bermain sabar pada laga pertama All England 2019, yang berlangsung di Birmingham, Inggris, Rabu.

“Okuhara punya tipe permainan reli. Ketika saya berusaha mengejar perolehan angka, dia mengubah pola permainan dengan bertahan. Saya justru kurang sabar, padahal saya punya banyak kesempatan untuk olah bola. Penyelesaian permainan saya kurang,” kata Gregoria dikutip dari situs resmi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu.

Langkah Gregoria dalam turnamen tingkat Super 1000 itu harus berhenti pada laga pertama setelah kalah dari pemain Jepang Nozomi Okuhara 17-21, 16-21.

Gregoria sempat memberikan perlawanan dengan unggul 6-1 pada gim kedua, namun di akhir gim ia kembali kalah konsisten dari Okuhara.

“Saya sebetulnya tidak terlalu puas dengan permainan tadi karena dalam dua pertandingan sebelumnya saya bisa merebut satu gim. Saya ingin bermain lebih baik lagi melawan Okuhara karena sudah pernah ketemu,” ujar pemain berusia 19 tahun itu.

Hasil pertandingan dalam All England 2019 menjadi kekalahan ketiga Gregoria dari Nozomi setelah kekalahan terakhirnya pada turnamen China Terbuka 2019 dengan skor 15-21, 21-19, 12-21.

“Saya tidak ada beban permainan karena ini adalah All England pertama bagi saya. Suasana pertandingannya sebenarnya sama saja. Soal cedera, saya juga sudah tidak terlalu merasakan.

Atlet asal klub Mutiara Cardinal Bandung itu mengakui telah melakukan evaluasi dari hasil pertandingan turnamen sebelumnya. “Saya maunya terus tampil stabil, satu demi satu pertandingan walaupun dari turnamen Super 300 lebih dulu,” kata Gregoria.

Baca juga: Gregoria tersisih pada laga pertama All England

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ginting juga pulang lebih awal dari All England

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting juga harus pulang lebih awal dari turnamen All England setelah dikalahkan pemain Hong Kong NG Ka Long Angus pada laga pertama turnamen All England 2019 yang berlangsung di Birmingham, Inggris, Rabu.

Sebelumnya tunggal putri Gregoria Mariska juga tersisih pada laga pertamanya pada All England 2019 itu setelah kalah oleh pebulu tangkis Jepang Nozomi Okuhara 17-21, 16-21.

Ginting, atlet asal klub SGS PLN Bandung, seperti disiarkan situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) di Jakarta, Rabu, kalah dalam tiga gim dari pemain peringkat 15 dunia itu 18-21, 21-13, 11-21 dalam 58 menit.

Catatan pertemuan Ginting dengan NG Ka Long Angus pun menjadi 3-5 setelah hasil pertandingan turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu.

Sebelumnya dalam turnamen Jepang Terbuka 2018, Ginting mengalahkan NG Ka Long Angus dalam dua gim langsung 21-14, 21-15.

Walaupun telah kehilangan Ginting, Indonesia masih punya dua pemain lain tunggal putra dalam turnamen tingkat Super 1000 itu. Mereka adalah Jonatan Christie dan Tommy Sugiarto.

Jonatan akan menghadapi pemain Korea Selatan Lee Dong Keun pada laga pertama. Pertemuan di Birmingham itu akan menjadi pertemuan keempat kedua pemain.

Sementara, Tommy akan melawan pemain tuan rumah Rajiv Ouseph sebagai pertandingan kedelapan mereka setelah terakhir kali berhadapan pada Denmark Terbuka 2018.

Baca juga: Kurang olah bola jadi penyebab kekalahan Gregoria

Baca juga: Gregoria tersisih pada laga pertama All England

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gregoria tersisih pada laga pertama All England

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska tersisih dari All England 2019,  setelah dikalahkan oleh pebulu tangkis Jepang Nozomi Okuhara pada putaran pertama turnamen yang berlangsung di Birmingham, Inggris, Rabu.

Atlet asal klub Mutiara Cardinal Bandung itu kalah dalam dua gim 17-21, 16-21 dalam 39 menit dari pemain unggulan dua turnamen tingkat Super 1000 itu.

