Ganda putra dan putri Indonesia juara di Iran

Jakarta (ANTARA News)  – Lagu Indonesia Raya  berkumandang sebanyak dua kali menandai kemenangan ganda putri Nita Violina Marwah/Putri Syaikah dan ganda putra Adnan Maulana/Ghifari Anandaffa Prihardika dalam final the 28th Iran Fajr Badminton International Challenge 2019  di Kompleks Olah Raga Enghelab, Kota Karaj, Iran,  Kamis (7/2).

Menurut siaran pers KBRI Teheran yang diterima Jumat,  sebanyak empat wakil Indonesia berhasil melaju ke babak final turnamen internasional ini, antara lain dua wakil di nomor ganda putra dan dua wakil lainnya dari tunggal putri, dan ganda putri. 

Choirunnisa menjadi wakil Indonesia yang turun pertama dalam rangkaian laga final turnamen internasional yang berlangsung dari tanggal 4-7 Februari 2019 ini. Namun, Choirunnisa harus menyerah dua set langsung (16-21,  13-21)  kepada unggulan dan juara bertahan asal Thailand, Supanida Katethong. 

Dalam partai ganda putri, Nita Violina Marwah/ Putri Syaikah  sukses menundukkan unggulan pertama asal Turki, Bengisu Ercetin/Nazlcan Inci, lewat laga dua set langsung 21-17, 21-18.

Sementara itu di final ganda putra mempertandingkan sesama ganda putra Indonesia, yakni pasangan Adnan Maulana dan Ghifari Anandaffa Prihardika menghadapi Pramudya Kusumawardana dan Yeremia Erich Yoche Yacob.

 Pasangan Adnan Maulana/Ghifari Anandaffa Prihardika unggul straight game 21-18, 21-13, dalam tempo 30 menit. Dengan demikian Tim Indonesia berhasil menggondol dua emas, masing-masing di ganda putra dan putri, dua medali perak masing-masing di tunggal puteri dan ganda putera serta satu medali perunggu di ganda putera pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin.

Duta Besar RI untuk Iran, Octavino Alimudin, bersama keluarga besar KBRI Tehran dan sejumlah masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran, turut hadir menyaksikan pertandingan dan memberikan semangat kepada kontingen Indonesia yang terdiri dari 22 pebulutangkis dan tiga ofisial.

 “Para pemain muda Pelatnas yang dikirim PBSI ke turnamen ini, memperlihatkan bahwa generasi muda bulutangkis Indonesia memang pantas membela Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami senantiasa memberikan dukungan penuh kepada para atlet sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada mereka yang telah berlaga mengharumkan nama bangsa.” ujar Octavino. 

Kompetisi Iran Fajr International Badminton Challenge ke-28 diikuti oleh 29 negara termasuk Indonesia. Kompetisi tahunan yang dilaksanakan sejak tahun 1991 tersebut merupakan kegiatan rutin dalam rangka memperingati Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-40. 

Antusiasme publik Iran yang memenuhi dan mendukung pebulutangkis Indonesia di laga final membuktikan perhatian khusus publik Iran terhadap pebulu tangkis Indonesia. 

Pada 2015, Indonesia dan Iran telah menyepakati MoU kerja sama Kepemudaan dan Olahraga, dimana Pemerintah Iran juga menyampaikan permintaan dukungan Indonesia dalam pengembangan olah raga bulu tangkis di Iran.

Para pelatih bulu tangkis Indonesia telah dikirim ke Iran dan para pebulutangkis Iran telah melakukan pelatihan bersama di Indonesia, hal ini sebagai salah satu bentuk implementasi dari kerjasama kedua negara. 

Baca juga: PBSI fokuskan Minions ke kejuaraan besar

Pewarta:
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda putra dan putri Indonesia juara di kejuaraan bulutangkis di Iran

Jakarta (ANTARA News)  – Lagu Indonesia Raya  berkumandang sebanyak dua kali menandai kemenangan ganda putri Nita Violina Marwah/Putri Syaikah dan ganda putra Adnan Maulana/Ghifari Anandaffa Prihardika dalam final the 28th Iran Fajr Badminton International Challenge 2019  di Kompleks Olah Raga Enghelab, Kota Karaj, Iran,  Kamis (7/2).

Menurut siaran pers KBRI Tehran yang diterima Jumat,  sebanyak empat wakil Indonesia berhasil melaju ke babak final turnamen internasional ini, antara lain dua wakil di nomor ganda putra dan dua wakil lainnya dari tunggal putri, dan ganda putri. 

Choirunnisa menjadi wakil Indonesia yang turun pertama dalam rangkaian laga final turnamen internasional yang berlangsung dari tanggal 4-7 Februari 2019 ini. Namun, Choirunnisa harus menyerah dua set langsung (16-21,  13-21)  kepada unggulan dan juara bertahan asal Thailand, Supanida Katethong. 

Dalam partai ganda putri, Nita Violina Marwah/ Putri Syaikah  sukses menundukkan unggulan pertama asal Turki, Bengisu Ercetin/Nazlcan Inci, lewat laga dua set langsung 21-17, 21-18.

Sementara itu di final ganda putra mempertandingkan sesama ganda putra Indonesia, yakni pasangan Adnan Maulana dan Ghifari Anandaffa Prihardika menghadapi Pramudya Kusumawardana dan Yeremia Erich Yoche Yacob.

 Pasangan Adnan Maulana/Ghifari Anandaffa Prihardika unggul straight game 21-18, 21-13, dalam tempo 30 menit. Dengan demikian Tim Indonesia berhasil menggondol dua emas, masing-masing di ganda putra dan putri, dua medali perak masing-masing di tunggal puteri dan ganda putera serta satu medali perunggu di ganda putera pasangan Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin.

Duta Besar RI untuk Iran, Octavino Alimudin, bersama keluarga besar KBRI Tehran dan sejumlah masyarakat dan diaspora Indonesia di Iran, turut hadir menyaksikan pertandingan dan memberikan semangat kepada kontingen Indonesia yang terdiri dari 22 pebulutangkis dan tiga ofisial.

 “Para pemain muda Pelatnas yang dikirim PBSI ke turnamen ini, memperlihatkan bahwa generasi muda bulutangkis Indonesia memang pantas membela Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami senantiasa memberikan dukungan penuh kepada para atlet sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada mereka yang telah berlaga mengharumkan nama bangsa.” ujar Octavino. 

Kompetisi Iran Fajr International Badminton Challenge ke-28 diikuti oleh 29 negara termasuk Indonesia. Kompetisi tahunan yang dilaksanakan sejak tahun 1991 tersebut merupakan kegiatan rutin dalam rangka memperingati Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-40. 

Antusiasme publik Iran yang memenuhi dan mendukung pebulutangkis Indonesia di laga final membuktikan perhatian khusus publik Iran terhadap pebulu tangkis Indonesia. 

Pada 2015, Indonesia dan Iran telah menyepakati MoU kerja sama Kepemudaan dan Olahraga, dimana Pemerintah Iran juga menyampaikan permintaan dukungan Indonesia dalam pengembangan olah raga bulu tangkis di Iran.

Para pelatih bulu tangkis Indonesia telah dikirim ke Iran dan para pebulutangkis Iran telah melakukan pelatihan bersama di Indonesia, hal ini sebagai salah satu bentuk implementasi dari kerjasama kedua negara. 

Baca juga: PBSI fokuskan Minions ke kejuaraan besar

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PBSI fokuskan Minions ke kejuaraan besar

Jakarta (ANTARA News) – Pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akan memfokuskan pengiriman pasangan andalan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon atau akrab disapa pasangan Minions dalam berbegai kejuaraan dan turnamen internasional.

“Pemain setingkat Kevin/Marcus memang harus selektif memilih turnamen. Kami harus bisa menjaga kondisi mereka karena mereka tentu akan menjadi sasaran bagi lawan-lawan untuk dikalahkan,” kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti di pelatnas Cipayung, Jakarta, Senin.

Minions, lanjut Susy, akan fokus pada All England, Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, turnamen BWF Tour Finals, dan kejuaraan-kejuaraan besar lainnya.

