Nasehat Hendry Saputra kepada Anthony Ginting

Jakarta (ANTARA) – Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI Hendry Saputra mengharapkan kepada Anthony Sinisuka Ginting agar membenahi permainannya yang dinilai belum stabil dan kerap membuat kesalahan sendiri.

Kualitas pebulutangkis jebolan klub SGS PLN Bandung ini memang telah terbukti di sejumlah turnamen top, namun Ginting yang peringkat delapan dunia itu belum berhasil meraih gelar juara pada tahun ini.

“Saya sering bilang ke Anthony, standar dan kualitas dia sangat bagus. Jangan lihat dia kalah menangnya, waktu di China Open 2018 banyak yang bilang dia tampil perfect, pemain masa depan, sekarang dia kalah (apa) menjadi jelek? Tidak, dia bagus. Tapi ada kelemahannya, mati sendirinya masih banyak,” ujar Hendry dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Senin.

Pada tahun lalu, Ginting merebut dua gelar gelar juara di Daihatsu Indonesia Masters 2018 Super 500 dan China Open 2018 Super 1000, dan sempat meraih medali perunggu Asian Games 2018 di Jakarta.

Sepengamatan Hendry, kesalahan Ginting justru terjadi pada waktu yang tidak tepat, misalnya saat “matchpoint” sehingga ia mengingatkan Ginting untuk bermain lebih sabar, ulet, dan main aman.

Ginting harus bisa memperbaiki kekurangannya tersebut karena ini merupakan persiapan awal untuk meningkatkan performanya, katanya.

Ia juga telah menyiapkan latihan dan program khusus untuk melatih fokus dan konsentrasi agar Anthony bisa mengurangi kesalahan-kesalahan sendiri saat bertanding.

“Ada latihannya kalau mau fokus dan ada faktor kecerdasan juga, ini sangat berpengaruh. Tidak boleh melakukan kesalahan, implementasinya harus dari latihan,” ujar Hendry.

Selebihnya, Hendry mengaku optimistis dan senang dengan peningkatan performa baik pada Ginting dan Jonatan Christie.

Jonatan dan Ginting juga diharapkan mampu menjadi andalan Indonesia di ajang Blibli Indonesia Open 2019 yang akan dilangsungkan bulan depan di Istora Senayan, 16-21 Juli 2019.

Baca juga: Kalahkan Ginting di final, Jonatan Christie juara Australia Open

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PBSI nilai performa Jojo mengalami perbaikan

Jakarta (ANTARA) – PBSI menilai performa Jonatan Christie mengalami perkembangan positif, setelah sebelumnya dianggap sempat menurun pasca memperoleh medali emas di gelaran Asian Games 2018.

Perlahan namun pasti penampilan Jojo mulai membaik, terbukti setelah beberapa kali membuat kejutan dengan menumbangkan pemain top di sejumlah turnamen dan akhirnya berhasil merebut gelar juara dari New Zealand Open dan Australia Open 2019.

“Jonatan dalam kondisi fisik yang prima, dia itu memang staminanya harus bagus. Jonatan mainnya perlu durasi panjang, tempo lama, jadi awalnya itu dulu, teknik dan cara main saya lihat bisa lebih menguasai,” tutur Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI Hendry Saputra melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.

Dari segi teknik pukulan, misalnya, beberapa stroke pukulan Jojo sebelumnya terlihat kurang meyakinkan, namun pebulutangkis kelahiran Jakarta itu sekarang lebih berani menerapkan strategi yang lebih baik.

Sebelumnya, Jonatan meraih gelar Australia Open 2019 usai mengalahkan rekan senegara yaitu Anthony Sinisuka Ginting dengan skor 21-17, 13-21, 21-14.

Meski berstatus turnamen level super 300, namun banyak para pemain top yang ambil bagian dalam kejuaraan ini sebagai upaya pengumpulan poin menuju Olimpiade Tokyo 2020.

Pengumpulan poin olimpiade dimulai pada turnamen New Zealand Open 2019 pada bulan Mei lalu dan akan berakhir di turnamen Badminton Asia Championships 2020 pada bulan April mendatang.

“Bagi saya ini sudah oke, melebihi target, tadinya target salah satunya masuk final dan juara tapi ini keduanya lolos. Kalau dibilang ini kan cuma super 300, ya tidak apa-apa sah saja karena sedang mengejar poin untuk olimpiade,” tutur Hendry.

Jonatan kini sudah mulai menjalani latihan di Pelatnas Cipayung untuk mempersiapkan diri jelang kejuaraan selanjutnya di Blibli Indonesia Open 2019.

Baca juga: Juara Australia Open, selanjutnya Jojo fokus hadapi Indonesia Open

Baca juga: Kesabaran kunci “The Daddies” juarai New Zealand Open

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mahathir sedih Lee Chong Wei pensiun

Kuala Lumpur (ANTARA) – Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohammad merasa sedih dan terharu pemain bulutangkis andalan negaranya, Lee Chong Wei menyatakan pensiun dari olahraga teplok bulu tersebut.

“Saya terharu dan sedih karena ‘champion’ kita sudah pensiun. Saya harap dia dapat istirahat dan dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya,” ujar Mahathir dalam pernyataannya melalui sosial media, Jumat.

Mahathir berterima kasih kepada Lee Chong Wei karena telah menempatkan Malaysia sebagai juara berkali-kali. “Saya terima kasih kepada Chong Wei karena telah meletakkan Malaysia dalam olahraga dunia sebagai juara berkali-kali. Kami akan merasa kehilangan karena Chong Wei sudah pensiun,” katanya.

Sementara itu, istri Mahathir Tun D. Siti Hasmah Mohamad Ali tidak mempersoalkan keputusan Lee Chong Wei pensiun dari bulutangkis. “Tidak masalah Lee Chong Wei, anda telah membuat keputusan yang baik. keluarga dan anakmu menunggu. enjoy dengan mereka,” katanya.

Siti Hasmah berharap kelak anak Lee Chong Wei bisa menggantikannya di olimpiade. “Insyallah anakmu akan menggantikanmu di olimpiade. Semoga Tuhan menjaga kesehatanmu, semoga bahagia dengan keluargamu dan dua anakmu. Berbuat yang terbaik untuk keluarga dan negara,” ucapnya.

Keputusan Lee Chong Wei pensiun dari bulutangkis disampaikan dalam jumpa pers di lantai 17 Menara Kementerian Pemuda dan Olah Raga Malaysia di Putrajaya, Kamis.

Hadir mendampingi Lee Chong Wei, Menteri Pemuda dan Olah Raga Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman dan Presiden Asosiasi Bulutangkis Malaysia Dato’ Sri Norza Zakaria.

Lee Chong Wei (36) sudah 19 tahun berkiprah di dunia bulutangkis. Sederetan gelar dan medali menjadi catatan emas perjalanan karir Lee Chong Wei.

Mantan pemain nomor satu dunia itu mempunyai mimpi untuk mengakhiri kariernya dengan kalungan medali emas Olimpiade 2020 di Tokyo. Medali emas belum pernah diraih setelah di tiga Olimpiade sebelumnya hanya meraih perak di Olimpiade 2008, 2012, dan 2016.

Lee memiliki tiga orang pelatih, yakni Misbun Sidek, Hendrawan dan Tey Seu Bock. Selain tiga medali perak olimpiade, Lee juga meraih tiga medali perak kejuaraan dunia, 47 gelar World Superseries/World Tour, dua medali emas Kejuaraan Asia, dan empat titel All England.