Kekalahan pada All England 2019 itu tercatat sebagai kekalahan ketiga Gregoria dari pebulu tangkis tunggal putri peringkat dua dunia itu setelah pertemuan terakhir mereka pada China Terbuka 2018.

Pada China Terbuka 2018, Gregoria kalah dari Nozomi dengan skor 15-21, 21-19, 12-21.

Indonesia masih bisa berharap pada penampinan atlet tunggal putri pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) lainnya, Fitriani dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu.

Fitri akan menghadapi pemain China He Bingjiao sebagai pemain unggulan enam dalam All England. Pertandingan itu akan menjadi pertemuan keempat kedua pemain.

Sebelumnya, Fitriani kalah dari He pada turnamen Malaysia Masters 2019 dalam dua gim 14-21, 11-21.

Baca juga: Susy tidak bebankan gelar All England ke Minions

Baca juga: Fitriani perbaiki akurasi serangan jelang All England

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kevin Sanjaya dkk diguyur bonus juara Superliga

Jakarta (ANTARA) – Sukses Kevin Sanjaya dan kawan-kawan pada kejuaraan bulu tangkis internasional Djarum Superliga Badminton 2019 berbuah manis karena langsung mendapatkan apresiasi dari Djarum Foundation sebesar Rp300 juta.

“Bonus untuk tim putra ini merupakan bagian dari skema Djarum Foundation dalam mengapresiasi dan memotivasi para atlet PB Djarum. Kami berharap para atlet ini, terutama yang muda, akan semakin terpacu semangatnya meraih prestasi yang lebih tinggi,” kata Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin dalam katerangan resmi yang diterima media di Jakarta, Selasa.

Pada Djarum Superliga Badminton 2019, Kevin Sanjaya dkk yang memperkuat PB Djarum menjadi yang terbaik setelah difinal mengalahkan juara bertahan empat kali Musica Trinity dengan skor 3-1. Kemenangan ini jelas membuat tim yang bermarkas di Kudus Jawa Tengah pantas berbangga diri.

Pemain PB Djarum yang sukses mematahkan dominasi Musica Trinity adalah Ihsan Maulana Mustofa, Mohammad Ahsan/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Shesar Hiren Rhustavito, Akbar Bintang Cahyono/Berry Angriawan dan Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay. Selain mendapatkan bonus, mereka juga mendapatkan hadiah kemenangan sebesar USD 80.000.

Meski telah melahirkan pebulutangkis papan atas seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, dan Tontowi Ahmad, baru pada tahun ini PB Djarum berhasil menjadi kampiun Djarum Superliga Badminton. Gelar juara terasa semakin spesial mengingat klub yang bermarkas di Kudus tersebut, sama sekali tidak menurunkan pemain asing di nomor beregu putra.

Yoppy mengatakan, sejak turnamen pertama kali digelar pada 2007, klub sudah berupaya maksimal agar mampu meraih gelar juara, termasuk dengan mencari pemain asing untuk menambal kekurangan tim. Gelar juara Djarum Superliga Badminton akhirnya benar-benar berhasil direbut pada tahun ini justru ketika PB Djarum lebih berfokus untuk menurunkan atlet mereka sendiri.

“Tahun ini kami hanya mengandalkan pemain sendiri. Kami memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk tampil. Bagi kami menang atau kalah itu belakangan, yang penting main dulu. Ternyata permainan mereka semakin hari semakin bagus. Kami jadi semakin percaya diri untuk mengandalkan pemain sendiri,” Yoppy Rosimin menambahkan.

Meski menang dengan skor 3-1, perjuangan pemain PB Djarum ini luar biasa. Apalagi pada partai final pemain yang dihadapi banyak yang punya nama besar yang diantaranya adalah Anthony Sinisuka Ginting, Fajar Alfian/Vladimir Ivanov hingga Lee Yong-Dae/Kim Sa-rang.

Yoppy menambahkan raihan juara ini semakin memantapkan PB Djarum dalam menggembleng dan mengandalkan para pemain mudanya di turnamen-turnamen penting di masa mendatang. Meski masih cukup banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi terutama di sektor putri, Yoppy optimis potensi pemain muda mereka dapat semakin berkembang.