“Kami ingin penampilan puncak Kevin/Marcus pada Olimpiade. Kami tidak akan mengirimkan mereka ke berbagai turnamen karena akan mempengaruhi aspek nonteknisnya,” katanya.

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu mengatakan alasan pengaturan kejuaraan bagi Minions menyusul peringkat pasangan atlet putra itu pada satu dunia.

“Jika mereka terlalu banyak mengikuti turnamen, mereka akan menghadapi masa jenuh. Kami menjaga  kondisi dan motivasi mereka.

Kejuaraan All England 2019 menjadi salah satu turnamen penting bagi Kevin/Marcus setelah meraih gelar juara pada 2017 dan 2018 di Birmingham.

Minions meraih gelar juara All England 2017 dengan mengalahkan ganda China Li Junhui/Liu Yuchen 21-19, 21-14. Sedangkan pada 2018, Kevin/Marcus menaklukkan ganda Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen 21-18, 21-17 guna memetik gelar juara. 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tri Kusharjanto hadiri final turnamen bulu tangkis di Puncak Jaya

Jayapura (ANTARA News) – Mantan pebulu tangkis nasional Tri Kusharjanto menghadiri final turnamen bulu tangkis memperebutkan piala Kapolres Puncak Jaya 2019 di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Kapolres Puncak Jaya AKBP Agustinus Ary Purwanto ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Papua, Minggu mengatakan final turnamen bulu tangkis tersebut digelar pada Sabtu (2/1) pagi hingga sore di GOR PBSI Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

“Dalam final turnamen pada Sabtu kemarin juga dihadiri oleh Tri Kusharjanto, mantan atlet bulu tangkis nasional pemegang gelar dunia selama empat tahun berturut-turut dan peraih medali perak di Olimpiade Sydney pada 2000,” katanya.

Turnamen itu, kata dia, sebenarnya berlangsung sejak 19 Januari 2019 dan diikuti oleh sekitar 140 peserta yang terdiri dari putra dewasa, putri dan peserta anak-anak.

“Jadi, disamping itu turnamen bulu tangkis ini juga sebagai upaya mendekatkan diri dan membangun tali silaturahmi antara Polres Puncak Jaya dengan masyarakat di Kota Mulia, mengingat olahraga bulutangkis merupakan olahraga yang paling digemari oleh masyarakat di Puncak Jaya,” katanya.

Adapun para juara dalam turnamen tersebut pada sektor ganda putra juara 1 diraih oleh Ricky D Rolando/Perdy M dari Polres Puncak Jaya yang mendapatkan medali emas, bunga dan uang pembinaan sebesar Rp4,5 juta.

Juara 2 diraih oleh Yus B/Marthin mendapatkan medali perak dan uang pembinaan sebesar Rp2,5 juta dan juara 3 bersama adalah pasangan Usri I/Owen dan Mulyadi/Hermawan mendapatkan medali perunggu dan uang pembinaan masing-masing pasangan sebesar Rp1,5 juta.

Di nomor ganda putri, juara 1 diraih oleh pasangan Ani/Winarsih, juara 2 oleh pasangan Nurhana/Agnes da juara 3 bersama adalah pasangan Evy/Mely dan Lisa/Nining dari Bhayangkari Polres Puncak Jaya.

“Hadiahnya sama dengan ganda putra,” katanya.

Sementara untuk ganda pemula (Anak-anak)?juara 1 diraih oleh Deris Wonda/Misko Wonda, juuara 2 oleh Yudha/Andri dan juara 3 bersama oleh pasangan Sultan/Heri Papua dan Ricki Y/Christian Y.

“Untuk juara 1 uang pembinaan Rp1,5 juta, juara 2 Rp1 juta dan juara 3 Rp750 ribu. Mereka juga dapat medali dan bunga,” katanya menambahkan.

Sedangkan untuk beregu ganda putra juara 1 diraih oleh tim PB Bhayangkara Polres Puncak Jaya mendapatkan medali emas, bunga dan uang pembinaan sebesar Rp10 juta, juara 2 oleh PB IKBM mendapatkan medali perak dan uang pembinaan sebesar Rp5 juta dan juara 3 bersama oleh PB Nazareth dan PB PKJSM mendapatkan medali perunggu dan uang pembinaan masing-masing tim sebesar Rp2,5 juta.

“Ada juga door prize kepada masyarakat dan peserta dengan jumlah 18 jenis atau ada 71 hadiah hiburan dengan hadiah utama tiket pesawat gratis pulang-pergi tujuan Jayapura-Mulia,” katanya.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenpora: Pengangkatan Butet sebagai PNS bersama atlet lain

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Pemuda dan Olahraga memastikan pengangkatan mantan atlet bulu tangkis Liliyana Natsir, atau akrab disapa Butet, akan dilakukan secara serentak bersama atlet-atlet lain yang juga lolos seleksi tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada 2018.

“Butet diangkat sebagai CPNS bersama para bintang lainnya. Sekarang, tahapan itu masih diproses di Badan Kepegawaian Negara,” kata Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S. Dewa Broto dalam pesan singkat kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Gatot mengaku belum mengetahui perihal penugasan Presiden Joko Widodo kepada Butet untuk melakukan kunjungan ke berbagai daerah dan memberikan motivasi bagi atlet-atlet muda daerah.

“Saya belum dapat informasi tentang penugasan dari Bapak Presiden karena mungkin Pak Menteri yang lebih tahu,” katanya.

Sebelumnya pada Selasa (29/1), Presiden Joko Widodo menerima Butet yang didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di Istana Merdeka Jakarta.

“Indonesia sangat kehilangan atas pensiunnya Liliyana Natsir. Bukan hanya Indonesia, tapi dunia juga akan kehilangan sosok Liliyana,” kata Jokowi.

Jokowi berharap prestasi “Butet” ini bisa menular ke pemain-pemain yunior dan bisa berprestasi seperti Liliyana Natsir.

“Tadi saya sampaikan, sebentar lagi (Butet) jadi PNS (pegawan negeri sipil), jadi ASN (aparatur sipil negara), agar bisa memotivasi dan muter ke beberapa daerah. Apa yang akan dikerjakan, apa yang akan dilakukan agar bisa berprestasi,” ujar Presiden.

Liliyana Natsir menyatakan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah menerimanya di Istana. Butet juga menyatakan kesiapannya untuk  memberikan motivasi kepada generasi muda agar bisa berprestasi.

“Saya siap memberi motivasi agar generasi muda lebih berprestasi dan tradisi medali emas di Olimpiade tetap terus bisa dilakukan,” kata Butet.

Baca juga: Menpora: hasil tes PNS Liliyana “Butet” Natsir memuaskan

Baca juga: Jokowi terima Liliyana “Butet” Natsir di Istana Merdeka

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jaya Raya siap hadang Musica dalam Djarum Superliga

Jakarta (ANTARA News) – Tim bulu tangkis Jaya Raya Jakarta siap menghadang tim Musica untuk membidik gelar juara tim putra dalam Djarum Superliga Badminton 2019 yang akan berlangsung di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung pada 18-24 Februari.

“Kami menjadi tim unggulan dua untuk pertandingan beregu putra. Kami masih punya peluang 50:50 dengan tim-tim lain,” kata perwakilan tim Jaya Raya Jakarta Erwan Purnomo dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Pada kejuaraan bulu tangkis beregu dua tahunan itu, Jaya Raya Jakarta menurunkan pemain-pemain putra unggulan nasional seperti Tommy Sugiarto, Marcus Fernaldi Gideon, Muhammad Rian Ardianto, Hendra Setiawan, dan Markis Kido.

Selain itu, terdapat pemain-pemain lain seperti Krishna Adi Nugraha, Karono, Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, dan Angga Pratama, selain satu pemain asing Nguyen Tien Minh.

“Kami berusaha tampil maksimal, baik tim putra maupun tim putri. Untuk tim putri, kami terkendala para pemain yang harus mengikuti turnamen di Eropa sehingga kami menargetkan semifinal,” kata Erwan.

