Butet masih tak tergantikan, kata Susi Susanti

PBSI kerja keras mengembalikan kembali kejayaan bulu tangkis di semua sektor

Jakarta (ANTARA) – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) Susi Susanti menyebut Liliyana “Butet” Natsir belum tergantikan oleh atlet bulu tangkis mana pun sampai sekarang.

“Mungkin setelah mix double dulu ada Butet. Sampai sekarang belum ada yang gantikan Butet,” katanya di Jakarta, Senin.

Menurut Susi, PBSI saat ini masih menjadikan ganda putra sebagai andalan mengarungi kompetisi dunia, salah satunya Olimpiade Musim Panas 2020 di Tokyo.

PBSI, sambung dia, intensif membina atlet profesional untuk tampil pada turnamen-turnamen level dunia guna meneruskan estafet tradisi emas bulu tangkis dalam Olimpiade.

“Proses peralihan dari yang muda untuk jadi pemain utama, butuh waktu. PBSI kerja keras mengembalikan kembali kejayaan bulu tangkis di semua sektor,” kata dia.

Baca juga: Pesan Liliyana Natsir untuk Tontowi Ahmad

Susi mengaku harus bekerja keras bersama jajarannya untuk menemukan talenta yang tepat guna menggantikan Butet yang sudah pensiun sejak Januari 2019.

Liliyana adalah pemain bulu tangkis ganda putri dan ganda campuran Indonesia legendaris yang berpengalaman merebut gelar juara Piala Uber, Piala Sudirman, dan peraih medali perak Olimpiade Beijing.

Susi menyebut Winny Oktavina Kandow, Gloria Emanuelle Widjaja, dan beberapa atlet binaan, tengah dipersiapkan untuk meneruskan kiprah kelas dunia Butet.

“Masih belum menemukan, tapi proses itu sedang kita kerjakan,” kata Susi.

Saat ini PBBI terus menempuh upaya pembinaan secara berkesinambungan kepada para atlet bulu tangkis agar tradisi emas Olimpiade dijaga Indonesia, bahkan meningkat levelnya.

Baca juga: Susi: pergantian pelatih perlu pertimbangkan banyak faktor

Susi Susanti: Tim bulutangkis putri sesuai target

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susy: pergantian pelatih perlu pertimbangkan banyak faktor

Jakarta (ANTARA) – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Susy Susanti, menilai usulan pergantian pelatih bagi Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie butuh pertimbangan banyak faktor.

“Kita melihat banyak faktor yang dinilai, tidak hanya saat kalah. Kita juga lihat saat kemenangan seperti apa,” kata Susy di Jakarta, Senin.

Permintaan untuk mengganti pelatih sebelumnya diungkapkan mantan atlet bulu tangkis nasional, Taufik Hidayat, setelah kecewa dengan kekalahan Anthony Ginting dan Jonatan Christie di Indonesia Open 2019.

Anthony kandas di babak kedua oleh atlet nonunggulan asal Thailand Kantaphon Wangcharoen Sementara langkah Jonatan terhenti di babak perempat final setelah takluk oleh lawan asal Taiwan, Chou Tien Chen.

Menurut Susy masukan terkait pergantian pelatih yang disampaikan Taufik Hidayat melalui sejumlah media massa merupakan bentuk perhatian dari seorang legenda bulu tangkis terhadap keberlangsungan prestasi nasional.

“Tentunya masukan dari para legenda sangat luar biasa, tapi kita lihat secara teknis, kalahnya seperti apa. Kalau lihat pada saat menang sebulan lalu, all Indonesian final di New Zealand, perlu jadi pertimbangan juga,” kata Susy.

PP PBSI, kata Susy, akan mengevaluasi penampilan pebulu tangkis nasional usai perhelatan SEA Games 2019 dari sisi permainan, kesiapan, hingga mencermati situasi kritis poin.

“Namanya pertandingan, ada menang, ada kalah. Contohnya Kento Momota kalah dari pemain yang nonunggulan. Dalam hal olahraga menang dan kalah itu pasti dan hal biasa,” katanya.

Susy menyebut hal terpenting adalah mengetahui di mana kelemahan sang atlet dan memperbaikinya.

“Kita sebagai pelatih ingin agar prestasi anak asuhnya terus meningkat. Kita lihat tahun ini Jonatan sudah dua kali juara, Ginting dua kali final, secara rangking tempati 6 dan 7 dunia,” katanya.

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Baca juga: Ditaklukkan Kantaphon, Ginting terhenti di babak dua

Susi Susanti: Tim bulutangkis putri sesuai target

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ringkasan pertandingan final, Jepang boyong dua gelar juara

Jakarta (ANTARA) – Jepang hadir pada turnamen bulutangkis Indonesia Open 2019 dengan hasil cukup baik. Pada babak puncak turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 yang berlangsung pada Minggu (21/7) di Lapangan 1 Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jepang berhasil menyabet dua gelar juara.

Gelar pertama diraih Jepang melalui pertarungan antara dua perwakilan ganda putri, yaitu unggulan ketiga Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi melawan unggulan kedua Yuki Fukushima/Sayaka Hirota.

Perang saudara itu pun dimenangkan Fukushima/Hirota dalam dua gim yang berjalan selama 51 menit dengan skor 21-16, 21-18.

Gelar kedua Jepang diperoleh melalui sektor tunggal putri, Akane Yamaguchi. Pebulutangkis unggulan ke-empat itu sukses menaklukkan pebulutangkis unggulan kelima asal India, Pusarla V Sindhu, dalam dua gim dengan skor 21-15, 21-16.

Selanjutnya, di partai ganda campuran juga terjadi perang saudara antara dua perwakilan dari Cina, yaitu unggulan pertama, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, melawan unggulan kedua, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping.

Juga baca: Akane Yamaguchi juara tunggal putri

Juga baca: Singkirkan unggulan China, Sindhu siap tempur lawan Yamaguchi di final

Juga baca: Kurang fit, unggulan pertama Taiwan disingkirkan Jepang

Di laga tersebut, Zheng/Huang berhasil mengalahkan Wang/Huang dalam dua gim dengan skor 21-13, 21-18 dan meraih gelar juara ganda campuran.

Sementara itu, di nomor tunggal putra, unggulan ke-empat asal Taiwan, Chou Tien Chen, menumbangkan pebulutangkis Denmark, Anders Antonsen, dalam tiga gim yang berdurasi selama 90 menit. Duel panjang itu pun akhirnya dimenangkan Chou dengan skor 21-18, 24-26, 21-15.

Terakhir, di sektor ganda putra, pasangan unggulan pertama Indonesia, Marcus Gideon/Kevin Sukamuljo, berhadapan dengan rekan senegaranya sendiri, yakni unggulan ke-empat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Dalam pertandingan all Indonesian final malam itu, Marcus/Kevin unggul atas Hendra/Ahsan dengan skor 21-19, 21-16 dan menyabet gelar juara ganda putra.

Blibli Indonesia Open 2019 digelar mulai 16 hingga 21 Juli 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Total hadiah yang diperebutkan para pemain dalam turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu mencapai 1.250.000 Dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp17 miliar.

Indonesia melenggang ke perempat final setelah tundukkan Jepang

Shanghai (ANTARA) – Tim bulutangkis beregu Indonesia berhasil melenggang ke babak perempat final setelah menundukkan Jepang dengan skor 4-1 dalam Kejuaraan Bulutangkis Junior Asia 2019, di Suzhou, China, Minggu.

Dengan kemenangan itu, maka Indonesia menjadi juara grup A karena sehari sebelumnya menang telak 5-0 atas Malaysia. Indonesia yang berada di unggulan pertama dalam kejuaraan tersebut dengan mudah mengalahkan Jepang yang merupakan unggulan keenam.

Kemenangan Indonesia berawal dari permainan ganda putra Leo Carnando/Daniel Marthin yang sukses menyudahi perlawanan pasangan Yoshifumi Fujisawa/Kakeru Kumagai dengan skor 21–11, 21–15.

Putri Kusuma Wardani menang dua set langsung atas pebulu tangkis putri Jepang Riko Gunji 21 10, 21-17.

Sementara tunggal putra, Christian Adinata, harus berjuang keras dalam pertandingan tiga set melawan Riku Hatano 21-13, 18-21, dan 21-19.

Sayangnya ganda putri Nita Marwah/Putri Syaikah harus menyerah di tangan Rui Hirokami/Mizuki Otake dalam pertandingan rubber set 17-21, 21–18, dan 16–21 yang berlangsung lebih dari satu jam.

Leo Carnando/Indah Jamil menambah keunggulan Indonesia setelah menggulung ganda campuran Jepang Tsubasa Kawamura/Hinata Suzuki 21–17, 21-14.

Di babak perempat final yang berlangsung di Suzhou Olympic Sport Center, Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, Senin (22/7), tim beregu Indonesia akan menghadapi India yang menduduki peringkat kedua grup C.

Jepang sebagai peringkat dua grup A akan bertanding melawan Thailand sebagai juara grup C.

Kejuaraan junior itu diikuti 14 negara dan wilayah, yakni Indonesia, Hong Kong, India, Jepang, Korea Selatan, Makau, Malaysia, Mongolia, Nepal, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Taiwan, dan tuan rumah China. 

“Jualan” budaya lewat Indonesia Open

Jakarta (ANTARA) – Melalui Indonesia Open 2019, kegiatan olahraga kembali menunjukkan diri bukan sekadar sebuah arena laga para atlet yang bertujuan mencari pemenang, tetapi menjadi jendela untuk mengkomunikasikan banyak hal.

Sebagaimana kegiatan olahraga lain seperti Asian Games tahun lalu, Indonesia Open pun diperluas maknanya. Tak hanya menawarkan pertunjukkan ketangkasan tepok bulu kelas dunia, publik pun diajak menyimak hal-hal lain, salah satunya budaya Indonesia.

Tawaran tersebut sepertinya juga yang direspon oleh panitia Blibli Indonesia Open 2019 setelah melihat kesuksesan yang diraih saat perhelatan Asian Games 2018 karena bisa mendukung promosi pariwisata dan budaya di Tanah Air.

Namun memang, budaya Indonesia terlalu kaya dan tak mungkin tersampaikan utuh melalui event bulu tangkis yang berlangsung 16-21 Juli ini. Tetapi, paling tidak panitia bisa dengan jeli mencoba mencuri perhatian dengan memperkenalkan sebersit budaya Indonesia.

Batik menjadi salah satu pilihan identitas Indonesia yang dipromosikan melalui turnamen bulu tangkis berhadiah total sebesar USD 1.250.000 atau setara Rp17, 4 miliar itu.

Baca juga: Wasit kenakan batik di semifinal

Pakaian yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO itu dikenakan oleh wasit pada semifinal turnamen Indonesia Open 2019.

Selain batik, pakaian tradisional Jawa yakni kain lurik dan blangkon juga terlihat dipakai oleh hakim garis yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan.

Ketua Panitia Penyelenggara Blibli Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto mengatakan penampilan unik wasit dan hakim garis ini bagian dari upaya memperkenalkan Indonesia beserta kebudayaannya di mata Internasional.

“Pakaian jawa merupakan bagian dari mengenalkan salah satu budaya Indonesia ya,” kata Achmad di Jakarta.

Pasangan mantan pebulu tangkis Indonesia Susi Susanti dan Alan Budikusuma pun merasa salut dan bangga dengan upaya yang dilakukan panitia dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia melalui turnamen bulu tangkis.

Susi bahkan bercerita, para pengawas jalannya pertandingan itu mengaku senang dan antusias ketika mengetahui akan mengenakan batik selama bertugas pada pertandingan. Bahkan pihak BWF pun turut mengapresiasi.

“Menurut pemain luar, pelatih dan wasit mereka bilang seneng banget (bertanding di Indonesia) dan Indonesia menjadi salah satu tempat pertandingan terbaik di dunia, ” kata Susi.

Menurut Susi, para atlet dari luar negeri merasa senang berlaga di Indonesia. Kepribadian masyarakat Indonesia dengan ramah tamah dan sopan santunnya telah memikat mereka.

Dengan begitu, lanjut Susi, mereka akan terkesan dengan Indonesia dan suatu saat akan kembali ke Indonesia.

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu menambahkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang cukup sering memperkenalkan budaya dan identitas sebuah negara melalui turnamen olahraga.

“Tema Indonesia Open ini adalah bangga menjadi orang Indonesia dengan kebudayaannya,”kata Alan menimpali.

Dosen Kebudayaan Institut Kesenian Jakarta Tommy F. Awuy berpendapat memperkenalkan budaya Indonesia melalui turnamen olahraga merupakan hal yang wajar dilakukan untuk menarik perhatian turis asing agar mengenal Indonesia.

“Orang pakai batik ke mall juga sebenarnya sudah memperkenalkan salah satu budaya dan ciri khas Indonesia. Tapi kalau di olahraga, olahraga itu sendiri hanya alat lain untuk mempromosikan budaya Indonesia, ” kata Tommy.

Menurut Tommy, upaya promosi budaya melalui olahraga  adalah suatu langkah yang patut diapresiasi dan perlu terus dilakukan di setiap event olahraga.

Ajang promosi melalui penampilan unik para wasit dan hakim garis dalam turnamen bulutangkis itu tentu saja akan menyita perhatian masyrakat dan diharapkan dapat sekaligus mengajak turis asing untuk datang dan berwisata di Indonesia.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memang sudah mencanangkan program “sport tourism” guna mendukung pengembangan wisata Indonesia.

Bahkan dia juga mendorong setiap provinsi di Indonesia untuk menyelenggarakan wisata olahraga dengan melibatkan para peserta luar negeri.

Beberapa event dengan konsep sport tourism sukses dilaksanakan seperti Borobudur Marathon yang secara konsisten dilakukan tiap tahun dengan pesertanya dari berbagai negara. Wisata olahraga seperti itu, menurut Imam perkembangannya sudah semakin meningkat.

Pengamat pariwisata bidang “sport tourism” Ricky Avenzora mengatakan promosi pariwisata dan budaya Indonesia melalui event olahraga akan terus berkembang dan menjadi ikon utama dunia karena turis sangat menikmati seni, budaya, dan pemandangan alam.

Ricky mencotohkan dengan hajatan olahraga Asia Games 2018 di Jakarta-Palembang adalah bukti Indonesia sudah siap menyelenggarakan event berskala internasional.

Baca juga: Wisata seni budaya untuk tamu Asian Games disediakan pada 25-26 Agustus
Baca juga: Delegasi Asian Games kagumi pelayanan wisata belanja Indonesia

“Suksesnya ajang Asia Games ke-18 di Jakarta-Palembang adalah bukti bahwa Indonesia sudah siap dalam kegiatan olahraga apalagi dengan wisata olahraga yang memiliki banyak ‘venue’ tersebar di Tanah Air adalah modal untuk mendatangkan wisatawan semakin banyak ke depannya, ” tuturnya.

Namun menurut dia, semua kegiatan olahraga itu harus dikemas dengan baik agar bisa menarik dan para turis pun dapat merasakan kenyamanan selama ada di Indonesia.

Baca juga: Diam-diam Jojo bisnis fesyen
Baca juga: Menilik fasilitas parkir berstandar internasional Indonesia Open 2019
Baca juga: Malam mingguan di zona sajian masakan Indonesia Open 2019

 

Minions pertahankan gelar, kalahkan The Daddies di final

Oleh Shofi Ayudiana
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

All Indonesian Final, Kevin/Marcus masih yang terbaik

Jakarta (ANTARA) – Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon masih menjadi pasangan ganda putra teratas di Indonesia dan juga dunia usai membuktikan dirinya sebagai yang terbaik di turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Peringkat satu dunia itu menunjukkan kecepatan dan kekuatannya ketika menghadapi rekan satu negara Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, juara Indonesia Open 2013, di partai All Indonesian Final di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu.

Hanya butuh 28 menit bagi Kevin/Marcus untuk mempertahankan gelarnya dengan menang dua gim 21-19, 21-16.

Baca juga: Minions pertahankan gelar Indonesia Open

“Kami sama-sama latihan bareng, terus saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hendra juga salah satu pemain depan yang sangat baik, saya berusaha keluarkan kemampuan terbaik saya saja,” kata Kevin usai laga.

kedua pasangan saling kejar poin lewat bola-bola tanggung yang dengan mudah mereka sambar di depan net.

Hingga interval pertama di enam menit pertama, Ahsan/Hendra unggul 11-10 dengan pertandingan yang minim dengan reli-reli panjang.