“Perjuangannya memang tidak mudah. Namun kami punya banyak pemain muda yang diharapkan dalam dua tahun kedepan akan semakin matang. Kami terus berusaha, dan dengan hasil ini kami jadi semakin percaya diri,” kata Yoppy menegaskan.

Pewarta:
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susy tidak bebankan gelar All England ke Minions

Di atas kertas, Kevin/Marcus memang lebih unggul. Kami harapkan tidak jadi beban buat mereka apalagi menyandang gelar juara bertahan. Kami berharap sektor lain juga memberikan kejutan gelar,..

Jakarta (ANTARA) – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Susy Susanti tidak memberikan beban target gelar juara All England 2019 kepada ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon atau akrab disapa pasangan Minions.

“Di atas kertas, Kevin/Marcus memang lebih unggul. Kami harapkan tidak jadi beban buat mereka apalagi menyandang gelar juara bertahan. Kami berharap sektor lain juga memberikan kejutan gelar,” kata Susy pada sesi latihan di Birmingham, Inggris seperti tercantum dalam situs PBSI yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa.

Meskipun tidak memberikan target gelar juara, Susy masih berharap ganda Minions dapat mencetak “hattrick” sebagaimana pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang meraih tiga gelar juara All England.

“Kami berharap Kevin/Marcus dapat melanjutkan tradisi itu. Pemain Indonesia semestinya dapat menampilkan prestasinya karena All England bukan hanya gengsi bulu tangkis tapi membawa nama baik negara,” kata peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu.

Susy mengatakan peta persaingan dalam turnamen-turnamen internasional, apalagi All England sebagai turnamen tingkat Super 1000, memang sangat ketat. Tapi, para pemain Indonesia sebetulnya sudah punya gambaran tentang kekuatan calon-calon lawan yang akan mereka hadapi. “Kesiapan dan strategi yang akan menentukan kemenangan,” kata Susy.

Indonesia mengirimkan 36 atlet bulu tangkis nasional pada turnamen All England 2019 yang akan berlangsung di Birmingham, Inggris pada 6-10 Maret.

Para pemain bulu tangkis Indonesia yang akan berlaga pada turnamen tingkat Super 1000 itu, seperti dipantau Antara dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Kamis, antara lain empat atlet tunggal putra Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Tommy Sugiarto.

Kemudian pada nomor tunggal putri, Indonesia menempatkan Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani.

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Ade Yusuf Santoso/Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira, dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan akan turun pada nomor ganda putra.

Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Rizki Amelia Pradipta/Ni Ketut Mahadewi Istarani, dan Della Destiara Haris/Tania Oktaviani Kusumah juga akan turun pada turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu.

Pada nomor ganda campuran, Indonesia menurukan pasangan Pravee Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, dan Ronald Alexander/Annisa Saufika.

“Persiapan para atlet sudah penuh dan hal yang paling penting bagi kami adalah kesehatan para pemain. All England adalah salah satu target karena termasuk turnamen yang bergengsi,” kata Susy.

Pewarta:
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All England 2019, empat ganda campuran Indonesia saling berhadapan

Jakarta (ANTARA) – Empat pasangan ganda campuran tim bulutangkis Indonesia akan saling berhadapan di babak pertama kejuaraan All England 2019 yang akan berlangsung pada Selasa (5/3) di Birmingham Arena, Birmingham, Inggris.

Keempat pasang perwakilan tim Merah Putih tersebut, antara lain pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang akan berhadapan dengan pasangan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

“Memang bisa dibilang merugikan kalau ketemu teman sendiri di babak pertama. Tapi mau bagaimana lagi. Kami jalani saja dan terus berusaha memberikan yang terbaik,” kata Praveen seperti dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org, Senin.

Pertemuan antara Praveen/Melati dengan Hafiz/Gloria dalam kejuaraan All England 2019 bukan yang pertama kali. Keduanya telah lebih dulu bertemu di dua kejuaraan lainnya dan sama-sama pernah memenangkan pertandingan sehingga skor pertemuannya menjadi imbang 1-1.