Dia juga pernah membawa Malaysia lolos ke final Piala Thomas dan dua juara beregu Persemakmuran.

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susy Susanti: Tiga sektor jadi andalan di Blibli Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti mengatakan Tim Merah Putih mengandalkan tiga sektor dalam turnamen Blibli Indonesia Open 2019 yang akan diselenggarakan pada 16 hingga 21 Juli 2019 di Istora Senayan, Jakarta.

“Ganda putra tentu masih jadi andalan lewat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Tapi saya juga menaruh harapan besar pada sektor tunggal putra dan ganda campuran,” kata Susy melalui siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Di sektor tunggal putra, menurut dia, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting menunjukkan grafik penampilan yang meningkat. Jonatan meraih gelar juara di turnamen New Zealand Open 2019 dan Australia Open 2019. Sedangkan Anthony menjadi runner up di Singapore Open 2019 dan Australia Open 2019.

Sementara itu, di sektor ganda campuran yang diwakili oleh Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Susi berharap agar kedua pasangan tersebut tampil lebih baik, apalagi dengan adanya dukungan penonton di negeri sendiri.

Praveen/Melati merupakan runner-up India Open 2019, New Zealand Open 2019 dan Australia Open 2019. Sedangkan Hafiz/Gloria memenangi Thailand Open 2018 dan menjadi runner-up di German Open 2019.

“Ganda campuran tetap punya peluang untuk jadi juara, meskipun Praveen/Melati masih belum berhasil meraih gelar tersebut. Mudah-mudahan dengan menjadi tuan rumah, mereka jadi lebih percaya diri, lebih semangat dan lebih mau membuktikan diri. Untuk Hafiz/Gloria, power-nya harus ditambah lagi,” ujar Susy.

Di ganda putri dan tunggal putri, Susi masih memiliki keyakinan bahwa kedua sektor tersebut berpotensi untuk membuat kejutan dengan mengalahkan lawan yang lebih diunggulkan.

“Untuk Greysia Polii/Apriyani Rahayu, kekuatan dan ketahanan mereka harus ditambah lagi. Untuk tunggal putri, memang menjadi sektor yang paling ketinggalan. Kami akui itu. Namun kami terus mengupayakan berbagai cara untuk bisa mendongkrak prestasi tunggal putri,” ungkap Susy.

Blibli Indonesia Open 2019 akan diselenggarakan mulai 16 hingga 21 Juli 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Total hadiah yang diperebutkan oleh para pemain dalam turnamen bulu tangkis level Super 1000 itu mencapai 1.250 juta dollar Amerika Serikat.

Baca juga: Salam perpisahan untuk Lee dari atlet badminton internasional
Baca juga: Pecinta bulu tangkis serbu tiket Blibli Indonesia Open 2019

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Salam perpisahan untuk Lee dari atlet badminton internasional

Jakarta (ANTARA) – Sejumlah atlet bulu tangkis internasional seperti Peter Gade, Saina Nehwal, dan Kidambi Srikanth dengan kompak mengucapkan salam perpisahan untuk Lee Chong Wei di masing-masing akun media sosial mereka.

Peter Gade yang merupakan mantan rival Lee dari Denmark mengunggah sebuah foto di akun instagram miliknya @petergadeofficial yang menggambarkan dirinya yang sedang bersalaman dengan Lee Chong Wei usai pertandingan.

Ia menuliskan sebuah salam perpisahan yang mengatakan bahwa dunia bulu tangkis akan selalu merindukan sosok Lee. Gade juga mengucapkan terima kasih untuk semua kenangan yang telah dirajut bersama Lee selama bertahun-tahun.

“Lee Chong Wei yang terhormat, Dunia bulu tangkis akan merindukanmu dalam segala hal! Terima kasih atas semua momen yang kami bagikan selama bertahun-tahun. Saya berharap yang terbaik untuk Anda di tahun-tahun mendatang bersama keluarga dan teman Anda!,” tulis Peter Gade di instagramnya.

Selain Gade, ada pemain tunggal putra India Kidambi Srikanth yang turut menyampaikan salam perpisahan melalui akun twitternya. Ia mengunggah foto yang menampilkan dirinya sedang bersalaman dengan Lee usai pertandingan.

Dalam keterangannya di twitter @srikidambi, Ia mengatakan bahwa Lee merupakan lawan yang tangguh sehingga cukup sulit untuk mengalahkan ketika sedang bertanding dengannya.

“Doaku adalah yang terbaik untukmu bagi semua yang akan kamu lalui. Kamu adalah sosok yang tangguh dan luar biasa,” tulisnya.

Lebih lanjut, pemain bulu tangkis tunggal putri India Saina Nehwal juga memberikan doa terbaik bagi Lee Chong Wei. Tak ketinggalan, Ia juga mengunggah foto Lee yang sedang hormat.

Ia mencuit pada akun twitternya @NSaina yang berisi tentang kekagumannya terhadap penampilan Lee pada saat bertanding selama ini. Tak lupa, Saina meminta Lee agar menjaga kesehatannya.

“Sangat menyukai penampilan anda selama bertahun-tahun @LeeChongWei legenda bulutangkis yang hebat dan sangat menyedihkan mengetahui bahwa anda pensiun. Saya berharap yang terbaik untuk masa depan dan mohon jaga kesehatan anda,” tulisnya.

Sebelumnya pada Kamis (13/6), bintang bulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei mengumumkan pensiun dari olah raga tersebut karena penyakit kanker yang dideritanya.

Baca juga: Lee lambaikan tangan salam perpisahan lewat Instagram

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket

Baca juga: BAM terima keputusan Lee Chong Wei

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee lambaikan tangan salam perpisahan lewat Instagram

Jakarta (ANTARA) – Bintang bulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei melambaikan tangan sebagai tanda salam perpisahan untuk rekan dan para penggemarnya melalui akun media sosial pribadi miliknya, yakni Instagram.

Lee yang telah selama 19 tahun berkarier di dunia bulu tangkis serta sempat menjadi peringkat satu dunia selama total 348 minggu tersebut memutuskan untuk menggantung raketnya karena menderita penyakit kanker.

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket

Dalam unggahan di akun intagram miliknya, ia meminta maaf kepada seluruh rekan dan penggemarnya tentang keputusan terberat yang telah ia ambil ini.

“Saya ingin meminta maaf sebab saya sudah tidak mampu lagi bermain badminton untuk negara dan anda semua,” tulisnya.

Lee menjelaskan bahwa keputusan tersebut ia ambil lantaran dokter yang menangani penyakitnya menyarankan untuk beristirahat karena berisiko tinggi jika ia tetap berlatih bulu tangkis secara intensif. 

“Doktor menasihatkan saya bahawa risiko kanser kembali agak tinggi sekiranya saya berlatih dengan intensiti seperti dulu,” tulisnya.

Sembari menjelaskan alasan di balik keputusannya, Lee juga mencurahkan kesedihannya lantaran ia tidak mampu melanjutkan hingga ajang Olimpiade 2020 Tokyo.

“Ya, Tokyo 2020 tidak kesampaian. Tetapi, saya rasa saya akan meninggalkan arena Badminton tanpa kekesalan,” tulisnya.

Lee bercerita bahwa menjadi perwakilan untuk Malaysia dalam ranah bulu tangkis sudah menjadi impiannya sejak kecil dan ia telah mampu meraihnya.