Erwan yang juga menjadi bagian dari tim pelatih Jaya Raya itu mengatakan Marcus Fernaldi Gideon siap tampil dalam Djarum Superliga di Kota Kembang itu sebagai komitmen kepada pimpinan Jaya Raya. “Dia sudah mengatakan tidak akan ke mana-mana jika Jaya Raya tidak mengirim. Tapi kalau Jaya Raya juga turun, Marcus siap bermain untuk kami,” katanya.

Selain Marcus, Jaya Raya juga masih punya pasangan andalan peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 Hendra/Kido. “Kido masih sering berlatih sebagai pasangan atlet-atlet muda di klub. Dia masih punya nama bagi para penggemar bulu tangkis,” kata Erwan.

Erwan juga menyatakan peluang besar Hendra yang akan berpasangan dengan Kido mewakili Jaya Raya ketika menghadapi tim-tim putra lain.

Sementara terkait Tommy, Erwan menyebut mantan pemain pelatnas itu sudah komitmen terhadap Jaya Raya untuk tampil dalam Djarum Superliga Badminton 2019. “Dia tidak ada jadwal mengikuti turnamen di luar negeri selama penyelenggaraan superliga,” katanya.

Tim putra Jaya Raya akan menghadapi tim putra Djarum Kudus, tim Jatim United, serta tim Hitachi dari Jepang pada pertandingan penyisihan grup B.

Meskipun membidik gelar juara tim putra, Jaya Raya akan menghadapi persaingan ketat dari tiga tim lain itu menyusul komposisi atlet pada masing-masing tim yang juga diisi pemain-pemain unggulan dunia.

Sebagai tim peringkat kedua dalam Djarum Superliga 2017, tim PB Djarum Kudus akan menurunkan Ihsan Maulana Mustofa, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, Praveen Jordan, dan Berry Angriawan.

Kemudian, tim Jatim United akan menurunkan pemain senior Sony Dwi Kuncoro bersama pemain-pemain muda Muhammad Bayu Pangisthu, Yantony Edy Saputra, serta Aldo Octaviano Purnomo.

Baca juga: 13 klub perebutkan gelar Djarum Superliga Badminton 2019
Baca juga: Musica bidik pertahankan gelar Djarum Superliga Badminton

 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Musica bidik pertahankan gelar Djarum Superliga Badminton

Jakarta (ANTARA News) – Klub bulu tangkis Musica membidik pertahankan gelar juara dalam Djarum Superliga Badminton 2019 yang akan berlangsung di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung pada 18-24 Februari, menyusul gelar yang diraihnya pada pertandingan beregu putra pada 2017.

“Kami menjadi klub yang meramaikan kejuaraan beregu dua tahunan ini. Kami mencoba sebaik mungkin dalam pertandingan nanti karena persaingan setiap kejuaraan selalu ketat,” kata Manajer Tim Musica Efendy Wijaya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Efendy mengakui Musica bukan murni klub bulu tangkis yang melakukan pembinaan atlet-atlet bulu tangkis meskipun telah merebut gelar juara pada Djarum Superliga 2015 dan Djarum Superliga 2017. “Kami selalu meramaikan kejuaraan itu dengan membawa atlet-atlet peringkat atas dunia seperti Lee Chong Wei, Lee Yong Dae, ataupun Chou Tien Chen,” katanya.

Namun, atlet-atlet unggulan dunia seperti Lee Chong Wei ataupun Chou Tien Chen tidak dapat mengikuti kejuaraan beregu berhadiah total Rp4,25 miliar itu karena sakit dan cedera. “Tapi, kami masih bisa mendatangkan Lee Yong Dae dan Kim Sa Rang dari Korea, Sai Praneeth dari India, serta Vladimir Ivanov dari Rusia,” kata Efendy.

Selain tiga pemain luar negeri itu, tim Musica juga akan menurunkan pemain-pemain unggulan Indonesia seperti dua pemain tunggal putra andalan pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Kemudian, Firman Abdul Kholik, Chico Aura Dwiwardoyo, Fajar Alfian, Hardianto, Ade Yusuf Santoso, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira.

Tim Musica juga akan dikawal para pelatih yang juga mantan pebulu tangkis unggulan Indonesia seperti Hariyanto Arbi, Hendry Saputra, Eddy Hartono, seta Tri Kusharjanto.

Dalam kejuaraan beregu yang menggunakan format pertandingan Piala Thomas-Uber itu, tim Musica akan memulai laga pada grup A dan akan menghadapi tiga tim lain yaitu Sports Affairs dari Malaysia, Daihatsu Astec dari Indonesia, serta Berkat Abadi dari Indonesia pada laga penyisihan.

Sementara, manajer tim Berkat Abadi Fran Kurniawan mengaku belum mampu menargetkan gelar juara dalam Djarum Superliga Badminton 2019 karena masih menimba pengalaman dari klub-klub besar lain.

“Kami juga mendatangkan pemain asing seperti Brice Leverdez dari Prancis pada tim putra dan Zheng Beiwen dari Amerika Serikat pada tim putri,” kata Fran.

Meskipun tidak mematok target khusus pada 2019, Fran menyatakan optimismenya untuk merebut gelar juara pada Djarum Superliga 2021.

Wakil Ketua I PP PBSI Alex Tirta mengatakan kejuaraan Djarum Superliga Badmiton 2019 akan meningkatkan kesempatan para pemain nasional untuk bertanding dan menghadapi pemain-pemain peringkat atas dunia.

Panitia penyelenggara membatasi setiap tim yang akan menurunkan pemain asing. Pemain asing hanya boleh mengikuti maksimal tiga partai dalam setiap pertandingan dengan mekanisme satu pemain asing untuk partai tunggal dan dua pemain asing pada pertandingan beregu.

Baca juga: 13 klub perebutkan gelar Djarum Superliga Badminton 2019
 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

13 klub perebutkan gelar Djarum Superliga Badminton 2019

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 13 klub bulu tangkis dalam dan luar negeri akan bersaing dan memperebutkan gelar juara dan hadiah total Rp4,25 miliar dalam kejuaraan beregu Djarum Superliga 2019 yang akan berlangsung di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, 18-24 Februari.

“Kami menambah jumlah hadiah pada tahun ini menjadi 300 ribu dolar AS atau sekitar Rp4,25 miliar dari penyelenggaraan pada 2017 sebesar 250 ribu dolar AS atau sekitar Rp3,5 miliar demi menyemarakan persaingan,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Djarum Superliga Badminton 2019 Achmad Budiharto dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Budiharto mengatakan pemilihan kota Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan menyusul minat masyarakat Kota Kembang yang tinggi untuk menyaksikan pertandingan bulu tangkis secara langsung.

“Meskipun minat masyarakat Bandung terhadap pertandingan bulu tangkis tinggi, turnamen internasional sudah lama tidak digelar di kota itu. Kami ingin membangkitkan lagi gairah masyarakat Bandung terhadap bulu tangkis dengan mendatangkan pemain-pemain papan atas dari dalam dan luar negeri,” katanya.

Sekretaris Jenderal PP PBSI itu mengatakan pemilihan Sabuga sebagai lokasi pertandingan Djarum Superliga Badminton 2019 karena gedung itu menjadi arena yang paling baik dan nyaman bagi penonton dengan daya tampung sekitar 1.500 orang.

Panitia Penyelenggara, lanjut Budi, juga menambah subsidi dana bagi seluruh klub yang ikut dalam kejuaraan beregu nasional dua tahunan itu. Setiap klub mendapatkan subsidi dana sebesar Rp60 juta atau meningkat Rp10 juta dari penyelenggaraan Djarum Superliga 2017.

“Kami juga meningkatkan subsidi bagi klub yang mendatangkan pemain-pemain asing. Sebelumnya, subsidi untuk mendatangkan pemain asing sebesar enam ribu dolar AS setiap klub. Sekarang, subsidi itu menjadi 10 ribu dolar AS untuk setiap klub,” katanya sembari menambahkan kuota maksimal satu tim adalah 12 pemain dalam negeri dan luar negeri.