“Kekuatan kami cukup imbang. Kami sering bertemu saat latihan dan pertandingan kejuaraan, jadi sudah tahu gaya permainannya. Tapi kami tetap lakukan persiapan, latihan dengan baik dan motivasi terus dijaga, sehingga kami optimis bisa menang,” ujar Praveen.

Selain Praveen/Melati dan Hafiz/Gloria, pasangan lainnya, yakni ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow yang nantinya juga akan menghadapi rekan setimnya, yaitu pasangan Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami.

Seperti diketahui, setelah Liliyana Natsir memutuskan untuk gantung raket, kini Tontowi berpasangan dengan pemain muda Winny Oktavina Kandow.

Kejuaraan All England 2019 BWF World Tour Super 1000 akan berlangsung mulai 6 hingga 10 Maret 2019 di Birmingham Arena, Birmingham, Inggris dengan total hadiah yang direbutkan mencapai satu juta Dolar Amerika Serikat (AS).

Pewarta:
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ronald/Annisa pasang target sampai semifinal All England 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia Ronald Alexander/Annisa Saufika menargetkan sampai ke babak semifinal kejuaraan All England 2019 yang berlangsung di Birmingham Arena, Inggris. Melalui laman badmintonindonesia.org, pasangan Ronald/Annisa mengaku akan terus berupaya untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya selama kejuaraan bulutangkis BWF World Tour Super 1000 itu berlangsung.

“Kalau pelatih menargetkan yang penting kami main secara all out dulu di semua pertandingan. Tapi kami berdua maunya bisa sampai ke babak semifinal,” kata Ronald, Senin.

Pada babak pertama kejuaraan All England 2019, Ronald/Annisa akan berhadapan dengan pasangan asal Malaysia, yakni Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai.

Terkait pertandingan pada babak pertama tersebut, keduanya mengaku telah menyusun strategi dalam menghadapi pasangan asal negeri Jiran itu. Meskipun demikian, Ronald/Annisa mengaku tetap mewaspadai lawannya mengingat performa Goh/Shevon kini sedang bagus.

“Kami belum pernah bertemu mereka, tapi kami pernah menonton video pertandingannya. Secara teknik, mungkin bisa dibilang kemampuan kami imbang dengan mereka. Tapi kami tetap waspada dan terus melakukan persiapan yang matang,” ujar Ronald.

Sejauh ini, sambung dia, persiapan yang dilakukan sudah cukup baik dan matang dengan lama waktu latihan selama satu bulan. Keduanya pun mengaku siap bermain maksimal untuk membela Merah Putih.

“Soal persiapan, sudah cukup baik. Kami sudah latihan selama satu bulan. Sekarang ini tinggal bagaimana kesiapan kami di lapangan. Yang pasti, kami harus siap capek dan tampil sebaik mungkin,” ungkap Ronald.

Kejuaraan All England 2019 BWF World Tour Super 1000 akan berlangsung mulai 6 hingga 10 Maret 2019 di Birmingham Arena, Birmingham, Inggris dengan total hadiah yang direbutkan mencapai satu juta Dolar Amerika Serikat (AS).

Pewarta:
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan uji lapangan All England dengan persiapan penuh

Jakarta (ANTARA) – Pasangan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan akan menguji lapangan Birmingham Arena di Birmingham, Inggris, pada Senin malam waktu setempat sebagai persiapan mengikuti turnamen All England 2019 pada Rabu (6/3) hingga Minggu (10/3).

“Persiapan kami sudah oke semua. Malam ini, kami akan uji coba lapangan,” kata Hendra dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Senin.

Ganda Hendra/Ahsan yang menempati unggulan enam dalam turnamen tingkat Super 1000 itu akan menghadapi pasangan tuan rumah Marcus Ellis/Chris Langridge pada laga pertama.

Pertandingan dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu menjadi pertemuan ketiga dua pasangan setelah laga terakhir mereka pada Jerman Terbuka 2018.