“Perasaan berdiri di podium, melihat bendera dinaikkan dan mendengar lagu Negaraku sememangnya akan dirindui,” tulisnya.

Lee berpesan kepada semua rekan dan penggemarnya agar tidak bersedih dengan keputusannya untuk pensiun dari dunia yang ia cintai karena ia yakin akan bermunculan sosok Lee Chong Wei lain yang kelak turut serta mewakili Malaysia seperti dirinya.

“Jangan risau sangat atas pengunduran Diri Saya Kerana kita mempunyai Barisan pelapis Yang kuat. Saya yakin dia orang boleh!,” tulisnya.

Di akhir tulisannya, Lee tak lupa mengucapkan terima kasih untuk segala dukungan yang telah diberikan kepadanya selama ia berkarier. Ia juga meminta maaf jika selama ini dirasa belum maksimal mewujudkan mimpi-mimpi para penggemarnya.

“Terima kasih kawan kawan. Minta maaf atas mana mana yang tak sempurna dalam karier sukan saya. Dah tiba masa untuk kuda tua ini berehat. Terima kasih,” tutupnya.

Baca juga: Haryanto Arbi: Selamat jalan Lee
Baca juga: Lee Chong Wei pensiun, Hendrawan: Ini keputusan yang terbaik
Baca juga: BAM terima keputusan Lee Chong Wei

MBCC Malaysia akan datangkan ratusan investor ke Kota Bandung

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee Chong Wei

Lee Chong Wei

Atlet legendaris Malaysia, Lee Chong Wei, memutuskan mundur dari dunia bulu tangkis setelah berjuang melawan kanker sejak 2018. Lee pernah bertekad untuk terus berkiprah, namun kondisi tak memungkinkannya untuk melanjutkan profesi yang digelutinya selama 19 tahun itu.

Tommy Sugiarto terkejut Lee Chong Wei pensiun

Jakarta (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Tommy Sugiarto mengaku terkejut dengan adanya keputusan dari Lee Chong Wei untuk pensiun dari dunia bulu tangkis profesional yang telah dijalaninya selama 19 tahun.

“Saya kaget juga karena saya kira dia masih semangat untuk bisa main lagi setelah dari sakitnya ini,” kata Tommy saat dihubungi oleh Antara, Kamis.

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket

Ia mengatakan bahwa Lee merupakan sosok yang patut untuk dijadikan panutan oleh semua atlet bulu tangkis di dunia karena dedikasi dan motivasinya yang sangat tinggi serta memiliki performa bermain di atas rata-rata sehingga layak untuk disebut sebagai legenda.

“Ia pribadi yang mempunyai dedikasi sangat tinggi, performa serta konsistensinya yang tidak hanya setahun dua tahun. Oleh karena itu dia pantas disebut sebagai seorang legenda,” ujarnya.

Tommy yang mengaku telah belasan kali bertemu dengan Lee mengatakan bahwa Lee adalah pemain bulu tangkis yang sangat susah untuk dikalahkan.

“Dia kan juga seorang legend, buat di Malaysia juga internasional semua tahu lah siapa Lee Chong Wei,” katanya.

Lebih lanjut, Tommy percaya bahwa keputusan Lee sangat sulit, namun sudah pasti yang terbaik untuk dia dan keluarganya karena hal ini berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan Lee.

“Semoga dia sembuh dari penyakitnya, dia bisa hidup dengan keluarganya lebih baik dan kesehatan tetap diutamakan,” katanya.

Baca juga: Lee lambaikan tangan salam perpisahan lewat Instagram
Baca juga: Lee Chong Wei pensiun, Hendrawan: Ini keputusan yang terbaik
Baca juga: Lee Chong Wei akan nikmati waktu bersama keluarga

Indonesia kirim tiga wakil di final bulu tangkis

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BAM terima keputusan Lee Chong Wei

Jakarta (ANTARA) – Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) menerima pensiunnya atlet bulu tangkis andalan mereka Lee Chong Wei yang menyatakan pensiun pada Kamis.

Presiden Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) Norza Zakaria, yang berada di tempat Lee menggelar konferensi pers, menggambarkan Lee sebagai “legenda”.

“Ini hari yang menyedihkan. Lee adalah seorang legenda dan sangat diandalkan. Kami menerima keputusannya,” kata Norza seperti dikutip AFP, Kamis.

Lee turun peringkatnya menjadi 191 dalam ranking dunia bulu tangkis, setelah absen lama karena menjalani pengobatan kanker hidung tahap awal sejak tahun lalu.

“Saya berjuang untuk negara saya sepenuhnya,” kata dia, pada satu titik, suaranya tersedak.

“Ini hari pensiun saya.”

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket

Kanker terbukti menjadi pukulan yang mengakhiri karir Lee Chong Wei, tetapi itu bukan satu-satunya masa terendah, karena ia pernah dijatuhi skorsing setelah dinyatakan positif menggunakan zat terlarang anti-inflammatori dalam tes doping pada Kejuaraan Dunia 2014.

Mantan pemain nomor satu itu kembali ke bulu tangkis pada 2015, setelah pihak berwenang menerima bahwa ia menggunakan obat tersebut secara tidak sengaja.

“Saya tidak menyesal. Yang lebih penting adalah kesehatan saya, keputusan untuk pensiun ini sangat berat,” kata Lee, menambahkan bahwa pengobatan kankernya sudah berakhir.

“Rencana saya untuk pensiun semula setelah Olimpiade. Saya membuat keputusan ini karena kesehatan saya.

Setelah pensiun, ia mengatakan akan menghabiskan waktu bersama keluarga, bahkan berbulan madu.

Baca juga: Lee Chong Wei akan nikmati waktu bersama keluarga

“Anda tahu saya menikah pada 2012. Namun kami belum pernah pergi bulan madu. Saya berutang janji ini (kepada istri saya), sekarang saya harus menyenangkannya.”

Saat mulai mengumumkan pensiunnya, Lee terhenti selama hampir satu menit saat air mata mengalir di pipinya.

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee Chong Wei pensiun, Hendrawan: Ini keputusan yang terbaik

Jakarta (ANTARA) – Pelatih Lee Chong Wei, Hendrawan, menilai keputusan pemain asuhannya itu untuk pensiun dari bulu tangkis merupakan keputusan yang terbaik.

“Mungkin keputusan Chong Wei mundur adalah keputusan yang terbaik, karena faktor kesehatan,” ujar Hendrawan yang dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Hendrawan, pelatih asal Indonesia yang menangani Lee Chong Wei sejak 2015 setelah atlet Malaysia itu terkena kasus doping, mengatakan bahwa dokter tidak menyarankan pebulu tangkis menjalani latihan yang berat lagi.

“Ini dilema, di satu sisi Chong Wei dikejar waktu untuk Olimpiade, kedua ingin mengembalikan performa untuk bersaing di level top dunia harus kerja keras, (tetapi) dokternya nggak mengizinkan, at the end harus memilih,” katanya.

Akhirnya Lee Chong Wei memilih, ya pasti semua memilih kesehatan ya, memang sedih tapi ini yang terbaik,” tambahnya.

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket

Baca juga: Lee Chong Wei akan nikmati waktu bersama keluarga

Ditanya akan melatih siapa setelah Lee Chong Wei pensiun, Hendrawan, peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 dan juara dunia 2001, mengatakan belum punya rencana.