Budiharto mengatakan Djarum Superliga Badmiton menjadi ajang bagi para pemain lokal Indonesia untuk bertanding dan menghadapi pemain-pemain peringkat atas dunia, termasuk pemain asal Indonesia.

“Secara struktural, para pemain lokal tidak secara langsung dapat bermain dalam turnamen-turnamen tinggi dunia. Kesempatan mereka bertemu pemain peringkat atas dunia juga kecil,” katanya.

Tiga belas klub bulu tangkis yang bersaing dalam Djarum Superliga Badminton 2019 terdiri atas delapan klub dalam negeri, yakni Djarum Kudus, Jaya Raya Jakarta, Berkat Abadi, Musica, Daihatsu Astec, Mutiara Cardinal, Jatim United, dan Tiket.com Champion Klaten. Kemudian, lima klub luar negeri yaitu Sports Affairs (Malaysia), Samurai Japan Reptiles (Jepang), Saishunkan-Unisys (Jepang), Hitachi (Jepang), dan Granular (Thailand).

Klub yang meraih juara akan mendapatkan hadiah sebesar 80 ribu dolar AS, peringkat dua mendapatkan hadiah 40 ribu dolar AS, peringkat ketiga mendapatkan 20 ribu dolar AS, dan peringkat keempat mendapatkan hadiah 10 ribu dolar AS.

Sementara, tiket pertandingan kelas VIP dijual seharga Rp40 ribu untuk pertandingan Senin (18/2) hingga Jumat (22/2). Sedangkan tiket VIP untuk Sabtu (23/2) dan Minggu (24/2) dijual Rp75 ribu.

Tiket kelas reguler dijual seharga Rp25 ribu untuk pertandingan Senin (18/2) hingga Jumat (22/2). Kemudian untuk Sabtu (23/2) dan Minggu (24/2), tiket reguler dijual seharga Rp50 ribu. 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kevin/Marcus Kampiun Indonesia Masters 2019

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukomuljo menunjukkan medali seusai mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada pertandingan final Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Pasangan Marcus/Kevin menjuarai Indonesia Master setelah menang dengan skor 21-17 dan 21-11. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Butet: ini momen tak terlupakan bagi saya

Jakarta (ANTARA News) – Liliyana Natsir mengakui pertandingan terakhirnya di final turnamen Indonesia Masters 2019 di Istora GBK, Minggu, akan menjadi momen tak terlupakan di akhir karirnya sebagai atlet.

Walaupun antiklimaks, gagal menutup laga pamungkas dengan kemenangan, Butet yang bermain bersama Tontowi Ahmad mengaku cukup puas.

“Yang pasti saya dan Owi sudah berjuang mengeluarkan kemampuan terbaik kami dan saya puas dengan penampilan terakhir saya. Saya bisa mengeluarkan semua permainan saya dan menyusahkan pasangan nomor satu dari China di usia saya yang tidak muda lagi,” kata Butet usai laga.

Ganda campuran Indonesia peringkat empat dunia itu memberikan perlawanan terbaiknya ketika menghadapi lawan yang lebih muda dari China Zheng Siwei/Huang Yaqiong.

Walaupun bangkit di gim kedua, Owi/Butet melakukan sejumlah kesalahan di gim ketiga yang menjadi momentum kebangkitan pasangan China yang mampu menutup gim terakhir untuk kemenangan mereka. Pertandingan selama 56 menit itu berakhir dengan skor 19-21, 21-19, 21-16.

“Di pertandingan tadi saya lihat kami punya kesempatan untuk menang… Ada beberapa kesalahan yang membuat momen kembangkitan dari China,” kata Butet.

“Kita harus akui pemain China mempunyai kecepatan dan power yang kuat karena pastinya mereka lebih muda dari kami dan pasti masih on fire,” kata Butet.

Tontowi mengaku terkesan dengan penampilan rekannya itu yang pantang menyerah di laga terakhirnya.

“Terima kasih kepada Butet, sampai pertandingan terakhir pun dia masih memberikan motivasi kepada saya,” kata Owi.

Baca juga: 24 tahun mengabdi, Butet pamit sebagai atlet

Sebelumnya, sebuah upacara perpisahan untuk Butet digelar sebelum babak final turnamen dimulai.

Butet mengaku terharu dan bertekad agar tidak meneteskan air mata ketika acara perpisahannya berlangsung.

“Karena ini momen terakhir saya dan dirayakan dengan sebegitu luar biasanya pastinya juga tersentuh tadi pas mau masuk,” kata Butet.

Butet pun takjub melihat antusias para penggemar Owi/Butet dan penonton yang antusias hadir di Istora untuk menghadiri acara perpisahannya jauh sebelum final pertama dimulai.

“Ini akan menjadi salah satu momen yang tidak pernah saya lupakan di akhir karir saya,” pungkas Butet.

Baca juga: Menpora sampaikan perpisahan dan terima kasih kepada Butet

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi/Butet persembahkan perlawanan ketat pada penghujung penampilan

Jakarta (ANTARA News) – Ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mempersembahkan perlawanan ketat atas pasangan China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong pada final Indonesia Masters 2019 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

Pertandingan tersebut merupakan penampilan terakhir pasangan Merah-Putih peringkat empat dunia itu karena Liliyana atau akrab disapa Butet telah menyampaikan pensiun secara terbuka di Istora.

Di penghujung penampilan nya itu, Owi/Butet
kalah dalam tiga gim 21-19, 19-21, 16-21, tapi mereka tampil memikat sehingga pertandingan berlangsung sengit diwarnai dengan permaina reli panjang hingga 39 pukulan pada gim ketiga.

Catatan pertemuan Owi/Butet dengan Zheng/Huang itu pun menjadi 1-4 setelah pertemuan terakhir sebelumnya, ganda campuran Indonesia kalah pada turnamen Denmark Terbuka 2018.

Pada awal gim pertama, banyak bola Zheng/Huang yang terbuang sehingga menguntungkan ganda Indonesia empat poin sekaligus dari 1-1, 4-1, 4-3, 6-4, hingga 11-5.

Pukulan “backhand” menyilang milik Butet mampu menembus pertahanan Zheng/Huang dan menambah poin jadi 12-7. Begitupulan ketika Zheng gagal mengembalikan serangan kubu Indonesia itu yang justru menambah poin Owi/Butet menjadi 13-8.

Butet sempat terjatuh demi menahan serangan Huang dan setidaknya dua kali atlet PB Djarum Kudus itu mengembalikan serangan Zheng pada posisi tersungkur. Skor menjadi 15-9 bagi Indonesia.

Baik Zheng ataupun Huang tampil gugup dan gagal mengembalikan serangan. Bola-bola mereka membentur net atapun keluar yang menguntungkan Owi/Butet menjadi 16-11 dan 18-12.

Pasangan China peringkat pertama dunia itu mampu merebut tujuh poin sekaligus dari 12-19 menjadi 19-19. Butet pun berusaha menyerang dengan melakukan smes loncat untuk meraih gim pertama 21-19.

Pada awal babak kedua, beberapa kali Owi melakukan smes persis di depan net yang tidak mampu dihadang Zheng/Huang. Skor 4-1. Namun, berapa kesalahan Isi  membuat ganda China menipiskan selisih poin menjadi 5-4. Pukulan Butet keluar garis lapangan, begitupula Huang yang gagal mengembalikan bola skor 6-6 menjadi 9-6 bagi Indonesia.

Owi mematahkan servis Huang skor jadi imbang 13-13 gim kedua dan 15-14. Demikian juga ketika Owi kembali dengan smes depan net dan mengantarkan kedudukan menjadi 18-14.

Ganda China itu meraih enam poin berturut-turut dari 14-18 menjadi imbang 18-18 dan 20-18. Sedangkan Owi/Butet sempat meraih tambahan satu poin 18-20 menjadi 19-20. Hanya saja, smes Zhang yang mengenai muka Owi memaksa pasangan Indonesia bermain tiga gim. 21-19 gim kedua untuk Zheng/Huang.