Kejar mengejar angka terjadi hingga skor 17 sama ketika kedua pasangan bermain cepat menyambar bola-bola datar di depan net.

The Daddies melakukan kesalahan dan bola keluar hingga kehilangan dua poin terakhir gim pertama.

“Di gim pertama kami banyak mendapat bola yang beruntung… gim pertama susah bagi kami untuk menebak-nebak bola mereka, kondisi anginnya juga sulit,” kata Marcus.

Ahsan/Hendra sedikit terburu-buru dalam pengembalian bola di awal gim kedua yang menyebabkan mereka kehilangan angka, namun mampu mengejar untuk menyamakan kedudukan 6 sama lewat smash keras Hendra.

Sulit menilai siapa yang lebih unggul di antara pasangan ganda putra terbaik Indonesia itu. Kevin memiliki gerakan cepat di depan net sedangkan Hendra masih memiliki smash yang kuat walaupun menjadi pemain senior.

Minions kali ini unggul lebih dulu 11-10 di interval kedua.

Beberapa kali kesalahan Ahsan/Hendra menjadi momentum Kevin/Marcus untuk semakin tak terkejar dan menutup gim dengan keunggulan lima angka.

“Pertama mungkin kami tetap ucap syukur (sampai final). Di pertandingan tadi mereka lebih cepat dan berada di atas kami. Kami kalah dengan kecepatan mereka. Kami ucapkan selamat buat Kevin dan Marcus,” kata Ahsan.

Ahsan/Hendra sebelumnya juga bertemu dengan rekan mereka di pelatnas itu ketika di final turnamen Indonesia Masters 2019 di Istora GBK awal tahun ini di mana mereka kalah telak 17-21 11-21.

Ini menjadi kekalahan ketujuh dan keenam secara beruntun bagi peringkat empat dunia itu dari sembilan kali pertemuannya dengan Kevin/Marcus.

“Mereka memang lebih bagus dari kami, dan kami kalah cepat, power mereka lebih kencang jadi memang tidak mudah juga,” kata Hendra, yang merupakan juara Olimpiade 2018 ketika berpasangan dengan Markis Kido.

Hendra, yang kini berusia 34 tahun, dan Ahsan (31) juga tak menyangka bisa masuk ke final lagi di umurnya yang sekarang.

Bahkan keduanya masih bersemangat untuk lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo nanti bersama junior-juniornya di pelatnas.

Hendra mengungkapkan bahwa sektor ganda putra Indonesia sedang bagus karena diperkuat peringkat satu dunia, beserta unggulan lainnya seperti Fajar Alfian dan Mohammad Rian Ardianto.

“Semoga ke depannya tetap stabil hingga bisa menyumbang (medali) dari Olimpiade,” kata Hendra.

Sementara itu, Kevin/Marcus masih memiliki waktu kurang lebih satu tahun untuk mempersiapkan diri mereka menuju Olimpiade pertama mereka.

Tak ada persiapan khusus, melainkan terus latihan, kata Marcus.

“Kami peringkat satu dunia, pasti semua orang ingin mengalahkan kami,” demikian Marcus.

Baca juga: Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019
Baca juga: Akane Yamaguchi juara tunggal putri

 

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Antonsen kecewa jadi juara dua tunggal putra Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis asal Denmark Anders Antonsen mengaku kecewa menjadi juara kedua sektor tunggal putra turnamen Blibli Indonesia Open 2019 usai ditaklukkan oleh unggulan ke-empat Taiwan Chou Tien Chen.

Baca juga: Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019

“Saya merasa kecewa sekali dengan hasil turnamen ini. Mungkin saya akan membutuhkan waktu satu atau dua hari ke depan untuk merenung sebelum saya bangkit dan bersinar kembali,” kata Antonsen usai babak final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.

Pada laga puncak turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu, dia mengaku beberapa kali melakukan kesalahan sendiri, sehingga poin-poin kemenangan itu berhasil dicuri oleh lawan. Dia pun menilai Chou merupakan pemain yang kuat dan pekerja keras.

“Di gim pertama, saya terlambat mencuri poin. Lalu di gim dua, permainan saya mulai membaik. Tapi di gim ketiga, saya melakukan banyak kesalahan-kesalahan sendiri. Saya akui, dia (Chou) adalah pemain yang kuat dan penuh kerja keras, mulai dari awal sampai akhir permainan,” ujar Antonsen.

Lebih lanjut, pemain bulu tangkis berusia 22 tahun itu mengaku sangat lelah usai melakoni laga pamungkas tersebut, sehingga dia ingin beristirahat total.

Di sisi lain, dia juga menilai para penonton dan atmosfer pertandingan di Blibli Indonesia Open 2019 sangat luar biasa, sehingga dia merasa beruntung dapat tampil dalam turnamen bulu tangkis tersebut.

“Bisa bermain di Indonesia Open merupakan impian semua pebulutangkis. Saya merasa beruntung bisa main di ajang ini. Atmosfer dan para penontonnya benar-benar luar biasa. Mengikuti turnamen ini membuat saya sangat lelah. Saya hanya ingin tidur,” ungkap Antonsen.

Dalam laga final yang berlangsung pada Minggu (21/7) di Istora Gelora Bung Karno, Antonsen ditaklukkan oleh Chou dalam tiga gim yang berjalan selama 90 menit dengan skor 18-21, 26-24, 15-21.

Baca juga: Calo tiket “hantui” pengunjung Indonesia Open

Minions pertahankan gelar, kalahkan The Daddies di final

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Matsutomo/Takahashi incar gelar Japan Open dan tiket Olimpiade

Jakarta (ANTARA) –
​Usai menjadi runner-up di turnamen Blibli Indonesia Open 2019​​​​​​, ganda putri Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi akan langsung fokus menjalani turnamen Japan Open 2019 pekan depan.

Matsutomo/Takahashi, unggulan ketiga turnamen, harus menyerah di depan kompatriot senegaranya, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dua gim ketat 16-21, 18-21 dalam waktu 51 menit di Istora Gelora Bung Karno, Minggu.

Baca juga: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pertahankan gelar

Dengan kemenangan itu Fukushima/Hirota, yang menjadi unggulan kedua, mempertahankan gelar turnamen yang ia menangi tahun lalu.

Sementara itu, peringkat empat dari Jepang itu mengakui persaingan di sektor ganda putri Jepang sangat lah ketat dan mereka ingin membuktikan diri dan tampil ke Olimpiade untuk kedua kalinya.

Matsutomo dan Takahashi merupakan peraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio.

“Setelah ini kami fokus ke Japan Open, target kami sampai ke final. Kami ingin menang dan ingin mengumpulkan poin untuk ke Olimpiade,” kata Takahashi.

“Persaingan cukup ketat di sektor ganda putri Jepang, tapi untuk kami masih ada kesempatan.”

Sementara itu Matsutomo mengatakan tidak ada persiapan khusus untuk menuju ke Olimpiade. “Hanya latihan seperti biasa. Di setiap pertandingan saya harus berusaha sebisa mungkin.”

Performa Matsutomo tidak keluar 100 persen di final Indonesia Open 2019 setelah kurang fit dalam tiga hari terakhir turnamen, bahkan sempat demam tinggi hingga 38 derajat Celsius.

Menuju ke Olimpiade 2020 kali ini, Matsutomo/Takahashi mengaku tidak mendapat tekanan sebesar persiapan mereka ketika menuju pesta olahraga sedunia tiga tahun silam.

“Karena sekarang masih banyak pemain Jepang yang peringkatnya yang juga tinggi, jadi tidak ada tekanan untuk kami. Latihannya pun tidak seberat tahun 2016,” kata Takahashi.

Baca juga: All Indonesian Final, Kevin/Marcus masih yang terbaik
Baca juga: Tanpa Owi/Butet, wakil China berjaya

Minions pertahankan gelar, kalahkan The Daddies di final

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pusarla bertekad untuk terus kumpulkan poin Olimpiade 2020

Jakarta (ANTARA) – Juara kedua sektor tunggal putri turnamen Blibli Indonesia Open 2019 asal India Pusarla V Sindhu bertekad untuk terus mengumpulkan poin kemenangan sebanyak-banyaknya agar dapat lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Baca juga: Akane Yamaguchi juara tunggal putri

“Semua pemain tentu saja akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa masuk kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020, bergitu juga dengan saya. Saya berharap bisa terus melaju sejauh-jauhnya,” kata Pusarla usai usai laga final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.

Sementara itu, berkaitan dengan laga final melawan pebulutangkis Jepang Akane Yamaguchi, dia mengaku banyak melakukan kesalahan sendiri, sehingga tidak berhasil keluar sebagai pemenang dalam partai puncak tersebut.

“Pertandingan melawan Yamaguchi itu berlangsung seru. Saya memang sempat melakukan beberapa kesalahan. Di gim kedua, permainan saya lumayan membaik, tapi tetap saya tidak memenangkan pertandingan itu,” ujar Pusarla.

Kedepannya, atlet perempuan yang kini masih berusia 24 tahun itu pun berjanji untuk lebih banyak berlatih, bermain dengan lebih baik dan lebih siap lagi di turnamen-turnamen selanjutnya, sehingga hasil yang diperoleh juga lebih memuaskan.

“Perolehan saya dalam turnamen Indonesia Open ini merupakan awal yang baik untuk mengumpulkan poin ke Olimpiade. Semoga saya bisa lebih baik lagi. Kedepannya, saya harus bermain dengan lebih siap lagi,” ungkap Pusarla.

Pusarla menjadi juara kedua tunggal putri turnamen Blibli Indonesia Open 2019 karena tidak mampu membendung kekuatan pebulutangkis unggulan ke-empat asal Jepang Akane Yamaguchi.

Dalam laga final yang berlangsung pada Minggu (21/7) di Istora Gelora Bung Karno, Pusarla yang merupakan unggulan kelima itu ditaklukkan oleh Yamaguchi dalam dua gim yang berdurasi selama 51 menit dengan skor 15-21, 16-21.

Baca juga: Minions pertahankan gelar Indonesia Open
Baca juga: Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019
Baca juga: Yamaguchi bangga juarai Indonesia Open 2019

Minions pertahankan gelar, kalahkan The Daddies di final

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minions pertahankan gelar Indonesia Open

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mempertahankan gelar turnamen Indonesia Open usai menaklukkan rekan senegaranya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Minggu.

Minions menyingkirkan juara Indonesia Open 2013 itu dalam dua gim 21-19, 21-16 selama 28 menit.

Di awal gim pertama kedua pasangan saling kejar poin lewat bola-bola tanggung yang dengan mudah mereka sambar di depan net.

Hingga interval pertama di enam menit pertama, Ahsan/Hendra unggul 11-10 dengan pertandingan yang minim dengan reli-reli panjang.

Kejar mengejar angka terjadi hingga skor 17 sama ketika kedua pasangan bermain cepat menyambar bola-bola datar di depan net.

The Daddies melakukan kesalahan dan bola keluar hingga kehilangan dua poin terakhir gim pertama.

Ahsan/Hendra sedikit terburu-buru dalam pengembalian bola di awal gim kedua yang menyebabkan mereka kehilangan angka, namun mampu mengejar untuk menyamakan kedudukan 6 sama lewat smash keras Hendra.

Sulit menilai siapa yang lebih unggul di antara pasangan ganda putra terbaik Indonesia itu. Kevin memiliki gerakan cepat di depan net sedangkan Hendra masih memiliki smash yang kuat walaupun menjadi pemain senior.

Minions kali ini unggul lebih dulu 11-10 di interval kedua.

Beberapa kali kesalahan Ahsan/Hendra menjadi momentum Kevin/Marcus untuk semakin tak terkejar dan menutup gim dengan keunggulan lima angka.

Baca juga: Tanpa Owi/Butet, wakil China berjaya

Baca juga: Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019
 

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Juara tunggal putra Indonesia Open

Pebulu tangkis Taiwan Chou Tien Chen meluapkan kegembiraan saat mendapatkan skor ketika melawan pebulu tangkis Denmark Anders Antonsen pada babak final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Tien Chen menjuarai Indonesia Open 2019 nomor tunggal putra usai mengalahkan Antonsen dengan skor 21-18, 24-26, dan 21-15 . ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Mental kuat jadi kunci kemenangan Chou Tien Chen

Jakarta (ANTARA) – Juara tunggal putra turnamen Blibli Indonesia Open 2019 Chou Tien Chen mengaku kunci kemenangannya dalam laga final turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu terletak pada kemampuan untuk mengatur mental agar tetap kuat.

“Selama pertandingan tadi, saya terus berusaha untuk mengendalikan mental saya sendiri supaya tetap semangat, kuat, tidak mudah menyerah, dan tidak lupa, saya juga terus berdoa,” kata Chou usai babak final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.

Bagi atlet berusia 29 itu, gelar juara di turnamen Blibli Indonesia Open 2019 itu merupakan yang pertama kali sekaligus gelar juara pertama baginya pada tahun ini. Oleh karena itu, dia mengaku sangat senang dan bersyukur atas pencapaian tersebut.

“Kemenangan dalam turnamen ini adalah kemenangan pertama saya di Indonesia dan gelar juara pertama saya di tahun ini. Saya akan terus berusaha keras untuk memenangkan turnamen-turnamen selanjutnya,” ujar Chou.

Lebih lanjut, dia menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh penonton yang tidak berhenti memberikan dukungan dan semangat kepadanya, mulai dari awal hingga akhir pelaksanaan turnamen.

“Saya sangat berterima kasih kepada semua pendukung saya, baik yang ada disini (Indonesia) maupun di Taiwan. Saya berjanji akan terus meningkatkan penampilan saya dan memberikan yang terbaik. Terima kasih untuk doa dan dukungannya sehingga saya bisa sampai ke final dan menjadi juara,” tutur Chou.

Baca juga: Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019

Chou berhasil menjadi juara tunggal putra turnamen Blibli Indonesia Open 2019 usai menaklukkan pebulu tangkis Denmark Anders Antonsen.

Di laga final, Chou yang merupakan unggulan pertama tersebut mengalahkan Antonsen dalam tiga gim selama 90 menit dengan skor 21-18, 24-26, 21-15.

Baca juga: Minions pertahankan gelar Indonesia Open

Baca juga: Tanpa Owi/Butet, wakil China berjaya

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kevin – Marcus juara ganda putra Indonesia Open

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo melakukan selebrasi saat mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan dalam final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Marcus-Kevin keluar sebagai menang 21-19, 21-16. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

Chou Tien Chen juara tunggal putra Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra asal Taiwan Chou Tien Chen meraih gelar juara usai menaklukkan pebulutangkis Denmark Anders Antonsen dalam final turnamen Blibli Indonesia Open 2019, Minggu.

Bertanding di Lapangan 1 Istora Gelora Bung Karno, pemain tunggal putra unggulan ke-empat itu sukses mengalahkan Antonsen dalam tiga gim yang berjalan selama 90 menit dengan skor 21-18, 24-26, 21-15.

Pada gim pertama, Chou terus memimpin permainan. Perolehan angka keduanya sempat terpaut jauh pada dengan kedudukan Chou unggul 13-5 atas Antonsen. Di poin-poin akhir, Antonsen sempat mengejar, namun tetap tidak berhasil melewati Chou, hingga akhirnya Chou menang dengan skor 21-18.

Pada gim kedua, persaingan keduanya berlangsung ketat. Baik Chou maupun Antonsen saling kejar-mengejar poin sepanjang pertandingan. Kedudukan keduanya pun sempat imbang. Namun menjelang akhir permainan, Antonsen memimpin dengan skor 26-24.

Di gim penentu, pertarungan keduanya semakin ketat lagi. Sepanjang pertandingan, Chou dan Antonsen berganti-gantian memimpin perolehan angka. Pukulan-pukulan yang dilancarkan Chou pun beberapa kali diantisipasi oleh Antonsen.

Akan tetapi, di akhir gim, Antonsen tetap tidak mampu menghalau pebulutangkis Taiwan tersebut, sehingga Chou berhasil keluar sebagai pemenang dengan kedudukan 21-15.

Chou Tien Chen dan Anders Antonsen sebelumnya sudah pernah bertemu empat kali di lapangan, yakni sejak turnamen Yonex German Open 2017. Dari empat pertemuan itu, Chou tercatat sama sekali belum pernah mengalami kekalahan atas pebulutangkis Denmark tersebut.