“Sebenarnya sama saja turnamen ini bagi kami. Ini menjadi salah satu langkah kami mencari peringkat dan poin untuk lolos Olimpiade,” kata Hendra tentang perbedaan All England sebagai pemain profesional non-pemusatan pelatihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Pasangan peraih medali emas Asian Games 2014 itu menjadi satu dari lima pasangan lain ganda putra Indonesia yang turun dalam All England 2019.

Empat pasangan putra lain adalah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Berry Angriawan/Hardianto, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso, serta pasangan juara bertahan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Hendra/Ahsan menempati pool bawah pertandingan dan tidak akan menghadapi empat pasangan lain Merah-Putih kecuali lolos sampai putaran final. Sedangkan pasangan Fajar/Rian, Berry/Hardianto, Wahyu/Ade, dan Kevin/Marcus dapat saling berhadapan pada laga perempat final.

Pewarta:
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelatih pastikan tunggal putri siap ikuti All England

Jakarta (ANTARA) – Pelatih sektor tunggal putri pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Minarti Timur memastikan dua atletnya siap mengikuti turnamen All England 2019 yang akan berlangsung di Birmingham, Inggris pada Rabu (6/3) hingga Minggu (10/3).

“Kondisi Gregoria baik-baik saja dan tidak ada masalah di pinggangnya. Kemarin di Jerman dia kalah karena ketemu sesama pemain Indonesia yang sudah saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing,” kata Minarti dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Senin dini hari.

Minarti mengatakan Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani telah siap dengan maksimal untuk mengikuti turnamen-turnamen di Eropa yaitu Spanyol Masters 2019 bagi Fitriani, serta Jerman Terbuka dan All England 2019 bagi Gregoria dan Fitriani.

Gregoria kalah dari sesama pemain pelatnas PBSI Ruselli Hartawan pada laga pertama Jerman Terbuka 2019 21-16, 16-21, 16-21. Catatan pertemuan kedua pemain putri Indonesia itu pun menjadi imbang 2-2.

Sementara, langkah Fitriani terhenti pada laga kedua Jerman Terbuka dari pemain Jepang Sayaka Takahashi. Fitri kalah dalam tiga gim 21-12, 20-22, 18-21.

“Memang hasil yang mereka capai di Jerman belum memuaskan. Tapi, mereka sudah berusaha. Pada poin-poin terakhir, mereka bermain terburu-buru dan kurang tenang untuk menyelesaikan permainan,” kata Minarti.

Pada turnamen All England 2019, Fitriani akan menantang atlet unggulan enam asal China He Bingjiao. Pertemuan dalam turnamen tingkat Super 1000 itu menjadi laga ke-empat Fitriani menghadapi He yang menempati peringkat tujuh dunia. Fitriani terakhir kalah dari He dalam turnamen Malaysia Masters 2019 dengan skor 14-21, 11-21.

Sementara, Gregoria akan menantang pemain unggulan dua asal Jepang Nozomi Okuhara pada laga pertama All England 2019. Atlet asal klub Mutiara Cardinal Bandung itu tercatat dua kali kalah dari Nozomi. Kedua pemain terakhir kali berhadapan pada turnamen China Terbuka 2018 dengan hasil 21-15, 19-21, 21-12 bagi Nozomi.

Baca juga: Fitriani perbaiki akurasi serangan jelang All England

Sebelumnya, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti mengatakan Fitriani ataupun Gregoria memang harus menghadapi pemain-pemain unggulan dari negara lain agar mereka dapat tembus peringkat delapan besar dunia dan lolos kualifikasi Olimpiade.

“Siapapun harus mereka hadapi karena tujuan kami bukan hanya dalam All England saja melainkan juga lolos Olimpiade. Mereka tidak perlu khawatir menantang pemain-pemain peringkat atas,” kata Susy.

Susy menambahkan pemain-pemain peringkat atas dunia justru seringkali punya beban untuk mempertahankan posisi mereka ketika menghadapi pemain-pemain non-unggulan seperti Fitriani.

“Orang lain akan menyangka pemain kami sudah kalah di atas kertas. Tapi, saya sudah berpesan kepada para pemain agar tetap berjuang. Posisi bukan unggulan itu justru menguntungkan mereka karena bermain tanpa beban,” katanya.