Berusaha melawan pada gim penentuan, Owi/Butet justru tampil salah sendiri karena bola mereka keluar garis lapangan serta membentur net. Skor pun enggan beranjak di bawah lawan setelah sempat imbang 3-3.

Pukulan dari balik badan Owi juga tidak mampu menghadang serangan Zheng pada gim ketiga, skor 8-10 jadi 8-12. Permainan reli kedua pasangan itu selama 39 pukulan berakhir ketika bola serangan Zheng membentur net. Kedudukan jadi 9-13 bagi Indonesia.

Smes Huang persis di muka net dinyatakan “fault” dan menambah satu poin bagi Owi/Butet dari 12-15 menjadi 13-15. Sayangnya, Owi membuang bola sehingga mereka kembali tertinggal 13-16.

Butet kembali terjatuh pada gim ketiga dan gagal mengembalikan serangan Huang ketika skor berkembang jadi 14-18. Permainan depan net Butet pun gagal dna skor menjadi 14-19. Permainan kedua ganda berakhir ketika serangan Owi hanya membentur net. Skor 16-21 bagi Indonesia pada gim ketiga.

Kekalahan Owi/Butet dalam final Indonesia Masters 2019 seperti mengulang kekalahan pasangan Indonesia itu pada turnamen yang sama dari Zheng/Huang pada 2018.

Pada Indonesia Masters 2018, Owi/Butet kalah dari Zheng/Huang dalam dua gim 21-14, 21-11 selama 33 menit permainan.

Walaupun gagal mempersembahkan gelar juara, Owi/Butet tidak henti mendapatkan dukungan dari para penonton di Stadion Istora, Senayan. Para penonton terus meneriakkan “Owi.. Butet” sepanjang 56 menit permainan. Bahkan, ketika dua ganda itu naik podium.

Selepas pertandingan, Butet memberikan salah satu kaosnya kepada Huang dan dibalas pelukan kedua pemain itu. ***3***

Pewarta:
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelatih ganda campuran akui potensi pengganti Butet

Jakarta (ANTARA News) – Pelatih sektor ganda campuran pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Richard Mainaky mengaku melihat potensi atlet-atlet junior sebagai pengganti Liliyana Natsir yang dapat diandalkan dalam berbagai kejuaraan internasional.

“Pemain muda itu tidak seluruhnya bisa menjadi pengganti Butet (sapaan Liliyana Natsir), tapi saya lihat dari permainan individu ada banyak pemain yang berubah dan ada kemajuan,” kata Richard selepas pertandingan final Indonesia Masters 2019 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

Pasangan atlet Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir kalah dalam tiga gim 21-19, 19-21, 16-21 selama 56 menit dari ganda China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong turnamen tingkat dalam turnamen tingkat Super 500 itu.

Baca juga: Owi/Butet persembahkan perlawanan ketat pada penghujung penampilan

“Ada banyak bakat pada generasi di bawah. Tapi, mereka perlu dibentuk. Perilaku mereka juga perlu dibentuk. Setiap pemain punya karakter dan ciri yang berbeda. Ada yang mendekati Butet, seperti Melati ataupun Gloria,” kata pelatih yang telah 23 tahun mengabdi di pelatnas PBSI itu.

Richard juga mengindikasikan peluang untuk mengambil pemain-pemain ganda putri untuk menjadi pemain ganda campuran sebagaimana pernah dilakukannya terhadap Butet.

“Dulu Butet, Vita Marissa, dan Debby Susanto juga dari ganda putri. Tapi kalau ambil dari ganda putri, saya harus melihat perkembangannya. Saya lebih memaksimalkan atlet-atlet yang sudah di ganda campuran,” katanya.

Selepas Butet pensiun, Richard akan memasangkan Tontowi Ahmad dengan atlet putri Winny Oktavina Kandow karena pemain putri ganda campuran lain sudah masuk kualifikasi Olimpiade.

Baca juga: Menpora sampaikan perpisahan dan terima kasih kepada Butet

“Gloria sudah bersama Hafiz dan Melati sudah bersama Praveen. Kedua pasangan itu sudah masuk 16 besar. Kalau diganti, kami harus mulai lagi dari peringkat bawah. Padahal kami harus mengejar poin Olimpiade. Saya fokuskan Owi dan Winny untuk mencari peringkat setinggi-tingginya,” katanya.

Richard telah menyampaikan pesan kepada Owi agar fokus pada tugas berikutnya sebagai pasangan Winny. “Saya bilang ke Owi untuk tidak memikirkan hasil pertandingan terakhir tadi. Dia harus fokus dan kerja keras lagi karena memulai dari peringkat bawah,” katanya.

Pasangan atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mempersembahkan perlawanan ketat menghadapi pasangan China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong pada pertandingan final Indonesia Masters 2019 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Minggu sebagai penampilan terakhir pasangan atlet itu.

Indonesia Masters 2019 menjadi penampilan terakhir Butet yang berusia 33 tahun sebelum pensiun dan memfokuskan diri pada bisnis yang digelutinya sejak 2015.

Baca juga: 24 tahun mengabdi, Butet pamit sebagai atlet

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Manajer Carolina Marin sebut masalah lutut atletnya

Jakarta (ANTARA News) – Manajer atlet bulu tangkis tunggal putri Spanyol Carolina Marin, Ignacio Paramio, menyebut atletnya mengalami cedera pada lutut kanan pada pertandingan final Indonesia Masters 2019 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

“Setelah pertandingan tadi, Marin akan langsung terbang ke Spanyol dan tiba di sana pada Senin (28/1) pagi. Kami akan langsung membawanya ke rumah sakit setelah dia tiba,” kata Ignacio kepada media di Jakarta.

Carolina Marin terpaksa mundur pada pertandingan final turnamen tingkat Super 500 itu ketika menghadapi pemain India Saina Nehwal dengan kedudukan 10-4 pada gim pertama.

“Kami belum dapat memastikan seberapa parah cederanya. Tapi, fisioterapis kami mengatakan tidak terlalu parah karena Marin sempat melanjutkan pertandingan,” kata Ignacio.

Sang manajer itu juga mengatakan Marin tidak merasakan kondisi cedera ataupun sakit sebelum pertandingan final berhadiah total 350 ribu dolar AS itu.

Sebelumnya, Saina Nehwal mengatakan tidak gembira dengan kemenangannya atas Marin karena lawannya itu harus mengalami cedera pada lutut kanannya.

“Tentu tidak menyenangkan melihat situasi seperti tadi. Itu terasa menyakitkan. Sebagai orang yang pernah mengalami cedera dua hingga tiga tahun, saya melihat kejadian tadi seperti benar-benar menyakitkan bagi saya,” kata Saina.

Pemain India peringkat sembilan dunia itu mengaku pernah merasakan sakit akibat cedera ketika harus menjalani operasi sebelum mengikuti Olimpiade Rio 2016.

“Saya tahu betapa sulitnya ketika seorang pemain yang mengalami cedera seperti itu. Memang, terkadang atlet sulit untuk mengendalikan kondisi fisiknya,” kata Saina.

Baca juga: Marin cedera, gelar juara jatuh ke Saina Nehwal
 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Demi Olimpiade, Hendra/Ahsan ditarget minimal 14 turnamen setahun

Jakarta (ANTARA News) – Ganda putra peringkat delapan dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang baru dikontrak oleh sponsor baru Mizuno, harus bermain dalam minimal 14 turnamen setahun agar bisa lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

“Targetnya lolos ke Tokyo 2020. Targetnya minimal main di 14 turnamen setahun,” ujar Hendra Setiawan seusai bertanding pada final Indonesia Masters di Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Minggu.

Hendra dan Ahsan terikat kontrak dua tahun dengan Mizuno dengan target lolos Olimpiade Tokyo 2020.

Pada final di Istora, Minggu, Hendra/Ahsan harus mengakui keunggulan ganda putra nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang mengalahkan mereka dua gim langsung 21-17, 21-11 hanya dalam waktu 25 menit. Gelar ini menjadi gelar kedua Marcus/Kevin pada 2019 setelah pekan lalu juara di Malaysia Masters.