Sebelum bertarung di final, di babak semifinal yang berlangsung pada Sabtu (21/7) kemarin, Chou telah menumbangkan pebulutangkis asal Thailand Kantaphon Wangcharoen dalam tiga gim dengan skor 21-19, 18-21, 21-16.

Baca juga: Tanpa Owi/Butet, wakil China berjaya
Baca juga: Yamaguchi bangga juarai Indonesia Open 2019
Baca juga: Suasana Istora semarak jelang derbi IndonesiaB
juga: Jelang final, unggulan Taiwan Chou ingin istirahat

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Juara ganda campuran Indonesia Open

Ganda campuran China Zheng Siwei (kanan) yang berpasangan dengan Huang Ya Qiong melakukan selebrasi usai menang dari ganda campuran China Wang Yi Lyu (kiri) dan Huang Dong Ping (tengah) dalam final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Zheng Siwei-Huang Ya Qiong keluar sebagai juara nomor ganda campuran setelah menang 21-13, 21-18.ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

Tanpa Owi/Butet, wakil China berjaya

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran unggulan pertama asal China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong meneruskan capaian Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sebagai yang terbaik di turnamen Indonesia Open usai meraih gelar juara pada turnamen level Super 1.000 itu.

Bertanding di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu Zheng/Huang menyingkirkan unggulan kedua Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping di partai all China final Blibli Indonesia Open 2019 dalam dua gim langsung 21-13, 21-18 dalam waktu 30 menit.

Ini menjadi kemenangan kesembilan bagi unggulan pertama itu dalam 10 kali pertemuan dengan kompatriot senegaranya.

Gelar ganda campuran turnamen kelas tertinggi, Super 1.000 itu juga merupakan gelar pertama bagi Zheng/Huang di Indonesia Open.

China terakhir kali meraih gelar di ganda campuran Indonesia Open lewat Xu Chen/Ma Jin yang berjaya di 2015 dan 2016.

Zheng mengaku peluang mereka untuk menjadi juara di Indonesia Open tahun ini cukup besar usai pensiunnya Liliyana Natsir yang menjadi juara bertahan dua tahun terakhir ketika berpasangan dengan Tontowi Ahmad.

Baca juga: Pesan Liliyana Natsir untuk Tontowi Ahmad

Baca juga: Liliyana Natsir: jadi penonton lebih capek daripada pemain

“Boleh dikatakan mereka (Owi/Butet) memiliki performa bagus ketika main sebagai tuan rumah. Mereka sangat hebat jika bermain di Istora, tentu peluang kami lebih besar tanpa mereka,” kata Zheng.

Zheng/Huang pada awal tahun ini menjuarai turnamen Indonesia Masters dengan mengalahkan Owi/Butet di final.

Ini merupakan kemenangan kedua kali bagi pasangan China itu di Istora tahun ini.

Sedangkan, Tontowi yang kini berpasangan dengan Winny Oktavina Kandow terhenti di babak perempat-final setelah kalah dari pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, lewat pertarungan tiga gim dengan skor 21-11, 14-21, 21-14.

Di final Indonesia Open 2019, Zheng/Huang cukup mudah menyingkirkan lawan senegaranya itu.

“Kami bermain sangat bagus dan persiapan sangat oke. Selain itu suasana di Istora juga sangat membantu,” kata Zheng.

Kemenangan itu sangat berarti bagi Zheng/Huang yang ingin meraih semua titel super series yang digelar BWF.

“Kami belum pernah ambil titel ini, jadi kami sangat senang,” kata Zheng.

Pun demikian rekannya, Huang merasakan kejayaan kedua kalinya ketika bertandang di Istora GBK.

“Tentu sangat senang karena tahun ini dua kali datang ke Indonesia dan juara dua kali. Kalau masuk ke Istora penonton sangat antusias, terkadang aku kurang dengan suara pukulan ketika penonton bersorak. Mungkin perlu latihan lagi ke depannya agar bisa mendengar suara-suara pukulan di sini,” kata Huang.

Sementara sang lawan, mengakui permainan mereka kurang bagus di depan peringkat satu dunia itu setelah persiapan yang kurang.

“Tidak ada kesulitan apa-apa. Ini adalah hal yang wajar dalam pertandingan walau pun kami kalah dua gim,” kata Wang.

Baca juga: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pertahankan gelar

Baca juga: Akane Yamaguchi juara tunggal putri

Baca juga: Gelar di Istora jadi motivasi Fukushima/Hirota menuju Olimpiade

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yamaguchi bangga juarai Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putri asal Jepang Akane Yamaguchi mengaku sangat senang dan bangga bisa meraih gelar juara dalam turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Bagi atlet yang berusia 22 tahun itu, gelar juara tunggal putri dalam turnamen bulu tangkis level Super 1000 yang diraih di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu tersebut merupakan yang pertama kali. Di final Yamaguchi mengalahkan wakil India Pusarla Venkata Sindhu dengan skor 21-15, 21-16.

Baca juga: Akane Yamaguchi juara tunggal putri

“Saya merasa senang sekali menjadi juara. Ini merupakan gelar juara Indonesia Open pertama bagi saya, sekaligus ini pertama kali saya menjadi juara di turnamen level Super 1.000,” kata Yamaguchi usai laga final Blibli Indonesia Open 2019.

Lebih lanjut, dia menuturkan kunci kemenangannya untuk dapat mengalahkan pemain India tersebut yaitu dengan bermain cepat, terutama ketika mengembalikan bola-bola dari lawan.

“Lawan saya itu memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari saya. Selain itu, smes dari dia (Pusarla) selalu cepat. Jadi untuk menghadapinya, saya harus mengembalikan semua bola-bola itu ke dia dengan cepat juga,” ujar Yamaguchi.

Sementara itu, berkaitan dengan Olimpiade Tokyo 2020, dia mengaku tidak ingin bermuluk-muluk. Dia hanya ingin fokus menjalankan seluruh rangkaian pertandingan dengan sebaik-baiknya.

“Saya tidak memiliki persiapan khusus untuk Olimpiade. Saya ingin sekali bisa masuk kualifikasi Olimpiade itu, tapi persaingannya pasti akan ketat sekali. Saya hanya berusaha memenangkan setiap pertandingan yang ada,” tutur Yamaguchi.

Selain merasa senang karena berhasil memenangkan gelar juara tunggal putri, dia juga mengaku senang sekali bertanding di Indonesia karena di dalam stadion, dia mendengar namanya diteriakkan berkali-kali oleh para pendukungnya.

“Saya senang sekali bermain di sini, karena waktu bertanding tadi, saya mendengar nama saya dipanggil berkali-kali. Sambutan disini sangat meriah, sedangkan di negara saya sendiri tidak sampai semeriah itu,” ungkap Yamaguchi.

Baca juga: Gelar di Istora jadi motivasi Fukushima/Hirota menuju Olimpiade

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Juara tunggal putri Indonesia Open

Pebulu tangkis putri Jepang Akane Yamaguchi mengembalikan kok ke pebulu tangkis putri India Pusarla Venkata Sindhu pada babak final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Akane menjadi juara Indonesia Open 2019 nomor tunggal putri setelah mengalahkan Sindhu dengan skor 21-15, 21-16. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong berjaya di All China Final

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran unggulan pertama Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong mempersembahkan gelar bagi China di turnamen bulu tangkis Indonesia Open 2019 usai mengalahkan rekan senegaranya Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping.

Zheng/Huang menyingkirkan unggulan kedua turnamen itu dua gim langsung 21-13, 21-18 dalam waktu 30 menit di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu.

Ini menjadi kemenangan kesembilan bagi unggulan pertama itu dalam 10 kali pertemuan dengan kompatriot senegaranya.

Gelar ganda campuran itu juga merupakan gelar pertama bagi Zheng/Huang di Indonesia Open.

China terakhir kali meraih gelar di ganda campuran Indonesia Open lewat Xu Chen/Ma Jin yang berjaya di tahun 2015 dan 2016.

Baca juga: Gelar di Istora jadi motivasi Fukushima/Hirota menuju Olimpiade

Baca juga: Kevin/Marcus siap berikan yang terbaik di “all Indonesian final”

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akane Yamaguchi juara tunggal putri

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putri asal Jepang Akane Yamaguchi meraih gelar juara pada turnamen Blibli Indonesia Open 2019 setelah di partai final di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu menaklukkan pebulu tangkis asal India Pusarla V Sindhu.

Bertanding di Lapangan 1 pebulu tangkis unggulan keempat itu sukses mengalahkan Pusarla yang merupakan unggulan kelima turnamen Super 1.000 ini dalam dua gim, 21-15, 21-16 dalam waktu 51 menit

Pada gim pertama, keduanya saling kejar-kejaran poin. Meskipun Pusarla sempat memimpin, di poin-poin akhir Yamaguchi berhasil mengejar dan mengungguli pebulu tangkis India tersebut hingga akhirnya memenangkan gim pertama dengan skor 21-15.

Tidak jauh berbeda dengan gim pertama, pada gim kedua, Yamaguchi dan Pusarla juga masih saling susul-menyusul perolehan angka. Akan tetapi, di akhir gim, Yamaguchi tetap unggul atas Pusarla dengan skor 21-16.

Akane Yamaguchi dan Pusarla V Sindhu sudah pernah bertemu di lapangan sebanyak 14 kali, yaitu sejak Yonex Open Japan 2013. Dari seluruh pertemuan tersebut, Pusarla tercatat sudah menang 10 kali atas pemain asal Jepang tersebut.

Sebelum bertanding di laga puncak, di babak semifinal yang berlangsung pada Sabtu (21/7) kemarin, Yamaguchi menundukkan pebulu tangkis unggulan pertama asal Taiwan, yakni Tai Tzu Ying dalam dua gim dengan skor 21-9, 21-15.

Baca juga: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pertahankan gelar

Baca juga: Suasana Istora semarak jelang derbi Indonesia

Baca juga: Jadwal final Indonesia Open 2019

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gelar di Istora jadi motivasi Fukushima/Hirota menuju Olimpiade

Jakarta (ANTARA) – Ganda putri Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota mengaku keinginan untuk ikut Olimpiade Tokyo 2020 menjadi salah satu dorongan untuk menjadi juara turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Unggulan kedua turnamen itu menyingkirkan kompatriot senegaranya Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo di babak final turnamen Super 1000 itu di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu untuk mempertahankan gelar juara yang ia raih tahun lalu.

Fukushima/Hirota mampu meredam seniornya itu, yang merupakan juara Olimpiade 2016 Rio, di pertandingan all Japan final yang berlangsung ketat selama 51 menit dengan skor 21-16 21-18 yang didominasi oleh reli-reli panjang.

Tingkat persaingan di sektor ganda putri Jepang diakui mereka memang sangat ketat dan mengalami peningkatan yang bagus.

“Jadi sebisa mungkin kami menangi pertandingan ini. Kalau senior kami itu telah menang Olimpiade, kami ingin kumpulkan poin sebanyak mungkin untuk Olimpiade,” kata Hirota usai laga.

“Untuk ke Olimpiade tekanan pasti ada tapi kami tidak jadikan itu beban karena ini baru pertama kali bagi kami untuk ikut Olimpiade. Kami menunggu-nunggu untuk itu.”

Pertandingan final Indonesia Open itu pun menjadi momentum bagi peringkat dua dunia asal Jepang tersebut untuk ke Olimpiade.

Dalam delapan pertemuan terakhir mereka, Fukushima/Hirota mengantongi lima kemenangan atas kompatriot senegaranya itu.

Gim pertama All Japan Final berlangsung cukup ketat menampilkan sejumlah reli panjang.

Terbawa permainan lawan, Matsutomo/Takahashi beberapa kali kehilangan pijakan ketika menyambut bola dropshot di depan net yang cukup merugikan mereka.

Kehilangan gim pertama, unggulan ketiga Jepang mencoba pendekatan dengan memperkuat pertahanannya di reli-reli panjang.

Kali ini Fukushima/Hirota terburu-buru dan kehilangan poin akibat pengembalian sejumlah bola yang gagal hingga tertinggal 9-11 di interval gim kedua.

Fukushima/Hirota tetap tenang dan menunjukkan kualitasnya sebagai ganda teratas Jepang untuk mengejar skor hingga 17 sama berkat kesalahan lawan.

Gim yang seharusnya milik Matsutomo/Takahashi menjadi anti klimaks ketika Fukushima/Hirota meraup tiga poin terakhir dengan mudah untuk naik ke podium pertama.

“Di gim kedua kami mencoba bermain cepat tapi lawan kami mengejar. Di situ kami lakukan banyak komunikasi dan mencoba lebih sabar dan teliti dalam mengembalikan bola,” kata Fukushima.

“Kunci kemenangan kami di gim kedua adalah motivasi ingin menang dari pertandingan ke pertandingan karena bagi orang Jepang menang itu penting, tapi lebih penting adalah berusaha semaksimal mungkin, berusaha keras dalam setiap pertandingan dan berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya,” kata Fukushima.

Sementara itu, sang lawan, Matsutomo mengaku masih belum fit dalam tiga hari terakhir setelah sempat deman di turnamen.

“Saya mencoba mengikuti permainan lawan, tapi lawan bermain lebih cepat dan kondisi badan saya tidak 100 persen tapi saya sudah berusaha sebaik mungkin,” kata Matsutomo.

Baca juga: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pertahankan gelar

Baca juga: China pastikan gelar ganda campuran

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yuki – Sayaka juara ganda putri Indonesia Open

Pebulu tangkis ganda putri Jepang Yuki Fukushima (kanan) dan Sayaka Hirota (tengah) melakukan selebrasi seusai mengalahkan ganda putri Jepang Misaki Matsutomo dan Ayaka Takahashi dalam final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Yuki dan Sayaka berhasil menjadi juara usai mengalahkan Misaki dan Ayaka dengan 21-16, 21-18. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

Yuki Fukushima/Sayaka Hirota pertahankan gelar

Jakarta (ANTARA) – Ganda putri Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota sukses mempertahankan gelar turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 usai pada final di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu meredam rekan senegaranya Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Fukushima/Hirota yang merupakan unggulan kedua pada turnamen level Super 1.000 itu menang dua gim ketat atas unggulan ketiga Jepang 21-16, 21-18 dalam waktu 51 menit.

Dalam delapan pertemuan terakhir mereka, Fukushima/Sayaka mengantongi lima kemenangan atas kompatriot senegaranya itu.

Gim pertama All Japan Final berlangsung cukup ketat menampilkan sejumlah reli panjang antara kedua ganda unggulan Jepang itu.

Terbawa permainan lawan, Matsutomo/Takahashi beberapa kali kehilangan pijakan ketika menyambut bola dropshot di depan net yang cukup merugikan mereka.

Kehilangan gim pertama, unggulan ketiga Jepang mencoba pendekatan dengan memperkuat pertahanannya di reli-reli panjang.

Kali ini Fukushima/Hirota terburu-buru dan kehilangan poin akibat pengembalian sejumlah bola yang gagal hingga tertinggal 9-11 di interval gim kedua.

Fukushima/Hirota tetap tenang dan menunjukkan kualitasnya sebagai ganda teratas Jepang untuk mengejar skor hingga 17 sama berkat kesalahan lawan.

Gim yang seharusnya milik Matsutomo/Takahashi menjadi anti klimaks ketika Fukushima/Hirota meraup tiga poin terakhir dengan mudah untuk naik ke podium pertama.

Baca juga: Suasana Istora semarak jelang derbi Indonesia

Baca juga: Jadwal final Indonesia Open 2019

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Suasana Istora semarak jelang derbi Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Suasana Istora Gelora Bung Karno Jakarta semakin semarak, Minggu siang, menjelang derbi Indonesia pada final nomor ganda putra yang menampilkan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Laga final Indonesia Open 2019 menyedot animo pengunjung yang cukup banyak. Tampak dari lalu lalang ratusan penggemar bulu tangkis di area masuk Istora serta fasilitas parkir kendaraan yang terisi penuh sejak pukul 12.00 WIB.

Umumnya suporter yang hadir mengenakan atribut Indonesia pada bagian ikat kepala, pakaian berwarna merah putih, bendera, hiasan wajah, hingga papan kecil dengan pesan dukungan bagi atlet Indonesia.

“Saya datang dengan paman dan kakak. Pertandingan final ini kelihatannya seru, karena atlet Indonesia yang tampil di final kelihatannya akan sama-sama kuat,” kata suporter asal Kalibata Jakarta, Vanessa.

Sejumlah suporter dari mancanegara juga tampak lalu-lalang di area Istora dengan membawa bendera China, Jepang, dan India.