“Sementara belum ada planning apa-apa, karena memang tugas saya membantu Chong Wei, nanti dilihat saja gimana, sementara bantu yang muda-muda dulu,” katanya.

Soal kemungkinan balik untuk melatih di Tanah Air, Hendrawan yang pernah melatih tunggal putra dan putri Pelatnas Cipayung itu mengatakan bahwa kontraknya di Malaysia masih sampai 2020.

“Kontrak saya kan sampai 2020 di sini,” katanya lalu menambahkan bahwa ia belum mempunyai rencana apapun karena semula ia berjanji untuk membantu Chong Wei sampai pensiun.

“Soal balik belum tau ya, nantilah. Chong Wei baru mengumumkan pensiun hari ini, belum ada ngobrol apa-apa kok,” ujarnya.

Baca juga: BAM terima keputusan Lee Chong Wei

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Haryanto Arbi: Selamat jalan Lee

Jakarta (ANTARA) – Legenda bulutangkis Indonesia Hariyanto Arbi mengucapkan selamat jalan untuk Lee Chong Wei yang memutuskan untuk menggantung raket alias pensiun setelah 19 tahun berkarier sebagai pemain bulutangkis profesional.

“Selamat jalan, keputusan ini memang berat, namun pasti yang terbaik untuk dia,” kata Hariyanto Arbi saat dihubungi Antara di Jakarta, Kamis.

Menurut Hariyanto, Lee memiliki karier yang sangat bagus selama 19 tahun ini. Berbagai prestasi berhasil diraih, seperti meraup 705 kemenangan di sepanjang kariernya, meraih lebih dari tiga gelar di kejuaraan All England, mendapat tiga medali perak di Olimpiade secara beruntun pada 2008, 2012, serta 2016, dan sebagainya.

“Dia adalah atlet pekerja keras dan pantang mundur, mempunyai komitmen yang luar biasa,” ujarnya.

Selain itu, Lee di mata Hariyanto juga tercermin sebagai atlet yang sangat baik hati. Ia tak segan untuk menghormati seluruh atlet yang ditemuinya ketika dalam pertandingan.

“Dia orang yang sangat baik, royal, rendah hati, bahkan sangat menghormati seluruh atlet yang ditemuinya. Tidak pernah membeda-bedakan,” katanya.

Hariyanto yang mengaku sangat terkesan terhadap kepribadian Lee mendoakan agar Lee selalu berbahagia bersama keluarga meskipun harus menggantung mimpi-mimpinya di dunia bulutangkis.

“Terbaik untuk dia, tetap harus jaga kesehatan karena itu yang utama. Semoga bahagia selalu dengan keluarga,” ujarnya.

Sebelumnya pada Kamis (13/6), bintang bulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei mengumumkan pensiun dari olah raga tersebut karena penyakit kanker yang dideritanya.

Indonesia kirim tiga wakil di final bulu tangkis

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee Chong Wei umumkan gantung raket

Pemain bulutangkis Malaysia Lee Chong Wei mengusap air matanya saat konferensi pers untuk mengumumkan keputusannya gantung raket alias pensiun dari dunia bulutangkis yang membesarkan namanya di Putrajaya, Malaysia, Kamis (13/6/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Lai Seng Sin/aww.

Fajar/Rian gagal melaju ke babak dua Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto gagal melangkah ke babak dua turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan babak pertama yang berlangsung pada Rabu (5/6), berdasarkan laman resmi BWF, Fajar/Rian ditaklukkan oleh pasangan asal Korea Selatan Choi Solgyu/Seo Seung Jae dalam tiga gim yang berjalan selama 1 jam 3 menit dengan skor 21-17, 13-21, 19-21.

Dengan hasil tersebut, maka Fajar/Rian tidak dapat meneruskan ke babak dua turnamen bulu tangkis yang digelar mulai 4 hingga 9 Juni 2019 dengan total hadiah sebesar 150.000 dolar Amerika Serikat (AS) tersebut.

Selain Fajar/Rian, ada pula satu perwakilan ganda putra Tim Merah Putih yang terhenti di babak pertama, yaitu Akbar Bintang Cahyono/Moh Reza Pahlevi Isfahani yang dikalahkan oleh He Jiting/Tan Qiang dari Cina dalam tiga gim dengan skor 15-21, 21-18, 19-21.

Berbeda dengan Fajar/Rian maupun Akbar/Reza, tiga perwakilan Indonesia lainnya di sektor ganda putra, yakni Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso dan Berry Angriawan/Hardianto sukses meraih kemenangan.

Ahsan/Hendra berhasil mengalahkan pasangan Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi dalam dua gim dengan skor 21-18, 21-16. Kemudian, Wahyu/Ade menundukkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dari Korea Selatan dalam tiga gim dengan skor 21-18, 11-21, 21-17.

Sedangkan pasangan Berry/Hardianto sukses menumbangkan ganda campuran asal Chinese Taipei Lee Jhe-Huei/Yang Po-Hsuan dalam dua gim yang berlangsung selama 35 menit dengan skor 21-18, 21-15.

Selanjutnya di pertandingan babak dua yang akan dilaksanakan pada Kamis (6/6) besok, Ahsan/Hendra akan berhadapan dengan pasangan Chinese Taipei Lee Yang/Wang Chi-Lin.

Lalu, pasangan Wahyu/Ade melawan Choi Solgyu/Seo Seung Jae dari Korea Selatan dan Berry/Hardianto juga menghadapi ganda putra Korea Selatan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol.

Baca juga: BWF kembali munculkan wacana sistem skor 11 poin
 

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Greysia/Apriyani lolos ke babak dua Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu melangkah mulus ke babak dua turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam babak pertama yang berlangsung pada Rabu (5/6), Greysia/Apriyani mengalahkan pasangan asal Kanada Rachel Honderich/Kristen Tsai dalam dua gim yang berjalan selama 38 menit dengan skor 21-13, 21-14.

Dengan hasil tersebut, maka Greysia/Apriyani dapat melanjutkan ke babak dua turnamen bulu tangkis yang berlangsung mulai 4 hingga 9 Juni 2019 dengan total hadiah sebesar 150.000 dolar Amerika Serikat (AS) tersebut.

Selanjutnya di babak dua yang akan diselenggarakan pada Kamis (6/6) besok, Greysia/Apriyani akan berhadapan dengan pasangan asal Korea Selatan Baek Ha Na/Kim Hye Rin.

Berbeda dengan Greysia/Apriyani, tiga perwakilan Indonesia lainnya di sektor ganda putri, yakni Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta dan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti tidak berhasil membukukan kemenangan.

Yulfira/Jauza dikalahkan  pasangan asal Cina Du Yue/Li Yinhui dalam dua gim dengan skor 11-21, 8-21. Kemudian, Della/Rizki takluk di tangan ganda campuran asal Korea Selatan Kim So Yeong/Kong Hee Yong dengan skor 13-21, 11-21.

Sedangkan pasangan Agatha/Siti ditumbangkan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dari Jepang dalam dua gim yang berlangsung selama kurang lebih 36 menit dengan skor 7-21, 11-21, berdasarkan laman resmi BWF.

Baca juga: Eng Hian evaluasi tiga ganda putri jelang Olimpiade Tokyo 2020
 

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiga ganda campuran Indonesia lolos ke babak dua Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Tiga perwakilan Indonesia di sektor ganda campuran, melaju ke babak dua turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan babak pertama yang berlangsung pada Rabu (5/6), Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja sukses menumbangkan pasangan asal Chinese Taipei Yang Po-Hsuan/Hu Ling Fang dalam dua gim dengan skor 21-17, 21-16.

