KONI nilai sorotan KPAI soal audisi PB Djarum kritik membangun

Jakarta (ANTARA) – Pihak Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menilai sorotan yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap audisi bea siswa PB Djarum sebagai kritik yang membangun terhadap mekanisme yang dilakukan.

“Memang harus dilakukan evaluasi secara menyeluruh supaya tidak ada yang dilanggar. Jika ada yang kurang mari kita benahi,” kata Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, audisi merupakan salah satu mekanisme untuk menjaring bibit-bibit atlet potensial termasuk yang dilakukan oleh Djarum Foundation khusus untuk cabang bulu tangkis. Pihaknya melihat mekanisme audisi itu telah berjalan cukup lama.

“Kita harus melihat secara jernih permasalahan yang ada. Begitu juga dengan KPAI.” kata mantan Kepala Badan Intelijen¬†Negara (BIN) itu.

Sebelumnya, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty mengatakan pihaknya sudah pernah memanggil Djarum Foundation dan meminta agar tidak ada eksploitasi anak dalam Audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis.

Baca juga: Soal audisi bulu tangkis KPAI pernah panggil Djarum Foundation

“KPAI sudah pernah memanggil Djarum Foundation dan menjelaskan bahwa ada eksploitasi anak dalam audisi bulu tangkis selama ini,” katanya di Jakarta, Jumat (2/8).

Ia mengatakan KPAI sama sekali tidak meminta audisi bulu tangkis tersebut dihentikan, tetapi meminta agar eksploitasi ekonomi yang terjadi dalam audisi tersebut dihentikan.

Karena itu, pada Kamis (1/8), KPAI mengundang sejumlah kementerian/lembaga mulai perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca juga: KPAI desak Djarum Foundation hentikan penggunaan anak untuk promosi

KPAI Investigasi kasus di SMA Taruna Indonesia Palembang

Pewarta: Bayu Kuncahyo
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019