Berdasarkan jadwal Indonesia Open 2019 yang dirilis Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), partai puncak sesama wakil Indonesia akan tersaji pada laga kelima atau penutup.

Suporter yang hadir di Istora juga dihibur oleh penampilan sejumlah musisi Indonesia, salah satunya band Kahitna yang tampil dengan formasi lengkap di arena.

Yovie Widianto dan kolega tampil memukau pengunjung tidak hanya di dalam arena, namun juga sejumlah pengunjung tanpa tiket yang turut menikmati beberapa tembang pembuka dari layar berukuran besar yang terpasang di booth Blibli.com.

Selain Kahitna, band ternama Nidji juga tampil menyemarakan jalannya hari terakhir perhelatan bulu tangkis bergengsi dunia itu.

Gelombang pengunjung yang terus berdatangan menuju Istora membuat area parkir di seberang arena penuh dengan kendaraan motor maupun mobil.

Area parkir timur GBK salah satunya. Petugas keamanan area parkir mengingatkan kepada setiap pengunjung untuk memarkirkan mobilnya di area yang telah ditentukan.

“Kami ingatkan kepada pengendara untuk parkir pada area yang telah ditentukan, jika sembarangan akan kami derek,” kata salah satu petugas melalui pengeras suara.

Sejumlah petugas tiket dari panitia Indonesia Open 2019 juga mengingatkan kepada pengunjung untuk membeli tiket pada gerai resmi yang berada di sisi gerbang masuk.

“Ayo beli di tiket box yang tersedia. Tiket kelas Blue dan Red masih ada,” kata petugas tiket melalui alat pengeras suara yang berkeliling di selasar dan gerbang masuk Istora.

Upaya itu dilakukan guna mengantisipasi aktivitas sejumlah calo yang masih berkeliaran.

Baca juga: Ringkasan pertandingan semifinal, tiga negara pasti juara

Baca juga: Hendra/Ahsan ingin tampil maksimal di laga final

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bulutangkis beregu putra dan putri sandingkan gelar juara

Semarang (ANTARA) – Cabang bulutangkis Indonesia berhasil menyandingkan gelar juara nomor beregu putra dan putri di ASEAN Schools Games (ASG) setelah sama – sama mengalahkan Malaysia pada partai final yang berlangsung di Gelora USM Semarang, Minggu.

Tunggal putra Muhammad Iqbal yang tampil pada partai ketiga memastikan kemenangan tuan rumah Indonesia dengan skor 3-0 setelah mengalahkan Ong Zhen Yi 21-8, 9-21, 21-16.

Sukses tim putra disusul rekan putri mereka yang sempat kehilangan angka di nomor tunggal ketiga sebelum menaklukkan negara jiran tersebut dengan skor 3-1.

Satu-satunya kekalahan beregu putri dialami tunggal ketiga Saifi Rizka Nurhidayah yang menyerah dua set langsung kepada Khor Jing Wen 12-21,18-21.

Pelatih kepala tim bulutangkis Indonesia, Luluk Hadiyanto mengakui bahwa hasil tersebut agak diluar perkiraan karena yang berpeluang lebih besar adalah beregu putri.

“Tapi ternyata beregu putra yang malah menang tanpa kehilangan satu nomor. Saya berharap awal bagus ini terus berlanjut di nomor perorangan, ” kata mantan atlet ganda putra nasional yang berpasangan dengan Alvent Yulianto itu.

Berbeda dengan ASG tahun lalu di Malaysia, hampir semua peserta di pesta olahraga pelajar terbesar di kawasan ASEAN tersebut, termasuk Indonesia menurut Luluk menampilkan tim lapisan kedua karena lapisan pertama pada saat bersamaan bertanding di Kejuaraan Asia Junior di Suzhou, China pada 20-28 Juli.

“Kita berharap bisa menambah medali emas agar bisa mempertahankan juara umum dengan empat emas seperti ASG tahun lalu, ” kata Luluk yang sekarang pegawai Kemenpora itu.

Sementara itu manajer tim Joko Sulistyono menyampaikan keyakinannya bahwa target empat emas bisa diraih setelah melihat penampilan pemain selama di nomor beregu tersebut.

” Rata-rata pemain Indonesia tidak menemui halangan berarti sampai pertandingan final dan sepertinya kondisi yang akan dihadapi di nomor perorangan tidak banyak berubah, ” kata Joko.

Berikut hasil final beregu putra dan putri Asian Schools Games 2019, Minggu :
Beregu putra Indonesia vs Malaysia (3-0)
Tunggal 1: Muhammad Aldo Apriyandi vs Chia Jeng Hon (21-14,21-12)
Ganda 1: Asghar Herfanda/Rian Canavan vs Demon Anthony Samin/Wan Muhammad Arif Shaharuddin (22-20, 20-22,22-10)
Tunggal 2: Muhammad Iqbal vs Ong Zhen Yi (21-8,9-21,21-16)

Beregu putri Indonesia vs Malaysia (3-1)
Tunggal 1: Aisyah Sativa Fatetani vs Arena Satu Samin (19-21,21-16,21-13)
Tunggal 2: Alifia Intan Nurrokhim vs Siti Nursuhaini Binti Azman (21-12,21-14)
Tunggal 3: Saifi Rizka Nurhidayah vs Khor Jing Wen (12-21,18-21)
Ganda 1: Aldira Rizka Putri/Metya Inayah Cindiani vs Cheng Su Hui /Cheng Su Yin (21-17,21-16)

Baca juga: Kontingen Indonesia menyodok ke puncak klasemen ASG 2019
Baca juga: Hari pertama atletik langsung sumbang tiga emas

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadwal final Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Lima sektor siap dipertandingkan dalam laga final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019  pada Minggu (21/7) di Lapangan 1 Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Pada partai puncak tersebut, Indonesia berhasil mengirimkan dua perwakilan. Keduanya itu sama-sama berasal dari sektor ganda putra, yakni pasangan unggulan pertama Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan pasangan unggulan ke-empat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Dengan kata lain, pertandingan tersebut akan menjadi All Indonesian Final dan berarti Indonesia telah memastikan satu wakil untuk meraih gelar juara Indonesia Open 2019.

Selain Indonesia, persaingan dengan rekan sesama negara sendiri juga akan dialami oleh Jepang dan Cina.

Baca juga: Ringkasan pertandingan semifinal, tiga negara pasti juara

Laga pamungkas turnamen bulu tangkis level Super 1000 akan dimulai pada pukul 14:00 WIB.

Berikut jadwal lengkap babak final Blibli Indonesia Open 2019.

Mulai pukul 14:00 WIB – Lapangan 1

WD – Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (3) (JPN) vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (2) (JPN)

WS – Akane Yamaguchi (4) (JPN) vs Pusarla V Sindhu (5) (IND)

XD – Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (1) (CHN) vs Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (2) (CHN)

MS – Chou Tien Chen (4) (TPE) vs Anders Antonsen (DEN)

MD – Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (1) (INA) vs Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (4) (INA)

Keterangan

WD: ganda putri

WS: tunggal putri

XD: ganda campuran

MS: tunggal putra

MD: ganda putra

Baca juga: Malam mingguan di zona sajian masakan Indonesia Open 2019
Baca juga: Wasit kenakan batik di semifinal
Baca juga: Calo tiket “hantui” pengunjung Indonesia Open

 

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

China pastikan gelar ganda campuran

Jakarta (ANTARA) – China memastikan gelar juara ganda campuran di tangan mereka setelah kedua wakilnya lolos ke final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Wang Yi LYu/Huang Dong Ping, unggulan kedua China mendapatkan tiket final usai menyingkirkan ganda campuran Malaysia, unggulan kelima, 21-13, 22-20 pada semifinal.

Kemudian wakil China lainnya, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, yang merupakan unggulan pertama, memupuskan kembali harapan Malaysia setelah mengirim pulang wakilnya, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing 21-12, 21-16 pada pertandingan terakhir semi-final, Sabtu malam.

“Kami bukan hanya ingin masuk final tapi ingin mencoba meraih hasil terbaik mungkin,” kata Zheng Si Wei usai laga.

Baca juga: Anders Antonsen wakili Denmark ke final

Zheng/Huang sudah tercatat sembilan kali bertemu pada turnamen dengan rekan satu negaranya itu, delapan di antaranya dengan hasil kemenangan.

“Kami sudah sering bertemu dan lawan tidak gampang mati, jadi kami harus persiapkan diri kami sendiri,” kata Zheng.

ai Pei Jing mengaku kurang puas dengan permainan mereka setelah diusir pulang oleh peringkat satu China malam itu.

“Aku sedikit kecewa karena kami bermain sangat lambat,” kata Lai.

Babak final turnamen akan digelar Minggu siang pukul 14:00 WIB.

Baca juga: Unggulan kedua Cina Wang/Huang tingkatkan fokus di laga final

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ringkasan pertandingan semifinal, tiga negara pasti juara

Jakarta (ANTARA) – Tiga negara memastikan gelar di tangan mereka setelah wakil-wakilnya lolos ke partai puncak turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Indonesia menjadi yang pertama memastikan gelar dari ganda putra setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon lolos ke final.

Ahsan/Hendra menumbangkan ganda Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi lewat permainan ketat tiga gim 17-21 21-19 21-17 dalam waktu 57 menit pada semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu.

The Daddies akan menjajal kompatriotnya yang lebih muda, duo Minions dalam All Indonesian Final, Minggu.

“Sebetulnya kami tidak kepikiran masuk final, karena targetnya semifinal. Namun ternyata bisa masuk final, jadi yang pasti kami akan main maksimal saja besok,” kata Ahsan usai laga.

Final ganda putra yang Minggu sore nanti akan menjadi ajang kedua wakil Indonesia yang pernah menjadi juara Indonesia Open itu.

Kevin/Marcus adalah edisi 2018, sementara Ahsan/Hendra berjaya pada 2013.

“Setiap pemain mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing…. Kami sudah sering latihan bareng, sudah sama-sama tahu banget. Kami ingin berikan yang terbaik saja,” kata Kevin menghadapi final sore nanti.

Baca juga: China pastikan gelar ganda campuran

Pada ganda putri, terjadi pertempuran sesama wakil Jepang antara Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota.

Matsutomo/Takahashi, yang menjadi unggulan ketiga, menyingkirkan Lee So Hee/Shin Seung Chan, unggulan keenam asal Korea Selatan 17-21 21-14 21-15 dalam 1 jam 12 menit

Matsutomo/Takahashi mengaku baru pulih dari demam tinggi yang mereka derita pada pertandingan sebelumnya, perempat final melawan Kim So Yeong/Kong Hee Yong. Suhu badan Matsumomto dan Takahashi sempat mencapai 38 derajat Celsius kala itu.

“Sakit tidak menjadi alasan untuk kami,” kata Takahashi yang akan menghadapi pasangan juara Indonesia Open tahun lalu itu.

Sementara itu, mahkota tunggal putri akan diperebutkan oleh unggulan lima asal India Pusarla V. Sindhu dan unggulan lima Jepang, Akane Yamaguchi.

Sindhu menyingkirkan unggulan kedua China Chen Yu Fei 21-19 21-10 dalam 46 menit.  Sementara Yamaguchi kurang puas dengan kemenangannya karena sang unggulan pertama Taiwan Tai Tzu Ying, juara bertahan turnamen, sedang dalam kondisi kurang fit pada babak empat besar.

“Seharusnya pertandingan hari ini lebih berat dari final nanti… saya ingin mengembalikan stamina dan mempelajari permainan lawan malam nanti,” kata Yamaguchi usai menang mudah 21-9 , 21-15.

Sabtu malam tadi, tuah Istora GBK membawa Anders Antonsen ke final keduanya secara beruntun di Jakarta.

Baca juga: Anders Antonsen wakili Denmark ke final

Antonsen, yang pada awal tahun menjadi juara Indonesia Masters itu, mengatasi perlawanan tunggal putra Hong Kong Wong Wing Ki Vincent 21-17 21-10 dalam tempo 50 menit.

“Aku merasa sangat baik, sangat senang dengan performaku. Aku merasa bermain permainan yang bagus. Ini pertemuan pertama kami jadi cukup berjuang sedikit di awal tapi setelah aku dapatkan gim pertama kemudian aku rasa aku bermain lebih bagus,” kata Antonsen usai laga.

“Sekarang aku harus menikmati momen ini sebentar lalu aku akan fokus ke pertandingan yang akan digelar beberapa jam ke depan dan besok akan sangat berkesan karena ini adalah final kedua berturut-turut di Istora Senayan. Tak bisa dibayangkan.”

Dalam final, Antonsen akan bertemu dengan unggulan empat asal Taiwan Chou Tien Chen yang mengalahkan Kantaphon Wangcharoen dari Thailand.

Kemudian, pada partai terakhir semifinal malam tadi, China memastikan gelar juara ganda campuran setelah kedua wakilnya lolos ke final.

Wang Yi LYu/Huang Dong Ping, unggulan kedua China mendapatkan tiket ke final usai menyingkirkan ganda campuran Malaysia, unggulan kelima, 21-13 22-20.

Kemudian wakil China lainnya, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, yang merupakan unggulan pertama, memupuskan kembali harapan Malaysia setelah mengirim pulang wakilnya, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing 21-12 21-16.

“Kami bukan hanya ingin masuk final tapi ingin mencoba meraih hasil terbaik mungkin,” kata Zheng Si Wei usai laga.

Zheng/Huang sudah tercatat sembilan kali bertemu di turnamen dengan rekan satu negaranya itu, delapan di antaranya menang.

Baca juga: Unggulan kedua Cina Wang/Huang tingkatkan fokus di laga final
 

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia sudahi perlawanan Malaysia 5-0

Shanghai (ANTARA) – Indonesia menyudahi perlawanan Malaysia pada babak penyisihan Grup A Kejuaraan Junior Asia di Suzhou, China, Sabtu.

Tim bulu tangkis Merah-Putih menang 5-0 atas Negeri Jiran yang diawali ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin setelah mengalahkan pasangan Ching Kai Feng/Loo Bing Kun dua set langsung, 21–16 dan 21-15.

Langkah itu diikuti oleh Putri Kusuma Wardani yang menang mudah 21–8, 21-13 atas Zhing Yi Tan.

Bobby Setiabudi juga membukukan catatan gemilang setelah menaklukkan Lee Shun Yang 21-8, 11-21, 21-19.

Sama halnya dengan ganda putra, pasangan Nita Violina Marwah/Putri Syaikah juga menang mudah 21-19, 21-19, atas Low Yeen Yuan/Zi Xuan Valeriee Siow.

Ganda campuran Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil melengkapi kemenangan Indonesia setelah menyudahi perlawanan Gan Jing Err/Roy King Yap 21–18, 21–5.

Dalam kejuaraan yang diikuti pebulu tangkis berusia di bawah 19 tahun itu, Indonesia berada satu grup dengan Malaysia dan Jepang.

Tim junior Indonesia datang ke salah satu kota terbesar di Provinsi Jiangsu itu sebagai unggulan pertama, sedangkan Jepang dan Malaysia, masing-masing berstatus unggulan keenam dan kesembilan.

Di tempat yang sama, Minggu (21/7), Indonesia akan menghadapi Jepang yang menjadi runner-up kejuaraan sama tahun lalu di Jakarta.

Dua tim terbaik dari masing masing grup akan bertarung pada perempat final.

Nomor beregu dipertandingkan pada 20–23 Juli 2019, sedangkan perorangan pada 23-28 Juli 2019.

Kejuaraan yang digelar di Suzhou Olympic Sports Center itu diikuti 14 negara dan wilayah, yakni Indonesia, Hong Kong, India, Jepang, Korea Selatan, Makau, Malaysia, Mongolia, Nepal, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Taiwan, dan tuan rumah China.

Baca juga: Pebulu tangkis Indonesia tiba di Suzhou ikuti kejuaraan junior Asia

Catat sejarah, Indonesia raih perak di takraw

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Unggulan kedua Cina Wang/Huang tingkatkan fokus di laga final

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran asal Cina Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping mengatakan akan lebih meningkatkan fokus saat menjalani laga final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 yang akan diselenggarakan pada Minggu (21/7).

“Yang penting adalah fokus dan kesiapan saat bertanding. Makanya, kami akan belajar untuk lebih fokus dan lebih siap,” kata Wang usai pertandingan semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu malam.