Hasil tersebut menurut Hendra cukup memuaskan bagi mereka, meskipun masih harus dievaluasi lagi. “Setelah ini kami akan berlatih kembali dan sparring di Pelatnas,” tambahnya.

Ditanya apakah mereka mengalami kesulitan harus beradaptasi dengan peralatan baru, Hendra mengaku sudah mulai terbiasa.

“Sekarang sudah tiga minggu, jadi sudah mulai terbiasa,” kata juara Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido itu.

Sebelum Indonesia Masters, pasangan juara dunia 2013 dan 2015 lebih dulu bermain di liga bulu tangkis di India dan Malaysia Masters.

Dengan sponsor barunya, Hendra memakai sepatu Wave Fang Zero (biru-putih-orange) dan raket Fortius Tour (hitam-kuning), sedang Ahsan memakai sepatu Wave Fang SS2 (orange-biru) dan raket Fortius Four-F (hitam-merah).

Baca juga: Minions pertahankan gelar juara Indonesia Masters

Baca juga: Hendra/Ahsan bikin lawan kebingungan demi tembus final

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jokowi terima Liliyana “Butet” Natsir di Istana Merdeka

Jakarta, 29/1 (Antara) – Presiden Joko Widodo menerima atlet bulutangkis yang baru “gantung raket” Liliyana Natsir di Istana Merdeka Jakarta, Selasa.

Presiden Jokowi yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyambut kedatangan Liliyana Natsir yang diantar Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di ruang depan Istana Merdeka pukul 09.40 WIB.

Selanjutnya Presiden mengajak Liliyana yang akrab dipanggil “Butet” ini ke ruang utama Istana Merdeka bersama Pratikno dan Imam Nahrawi.

Sekitar 30 menit Presiden dan Liliyana berbincang dan selanjutnya memberi keterangan kepada wartawan yang menunggu di ruang depan Istana Merdeka.

“Indonesia sangat kehilangan atas pensiunnya Liliyana Natsir. Bukan hanya Indonesia, tapi dunia juga akan kehilangan sosok Liliyana,” kata Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa “Butet” telah menorehkan prestasi di berbagai pertandingan besar, diantaranya Olimpiade, Pala Dunia hingga turnamen besar lainnya.

Jokowi berharap prestasi “Butet” ini bisa menular ke pemain-pemain yunior dan bisa berprestasi seperti Liliyana Natsir.

“Tadi saya sampaikan, sebentar lagi (Butet) jadi PNS, jadi ASN, agar bisa memotivasi dan muter ke beberapa daerah. Apa yang akan dikerjakan, apa yang akan dilakukan agar bisa berprestasi,” harap Presiden.

Liliyana Natsir yang ada disamping Presiden Jokowi menyatakan terima kasih telah diterima di Istana dan siap memberikan motivasi kepada generasi muda agar bisa berprestasi.

“Saya siap memberi motivasi agar generasi muda lebih berprestasi dan tradisi medali emas di Olimpiade tetap terus bisa dilakukan,” kata Butet. ***3***

Pewarta: Joko Susilo
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Caroline Marin harus istirahat enam bulan akibat cedera lutut

Jakarta (ANTARA News) – Peraih medali emas bulu tangkis tunggal putri Olimpiade 2016 Carolina Marin harus istirahat selama enam bulan ke depan akibat cedera lutut yang dialami pada final Indonesia Terbuka di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1).

Pebulutangkis asal Spanyol berusia 25 tahun itu dengan berurai air mata terpaksa mengundurkan diri pada awal-awal set pertama saat menghadapi Saina Nehwal dari India.

Pada 2018, Marin menjadi pebulutangkis putri pertama Spanyol yang mampu meraih gelar juara di kejuaraan dunia. Selain itu, ia juga telah merebut empat gelar juara untuk kawasan Eropa.

“Saatnya untuk bersiap menghadapi perjuangan paling berat. Tapi saya sangat yakin kalau saya nanti akan kembali lebih kuat,” kata Marin melalui akun Twitter seperti yang dikutip bbc.com.

Baca juga: Manajer Carolina Marin sebut masalah lutut atletnya
Baca juga: Marin cedera, gelar juara jatuh ke Saina Nehwal

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lilyana pamit kepada presiden

Presiden Joko Widodo (kanan) bersama atlet bulutangkis Liliyana Natsir (kiri) menyampaikan keterangan pers usai bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/1/2019). Liliyana berpamitan kepada Presiden Joko Widodo usai memutuskan gantung raket dan pensiun dari dunia bulutangkis. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp.

Menpora: hasil tes PNS Liliyana “Butet” Natsir memuaskan

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengungkapkan hasil uji kompetensi Liliyana “Butet” Natsir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah dilakukan sangat memuaskan dan menjadi nilai tambah mantan atlet bulutangkis yang baru “gantung raket” ini.

“Banyak yang tidak menduga karena dia banyak di lapangan, tapi begitu masuk proses seleksi dan ujian kompetensi, ternyata hasilnya sangat luar biasa,” kata Imam Nahrawi usai mendampingi Butet diterima Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta, Selasa.

Menpora mengungkapkan Presiden meminta penerimaan posisi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak hanya dilihat dari administrasi, tapi sisi prestasinya juga.

“Nah, ini yang harus dipikirkan bagaimana Butet bisa mendapat posisi yang layak,” katanya.

Menpora mengatakan Liliyana akan diangkat menjadi PNS di bidang tenaga fungsional kepelatihan dan atlet yang berada di bawah kementeriannya.

“Itu yang kami siapkan, yang pasti Butet istimewa lah,” katanya.

Liliyana Natsir mengaku belum mengetahui tugas apa yang akan diemban sebagai PNS.

“Kalau itu nanti dibicarakan langsung dengan Menpora seperti apa kelanjutannya,” kata Liliyana.

Sebagai PNS, Butet juga mengaku siap menjalankan pesan Jokowi agar terus ikut memacu semangat para pebulutangkis muda.

“Saya siap memberi motivasi agar generasi muda lebih berprestasi dan tradisi medali emas di Olimpiade tetap terus bisa dilakukan,” kata Butet.

Ketika ditanya wartawan apakah akan menjadi pelatih, Butet menjawab: “Belum tahu karena belum terpikirkan ke sana, karena pelatih pun butuh komitmen untuk totalitas di bulu tangkis. Saya baru berhenti jadi belum bisa bicara panjang lebar.” 

Baca juga: Jokowi terima Liliyana “Butet” Natsir di Istana Merdeka

Baca juga: Terima kasih Butet!

Baca juga: Pelatih ganda campuran akui potensi pengganti Butet

Baca juga: Menpora sampaikan perpisahan dan terima kasih kepada Butet

Pewarta: Joko Susilo
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Profile Lilyana Natsir

1.435 Views

(Antara)-wanita kelahiran manado, 9 september 1985, menjuarai all england pada tahun 2012, 2013, 2014, untuk kategori ganda campuran, dan mendapatkan medali untuk juara dunia ganda campuran pada 2005, 2007 dan 2013.

Marcus Fernaldi Gideon jadi ayah

Jakarta (ANTARA News) – Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon resmi menjadi ayah ketika istrinya Agnes Amelinda Mulyadi melahirkan putra putra pertama mereka di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan, Selasa.

“Selamat datang!! MFG jr,” demikian isi unggahan pada akun resmi Instagram atlet yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo itu pada Selasa.

Unggahan itu pun mendapatkan lebih dari 10 ribu komentar dari para warganet, termasuk sejumlah pebulu tangkis dan mantan pebulu tangkis nasional.

“Selamat Nyoo and Agnesss… semoga menjadi berkat buat seluruh dunia dan kebanggaan keluarga. Amin,” demikian komentar asisten pelatih pratama ganda campuran pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Vita Marissa di unggahan Marcus.

Selain Vita, pemain-pemain lain bulu tangkis nasional juga turut berkomentar seperti Hendra Setiawan dan Ricky Karanda Suwardi.