Sementara itu, dua perwakilan Tim Merah Putih lainnya, yaitu Akbar Bintang Cahyono/Annisa Saufika dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti telah lebih dulu merebut tiket kemenangan dalam pertandingan babak pertama yang berlangsung pada Selasa (4/6) kemarin.

Akbar/Annisa mengalahkan pasangan ganda campuran asal Chinese Taipei Lu Ching Yao/Lee Chia Hsin dalam tiga gim yang berjalan selama kurang lebih 50 menit dengan skor berturut-turut 21-19, 17-21, 21-17.

Sedangkan Praveen/Melati sukses menundukkan Kohei Gondo/Ayane Kurihara yang berasal dari Jepang dalam dua gim selama 35 menit dengan skor 23-21, 21-11, seperti dikutip Antara melalui laman resmi BWF.

Selanjutnya di babak dua, Hafiz/Gloria akan berhadapan dengan pasangan Hong Kong Chang Tak Ching/Ng Wing Yung, Akbar/Annisa melawan Chris Adcock/Gabrielle Adcock dari Inggris dan Praveen/Melati menghadapi ganda campuran asal Chinese Taipei Wang Chi Lin/Cheng Chi Ya.

Pertandingan babak dua turnamen bulu tangkis bernilai total sebesar 150.000 Dolar Amerika Serikat itu rencananya akan dilaksanakan pada Kamis (7/6) besok di Quaycentre, Sydney, Australia.

Baca juga: Greysia/Apriyani lolos ke babak dua Australia Open 2019
Baca juga: Tontowi/Winny terhenti di babak pertama Australia Open 2019

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua ganda campuran Indonesia melaju ke perempat final Australia Open

Jakarta (ANTARA) – Dua wakil Indonesia dari sektor ganda campuran, yakni Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti melaju ke perempat final turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan putaran kedua yang berlangsung Kamis, Hafiz/Gloria berhasil mengalahkan pasangan Hong Kong Chang Tak Ching/Ng Wing Yung dalam tiga gim selama 49 menit dengan skor 19-21, 21-7, 21-11, berdasarkan laman resmi BWF.

Kemenangan berikutnya diraih oleh Praveen/Melati usai mengalahkan pasangan asal Chinese Taipei Wang Chi-Lin/Cheng Chi Ya dalam tiga gim yang berjalan selama 43 menit dengan skor 21-18, 12-21, 21-11.

Namun sayangnya, dari tiga wakil sektor ganda campuran Indonesia yang berlaga di babak dua, ada satu pasangan yang tidak berhasil melanjutkan ke babak perempat final, yaitu Akbar Bintang Cahyono/Annisa Saufika.

Akbar/Annisa harus mengakui keunggulan pasangan asal Inggris Chris Adcock/Gabrielle Adcock seusai ditaklukkan dalam dua gim yang berlangsung selama 35 menit dan membuahkan skor 21-16, 21-14.

Selanjutnya pada perempat final, Hafiz/Gloria akan berhadapan dengan pasangan Hong Kong Tang Chun Man/Tse Ying Suet, sedangkan Praveen/Melati akan melawan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dari Malaysia.

Turnamen bulu tangkis bertajuk Crown Group Australia Open 2019 itu berlangsung mulai 4 hingga 9 Juni 2019 di Quaycentre, Sydney, Australia dengan total hadiah yang diperebutkan mencapai 150.000 Dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Tiga ganda campuran Indonesia lolos ke babak dua Australia Open 2019

Baca juga: Greysia/Apriyani lolos ke babak dua Australia Open 2019

Indonesia kirim tiga wakil di final bulu tangkis

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hendra/Ahsan terhenti di perempat final Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Langkah pasangan ganda putra Indonesia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan terhenti di babak perempat final turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan yang berlangsung pada Jumat (7/6), berdasarkan laman resmi BWF, pasangan Hendra/Ahsan ditaklukkan oleh pasangan asal Korea Selatan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dalam dua gim yang berjalan selama 31 menit dengan skor 15-21, 15-21.

Dengan hasil tersebut, maka ganda putra juara All England 2019 itu pun tidak dapat melanjutkan ke babak semifinal turnamen bulu tangkis yang digelar mulai 4 hingga 9 Juni 2019 dengan total hadiah sebesar 150.000 dolar AS tersebut.

Selain Hendra/Ahsan, ada pula satu perwakilan tim Merah Putih dari sektor ganda campuran yang terhenti di perempat final, yakni Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang dikalahkan oleh Tang Chun Man/Tse Ying Suet dari Hong Kong dalam dua gim dengan skor 20-22, 14-21.

Sementara itu, berbeda dengan Hendra/Ahsan maupun Hafiz/Gloria, dua perwakilan tim Garuda dari sektor tunggal putra berhasil meraih kemenangan dan melangkah ke babak semifinal, yaitu Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting.

Jonatan Christie atau yang lebih akrab disapa Jojo melaju ke semifinal usai mengalahkan pebulu tangkis asal Cina Lin Dan dalam dua gim yang berlangsung selama 46 menit dengan skor 21-9, 24-22.

Sedangkan Anthony menaklukkan rekan satu timnya Tommy Sugiarto dalam dua gim selama 14 menit. Pada gim pertama, Anthony unggul dengan skor 21-6. Namun pada gim kedua Tommy menyerah (retired) dan skor tetap 0-0.

Selanjutnya di babak semifinal yang akan dilaksanakan pada Sabtu (8/6), Jojo akan berhadapan dengan pemain Chinese Taipei Chou Tien Chen, dan Anthony juga menghadapi atlet asal Chinese Taipei Wang Tzu Wei.

Baca juga: Cerita Rian dan Annisa merayakan Lebaran saat Australia Open

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Greysia/Apriyani melaju ke semifinal Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu melaju ke babak semifinal Crown Group Australia Open 2019 setelah di babak perempat final mengalahkan pasangan asal Jepang, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara.

Melansir laman resmi BWF, bertanding di Quaycentre, Sydney, Australia, Jumat, ganda putri andalan Indonesia itu menang dua gim langsung 21-19, 21-18 dalam waktu 56 menit.

Pada semifinal yang berlangsung Sabtu (8/6), pasangan Greysia/Apriyani akan berhadapan dengan 
asal Cina Chen Qingchen/Jia Yifan,

Selain Greysia/Apriyani, ada pula satu wakil Tim Garuda dari sektor ganda campuran yang juga melangkah ke semifinal, yakni Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dari Malaysia dalam dua gim dengan skor 21-18, 21-20.

Akan tetapi, berbeda dengan Greysia/Apriyani dan Praveen/Melati, dua perwakilan Tim Merah Putih harus rela menerima kekalahan dan terhenti di babak perempat final, yaitu pasangan ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Baca juga: Hendra/Ahsan terhenti di perempat final Australia Open 2019

Hafiz/Gloria dikalahkan oleh pasangan Hong Kong Tang Chun Man/Tse Ying Suet dalam dua gim dengan skor 20-22, 14-21. Sedangkan Hendra/Ahsan ditaklukkan oleh Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dari Korea Selatan dalam dua gim dengan skor 15-21, 15-21.