Pada laga puncak turnamen bulu tangkis level Super 1000 tersebut, untuk menentukan lawannya, Wang/Huang masih harus menunggu hasil pertandingan antara unggulan pertama Cina Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan pebulutangkis Malaysia Tan Kian Meng/Lai Pei Jing.

Sementara itu, berkaitan dengan pertandingan laga semifinal pada Sabtu (20/7), pasangan unggulan kedua itu mengakui lawannya bisa bermain lebih fokus, terutama pada gim kedua, sehingga sempat memimpin pertandingan.

“Pada gim kedua, lawan bermain lebih fokus, sehingga bisa menemukan strategi untuk menyerang kami. Akan tetapi, kami bisa cepat mempelajari dan lebih fokus lagi, jadi bisa memberikan serangan balik kepada lawan sekaligus mengalahkannya,” ungkap Wang.

Dalam pertandingan babak semifinal yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno itu, Wang/Huang menumbangkan pasangan ganda campuran asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam dua gim dengan skor 21-13, 22-20.

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anders Antonsen wakili Denmark ke final

Jakarta (ANTARA) – Anders Antonsen menjadi wakil Denmark di final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 usai mengalahkan wakil tunggal putra Hong Kong Wong Wing Ki Vincent di semi-final, Sabtu.

Peringkat 11 asal Denmark itu menyingkirkan Wong, peringkat 37, dalam dua gim 21-17 21-10 selama 50 menit di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta.

“Aku merasa sangat baik, sangat senang dengan performaku. Aku merasa bermain permainan yang bagus. Ini pertemuan pertama kami jadi cukup berjuang sedikit di awal tapi setelah aku dapatkan gim pertama kemudian aku rasa aku bermain lebih bagus,” kata Antonsen usai laga.

“Permainan yang sedikit berbeda dari setiap sisi jadi di sisi kedua aku bermain lebih baik dan aku tak terlalu banyak membuat kesalahan dari gim pertama jadi aku kira itu perbedaannya.”

Ini merupakan kali kedua secara beruntun Antonsen lolos ke final di Istora GBK. Di awal tahun dia menang di final Indonesian Masters setelah mengalahkan unggulan pertama turnamen Kento Momota 21-16, 14-21, dan 21-16.

“Sekarang aku harus menikmati momen ini sebentar lalu aku akan fokus ke pertandingan yang akan digelar beberapa jam ke depan dan besok akan sangat berkesan karena ini adalah final kedua berturut-turut di Istora Senayan. Tak bisa dibayangkan.”

Di final, Antonsen akan bertemu dengan unggulan empat asal Taiwan Chou Tien Chen, yang sebelumnya mengalahkan Kantaphon Wangcharoen dari Thailand.

Gelar tunggal putra terakhir Denmark di Indonesia Open diraih lima tahun lalu oleh Jan Ø. Jørgensen.

Baca juga: Shi Yu Qi cedera di lapangan, Anders Antonsen melaju ke perempat-final
Baca juga: Singkirkan unggulan China, Sindhu siap tempur lawan Yamaguchi di final
Baca juga: Kevin/Marcus siap berikan yang terbaik di “all Indonesian final”

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jelang final, unggulan Taiwan Chou ingin istirahat

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra asal Taiwan Chou Tien Chen mengaku ingin beristirahat semaksimal mungkin sebelum menjalani laga final turnamen Blibli Indonesia Open 2019 yang akan digelar pada Minggu (21/7).

“Pertandingan malam ini sangat menguras tenaga, jadi untuk pertandingan esok hari, saya harus beristirahat dengan sebaik-baiknya untuk memulihkan energi,” kata Chou usai pertandingan semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu.

Pada laga puncak turnamen bulu tangkis level Super 1000 tersebut, untuk menentukan lawannya, Chou masih harus menunggu hasil pertandingan antara pebulutangkis Hong Kong Wong Wing Ki Vincent dan pebulutangkis asal Denmark Anders Antonsen.

“Saya tidak bisa memilih akan bertemu dengan siapa besok. Namun yang pasti, siapapun yang akan menjadi lawan saya pasti akan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi pemenang dalam turnamen ini,” ungkap Chou.

Sementara itu, berkaitan dengan pertandingan laga semifinal pada Sabtu (20/7), pemain unggulan ke-empat itu mengakui permainan lawan juga sangat bagus, terutama pada gim kedua, akan tetapi dia mampu menyesuaikan diri secepatnya dengan permainan lawan, sehingga akhirnya memenangkan pertandingan.

“Persaingan yang ketat saat pertandingan itu biasa terjadi, wajar, karena lawan saya juga bermain dengan bagus, apalagi di gim kedua. Namun pada gim terakhir, saya bisa cepat menyesuaikan diri dengan pola permainan lawan dan bermain dengan lebih baik,” ungkap Chou.

Dalam pertandingan babak semifinal yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Chou menang melawan pebulutangkis asal Thailand Kantaphon Wangcharoen dalam tiga gim dengan skor 21-19, 18-21, 21-16.

Baca juga: Jojo persiapkan diri maksimal hadapi unggulan empat Chou Tien Chen

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Singkirkan unggulan China, Sindhu siap tempur lawan Yamaguchi di final

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putri India Pusarla V.Sindhu menyingkirkan unggulan kedua asal China Chen Yu Fei di babak semi-final turnamen Blibli Indonesia Open 2019, di Jakarta, Sabtu.

Sindhu, yang menjadi unggulan kelima turnamen menghentikan laju Yu Fei lewat dua gim ketat 21-19 21-10 selama 46 menit dan meraih tiket ke final menghadapi unggulan Jepang Akane Yamaguchi, yang sebelumnya mengalahkan unggulan pertama Taiwan Tai Tzu Ying 21-9 21-15.

Sindhu mengakui permainannya hari ini lebih baik dari Yu Fei, yang bermain ketat di gim pertama dengan sejumlah reli poin.

Namun setelah sempat mengejar hingga 19 sama, tunggal putri China itu melakukan kesalahan yang menguntungkan lawannya.

Di gim kedua, Sindhu lebih mendominasi permainan setelah menyamakan kedudukan 5 sama hingga memimpin sepanjang gim terakhir.

“Hari ini Sindhu bermain sangat bagus, dia tidak gampang mati,” kata Yu Fei.

Ini merupakan kemenangan Sindhu yang kelima kali dari delapan pertemuan melawan Yu Fei.

“Aku bermain bagus hari ini, jadi kami bermain lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu, sudah cukup lama,” kata Sindhu.

“Pendekatanku seperti pemain pada umumnya, aku tak pernah tahu apakah dia dalam performa yang bagus atau tidak, tapi aku cukup percaya diri jika aku bis melakukan yang terbaik dan berada dalam kondisi yang bagus,” kata Sindhu terkait laga melawan China.

Menghadapi Yamaguchi di partai puncak Indonesia Open, yang menjadi kali pertama bagi kedua tunggal putri itu, Sindhu akan mempersiapkan diri untuk tampil lebih kuat dari hari ini.

“Tentunya tidak ada strategi khusus melawan dia karena kami tahu permainan masing-masing. Di lapangan aku harus lebih sabar dan setiap poin sangat lah penting karena akan ada reli-reli panjang,” kata Sindhu.

Statistik menunjukkan Sindhu telah menang 10 kali dari 14 pertemuan melawan Yamaguchi. Empat laga terakhir mereka dimenangi oleh pemain India peringkat lima itu.

Sebelumnya, Yamaguchi menyatakan kurang puas dengan permainannya di semi-final karena mendapati lawan yang kurang fit di lapangan.

“Seharusnya pertandingan hari ini lebih berat dari final nanti… saya ingin mengembalikan stamina dan mempelajari permainan lawan malam nanti,” pungkasnya.

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kevin/Marcus siap berikan yang terbaik di “all Indonesian final”

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon siap memberikan yang terbaik di partai all Indonesian final melawan Mohammad Ahsan/Hendra Setiwan di turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 yang digelar Minggu.

Kevin/Marcus, setelah menaklukkan unggulan ketiga asal China Li Jun Hui/Liu Yu Chen 21-9, 21-13 dalam waktu 29 menit di babak empat besar, Jumat, memastikan gelar bagi Indonesia dari sektor ganda putra nanti setelah menetapkan all indonesian final.

Ahsan Hendra terlebih dahulu meraih tiket ke final seusai mengalahkan pasangan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dalam tiga gim yang berjalan selama 57 menit dengan skor 17-21, 21-19, 21-17.

“Setiap pemain mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing…. Kami sudah sering latihan bareng, sudah sama-sama tahu banget. Kami ingin berikan yang terbaik saja,” kata Kevin usai laga.

The Minions, yang tak jarang bermain rubber gim dengan unggulan ketiga itu, kini mendapati lawannya lebih mudah ditaklukkan dalam dua gim dengan cepat.

“Hari ini kami bermain lebih baik dari kemarin dan kami bisa mengontrol jalannya pertandingan juga permainan kami sendiri, (walaupun) lawan bermain sangat cepat dan punya serangan sangat bagus,” kata Kevin.

Sementara itu pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi bersyukur Indonesia bisa mengunci gelar dari ganda putra lewat kedua wakilnya yang akan bertanding nanti.

“Ini suatu hadiah buat para penonton, masyarakat Indonesia khususnya,” kata Herry.

Final ganda putra yang digelar pada Minggu akan menjadi ajang pertempuran bagi kedua wakil Indonesia yang pernah menjadi juara Indonesia Open tersebut.

Kevin/Marcus merupakan juara Indonesia Open 2018, sementara Ahsan/Hendra berjaya pada 2013.

Baca juga: Hendra/Ahsan ingin tampil maksimal di laga final

Baca juga: Indonesia pastikan gelar ganda putra

Baca juga: Hendra/Ahsan kantongi tiket ke final

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Maju ke final, Yuki/Sayaka tingkatkan fokus

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putri Jepang Yuki Fukushima/Sayaka Hirota bertekad tampil lebih fokus untuk menghadapi laga puncak turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 yang akan digelar pada Minggu (21/7) besok.

“Untuk pertandingan selanjutnya, yang pasti harus lebih fokus lagi, karena latihan sudah dilakukan dari kemarin-kemarin,” kata Yuki usai pertandingan semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu.

Pada laga final turnamen bulu tangkis level Super 1000 tersebut, di sektor ganda putri akan terjadi laga all Japan finals yang mempertemukan Yuki/Sayaka dengan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Menurut Yuki, pertarungan melawan rekan senegaranya itu tidak akan berlangsung dengan mudah. Oleh karena itu, keduanya akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama dari segi mental dan stamina.

“Melawan negara sendiri itu mungkin kelihatan mudah, tapi sebetulnya tidak juga. Kita sudah saling mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing, tapi tetap kita harus siapkan mental dan stamina yang kuat, itu kuncinya,” ujar Yuki.

Sementara itu, berkaitan dengan pertandingan laga semifinal pada Sabtu (20/7), Sayaka mengungkapkan kunci kemenangannya, yaitu bermain dengan tenang dan lebih gesit, mulai dari awal sampai akhir pertandingan.

“Perasaan kami bisa menang hari ini tentu senang, tapi kami tidak mau lengah karena besok ada tantangan lain yang harus dihadapi. Kunci kemanangan hari ini adalah bermain tenang dan selalu coba untuk mengembalikan bola ke lawan, lebih gesit,” ungkap Sayaka.

Dalam pertandingan babak semifinal yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Yuki/Sayakan menang melawan unggulan ke-empat Cina Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dalam dua gim dengan skor 21-14, 21-12.

Sedangkan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi sukses menaklukkan pasangan unggulan ke-enam Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan dalam tiga gim dengan skor 17-21, 21-14, 21-15.

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perkenalkan kebudayaan Indonesia, wasit dan hakim garis Indonesia Open 2019 pakai kemeja batik dan lurik

Wasit asal Australia Kelly Hoare (kiri) mengenakan kemeja batik saat memimpin pertandingan babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (20/7/2019). Pada babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019 ofisial pertandingan seperti wasit, service judge dan hakim garis mengenakan pakaian tradisional Indonesia sesuai konsep “Sport-Artainment” dari ajang kejuaraan dunia bulu tangkis tersebut serta untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Ganda putra Indonesia Ahsan dan Hendra tembus babak final Indonesia Open 2019

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi usai mengalahkan pebulu tangkis ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi pada babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (20/7/2019). Pasangan Ahsan dan Hendra masuk ke babak final usai mengalahkan pasangan Hoki dan Kobayashi dengan skor 17-21, 21-19, 21-17. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Kevin dan Marcus tantang Ahsan dan Hendra di babak final Indonesia Open 2019

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo (kanan) dan Marcus Fernaldi Gideon mengembalikan kok ke pebulu tangkis ganda putra China Li Junhui dan Liu Yuchen pada babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (20/7/2019). Pasangan Kevin dan Marcus lolos ke babak final setelah mengalahkan pasangan Li dan Liu dengan skor 21-9, 21-13 dan akan bertemu pasangan Indonesia lainnya yakni Ahsan dan Hendra. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Kurang fit, unggulan pertama Taiwan disingkirkan Jepang

Jakarta (ANTARA) – Tunggul putri unggulan pertama asal Taiwan Tai Tzu Ying tersingkir di babak semifinal seusai ditaklukan pemain Jepang Akane Yamaguchi di turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019, di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu.

Akane Yamaguchi yang merupakan unggulan keempat asal Jepang menundukkan Tai Tzu Ying dalam dua gim langsung 21-9 , 21-15 dalam waktu 32 menit.

Ini menjadi kemenangan Yamaguchi yang ketujuh kali atas pemain Taiwan itu dalam rekor 17 pertandingan terakhir.

Di tiga pertemuan terakhir mereka, Tzi Ying selalu menang atas tunggal putri Jepang itu.

Wakil Taiwan itu mengaku merasa tidak enak badan ketika menjalani laga babak empat besar itu.

“Saya merasa tidak enak badan sehingga tidak bisa mengeluarkan tenaga dan kecepatan saya, sehingga tidak sanggup untuk mengejar bola,” kata Tzu Ying.

“Akane pintar dalam mengendalikan bola, dia bermain baik hari ini.”

Sementara itu, Yamaguchi mengaku kurang puas dengan kemenangannya hari ini setelah mendapati lawannya tidak tampil 100 persen.

“Main hari ini sangat tidak capek,” kata Yamaguchi.

“Lawan banyak melakukan kesalahan, saya kurang puas dengan hasil hari ini,” kata Yamaguchi yang baru pertama kalinya masuk ke final Indonesia Open itu.

Di babak final, Yamaguchi akan bertemu pemenang laga antara Pusarla V.Sindhu, unggulan kelima asal India dan Chen Yu Fei, unggulan kedua asal China.

“Seharusnya pertandingan hari ini lebih berat dari final nanti… saya ingin mengembalikan stamina dan mempelajari permainan lawan malam nanti,” pungkasnya.

Baca juga: Tai Tzu Ying singkirkan Intanon, unggulan Taiwan melaju ke semi-final

Baca juga: Kehabisan tiket, penggemar nobar semifinal di depan Istora

Baca juga: Indonesia pastikan gelar ganda putra

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan ingin tampil maksimal di laga final

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan mengatakan akan berusaha untuk tampil sebaik-baiknya di laga puncak turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 yang akan digelar besok.

“Sebetulnya kami tidak kepikiran masuk final, karena targetnya semifinal. Namun ternyata bisa masuk final, jadi yang pasti kami akan main maksimal saja besok,” kata Ahsan seusai pertandingan semifinal di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut, pasangan yang mendapat julukan The Daddies itu mengaku tidak terlalu memikirkan siapa pun yang akan menjadi lawannya di babak final turnamen bulu tangkis level Super 1000 tersebut. Bagi keduanya, yang terpenting adalah mengeluarkan seluruh kemampuan.

“Yang pasti, persiapan kami sudah cukup panjang, latihan dari kemarin-kemarin, dari segi fisik juga ditingkatkan, apalagi setelah Indonesia Open masih ada Japan Open dan Thailand Open. Untuk final besok, yang penting maksimal,” ujar Ahsan.

Sementara itu, berkaitan dengan laga semifinal hari ini melawan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, Hendra mengakui penampilannya masih kurang maksimal, sehingga dia sempat merasa ragu dan tertekan oleh lawan.

“Pertandingan hari ini tidak mudah. Lawan memang bagus mainnya, dan saya sendiri merasa masih kurang pas. Ada perasaan ragu-ragu dan tertekan, jadi banyak kasih bola tanggung. Tapi untungnya saya bisa keluar dari kondisi itu di gim terakhir,” ungkap Hendra.