Bahkan unggahan atlet yang baru saja menjuarai turnamen Indonesia Masters 2019 pada Minggu (27/1) itu, disambut oleh lawan-lawannya dari negara lain seperti Han Chengkai dari China, Takeshi Kamura dari Jepang, dan Goh V Shem dari Malaysia.

“Ya Tuhan. Selamat. Sangat lucu,” kata Han yang beberapa kali bertanding melawan ganda Indonesia Kevin/Marcus.

Ganda Kevin/Marcus yang diberi julukan Minions itu sukses mempertahankan gelar turnamen Indonesia Masters di Stadion Istora Senayan setelah mengalahkan ganda senior mereka Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dalam dua gim 21-17, 21-11.

Baca juga: Minions pertahankan gelar juara Indonesia Masters

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda campuran Indonesia ditarget masuk semifinal All England

Jakarta (ANTARA News) – Sektor ganda campuran pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) ditargetkan masuk semifinal pada kejuaraan bulu tangkis tertua di dunia All England di Birmingham, Inggris, 6-10 Maret.

“Kami tidak bisa mematok target terlalu tinggi karena persiapan kami juga singkat dan tidak sampai sebulan. Kami persiapkan para pemain dengan maksimal karena mereka sudah turun pada Malaysia Masters dan Indonesia Masters. Sebagian juga akan ikut Superliga pada sebelum All England,” kata pelatih sektor ganda campuran Nova Widianto di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Ganda campuran yang akan diturunkan di kejuaraan tingkat Super 1.000 ini adalah Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, Ronald Alexander/Annisa Saufika, serta Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow.

Sebelum turun di All England, ganda campuran Indonesia ini terlebih dahulu akan turun di Spanyol Masters 2019 di Barcelona, 19-24 Februari. Namun, ada dua pasangan unggulan Indonesia yang bakal absen yaitu Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

Usai tampil di Spanyol Masters 2019, semua ganda campuran Indonesia termasuk Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja akan turun di Jerman Terbuka 2019 di Muelheim an der Ruhr, Jerman, 26 Febuari hingga 3 Maret.
 
“Kami menargetkan pasangan selain Praveen/Melati dan Hafiz/Gloria bisa masuk peringkat 20 besar dunia sebelum Kejuaraan Dunia 2019 Agustus nanti. Saat ini rata-rata mereka pada peringkat 30 besar dunia,” kata Nova menambahkan.

Atlet-atlet utama ganda campuran PBSI telah berlatih di pelatnas Cipayung, Jakarta Timur sejak Senin (28/1) setelah mereka mengikuti turnamen Indonesia Masters 2018 di Stadion Istora Senayan pekan lalu.

“Kami tidak punya banyak waktu dan mereka sudah langsung latihan dengan porsi berat sejak Senin (28/1). Untuk Tontowi, dia memang baru berlatih hari ini karena Senin libur dan Selasa ada keperluan mengurus paspor,” kata mantan pemain tim nasional itu.
Baca juga: Indonesia kirim 36 atlet menuju All England 2019

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PBSI perbanyak latihan Owi/Winny guna perkuat pola

Jakarta (ANTARA News) – Pelatih ganda campuran pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akan memperbanyak porsi latihan bagi pasangan baru Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow jelang keikutsertaan mereka pada tiga turnamen Eropa yaitu Spanyol Masters, Jerman Terbuka, dan All England medio 19 Februari sampai 10 Maret.

“Harusnya mereka saling menyesuaikan karena saya sudah melatih Winny sejak di pelatnas pratama. Saya latih agar dia siap masuk pelatnas utama dan berpasangan dengan Owi (Tontowi),” kata kata pelatih sektor ganda campuran pelatnas PBSI Nova Widianto di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Peningkatan latihan bagi Owi/Winny, menurut Nova, dibutuhkan menyusul pensiunnya tandem Owi yaitu Liliyana Natsir tepatnya pada turnamen Indonesia Masters 2019 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1).

“Pola permainan Tontowi dengan Liliyana tentu akan berbeda ketika Tontowi dengan Winny. Tontowi harus lebih bekerja keras. Kami akan memperbanyak latihan agar mereka mendapatkan pola komunikasi dan cara bermain yang kompak,” kata mantan pemain yang mendapatkan medali perak Olimpiade Beijing 2008 bersama Liliyana Natsir itu.

Nova mengharapkan pasangan Owi/Winny dapat segera mengumpulkan poin mereka sendiri sebagai pasangan ganda campuran dan bukan poin dari hasil pertandingan sebelumnya ketika Tontowi bersama Liliyana ataupun Winny bersama Akbar Bintang Cahyono.

“Mereka masih bisa ikut tiga turnamen di Eropa serta tiga turnamen di Asia seperti India Terbuka, Malaysia Terbuka, serta Singapura Terbuka 2019,” kata Nova menambah. Atlet bulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad (kiri), Praveen Jordan (kedua kiri). Alfian Eko Prasetya (ketiga kiri), Ronald Alexander (ketiga kanan), Hafiz Faizal (kedua kanan) berlatih di pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (30/1). Sektor ganda campuran PBSI akan menurunkan pasangan Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow pada turnamen Spanyol Masters, Jerman Terbuka, dan All England 2019. (Antara/Imam Santoso)
Setelah turnamen Singapura Terbuka 2019, menurut Nova, Owi/Winny akan punya poin dari hasil pertandingan mereka sebagai pasangan ganda campuran. Poin itu akan digunakan untuk mengikuti rangkaian turnamen World Tour Super lainnya.

“Mereka minimal bisa masuk pertandingan sampai putaran perempat final dalam tiga turnamen di Eropa dan tiga turnamen di Asia itu,” katanya.
Baca juga: Ganda campuran Indonesia ditarget masuk semifinal All England

Para pelatih sektor ganda campuran akan memantau perkembangan penampilan pasangan Owii/Winny hingga All England 2019 meskipun ganda itu akan berlanjut hingga Singapura Terbuka 2019.

“Seandainya kalah pada pertandingan putaran awal, kami akan tetap memastikan bagaimana mereka kalah. Jika mereka kalah misalnya dari pasangan Zheng Siwei/Huang Yaqiong, kami masih bisa memastikan potensi mereka dalam turnamen berikutnya,” ujar Nova.

Namun, ganda Owi/Winny, lanjut Nova, tidak perlu mengikuti turnamen Malaysia Terbuka 2019 dan Singapura Terbuka 2019 seandainya mereka dipercaya tampil dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Asia pada 23-28 April 2019.

Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Asia akan berlangsung di Wuhan, China setelah penyelenggaraan Singapura Terbuka 2019 pada 9-14 April.
Baca juga: Insting bermain bagus, Winny disebut layak dampingi Owi

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi akui butuh adaptasi setelah Butet pensiun

Jakarta, 30/1 (Antara) – Pebulu tangkis Indonesia Tontowi Ahmad mengaku butuh adaptasi kembali pada sesi latihan sektor ganda campuran setelah pasangan terdahulunya Liliyana Natsir atau yang akrab disapa Butet, “gantung raket” pada turnamen Indonesia Masters 2019.

“Ini baru latihan pertama tanpa ci Butet. Saya berusaha untuk beradaptasi lagi. Memang, ada hal lain yang kurang karena biasanya ada ci Butet, Debby juga ada. Mereka berdua pensiun, suasanya jadi lain,” kata pemain yang akrab disapa Owi di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Butet dan Debby Susanto menyatakan pensiun sebagai atlet setelah mengikuti turnamen Indonesia Masters 2019 yang berlangsung di Stadion Istora Senayan, Jakarta pada 22-27 Januari.

“Saya selalu serius kalau berlatih. Tadi juga serius, tapi pada sesi akhir latihan saja suasana lebih cair. Dulu ketika latihan, kami ya serius dan ada saat kami saling bercanda,” kata Owi yang beberapa kali sempat melempar canda bersama Praveen Jordan dan Alfian Eko Prasetya.

Pasangan peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 bersama Butet itu mengaku latihan pertamanya selepas mengikuti Indonesia Masters 2019 salah satu targetnya untuk meningkatkan kelincahan dan keseimbangan tubuh, serta kekuatan fisik.