Selanjutnya di babak semifinal, untuk pasangan Praveen/Melati akan melawan wakil Jepang, Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 di Quaycentre, Sydney, Australia, 4-9 Juni memperebutkan total hadiah 150.000 Dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Cerita Rian dan Annisa merayakan Lebaran saat Australia Open

Indonesia kirim tiga wakil di final bulu tangkis

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jojo dan Ginting pastikan gelar untuk Indonesia di Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Indonesia memastikan satu gelar juara turnamen bulu tangkis Australian Open 2019 melalui all Indonesian final antara Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.

Kedua pebulutangkis yang dikenal bersahabat itu berhasil merebut kemenangan pada babak semifinal
turnamen BWF World Tour Super 300 tersebut, di Quaycentre, Sydney, Australia, Sabtu.

Dari pantauan di laman bwfworldtour.bwfbadminton.com, Jonatan Christie atau biasa dipanggil Jojo, sukses menaklukkan unggulan pertama Chou Tien Chen melalui laga tiga gim, 22-20, 13-21, 21-16, dalam durasi 68 menit.

Jojo menyusul Ginting yang sebelumnya merebut tiket final usai mengalahkan wakil Taiwan lainnya, Wang Tzu Wei, Tzu Wei, 21-17, 21-14 dalam tempo 43 menit.

Ginting merebut tiket ke final sekaligus
memperbaiki catatan pertemuan dengan Wang Tzu Wei menjadi 4-2 untuk keunggulan pria asal Cimahi itu.

Sementara itu, kemenangan Jonatan atas Chou Tien Chen kali ini menjadi kemenangan revans setelah pada pertemuan terakhir mereka di ajang Piala Sudirman 2019, Mei lalu, Jonatan kalah telak 11-21, 13-21.

Agregat head-to-head antara Jojo dengan Chou pun kini semakin telak menjadi 6-1 untuk keunggulan Jonatan

Selain Jonatan dan Anthony, Indonesia juga berepeluang meraih gelar di nomor ganda campuran.

Pasangan Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti akan menantang wakil China, Wang Yilyu/Huang Dongping di final.

Praveen/Melati menjadi wakil memastikan diri ke partai puncak setelah menaklukkan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang) melalui rubber game, 21-13, 12-21, 21-17 dalam tempo 59 menit.

Sementara itu, satu tiket final lepas di sektor ganda putri usai kekalahan Greysia Polii/ Apriyani Rahayu dari wakil China, Chen Qingchen/Jia Yifan dalam laga tiga game dengan skor 13-21, 21-14, 18-21.

Baca juga: Hendra/Ahsan terhenti di perempat final Australia Open 2019

Baca juga: Cerita Rian dan Annisa merayakan Lebaran saat Australia Open

Jonatan Christie raih emas tunggal putra

Pewarta: Dadan Ramdani
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dijegal Chen/Jia, Greysia/Apriyani gagal ke final Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Langkah pasangan ganda putri unggulan Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu terhenti di babak semifinal turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan yang berlangsung pada Sabtu (8/6), Greysia/Apriyani ditaklukkan oleh pasangan asal Cina Chen Qingchen/Jia Yifan dalam tiga gim yang berjalan selama 1 jam 28 menit dengan skor 13-21, 21-14, 18-21, seperti dilansir melalui laman resmi BWF.

Dengan hasil tersebut, maka ganda putri juara India Open 2019 itu pun tidak dapat melanjutkan ke laga puncak turnamen bulu tangkis yang digelar mulai 4 hingga 9 Juni 2019 dengan total hadiah sebesar 150.000 dolar Amerika Serikat (AS) tersebut.

Berbeda dengan Greysia/Apriyani, tiga perwakilan Tim Merah Putih berhasil meraih kemenangan dan melangkah ke babak final, yaitu pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti serta dua tunggal putra, yaitu Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting.

Jonatan Christie atau yang lebih akrab disapa Jojo melaju ke babak final usai mengalahkan pebulutangkis asal Chinese Taipei Chou Tien Chen dalam tiga gim dengan skor 22-20, 13-21, 21-16.

Sama seperti Jojo, Anthony juga menaklukkan atlet Chinese Taipei Wang Tzu Wei dalam dua gim dengan skor 21-17, 21-14.

Sementara itu, Praveen/Melati menumbangkan pasangan asal Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino dalam tiga gim dengan perolehan 21-13, 12-21, 21-17.

Selanjutnya di babak final yang akan dilaksanakan pada Minggu (9/6) besok, Jojo berhadapan dengan rekan satu timnya Anthony Sinisuka Ginting, sedangkan Praveen/Melati menghadapi pasangan Cina Wang Yilyu/Huang Dongping.

Baca juga: Bermain lepas jadi kunci Greysia di Piala Sudirman

Baca juga: Kalahkan Malaysia, Greysia/Apriyani juara India Open 2019

Baca juga: Greysia/Apriyani lewati Della/Tania ke final India Open 2019

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Final Australia Open 2019, Praveen/Melati siap tampil maksimal

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti akan berupaya tampil secara maksimal saat pertandingan final Australia Open 2019 yang berlangsung pada Minggu (9/6) di Quaycentre, Sydney, Australia.

“Yang penting itu adalah dari penampilan kami, harus main semaksimal mungkin, all out saat pertandingan final besok,” kata Melati seperti dikutip Antara melalui laman badmintonindonesia.org, Sabtu.

Pada laga puncak turnamen bulu tangkis level Super 300 besok, Praveen/Melati akan berhadapan dengan pasangan asal Cina Wang Yilyu/Huang Dongping.

Menurut Melati, pasangan dari negeri tirai bambu itu merupakan lawan yang cukup berat. Permainannya pun dinilai sangat rapi, kuat dan keduanya jarang membuat kesalahan-kesalahan sendiri selama jalannya pertandingan.

“Di babak final, lawan yang dihadapi pasti lebih berat. Wang/Huang mainnya rapi. Mereka juga kuat dan jarang membuat kesalahan sendiri. Makanya, kami harus bisa tampil all out dan berusaha menikmati permainan,” ungkap Melati.

Sebelumnya di babak semifinal, Praveen/Melati sukses menaklukkan pasangan Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino dalam tiga gim yang berjalan selama 58 menit dengan perolehan 21-13, 12-21, 21-17.

Selain Praveen/Melati, dua perwakilan Tim Merah Putih dari sektor tunggal putra juga akan tampil di laga final turnamen bulu tangkis berhadiah total 150.000 Dolar Amerika Serikat tersebut, yaitu Jonatan Christie melawan Anthony Sinisuka Ginting.

Baca juga: Dijegal Chen/Jia, Greysia/Apriyani gagal ke final Australia Open 2019

Baca juga: Jojo dan Ginting pastikan gelar untuk Indonesia di Australia Open 2019

Baca juga: Hendra/Ahsan terhenti di perempat final Australia Open 2019

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalahkan Ginting di final, Jonatan Christie juara Australia Open

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie menjuarai turnamen bulu tangkis Australia Open pada Minggu usai mengalahkan rekan satu negaranya Anthony Sinisuka Ginting di final All Indonesia.

Jojo yang merupakan unggulan ketiga di turnamen membutuhkan waktu 1 jam 7 menit untuk meredam Ginting, sebagai unggulan kedua, dalam tiga gim 21-17 13-21 21-14, demikian laman resmi BWF, Minggu.

Hasil itu menjadi kemenangan ketiga Jojo melawan kompatriotnya dalam lima kali pertemuan.