Dalam pertandingan babak semifinal itu duo Daddies sukses menaklukkan Hoki/Kobayashi dalam tiga gim yang berjalan selama 57 menit dengan skor 17-21, 21-19, 21-17.

Mereka akan menggelar all Indonesian final  dengan melawan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Baca juga: Indonesia pastikan gelar ganda putra

Baca juga: Hendra/Ahsan kantongi tiket ke final

Baca juga: Sempat demam tinggi, ganda putri Jepang melaju ke final

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wasit kenakan batik di semifinal

Jakarta (ANTARA) – Ada yang menarik dari laga semifinal Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu yaitu wasit dan hakim garis yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan terlihat memakai batik dan pakaian traditional adat Jawa.

Ketua Panitia Pelaksana Blibli Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto mengatakan penampilan unik wasit dan hakim garis ini bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional.

“Pakaian jawa merupakan bagian dari mengenalkan salah satu budaya Indonesia ya,” kata Achmad di Jakarta.

Tampilan berbeda tersebut sudah terlihat sejak laga partai pertama yang dimulai pukul 12.00 WIB saat pertandingan ganda putri, antara Lee So-hee/Shin Seung-chan (Korea Selatan) kontra Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang).

Official pertandingan seperti wasit dan hakim garis tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Wasit tampak berpakaian batik, sementara para hakim garis mengenakan kostum lurik dan blangkon.

Penampilan unik yang dikenakan dipastikan tidak mengganggu jalannya pertandingan. Wasit dan hakim garis tetap menjalankan tugasnya secara profesional meski tidak berpakaian sebelumnya.

Sebelum pertandingan dimulai, pertunjukan musik dari penyanyi solo Indonesia Sheryl Seinafia dan Rendy Pandugo pun sempat memeriahkan suasana dan menghibur para penonton Istora GBK.

Konsep yang diusung dalam Blibli Indonesia Open tahun ini memang memiliki tema sport-artainment atau turnamen olahraga bulutangkis yang dipadukan dengan pertunjukan seni dan berbagai hiburan.

“Dengan konsep sport-artainment, kami pastikan para pengunjung akan semakin terkesan melalui berbagai aktivitas menarik, mulai dari food festival, penawaran produk-produk, relax zone, art installation dan pertunjukan musik,” ujar Kusumo dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/6).

Sementara itu, dua wakil Indonesia dari sektor ganda putra, yakni pasangan unggulan keempat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan unggulan pertama Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo kan bertemu pada final, Minggu setelah memenangi partai semifinal masing-masing.

Baca juga: Hendra/Ahsan kantongi tiket ke final

Baca juga: Sempat demam tinggi, ganda putri Jepang melaju ke final

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia pastikan gelar ganda putra

Jakarta (ANTARA) – Indonesia memastikan gelar juara ganda putra di turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 setelah pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo melaju ke final.

Kevin/Marcus, setelah menaklukan unggulan ketiga China Li Jun Hui/Liu Yu Chen 21-9, 21-13 dalam waktu 29 menit di babak empat besar, Sabtu, akan bertemu dengan kompatriot senegaranya, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di final All-Indonesia.

Ahsan Hendra terlebih dahulu meraih tiket ke final seusai mengalahkan pasangan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dalam tiga gim yang berjalan selama 57 menit dengan skor 17-21, 21-19, 21-17.

Baca juga: Hendra/Ahsan kantongi tiket ke final

Final ganda putra yang digelar pada Minggu akan menjadi ajang pertempuran bagi kedua wakil Indonesia yang pernah menjadi juara Indonesia Open tersebut.

Kevin/Marcus merupakan juara Indonesia Open 2018, sementara Ahsan/Hendra berjaya pada 2013.

Baca juga: Wasit kenakan batik di semifinal

Baca juga: Sempat demam tinggi, ganda putri Jepang melaju ke final

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan kantongi tiket ke final

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan mengantongi satu tiket ke babak final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 seusai mengalahkan pasangan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

Pada babak semifinal yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Sabtu, pasangan yang dijuluki “The Daddies” itu sukses menaklukkan Hoki/Kobayashi dalam tiga gim yang berjalan selama 57 menit dengan skor 17-21, 21-19, 21-17.

Atas hasil tersebut, Hendra/Ahsan pun dapat melanjutkan ke laga puncak turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu.

Pada gim pertama, pertarungan keduanya langsung berjalan sengit. Poin keduanya saling susul-menyusul, mulai dari awal hingga akhir, namun skor akhir dimenangi pasangan Jepang Hoki/Kobayashi dengan skor 21-17.

Pada gim kedua, gantian The Daddies yang memimpin permainan. Meskipun beberapa kali pasangan Jepang itu sempat menyamakan kedudukan, namun akhirnya gim dimenangi The Daddies dengan skor 21-19 dan memaksakan gim penentuan.

Pada gim ketiga, persaingan keduanya berlangsung semakin ketat. Walaupun permainan dibuka dengan skor 3-2 untuk keunggulan Hoki/Kobayashi, Hendra/Ahsan mampu mengejar dan melampaui pasangan Jepang tersebut dengan perolehan 5-3. Setelah itu, The Daddies terus memimpin hingga akhir pertandingan dengan skor 21-17.

Sementara itu, penonton di dalam Istora terpantau sangat ramai. Suara riuh rendah dan sorak sorai mereka terdengar menggema di dalam stadion. Sambil membenturkan balon tepuk, para penonton terus memberikan semangat positif kepada Hendra/Ahsan mulai dari awal hingga akhir pertandingan.

Hendra/Ahsan dan Hoki/Kobayashi tercatat sama sekali belum pernah bertemu di lapangan. Pertandingan di turnamen Blibli Indonesia Open 2019 itu menjadi pertemuan pertama bagi kedua ganda putra tersebut.

Sebelum melangkah ke semifinal, di babak perempat final yang berlangsung pada Jumat (19/7), Hendra/Ahsan menundukkan pasangan yang juga berasal dari Jepang, yakni Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dalam tiga gim dengan skor 21-15, 9-21, 22-20.

Baca juga: Sempat demam tinggi, ganda putri Jepang melaju ke final

Baca juga: Penyanyi Indonesia meriahkan semifinal dan final Indonesia Open 2019

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda putra Indonesia tembus babak final Indonesia Open 2019

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan (kiri) dan Hendra Setiawan melakukan selebrasi usai mengalahkan pebulu tangkis ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi pada babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (20/7/2019). Pasangan Ahsan dan Hendra masuk ke babak final usai mengalahkan pasangan Hoki dan Kobayashi dengan skor 17-21, 21-19, 21-17. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

Sempat demam tinggi, ganda putri Jepang melaju ke final

Jakarta (ANTARA) – Jepang meloloskan salah satu wakilnya ke final turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019 lewat pasangan ganda putri Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi kedati keduanya mengaku sebelumnya sempat demam.

Unggulan keempat asal negeri Sakura itu di partai semifinal yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu, menyingkirkan pasangan Korea Selatan Shin Seung Chan/Lee So Hee dalam tiga gim 12-21, 21-14, 21-15 selama satu jam 12 menit.

Takahashi/Matsumoto sempat kewalahan menghadapi kecepatan unggulan keenam asal Korea itu di gim pembuka namun mencoba bermain cepat dan lebih tenang untuk merebut gim kedua.

“Karena di semifinal kami agak sedikit tertekan. Di gim 2 dan 3 kami mencoba bermain cepat dan lebih tenang. Permainan cepat dan ketenangan menjadi kunci kemenangan kami,” ungkap Takahashi usai laga.

Pasangan Jepang itu mengaku baru pulih dari demam tinggi yang mereka derita di pertandingan sebelumnya, perempatfinal melawan Kim So Yeong/Kong Hee Yong. Suhu badan Matsumomto dan Takahashi sempat mencapai 38 derajat Celsius kala itu.

“Sakit tidak menjadi alasan untuk kami,” kata Takahashi.

Keinginan untuk tembus ke Olimpiade 2020 di Tokyo menjadi salah satu motivasi mereka karena persaingan di antara atlet Jepang pun ketat.

“Euforia penonton juga membuat kami semangat lagi. Kami merasa didukung oleh penonton,” kata Takahashi.

Sementara itu Matsutomo, usai laga tidak bersedia wawancara karena masih kurang fit.

Di partai final, Matsutomo/Takahashi akan bertemu pemenang laga antara Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, unggulan keempat asal China dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota asal Jepang.

“Untuk besok, kami akan istirahat dulu dan pelajari teknik permainan lawan.”

Baca juga: Misaki Matsumoto/Ayaka Takahashi juara Indonesia Masters 2019

Baca juga: Jadwal semifinal Indonesia Open 2019

Baca juga: Dua wakil Indonesia melaju ke semifinal
 

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Calo tiket “hantui” pengunjung Indonesia Open

Jakarta (ANTARA) – Tatapan matanya tajam menyorot ke sekitar gerbang masuk Istora Gelora Bung Karno Jakarta menyisir satu demi satu pergelangan tangan pengunjung yang tiba. Pendatang tanpa gelang kertas, menjadi target buruan mereka di area jelang pintu masuk arena.

Sepintas tak ada perbedaan mencolok dari segi penampilan, mereka berbaur di tengah kerumunan pengunjung domestik maupun mancanegara di setiap sudut Istora.

Mereka menghampiri target untuk sekadar mengakrabkan diri sambil menunjukan beberapa lembar gelang kertas bercorak putih dengan variasi warna hitam, merah, dan biru bertuliskan Indonesia Open 2019 yang ada di genggaman tangan.

Jelang siang hari adalah waktu favorit bagi komplotan beranggotakan pria dan wanita itu untuk beraksi setelah tiket di gerai resmi penjualan online maupun offline habis terjual. “Tiket, tiket, tiket,” ujarnya tanpa segan kepada setiap pengunjung yang merespons tatapan.

Mungkin bagi sebagian pengunjung kritis, ketiadaan atribut resmi kepanitiaan Indonesia Open 2019 bisa menjadi warning untuk mewaspadai praktik penjualan tiket di luar gerai resmi. Tapi, terhentinya layanan penjualan tiket di gerai karena stok yang terbatas, menjadi alasan umum pengunjung terjebak dengan pusara transaksi ilegal yang melibatkan tidak kurang dari belasan oknum di Istora.

Modusnya, korban digiring menuju tempat yang jauh dari hiruk pikuk keramaian untuk menjalin kesepakatan harga. Tarif dua kali lipat dari ketetapan resmi penyelenggara, tidak bisa ditolak oleh suporter fanatik demi memenuhi hasrat menyaksikan langsung penampilan sang idola berjuang di arena.

Tiket resmi yang dilepas panitia sejak Selasa (16/7), hingga babak final, Minggu (21/7), meningkat rata-rata 25-50 persen seiring dengan tingkatan babak pertandingan.

Pada babak perempat final Indonesia Open 2019, Jumat (19/7), Blibli.com selaku sponsor perhelatan membanderol harga tiket Black class Rp125.000, Red Class Rp225.000, dan Blue Class Rp400.000.
Tumpukan gelang tiket menjuntai dari sela jemari tangan kanan salah satu oknum penjual. Dia membaderol tarif tribun menengah di kelas Red seharga Rp450.000 per lembar.

Pria berperawakan tegap yang mengaku sebagai warga Tanjung Priok, Jakarta Utara itu mengaku fleksibel dalam menentukan keuntungan yang bisa dia keruk dari korban. “Tiket box sudah habis, beli ini (tiket) aja, murah kok, boleh ditawar,” ujarnya seraya menyodorkan gelang tiket red di parkiran gedung A GBK.

Dia berkilah, selisih harga tiket karena adanya pemodal yang meminta pengembalian dana berikut keuntungannya.
Usai tawar menawar yang alot, Kiki Arief (30), sepakat menebus dua tiket Red seharga Rp625.000 agar bisa menyaksikan langsung aksi Jonatan Christie kontra pebulutangkis Taiwan, Chou Tien Chen saat tampil di arena.

“Memang harganya lebih mahal, tapi kalau kita jago nawar, minimal gak berasa ketipu banget sama calo,” kata warga asal Bandung, Jawa Barat, itu.

Kiki menyadari bahwa rata-rata tiket yang dijual calo untuk kelas VIP Blue dan tribun Black berkisar dua kali lipat dari harga normal. Bahkan, beberapa calo berspekulasi mematok hingga tiga kali lipat berdasarkan hasil survei harga yang dilakukan Kiki dari sejumlah calo yang dia temui di Istora.

Seorang mahasiswi di Jakarta, Eunike Patricia, mengaku risih dengan ulah segelintir oknum penjual tiket yang terus merayu dan menbuntutinya di sepanjang jalan menuju Istora. “Jangan merespons apapun ke calo, apalagi ngeliatin gestur seakan kita butuh tiket, dia bakalan ‘nempel’ terus,” katanya.

Mahasiswi yang sedang liburan semester bersama tiga rekannya itu mengaku kecewa kepada panitia karena tiket yang disediakan untuk turnamen bulu tangkis bergengsi dunia jumlahnya terbatas. Bahkan kios penjualan tiket secara online melalui blibli.com dan tiket.com, ludes sejak pagi hari.

Situasi ini membuat penonton mengular di area tiket box untuk bertransaksi secara langsung sejak pukul 06.00 WIB, tapi kurang dari lima jam, tiket box area sudah ditutup untuk transaksi offline.

Jika sebagian calon penonton merasa sulit memperoleh tiket resmi online maupun offline, lantas dari mana oknum memperoleh tiket dalam jumlah yang banyak?.

Situs Blibli.com maupun Tiket.com mewajibkan calon penonton menunjukkan fotokopi KTP pemilik akun yang melakukan transaksi pembelian tiket online.

Yang berbeda, apabila penukaran tiket online di Istora diwakilkan, penonton harus membawa surat kuasa dan fotokopi KTP pemilik akun yang melakukan transaksi pembelian tiket.

Dalam suatu kesempatan, Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto, memastikan bahwa transaksi pembelian terbatas pada satu orang, satu tiket untuk mengantisipasi praktik calo.

Achmad menyebut, untuk transaksi secara offline di Istora, panitia pelaksana telah mengalokasikan kuota tiket untuk kelas Red dan Blue masing-masing berkisar 100 lembar per hari, sedangkan Black dialokasikan minimal 500 lembar.

Langkah antisipasi bagi calon penonton yang kehabisan tiket, akan difasilitasi menonton menggunakan tiga layar lebar di beberapa sisi Istora.

Panitia bungkam

Upaya antisipasi praktik percaloan oleh panitia, nyatanya gagal. Alasannya, oknum tampak berkeliaran secara bebas di area Istora GBK selama empat hari terakhir penyelenggaraan Indonesia Open.

Antara mencoba mengklarifikasi situasi itu dengan menemui sejumlah panitia yang namanya tercantum di Program Book Blibli Indonesia Open 2019 untuk memperoleh klarifikasi.

Pada halaman 52 majalah gratis itu, tercantum enam nama yang tergabung pada tim bidang promosi ticketing dan ID card. Mereka di antaranya, Irene Lauw, sebagai ketua, dan Verdayanti, Felicia Adeline, Lois Amilia, Fitriyani Agus dan Alfiah Permataningtyas sebagai anggota.

Pada ruang sederhana yang tertutup kaca di sisi barat lantai dasar Istora, terpampang papan nama bertuliskan “ticketing”. Namun tidak sembarang orang bisa mengakses area itu tanpa mengenakan kalung identitas kepanitiaan.

Sedikitnya tiga petugas keamanan bersiaga di dua lintasan umum yang berjarak selemparan batu dari ruang kaca. Hanya satu pintu yang terbuka, tampak di dalamnya empat petugas sibuk mengetik di depan layar kaca komputer, sebagian berkutat dengan buku catatan.

Hanya ada percakapan kilat siang itu, petugas keamanan mengabarkan bahwa di dalam ruangan hadir pimpinan penanggung jawab tiket. Informasi itu merujuk pada salah satu perempuan yang tengah mondar mandir di dalam ruangan dengan ponsel yang terselip di antara telinga dan pundaknya.

Tidak disebutkan nama dari perempuan itu, dia langsung menanyakan maksud kedatangan di ruangan tempatnya bekerja. Percakapan berlanjut saat Antara menanyakan jumlah alokasi tiket yang dijual secara resmi oleh panitia.