“Saya sering bercanda bersama Ucok (sapaan Praveen Jordan) dan Eko dari dulu. Malah kalau sama ci Butet dan Debby jarang bisa bercanda,” kata Owi sembari tertawa.

Meskipun menjadi atlet senior pada sektor ganda campuran pelatnas PBSI, Owi mengaku tidak mendapatkan keistimewaan dari para pelatih dan masih harus mengikuti program latihan sebagaimana rekan-rekan pelatnas yang berusia di bawahnya.

“Kak Richard menganggap saya seperti pemain-pemain muda dan latihan kami tetap sama. Dia meminta saya untuk kembali berlatih dari dasar. Dia juga minta saya untuk kembali punya motivasi dan siap dari nol,” kata pemain berusia 31 tahun itu.

Owi mengaku punya persiapan sekitar dua pekan untuk berlatih bersama pasangan barunya Winny Oktavina Kandow sebelum mengikuti tiga turnamen Eropa yaitu Spanyol Masters, Jerman Terbuka, dan All England 2019.
Baca juga: PBSI perbanyak latihan Owi/Winny guna perkuat pola

“Kami akan coba untuk meningkatkan kekompakan dalam latihan. Mudah-mudahan hasil yang kami dapat bisa bagus meskipun tentu akan ada penyesuaian  dari kami. Saya sebagai senior juga ada penyesuaian walau semestinya saya bisa membimbing,” kata Owi.

Pasangan atlet Indonesia, menurut Owi, punya karakter yang berbeda dengan pemain-pemain China dan Korea Selatan yang cenderung punya pola permainan keras.

“Pemain China dan Korea kalau dipasangkan sama siapa saja bisa langsung klop karena gaya main mereka sama. Kalau kami berbeda, kami punya tipe permainan,” kata atlet asal klub Djarum Kudus itu.
Baca juga: Pelatih ganda campuran akui potensi pengganti Butet

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi harapkan pelapisnya tidak mudah menyerah

Jakarta (ANTARA News) – Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad (Owi) berharap pasangan pelapisnya yaitu Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja mampu membuktikan prestasi dan tidak mudah menyerah dalam setiap pertandingan yang mereka ikuti.

“Mereka kan sekarang sudah menjadi pasangan atlet prioritas dan punya tanggung jawab besar. Mereka tidak bisa lagi berlatih dan bermain jelek karena harus mampu membuktikan sebagai pasangan atlet yang mendapatkan prioritas,” kata Owi setelah mengikuti latihan di pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Owi mengungkapkan harapan kepada dua pasangan atlet itu sebagai penerus ganda Tontowi/Liliyana Natsir pada sektor ganda campuran PBSI menyusul keputusan Liliyana yang pensiun sebagai atlet pada turnamen Indonesia Masters 2019.

Pemain yang akrab disapa Owi itu mengatakan penetapan Praveen/Melati dan Hafiz/Gloria sebagai pasangan prioritas menuju Olimpiade Tokyo 2020 karena kedua pasangan itu punya peringkat yang memadai untuk lolos kualifikasi Olimpiade.

“Mereka prioritas karena tidak ada pemain lain yang lebih tinggi peringkatnya. Saya dulu harus bersaing. Praveen/Melati dan Hafiz/Gloria perlu terus bersemangat dan tidak berlatih sembarangan. Mereka harusnya bisa membuktikan diri,” kata pemain yang menyabet medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 itu.

Meskipun tidak lagi menjadi atlet prioritas bagi PBSI setelah Liliyana pensiun, Owi berjanji masih akan menunjukkan prestasinya bersama pasangan baru Winny Oktavina Kandow dalam turnamen internasional.

“Saya akan menunjukkan meskipun saya bukan atlet prioritas. Apalagi mereka yang sudah dipilih PBSI, mereka harusnya bisa buktikan,” katanya.

Namun, Owi mengaku masih berupaya untuk menemukan pola permainan bersama Winny dalam sesi latihan di pelatnas PBSI sebelum mengikuti turnamen Spanyol Masters, Jerman Terbuka, dan All England 2019.

“Saya baru bisa berprestasi bersama ci Butet pada 2012. Saya sudah berpasangan dua tahun sebelumnya. Itupun tidak stabil karena kami masih kalah-menang. Meskipun kami juara, tapi kami belum benar-benar kompak. Kami sudah benar-benar menemukan pola permainan pada 2013,” kata Owi.

Meskipun menjadi atlet senior pada sektor ganda campuran pelatnas PBSI, Owi mengaku tidak mendapatkan keistimewaan dari para pelatih dan masih harus mengikuti program latihan sebagaimana rekan-rekan pelatnas yang berusia di bawahnya.

“Kak Richard menganggap saya seperti pemain-pemain muda dan latihan kami tetap sama. Dia meminta saya untuk kembali berlatih dari dasar. Dia juga minta saya untuk kembali punya motivasi dan siap dari nol,” kata pemain berusia 31 tahun itu.
Baca juga: Owi akui butuh adaptasi setelah Butet pensiun
Baca juga: PBSI perbanyak latihan Owi/Winny guna perkuat pola

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelatih siap berbagi pengalaman asuh anak ke Marcus

Jakarta (ANTARA News) – Pelatih-pelatih sektor ganda putra pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) siap berbagi pengalaman dalam mengasuh anak kepada Marcus Fernaldi Gideon menyusul kelahiran putra pertamanya pada Selasa (29/1).

“Kami pasti akan memberi tahu dia bagaimana mengatur jam istirahat dan makan setelah punya anak. Kami sudah berkeluarga sehingga bisa berbagi pengalaman,” kata pelatih ganda putra PBSI Aryono Miranat di sela-sela latihan di pelantas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

Aryono memastikan kelahiran putra pertama tidak akan mempengaruhi Marcus dalam latihan karena atlet ganda putra yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo itu sudah mengerti tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, serta kepada PBSI.

Baca juga: Marcus Fernaldi Gideon jadi ayah

“Dia pulang setiap hari setelah berlatih. Tapi, kalau istirahat siang, dia ada di pelatnas. Komunikasi dengan Kevin juga tidak akan terpengaruh. Kami akan membimbingnya,” kata Aryono,

Aryono mengatakan istri Marcus, Agnes Amelinda Mulyadi, dan keluarganya sudah mengerti kondisi pemain ganda putra peringkat satu dunia itu yang harus tetap berlatih demi menjaga kondisi jelang All England 2019.

Aryono mengakui Marcus belum berlatih pada Rabu karena masih libur setelah kelahiran putra pertamanya. Sedangkan Kevin meminta izin berlatih karena sakit tenggorokan.

“Mungkin Marcus akan berlatih lagi pada besok Kamis. Kevin tadi datang, tapi sakit tenggorokan. Saya minta dia istirahat agar tidak tambah parah,” katanya.

Pelatih dan atlet-atlet ganda putra PBSI, lanjut Aryono, belum berencana menjenguk putra Marcus yang lahir di di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan. “Mungkin nanti kami atur waktu karena kami baru berkumpul juga hari ini,” kata Aryono.

– Atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon dan istrinya Agnes Amelinda Mulyadi mendapatkan karunia menyusul kelahiran putra pertama mereka di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan, Selasa.

“Selamat datang!! MFG jr,” demikian isi unggahan akun resmi Instagram atlet yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo itu pada Selasa.

Unggahan itu pun mendapatkan lebih dari 10 ribu komentar dari para warganet, termasuk sejumlah pebulu tangkis dan mantan pebulu tangkis nasional.

Ganda Kevin/Marcus sukses mempertahankan gelar turnamen Indonesia Masters di Stadion Istora Senayan setelah mengalahkan ganda senior mereka Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dalam dua gim 21-17, 21-11.

Baca juga: Minions pertahankan gelar juara Indonesia Masters

Baca juga: Kalahkan Denmark, Minions pastikan gelar untuk Indonesia

Baca juga: Bulu Tangkis – Minions rebut gelar pertama 2019 di Malaysia
 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019