Kemenangan itu juga menjadi gelar juara Jojo untuk kedua kali tahun ini setelah sebelumnya memenangi New Zealand Open pada Mei.

Dalam laga all Indonesia final tersebut, Jojo terlihat lebih siap. Dari pantauan melalui laman resmi turnanen, Jojo di set pertama langsung unggul 6-0.

Ginting yang terlambat panas kemudian berusa mengimbangi, tetapi hingga jeda set pertama, Jojo unggul 11-6.

Selepas jeda, Jonatan melanjutkan dominasinya atas Anthony dengan memetik poin demi poin hingga memimpin skor 14-8 dan 18-12.

Anthony lewat beberapa serangan kemudian menipiskan margin poin menjadi 16-18. Namun, Jojo kembali mengunci permainan Ginting dan menutup set pertama dengan skor 21-17.

Pada set kedua, giliran Ginting yang   lebih dulu unggul 3-0 pada awal gim kedua. Jojo kemudian berusaha mengimbangi. 

Pertandingan sempat berlangsung sengit hingga jeda. Namun permainan menyerang Ginting setelah itu tak bisa dibendung hingga menutup set kedua dengan selisih delapan poin dengan skor 21-13.

Memasuki set ketiga, Ginting sempat unggul 2-0 dan 3-1 sebelum Jojo bisa menyamakan skor menjadi 3-3 dan Jojo unggul 11-8 saat interval

Selepas jeda, Jojo memetik empat poin beruntun untuk memperlebar margin skor menjadi 15-8. Ginting mencoba memberikan perlawanan, tapi laju poin Jojo tak terbendung. 

Sebuah smes lurus Jojo ke arah kanan lapangan Anthony akhirnya menutup set ketiga dengan skor 21-14 sekaligus memastikan Jojo sebagai juara Australian Open 2019.

Sementara itu wakil Indonesia lainnya di final, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviati harus mengakui ganda campuran unggulan pertama China Wang Yilyu/Huang Dongping dan menyerah dalam dua gim 15-21 8-21 dalam waktu 35 menit.

Baca juga: Jojo dan Ginting pastikan gelar untuk Indonesia di Australia Open 2019
Baca juga: Final Australia Open 2019, Praveen/Melati siap tampil maksimal
Baca juga: Cerita Rian dan Annisa merayakan Lebaran saat Australia Open

Jonatan Christie raih emas tunggal putra

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Juara Australia Open, selanjutnya Jojo fokus hadapi Indonesia Open

Jakarta (ANTARA) – Kemenangan Jonatan Christie di ajang Australia Open 2019 membuat tunggal putra Indonesia itu semakin percaya diri menghadapi turnamen selanjutnya, paling dekat yaitu Indonesia Open pada bulan Juli nanti.

Pebulu tangkis yang akrab disapa Jojo itu mengalahkan rekan satu negaranya, Anthony Sinisuka Ginting di final All Indonesia pada Minggu dalam tiga gim 21-17 13-21 21-14 selama satu jam tujuh menit.

Baca juga: Kalahkan Ginting di final, Jonatan Christie juara Australia Open

Meskipun pertemuan sesama pemain Indonesia, namun duel Jonatan dan Anthony berlangsung panjang hingga rubber game. Keduanya memang telah mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing karena sering berlatih bersama di Pelatnas Cipayung.

“Kami sudah sama-sama tahu permainan masing-masing. Saya pribadi merasa tadi fighting spiritnya, semangatnya, tidak mau kalah. Kedua, fokusnya, bagaimana diterapkan ke permainan,” kata Jonatan kepada Badmintonindonesia.org.

“Di game kedua, saya sempat leading tapi Anthony lebih berani membalikan keadaan, bisa naikin mood-nya, dan tetap semangat. Saya di game kedua sudah leading tapi kendor, makanya nggak mau kejadian lagi di game ketiga, jadi dari semangatnya dulu ditingkatkan lagi di awal game ketiga,” sebut Jonatan.

“Mungkin kali ini rezeki saya, yang berlalu biar berlalu, sekarang saya fokus ke depannya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi di depan ada Indonesia Open sebulan lagi,” ujar pemain jebolan klub Tangkas Intiland ini.

Gelar ini merupakan gelar kedua untuknya tahun ini setelah New Zealand Open 2019 Super 300.

Setelah hanya diturunkan satu kali dalam turnamen Piala Sudirman 2019, itu pun kalah dari tunggal putra Taiwan Chou Tien Chen di babak perempat final, Jojo mendapati performanya sedang naik di Australia.

“Saya berharap bisa lebih enjoy lagi mainnya, bisa menikmati setiap pertandingan saya. Kuncinya adalah percaya, just believe. Percaya dengan apapun yang sudah kita lakukan, percaya dengan apa yang akan kita lakukan dan percaya dengan yang sedang kita lakukan saat ini. Ini maknanya besar sekali untuk saya,” ungkap Jonatan.

Baca juga: Cerita Rian dan Annisa merayakan Lebaran saat Australia Open
Baca juga: Jonatan Christie juara tunggal putra New Zealand Open 2019

Jonatan Christie raih emas tunggal putra

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ranking BWF, Jojo bertukar tempat dengan Ginting

Jakarta (ANTARA) – Sukses tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, menjuarai Australia Open akhir pekan lalu ikut menaikkan peringkat BWF pemain yang akrab disapa Jojo itu.

Jojo kini menjadi tunggal putra Indonesia berperingkat tertinggi menggeser Anthony Sinisuka Ginting yang dikalahkan Jojo di final Australia Terbuka 21-17, 13-21, dan 21-14 akhir pekan lalu

Dalam daftar ranking terbaru BWF yang dirilis Selasa malam, Jonatan menempati peringkat ketujuh atau naik satu peringkat dibanding pekan lalu. Ini menjadi ranking terbaik Jonatan sepanjang kariernya di kancah bulutangkis dunia.

Sementara itu, Anthony yang menjadi runner up di Australia Terbuka harus rela bertukar tempat dengan Jojo, rival sekaligus sahabat kentalnya itu.

Ginting tergelincir satu peringkat ke posisi kedelapan atau persis satu strip di bawah Jojo.

Selain pertukaran posisi Jojo dan Ginting, secara umum tidak ada perubahan berarti dari peringkat BWF para pemain Indonesia usai Australia terbuka, mengingat turnamen berhadiah 150 ribu dolar AS tersebut hanya level menengah.