“Saya bisa pastikan bahwa segala hal yang berkaitan dengan tiket, sifatnya internal di kita, tidak akan disampaikan kepada publik melalui media. Ini kan zona steril,” ujarnya singkat sambil beranjak kembali ke dalam ruangan.

Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto, yang dikonfirmasi Antara melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum memberikan komentar terkait situasi tersebut hingga tenggat penayangan berita.

Baca juga: Pecinta bulu tangkis serbu tiket Blibli Indonesia Open 2019

Baca juga: Pengunjung padati Istora GBK jelang semifinal

KSOP Kendari tegaskan tidak ada calo tiket

Oleh Andi Firdaus
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penyanyi Indonesia meriahkan semifinal dan final Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Semifinal turnamen bulu tangkis BliBli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu akan dimeriahkan oleh deretan artis Ibu Kota.

Sederetan penyanyi yang akan tampil di babak semifinal dan final Indonesia Open 2019 antara lain Sheryl Seinafia, Rendy Pandugo, Kahitna, dan Nidji.

“Sheryl dan Rendy tampil di dalam (arena),” Rizki Ismuhar saat dihubungi di Jakarta.

Sheryl dan Rendy dijadwalkan akan tampil pada pukul 11.00 WIB sebelum pertandingan dimulai. Keduanya akan tampil dengan durasi satu jam untuk menghibur para penonton Istora GBK dengan menyanyikan lagu-lagu hitsnya.

Rizki juga menyebutkan Kahitna dan Nidji akan turut memeriahkan final Indonesia Open 2019 besok Minggu (21/7).

Kahitna dijadwalkan tampil pada pukul 13.00 WIB. Sedangkan Nidji akan menjadi band penutup yang akan memeriahkan BliBli stage.

“Kahitna tampil di dalam (arena). Nidji akan tampil di luar di BliBli stage,” kata Rizki.

Sementara laga semifinal turnamen bulu tangkis akan dimulai pada pukul 12:00 WIB dan dibuka dengan nomor pertandingan ganda putri antara pasangan unggulan ke-enam Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan melawan unggulan ketiga Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Dua wakil Indonesia siap berlaga di babak semifinal turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open.

Kedua perwakilan tim Merah Putih itu berasal dari sektor ganda putra, yakni pasangan unggulan ke-empat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan unggulan pertama Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Sebelumnya, penyanyi solo papan atas Indonesia Raisa juga pernah ikut memeriahkan semifinal Indonesia Open 2018.

Baca juga: Jadwal semifinal Indonesia Open 2019

Baca juga: Dua wakil Indonesia melaju ke semifinal

Baca juga: Kevin/Marcus tantang unggulan ketiga China di semifinal

Baca juga: Minions susul ke semifinal

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadwal semifinal Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Dua wakil Indonesia siap berlaga di babak semifinal turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open yang berlangsung di Lapangan 1 Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Sabtu (20/7).

Kedua perwakilan tim Merah Putih itu berasal dari sektor ganda putra, yakni pasangan unggulan ke-empat Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan unggulan pertama Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Laga semifinal turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu akan dimulai pada pukul 12:00 WIB dan dibuka dengan nomor pertandingan ganda putri antara pasangan unggulan ke-enam Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan melawan unggulan ketiga Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi.

Setelah itu, sekitar pukul 13:00 WIB, laga selanjutnya akan mempertemukan Hendra/Ahsan dengan pasangan ganda putra asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

Terdapat sepuluh pertandingan yang akan dilangsungkan pada babak semifinal turnamen berhadiah total 1.250.000 Dolar Amerika Serikat atau hampir sekitar Rp17 miliar itu. Berikut jadwal lengkap babak semifinal Blibli Indonesia Open 2019.

Mulai pukul 12:00 WIB – Lapangan 1

WD – Lee So Hee/Shin Seung Chan (6) (KOR) vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (3) (JPN)

MD – Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (4) (INA) vs Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (JPN)

WS – Tai Tzu Ying (1) (TPE) vs Akane Yamaguchi (4) (JPN)

MD – Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (1) (INA) vs Li Jun Hui/Liu Yu Chen (3) (CHN)

WD – Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (4) (CHN) vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (2) (JPN)

WS – Pusarla V Sindhu (5) (IND) vs Chen Yu Fei (2) (CHN)

MS – Kantaphon Wangcharoen (THA) vs Chou Tien Chen (4) (TPE)

XD – Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (5) (MAS) vs Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (2) (CHN)

MS – Wong Wing Ki Vincent (HKG) vs Anders Antonsen (DEN)

XD – Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (1) (CHN) vs Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (MAS)

Keterangan

WS: tunggal putri

MS: tunggal putra

WD: ganda putri

MD: ganda putra

XD: ganda campuran

Baca juga: Fajar/Rian akan ubah pola permainan

Baca juga: Fajar/Rian terhenti pada perempat final

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalahkan pasangan China, Marcus/Kevin melaju ke babak semifinal

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo berusaha mengembalikan kok ke arah ganda putra China Ou Xuan Yi dan Zhang Nan pada babak perempat final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (190/7/2019). Pasangan Kevin/Marcus melenggang ke babak semifinal setelah mengalahkan pasangan Ou/Zhan dengan skor 21-12, 21-16. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Dua wakil Indonesia melaju ke semifinal

Jakarta (ANTARA) – Indonesia hanya menyisakan dua wakil ke babak semifinal turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2019.

Setelah mengirim lima wakilnya ke perempat final, hanya pasangan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang mampu meraih tiket ke babak empat besar yang akan digelar Sabtu (20/7) di Istora Gelora Bung Karno.

Wakil ganda campuran di hari keempat turnamen, Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow harus mengemas koper, mereka tumbang di tangan unggulan kelima asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam pertandingan tiga gim 21-11 14-21 21-14 dalam waktu 60 menit, Jumat.

Tontowi yang baru berpasangan dengan Winny Oktavina Kandow awal tahun ini usai pensiunnya Liliyana Natsir, mengaku kalah strategi dan jam terbang melawan pasangan Malaysia.

Ketika berpasangan dengan Butet, Owi merajai sektor ganda campuran di dua turnamen Indonesia Open sebelumnya.

“Yang saya rasakan tadi main di gim pertama mungkin strategi kami kurang pas karena kami main seperti lambat,” kata Owi usai laga.

Sementara itu, Winny mengaku beberapa kali membuat kesalahan karena terburu-buru melakukan eksekusi bola dan seperti yang dibilang pelatih Richard Mainaky, pasangan baru Owi itu belum memiliki jam terbang yang tinggi dibandingkan lawan yang dihadapinya hari itu.

“Saya lihat untuk Winny karena kalah pengalaman. Lawan telah mempunyai segudang pengalaman,” kata Richard.

Selain itu, Winny masih terkadang ragu mengikuti strategi yang diinstruksikan di lapangan. “Antara percaya atau enggak.”

“Masih butuh pengalaman lagi dan jam terbang,” kata Richard.

Kemudian wakil dari sektor tunggal putra, Jonathan Christie mengalami kekalahan keduanya atas unggulan keempat Taiwan Chou Tien Chen dalam permainan tiga gim selama 1 jam 16 menit dengan skor 16-21 21-18 21-14.

Setelah rekor enam kali kemenangan, kekalahan pertama Jojo atas pemain Taiwan itu didapati ketika bertemu di Sudirman Cup 2019 di China.

“Untuk perbaikan ke depannya, saya harus lebih tenang, lebih sabar dan harus bisa cepat memutuskan strategi apa yang akan dipakai, baik ketika unggul atau saat tertinggal poin,” kata unggulan keenam itu.

Kemudian, wakil ganda putra lainnya, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, yang merupakan unggulan enam turnamen berkelas Super 1000 itu ditaklukkan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi 19-21 12-21 dalam waktu 42 menit.

Keduanya mengaku banyak melakukan kesalahan sendiri di sepanjang pertandingan. Kondisi itu pun dimanfaatkan oleh lawan untuk terus memimpin perolehan poin demi poin.

“Pertandingan tadi tidak berjalan seperti yang kami harapkan. Lawan sudah mengantisipasi pola permainan kami dengan baik, dan kami jadi susah untuk mengubah pola itu. Kami juga sudah kebanyakan melakukan kesalahan, jadi harus ganti pola main,” ungkap Rian

Hoki/Kobayashi sebelumnya membuat kejutan usai menyingkirkan kompatriot senegaranya Takeshi Kamura/Keigo Sonoda yang merupakan unggulan kedua.

Baca juga: Fajar/Rian terhenti pada perempat final

Ganda Jepang itu akan menjajal Ahsan/Hendra, yang merupakan juara Indonesia Open 2013, di semifinal nanti.

Sedangkan di partai semifinal ganda putra lainnya akan mempertandingkan Kevin/Marcus dan Li Jun Hui/Liu Yu Chen, unggulan tiga dari China, yang sebelumnya menyingkirkan kompatriot senegaranya He Ji Ting/Tan Qiang 21-17 21-12.

Kevin/Marcus yang membawa status juara Indonesia Open 2018 itu pernah 10 kali bertemu dengan calon lawannya itu, dengan delapan kali menang dan dua kali kalah, namun menolak untuk jemawa.

“Head to head itu tidak berpengaruh. Kalau di lapangan itu kita mulai lagi dari nol. Kita sudah sama-sama tahu dan selalu ramai melawan mereka. Kami siap kasih yang terbaik saja buat besok,” kata Kevin.

Sementara itu, Marcus akan mewaspadai serangan kencang dan tenaga calon lawannya pada babak empat besar nanti.

“Mereka juga tinggi-tinggi, jadi bola atasnya lebih susah,” kata Marcus.

Jika kedua ganda putra Indonesia itu menang atas lawan-lawannya di semifinal, bisa dipastikan Indonesia mengunci satu gelar juara dari sektor itu karena kedua wakilnya bertemu di final.

Baca juga: Kevin/Marcus tantang unggulan ketiga China di semifinal

Baca juga: Hendra/Ahsan akui pertahanan Endo/Yuta sangat baik

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian akan ubah pola permainan

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra bulu tangkis Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto berencana untuk mengubah pola permainan pada turnamen-turnamen selanjutnya agar tidak mudah terbaca oleh lawan.

Fajar/Rian sebelumnya dikalahkan oleh pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi di babak perempat final turnamen Blibli Indonesia Open 2019 yang berlangsung Jumat (19/7) dengan skor 19-21, 12-21, sehingga gagal melaju ke babak semifinal.

“Yang harus kami benahi dari pertandingan hari ini adalah mengubah pola permainan supaya tidak monoton dan gampang ketebak sama lawan,” kata Fajar usai pertandingan perempat final di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat.

Menurut dia, apabila keduanya tidak mengubah pola permainan atau strategi, lawan-lawan yang akan dihadapi di turnamen-turnamen selanjutnya akan mampu mengatasi setiap serangan yang dilancarkan di sepanjang pertandingan.

Baca juga: Fajar/Rian terhenti pada perempat final

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

“Jadi, kami harus pandai-pandai mengubah pola permainan. Jangan bermain dengan pola yang itu-itu saja, nanti bisa diantisipasi oleh lawan dan kita jadi sulit untuk merebut poin-poin kemenangan,” tutur Fajar.

Usai Blibli Indonesia Open 2019, masih ada dua turnamen yang akan dihadapi oleh Fajar/Rian, yaitu Japan Open 2019 dan Thailand Open 2019. Keduanya pun terus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjalani dua turnamen tersebut.

Sementara itu, berkaitan dengan kekalahan di perempat final, keduanya mengaku banyak melakukan kesalahan sendiri di sepanjang pertandingan. Kondisi itu pun dimanfaatkan oleh lawan untuk terus memimpin perolehan poin demi poin.

“Pertandingan tadi tidak berjalan seperti yang kami harapkan. Lawan sudah mengantisipasi pola permainan kami dengan baik, dan kami jadi susah untuk mengubah pola itu. Kami juga sudah kebanyakan melakukan kesalahan, jadi harus ganti pola main,” ungkap Rian.

Baca juga: Taklukkan Endo/Yuta, Hendra/Ahsan lolos ke semifinal

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fajar/Rian terhenti pada perempat final

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto terhenti pada babak perempat final turnamen bulu tangkis Indonesia Open 2019 setelah gagal membendung pasangan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno pada Jumat (19/7), Fajar/Rian ditaklukkan oleh Hoki/Kobayashi dalam dua gim yang berjalan selama 42 menit dengan skor 19-21, 12-21.

Mulai dari gim pertama hingga gim kedua, Fajar/Rian terlihat sama sekali tidak mampu mengimbangi permainan pasangan Taiwan tersebut, sehingga tidak ada satu pun poin kemenangan yang berhasil dicuri. Hoki/Kobayashi terus memimpin, baik di gim pertama maunpun gim kedua. Akhirnya, laga perempat final itu diakhiri dengan kemenangan Hoki/Kobayashi.

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Baca juga: Owi/Winny tersingkir, wakil ganda campuran Indonesia habis

Sementara itu, suasana di dalam stadion tetap riuh dengan suara sorak-sorak dan dukungan dari para penonton. Meskipun Fajar/Rian kalah, penonton tetap memberikan semangat terhadap perwakilan tim Merah Putih tersebut.

Fajar/Rian dan Hoki/Kobayashi sebelumnya sama sekali tidak pernah bertemu di lapangan. Pertandingan pada turnamen Indonesia Open 2019 itu pun menjadi pertemuan pertama bagi kedua pasangan ganda putra tersebut.

Sebelum melangkah ke perempat final, pada babak dua yang berlangsung pada Kamis (18/7) kemarin, Fajar/Rian menyingkirkan pasangan Taiwan Liao Min Chun/Su Ching Heng dalam dua gim dengan skor 21-12, 21-11.

Baca juga: Kevin/Marcus tantang unggulan ketiga China di semifinal

Baca juga: Taklukkan Endo/Yuta, Hendra/Ahsan lolos ke semifinal

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jojo janji akan lebih tenang dan sabar

harus bisa cepat memutuskan strategi apa yang akan dipakai, baik ketika leading (unggul) atau saat tertinggal poin

Jakarta (ANTARA) – Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie berjanji untuk bermain dengan lebih sabar dan tenang pada turnamen-turnamen mendatang setelah tersingkir dari  Indonesia Open 2019.

Atlet yang akrab disapa Jojo itu takluk 21-16, 18-21, 14-21 kepada unggulan 4 asal Taiwan Chou Tien Chen pada perempat final sehingga tidak bisa melanjutkan ke semifinal.

“Untuk perbaikan ke depannya, saya harus lebih tenang, lebih sabar dan harus bisa cepat memutuskan strategi apa yang akan dipakai, baik ketika leading (unggul) atau saat tertinggal poin,” kata Jojo usai pertandingan perempat final di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat.

Pebulutangkis berusia 21 tahun itu menilai Chou tipe pemain yang kerap bermain dengan pola menyerang sehingga tidak heran pemain Taiwan itu merebut poin-poin kemenangan pada gim terakhir.

“Dia (Chou) itu tipe penyerang, jadi ke depannya kalau berhadapan dengan tipe pemain seperti itu harus siap untuk defense (bertahan), kemudian langsung menyerang balik. Strategi itu harus digunakan dengan tepat,” kata Jojo.

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Atlet besutan klub bulu tangkis PB Tangkas Specs Jakarta itu meminta maaf kepada seluruh pendukung karena tidak mampu memberikan hasil yang sesuai dengan harapan mereka. Dia  berjanji untuk tampil lebih baik lagi nanti.

“Saya mau minta maaf kepada seluruh pendukung, baik yang ada di Istora maupun di rumah. Maaf banget saya belum bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan. Saya sudah berusaha semampu saya. Kekalahan ini menjadi tantangan bagi saya agar ke depannya lebih baik lagi,” ungkap Jojo.

Setelah Indonesia Open 2019, masih ada dua turnamen yang akan dihadapi Jojo, yaitu Japan Open 2019 dan Thailand Open 2019.

Jonatan dan Chou sebelumnya sudah tujuh kali bertemu sejak turnamen BCA Indonesia Open 2015. Dari tujuh pertemuan itu, Jonatan tercatat menang enam kali atas pemain Taiwan tersebut.

Satu-satunya kekalahan Jojo atas Chou terjadi pada TOTAL BWF Sudirman Cup 2019 ketika Jojo menyerah 11-21, 13-21.