Pewarta:
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hafiz/Gloria kalah di final Jerman Terbuka 2019

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran Indonesia Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja harus puas dengan posisi runner-up dalam turnamen Jerman Terbuka 2019 setelah kalah dari pasangan Korea Selatan Seo Seung Jae/Chae Yujung pada laga final di Muelheim an der Ruhr Jerman, Minggu.

Hafiz/Gloria, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu malam, kalah 17-21, 11-21 selama 36 menit permainan dari pasangan peringkat 10 dunia itu.

Pada gim pertama, Hafiz/Gloria sudah memimpin sejak awal permainan dengan skor 3-1, 4-1, 5-2, 9-7, 12-10, dan 17-15. Namun, pasangan Negeri Ginseng itu justru melesat setelah kedudukan 17-17. Seo/Chae langsung mengembalikan kedudukan menjadi 19-17, 20-17, dan merebut gim 21-17.

Permainan ganda Indonesia peringkat 11 dunia itu justru melorot pada gim kedua. Mereka seakan tertekan dari lawan dengan poin 0-3, 2-5, 3-9, 4-11, 6-13, 7-15, 10-17 sehingga permainan berakhir 11-21 pada gim kedua.

Hasil pertandingan dalam turnamen tingkat Super 300 itu membuat rekor pertemuan 0-1 bagi Hafiz/Gloria melawan Seo/Chae.

Pasangan Merah-Putih yang menempati unggulan enam itu melaju ke putaran final dengan mengalahkan pasangan Belanda Robin Tabeling/Selena Piek dalam tiga gim 16-21, 21-13, 23-21 pada pertandingan semifinal.

Walau gagal merebut juara di Jerman, Hafiz/Gloria harus kembali bersiap untuk mengikuti turnamen All England yang akan berlangsung mulai Rabu (6/3) hingga Minggu (10/3).

Pada turnamen tingkat Super 1000 itu, Hafiz/Gloria akan berhadapan dengan sesama pasangan Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti pada laga pertama ganda campuran.

Baca juga: Hafiz/Gloria akan hadapi harapan Korea pada final Jerman

Baca juga: Hafiz/Gloria ke semifinal Jerman Terbuka

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hafiz/Gloria akan hadapi harapan Korea pada final Jerman

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja akan menghadapi pasangan harapan Korea Selatan Seo Seung Jae/Chae Yujung pada laga final turnamen Jerman Terbuka 2019 di Muelheim an der Ruhr, Jerman pada Minggu waktu setempat.

Hafiz/Gloria, seperti dipantau Antara di Jakarta, Minggu, dari situs Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), menang atas ganda Belanda Robin Tabeling/Selena Piek pada laga semifinal dalam tiga gim 16-21, 21-23, dan 23-21 selama 56 menit permainan.

“Kami bersyukur dapat mengatasi permainan itu dengan tenang. Tapi, kami menyangkan kalah pada gim pertama. Kami lantas berusaha bermain lebih tenang serta saling menjaga komunikasi,” kata Gloria seperti tercantum dalam situs Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Pertandingan final turnamen tingkat Super 300 itu akan menjadi pertemuan pertama Hafiz/Gloria yang menempati peringkat 11 dunia dengan Seo/Chae sebagai pasangan unggulan delapan.

“Kami belum pernah berhadapan, tapi kami ingin berusaha bermain maksimal. Kami akan berusaha bermain lebih tenang dan yakin,” kata Gloria tentang langkah terakhir merebut untuk gelar juara pertamanya pada 2019.

Ganda Seo/Che tembus ke putaran final setelah mengalahkan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie dalam dua gim 21-17, 21-12 dalam 32 menit.

Pasangan Seo Seung Jae/Chae Yu Jung menjadi ganda campuran harapan bagi Negeri Ginseng itu menyusul prestasi mereka sebagai juara turnamen Spanyol Masters 2019.

Mereka juga menjadi satu-satunya wakil ganda campuran Korea Selatan yang mampu menembus peringkat 10 besar dunia.

Baca juga: Usai kalahkan Owi/Winny, Hafiz/Gloria tantang ganda Taiwan

Pewarta:
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019