Baca juga: Diam-diam Jojo bisnis fesyen

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Diam-diam Jojo bisnis fesyen

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis nasional, Jonatan Christie, merintis usaha fesyen sejak Januari 2019 sebagai ‘jaring pengaman’ karir di luar profesi atlet.

“Jonatan saat ini menjadi brand ambassador dari produk fasyen yang kami tawarkan. Dia juga ikut berinvestasi di perusahaan kami,” kata rekan usaha Jonatan Christie, Ryan Bilardi, kepada Antara di booth marchandise Indonesia Open 2019 du selasar lantai dua sisi barat Istora Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat sore.

Jojo, begitu atlet ini karib disapa, adalah co-founder (pendiri) perusahaan pemegang merk dagang fesyen Satoe-Noesa.

Perusahaan yang aktif memasarkan produk feseyen t-shirt, hoodie, tote bag, cap, dan aksesoris pada jejaring sosial sejak 13 Januari 2019 itu disebut Ryan menjadi ajang pembuktian bahwa Jojo tidak hanya terampil bermain bulu tangkis, namun juga berbakat menjadi pengusaha.

“Sejak Asian Games 2018, nama Jojo mulai dikenal masyarakat, dia tidak mau hanya gantengnya saja. Jojo mau belajar jadi pengusaha,” kata Ryan.

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Jojo, kata dia, terbukti mendongkrak popularitas produknya di kalangan netizen.

“Sepekan Jojo mem-blast gambar dia pakai t-shirt kita di Instagram, followers kita langsung naik 2.000 orang di @satoenoesa,” kata Ryan.

Ryan yang juga desainer produk, telah menghasilkan 20 varian produk yang dibanderol pada harga beragam mulai puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah.

“Kami mengusung tema ‘Im Indonesia’ namun dengan ciri tulisan berbahasa Inggris. Sebab kita ingin kaos ini sebagai identitas di mana pun kita berada,” katanya.

Salah satu desain yang dibuat Ryan memajang gambar biawak memanjat pagar, yang belakangan viral di media sosial.

Garis vector yang tajam membentuk gambar menjadi salah satu ciri khas produk Satoe-Noesa.

Baca juga: Lukis wajah jadi pilihan untuk tampil beda

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minions susul ke semifinal

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon lolos ke semifinal Indonesia Open 2019 setelah menang mudah atas pasangan China Ou Xuan Yi/Zhang Nan, Jumat.

The Minions yang menjadi unggulan pertama mengalahkan pasangan baru China itu dengan 21-12 21-16 dalam waktu 31 menit.

Kevin/Marcus menjadi wakil kedua Indonesia yang lolos ke semifinal setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang menyingkirkan wakil Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe 21-17, 16-21, 21-17.

Hanya butuh waktu lima menit bagi unggulan pertama itu untuk unggul 11-4 pada interval gim pertama.

Baca juga: Ganda putra jadi tumpuan Indonesia

Pasangan baru China itu kewalahan menghadapi kecepatan dan power The Minions yang bermain cepat dan menyerang hingga menutup gim pertama dengan selisih sembilan angka di atas mereka.

Pada gim kedua, enam poin pertama diraih dengan mudah oleh Kevin/Marcus tanpa perlawanan. Namun China mampu mengejar ketertinggalan sampai skor imbang 11.

Kejar mengejar angka terjadi ketika kedua pasangan sama-sama ngotot pada paruh kedua gim kedua hingga 15 sama, yang menjadi momentum Kevin/Marcus setelah itu untuk meraup enam poin terakhir dalam gim penutup

Pada semifinal, ganda Indonesia itu akan meladeni Li Jun Hui/Liu Yu Chen, unggulan tiga dari China, yang menyingkirkan kompatriotnya He Ji Ting/Tan Qiang 21-17 21-12.

Baca juga: Singkirkan India, hari ini Minions lebih siap dengan kondisi lapangan

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jonatan Christie kandas

Foto “multiple exposure” pebulu tangkis Indonesia Jonatan Christie berusaha mengembalikan kok kepada pebulu tangkis Taiwan Chou Tien Chen pada babak perempat final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (190/7/2019). Jonatan Christie gagal melaju ke babak semifinal usai takluk oleh Chou Tien Che dengan skor 21-16, 18-21, 14-21. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Kevin/Marcus tantang unggulan ketiga China di semifinal

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon lolos ke semifinal turnamen Blibli Indonesia Open 2019 setelah menumbangkan pasangan China Ou Xuan Yi/Zhang Nan di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat.

The Minions yang menjadi unggulan pertama mengalahkan pasangan baru China itu dua gim 21-12 21-16 dalam waktu 31 menit.

Kevin/Marcus menjadi wakil kedua Indonesia yang lolos ke semifinal setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, yang menyingkirkan wakil Jepang Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe 21-17, 16-21, 21-17.

Pada semifinal, ganda Indonesia itu akan meladeni Li Jun Hui/Liu Yu Chen unggulan tiga dari China, yang sebelumnya menyingkirkan kompatriot senegaranya He Ji Ting/Tan Qiang 21-17 21-12.

Kevin/Marcus pernah 10 kali bertemu dengan calon lawannya itu, dengan delapan kali menang dan dua kali kalah.

Head to head itu tidak berpengaruh menurut saya. Kalau di lapangan itu kita mulai lagi dari nol. Kita sudah sama-sama tahu dan selalu ramai melawan mereka. Kami siap kasih yang terbaik saja buat besok,” kata Kevin.

Sementara itu Marcus akan mewaspadai serangan kencang dan tenaga calon lawannya pada babak empat besar nanti.

“Mereka juga tinggi-tinggi, jadi bola atasnya lebih susah,” kata Marcus.

Pada babak perempat final, Kevin/Marcus menyingkirkan pasangan non-unggulan China.

Baca juga: Taklukkan Endo/Yuta, Hendra/Ahsan lolos ke semifinal

Hanya butuh waktu lima menit bagi unggulan pertama itu untuk unggul 11-4 pada interval gim pertama. Pasangan baru China itu pun kewalahan dengan kecepatan serta power The Minions yang bermain cepat dan menyerang hingga menutup gim pertama dengan keunggulan sembilan angka.

Pada gim kedua, enam poin pertama diraih dengan mudah oleh Kevin/Marcus tanpa perlawanan. Namun China mampu mengejar ketertinggalannya hingga skor imbang 11-11.

Kejar mengejar angka terjadi ketika kedua pasangan sama-sama ngotot di paruh kedua gim kedua hingga 15-15, yang menjadi momentum Kevin/Marcus setelah itu untuk meraup enam poin terakhir pada gim penutup

“Hari ini kami bermain cukup baik sehingga bisa mengontrol permainan. Lawan sebenarnya bermain sangat baik juga, memiliki kecepatan, tenaga dan serangan-serangan yang bagus, tapi kami lebih siap,” kata Kevin.

Rekannya, Marcus mengakui Ou Xuan Yi, yang menjadi pasangan baru Zhang Nan yang lebih senior, lebih banyak membuat bola mati dan di awal laga terlihat gugup.

“Di gim pertama dia mungkin lebih gugup, di gim kedua dia lebih berani dan lebih aman sehingga tidak mudah (membuat bola) mati,” timpal Marcus.

Baca juga: Owi/Winny tersingkir, wakil ganda campuran Indonesia habis

Baca juga: Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Minions menaklukkan Asian Games

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Owi/Winny tersingkir karena kalah strategi dan jam terbang

Jakarta (ANTARA) – Ganda campuran Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow mengaku kalah strategi dan jam terbang usai disingkirkan pasangan Malaysia Goh Liu Ying/Chan Peng Soon pada perempat final Blibli Indonesia Open 2019, Jumat.

Owi/Winny, yang menjadi wakil terakhir Indonesia dalam sektor ganda campuran yang lolos ke perempat final, memberi perlawanan cukup ketat selama 60 menit sebelum menyerah tiga gim kepada unggulan kelima itu 11-21 21-14 14-21.

Pasangan Malaysia langsung menggempur pada gim pertama, memaksa Owi/Winny untuk membuat sejumlah pengembalian bola yang buruk sehingga kehilangan banyak poin.

“Yang saya rasakan tadi main di gim pertama mungkin strategi kami kurang pas kaerna kami main seperti lambat,” kata Owi usai laga.

Owi/Winny mulai mengejar permainan lawan hingga unggul interval gim kedua 11-8 walaupun masih gugup dalam pengembalian bola. Sementara, pasangan Malaysia tetap tenang sepanjang permainan.

Indonesia mampu mempertahankan keunggulannya dan menutup gim kedua berkat dua kali kesalahan lawan dalam pengembalian bola.

Baca juga: Owi/Winny tersingkir, wakil ganda campuran Indonesia habis

Pada gim terakhir yang ketat, Owi/Winny menemukan permainannya dan mulai mendikte lawan dengan serangan-serangan cepat hingga memaksa Goh tersungkur di lapangan ketika skor 9 sama.

Namun dua pengembalian bola yang gagal dari Tontowi menguntungkan Malaysia pada interval gim.

Setelah itu, bola-bola tajam Malaysia kembali membuat Owi/Winny bekerja ekstra untuk mengembalikan bola dan kehilangan momentum sehingga lawan tak terkejar dan menutup gim penentuan dengan margin tujuh poin.

“Di gim kedua sudah benar mengatur strateginya dan bisa bermain cepat dan menyerang.”

Namun ganda Malaysia menerapkan strategi yang lebih cerdik dengan servis-servis panjang. “Mungkin kami kalah di situnya.”

Sementara itu, Winny mengaku beberapa kali membuat kesalahan karena terburu-buru melakukan eksekusi bola dan seperti yang dibilang pelatih Richard Mainaky, pasangan baru Owi itu belum memiliki jam terbang yang tinggi dibandingkan lawan yang dihadapinya hari itu.

Baca juga: Pesan Liliyana Natsir untuk Tontowi Ahmad

“Saya lihat untuk Winny sendiri karena kalah pengalaman. Lawan telah mempunyai segudang pengalaman,” kata Richard.

Selain itu, Winny masih terkadang ragu mengikuti strategi yang diinstruksikan di lapangan. “Antara percaya atau enggak.”

“Masih butuh pengalaman lagi dan jam terbang,” kata Richard.

Sebelumnya, Tontowi, ketika berpasangan dengan Liliyana Natsir, yang telah pensiun awal tahun ini, merupakan juara bertahan sektor ganda campuran Indonesia Open dalam dua tahun terakhir.

Owi ketika berpasangan dengan Butet pernah menang 11 kali dan kalah satu kali atas pasangan Malaysia itu.

Pada semi-final, wakil Goh/Chan akan bertemu unggulan kedua China Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping, yang sebelumnya mengalahkan pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie.

Baca juga: Hendra/Ahsan akui pertahanan Endo/Yuta sangat baik
 

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lukis wajah jadi pilihan untuk tampil beda

Jakarta (ANTARA) – Lukis wajah bisa menjadi pilihan untuk pengunjung Istora Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, yang ingin tampil beda saat mendukung atlet idola berjuang mencapai kejayaan pada Indonesia Open 2019.

Booth rias wajah yang bersebelahan dengan zona bermain anak di sisi barat lantai dasar Istora itu disediakan gratis untuk pengunjung yang ingin tampil unik.

“Dalam sehari sejak Indonesia Open 2019 bergulir, rata-rata 45 pengunjung dirias wajahnya dengan corak sesuai selera,” kata pelukis wajah, Umar Dwi Saputro (29), di Jakarta, Jumat.

Pria lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menawarkan beragam varian gambar, seperti bendera negara dari berbagai belahan dunia, logo Indonesia Open 2019, corak bunga, alat olahraga, dan sebagainya dengan warna warni makeup yang merona.

Di depan meja rias yang lengkap dengan lampu dan perkakas makeup, jemari Umar bergerak lincah membentuk lekuk garis membentuk gambar sesuai pesanan pengunjung.

Baca juga: Bakso jumbo menu santap malam pengunjung Indonesia Open 2019

Umumnya corak lukisan tergambar pada bagian pipi atau kening pemesan, namun tidak jarang juga kalangan penggemar fanatik meminta Umar melukis penuh wajahnya.

“Yang agak menantang itu kalau saya harus gambar full face karena butuh waktu lama, atau gambar objek bendera salah satu negara yang bentuknya detail, seperti bendera Arab Saudi,” kata dia.

Guru pelajaran seni di SMP Muhammadiyah 31 Rawamangun itu sanggup menyelesaikan lukis wajah rata-rata kurang dari lima menit untuk corak sederhana. Namun, untuk corak yang lebih detail membutuhkan waktu hingga 15 menit.

Djoni Pemato yang karib disapa Udjo Karim adalah salah satu pengunjung yang wajahnya dilukis oleh Umar.

Baca juga: Suporter berkostum unik tarik perhatian pengunjung Indonesia Open

Penyanyi sekaligus pelawak Project Pop itu dilukis dengan corak bendera Indonesia pada kedua pipinya saat hadir mendukung atlet Indonesia pada Indonesia Open.

“Sejak Udjo mengunggah fotonya di media sosial, pengunjung yang datang ke booth saya cukup banyak,” kata Umar.

Salah satu penggemar atlet bulu tangkis nasional, Muhammad Dul (19), mengaku lebih tampil unik setelah wajahnya dilukis dengan gambar tokoh kartun The Minions.

Hampir separuh wajahnya menguning dengan kombinasi warna biru cerah yang membuat warga Palmerah Jakarta itu tampak jenaka.

“Lucu juga, biar tampil beda di arena,” katanya.

Baca juga: Patung idola jadi pelampiasan penggemar untuk berfoto

Saat talenan menjadi medium lukis wajah

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dijegal unggulan 4, Jojo gagal ke semifinal

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie gagal melaju ke babak semifinal turnamen Blibli Indonesia Open 2019 usai dikalahkan oleh pemain Taiwan Chou Tien Chen.

Bertanding di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada Jumat (19/7), atlet yang lebih akrab disapa Jojo itu ditumbangkan oleh Chou dalam tiga gim yang berjalan selama 76 menit dengan skor 21-16, 18-21, 14-21.

Atas hasil tersebut, Jojo pun tidak dapat melaju ke semifinal turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu.

Pada gim pertama, Jojo tidak menemui banyak kesulitan menghadapi unggulan 4 tersebut. Mulai dari awal hingga akhir, Jojo terus memimpin perolehan angka. Di awal, Jojo unggul 2-1 atas Chou. Meskipun Chou sempat berusaha menyamakan kedudukan hingga skor 15-14, Jojo tetap unggul di akhir gim dengan kedudukan 21-16.

Pada gim kedua, Jojo dan Chou saling susul-menyusul perolehan angka. Permainan dibuka dengan Chou unggul atas Jojo 2-1. Jojo menyusul Chou sehingga skor berubah menjadi 5-4. Namun Chou kembali unggul dengan skor 6-5.

Skor kembali berubah dengan Jojo unggul atas Chou 13-12, tapi kedudukan kembali imbang 16-16. Setelahnya, Jojo lagi-lagi tertinggal poin dan Chou menutup gim kedua dengan unggul 21-18.

Pada gim penentu, Jojo nampak kewalahan mengimbangi lawannya itu, meskipun kedudukan keduanya sempat imbang 3-3 di awal permainan. Namun setelahnya, Jojo terus tertinggal dari Chou. Pada poin-poin akhir, Jojo sudah kalah 12-18 dari Chou. Jojo tidak mampu mengejar dan akhirnya, Chou memenangkan laga tersebut dengan skor 21-14.

Jonatan dan Chou sebelumnya sudah pernah bertemu di lapangan sebanyak tujuh kali, yakni sejak turnamen BCA Indonesia Open 2015. Dari tujuh pertemuan itu, Jonatan tercatat sudah menang enam kali atas pemain Taiwan tersebut.

Satu-satunya kekalahan Jojo atas Chou, yaitu pada ajang TOTAL BWF Sudirman Cup 2019. Saat itu, Jojo kalah dengan skor 11-21, 13-21.

Sebelum melangkah ke perempat final Blibli Indonesia Open 2019, di babak dua yang berlangsung pada Kamis (18/7) kemarin, Jojo mengalahkan pebulu tangkis asal Denmark Hans-Kristian Solberg Vittinghus dalam dua gim dengan skor 22-20, 21-13.

Baca juga: Jojo apresiasi seluruh pendukungnya selama pertandingan
Baca juga: Jojo persiapkan diri maksimal hadapi unggulan empat Chou Tien Chen

Keseruan suporter berkostum unik di Indonesia Open 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019