Berikut ranking BWF yang dirilis Selasa malam:

Tunggal Putra:

1. Kento Momota (Jepang) 111.118 poin

2. Shi Yu Qi (China) 90.661 poin

3. Viktor Axelsen (Denmark) 79.438 poin

4. Chou Tien Chen (Chinese Taipei) 79.118 poin

5. Chen Long (China) 75.840 poin

6. Son Wan-ho (Korsel) 67.910 poin

7. Jonatan Christie (Indonesia) 66.188 poin

8. Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia) 66.012 poin

9. Kidambi Srikanth (India) 63.140 poin

10. Kenta Nishimoto (Jepang) 58.533 poin

14. Tommy Sugiarto (Indonesia) 54.690 poin

41. Shesar Hiren Rhustavito (Indonesia) 32.694 poin

44. Firman Abdul Kholik (Indonesia) 30.880 poin

46. Ihsan Maulana Mustofa (Indonesia) 30.548 poin

Tunggal Putri

1. Tai Tzu Ying (Chinese Taipei) 96.625 poin

2. Chen Yu Fei (China) 90.365 poin

3. Nozomi Okuhara (Jepang) 90.336 poin

4. Akane Yamaguchi (Jepang) 86.730 poin

5. Pusarla V. Sindhu (India) 78.784 poin

6. He Bing Jiao (China) 75.920 poin

7. Ratchanok Intanon (Thailand) 73.085 poin

8. Carolina Marin (Spanyol) 70.000 poin

9. Saina Nehwal (India) 69.017 poin

10. Sung Ji-hyun (Korsel) 58.870 poin

14. Gregoria Mariska Tunjung (Indonesia) 52.110 poin

30. Fitriani (Indonesia) 38.614 poin

38. Ruselli Hartawan (Indonesia) 32.450 poin

43. Lyanny Alessandra Mainaky (Indonesia) 29.310 poin.

Ganda Putra:

1. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (Indonesia) 102.153 poin

2. Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) 85.473 poin

3. Li Jun Hui/Liu Yu Chen (China) 84.910 poin

4. Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan (Indonesia) 76.457 poin

5. Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe (Jepang) 71.573 poin

6. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia) 70.515 poin

7. Han Cheng Kai/Zhou Hao Dong (China) 69.657 poin

8. Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark) 66.159 poin

9. Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin (Chinese Taipei) 61.520 poin

10. Liao Min Chun/Su Ching Heng (Chinese Taipei) 58.346 poin

27. Berry Angriawan/Hardianto (Indonesia) 42.320 poin

28. Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso (Indonesia) 41.350 poin

45. Akbar Bintang Cahyono/Moh Reza Pahlevi Isfahan (Indonesia) 29.280 poin

48. Sabar Karyaman Gutama/Frengky Wijaya Putra (Indonesia) 28.261 poin

Ganda Putri:

1. Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang) 99.733 poin

2. Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) 96.452 poin

3. Misaki Martsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang) 89.972 poin

4. Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China) 88.810 poin

5. Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Indonesia) 81.995 poin

6. Lee So-hee/Shin Seung-chan (Korsel) 69.330 poin

7. Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang) 66.250 poin

8. Du Yue/Li Yin Hui (China) 65.799 poin

9. Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand) 63.207 poin

10. Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria) 61.900 poin

17. Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta (Indonesia) 46.613 poin

19. Ni Ketut Mahadewi Istarani/IRizki Amelia Pradipta (Indonesia) 44.706 poin

29. Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto (Indonesia) 37.700 poin

37. Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti (Indonesia) 32.260 poin

Ganda Campuran:

1. Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China) 114.102 poin

2. Wang Yilyu/Huang Dong Ping (China) 95.262 poin

3. Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang) 81.493 poin

4. Dechapol Puvaranukroh/Sapsiree Taerattanacha (Thailand) 77.933 poin

5. Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) 71.590 poin

6. Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja (Indonesia) 62.871 poin

7. Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (Indonesia) 61.427 poin

8. Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong) 59.416 poin

9. Seo Seung-jae/Chae Yu-jung (Korea Selatan) 58.338 poin

10. Chris Adcock/Gabrielle Adcock (Inggris) 57.242 poin

19. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (Indonesia) 44.320 poin

27. Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami (Indonesia) 37.130 poin

29. Ronald/Annisa Saufika (Indonesia) 36.070 poin

39. Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow (Indonesia) 30.775 poin

Jonathan-Ginting melaju ke semifinal

Pewarta: Dadan Ramdani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pecinta bulu tangkis serbu tiket Blibli Indonesia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Panitia Pelaksana Blibli Indonesia Open 2019 mengatakan para pecinta bulu tangkis secara antusias menyerbu tiket presale turnamen Blibli Indonesia Open 2019 sejak hari pertama penjualan, yakni pada Selasa (10/6) kemarin.

“Memang ini agak di luar dugaan walau dengan harga relatif sedikit lebih tinggi, tapi kelihatannya daya tarik Indonesia Open itu menjadi sesuatu yang luar biasa buat para penggemar bulu tangkis,” kata Ketua Panitia Pelaksana Blibli Indonesia Open 2019 Achmad Budiharto melalui siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Menurut pria yang lebih akrab disapa Budi itu, tiket presale turnamen bulu tangkis level Super 1000 kebanggaan Indonesia yang dijual melalui dua situs, yakni blibli.com dan tiket.com itu ludes terjual dalam waktu singkat.

“Pada hari pertama penjualan tiket, di blibli.com dalam waktu satu jam langsung sold out. Di Tiket.com malah lebih ekstrim lagi karena memang jumlahnya lebih sedikit, dalam waktu tujuh menit langsung sold out,” ujar Budi.

Lebih lanjut, Budi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PP PBSI itu menuturkan pihaknya akan melakukan review pada 17 Juni 2019 mengenai rencana penambahan tiket untuk kemudian dijual secara daring.

“Calon penonton jangan khawatir, karena kami juga akan melakukan penjualan tiket on the spot, walaupun jumlahnya terbatas. Jangan putus asa kalau tidak dapat tiket online, bisa datang lebih awal di hari H untuk mengantre,” tutur Budi.

Akan tetapi, dia mengungkapkan, perlu diketahui bahwa sistem antrean pembelian tiket on the spot tidak bisa diwakilkan. Satu orang hanya bisa membeli satu tiket saja. Aturan tersebut diberlakukan untuk menghindari jatuhnya tiket ke tangan calo.

Di sisi lain dia menambahkan, turnamen Blibli Indonesia Open 2019 itu bukan hanya diramaikan oleh sederet pemain bulu tangkis dunia, tetapi juga sekaligus dikemas dengan mengusung konsep olahraga dan hiburan atau sportainment.

“Sebetulnya tidak ada yang baru di penyelenggaraan tahun ini. Indonesia Open ini tiap diadakan selalu mengusung konsep sportainment, sehingga dapat menjadi hiburan bagi masyarakat dan keluarga. Apalagi tahun ini setting hiburan outdoor akan lebih diperbanyak,” tambah Budi.

Blibli Indonesia Open 2019 akan diselenggarakan mulai 16 hingga 21 Juli 2019 di Istora Senayan, Jakarta dengan total hadiah yang diperebutkan oleh para pemain mencapai 1,250 juta Dollar Amerika Serikat.

Mereka yang akan tampil dalam turnamen tersebut, antara lain Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Kento Momota (Jepang), Tai Tzu Ying (Chinese Taipei), Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), Zheng Siwei/Huang Yaqiong (Cina) dan masih banyak lagi.

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee Chong Wei gantung raket

Keputusan saya untuk pensiun adalah keputusan yang berat

Jakarta (ANTARA) – Bintang bulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei mengumumkan pensiun dari olah raga tersebut

Dikutip dari AFP, Kamis, mantan pemain nomor satu dunia yang terkena kanker itu mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis, mengakhiri karir yang cemerlang di mana ia mengumpulkan banyak penghargaan tetapi tidak pernah memenangi juara dunia atau Olimpiade.

“Keputusan saya untuk pensiun adalah keputusan yang berat. Saya sangat menyukai olahraga ini. Tetapi ini adalah olahraga yang menuntut. Saya berterima kasih kepada semua warga Malaysia selama 19 tahun terakhir,” kata Lee, Chong Wei (36), yang berlinang air mata, pada konferensi pers.

Pebulu tangkis kelahiran 21 Oktober 1982 itu menempati peringkat satu dunia selama total 348 minggu, sebelum sakit membuat peringkatnya menurun drastik hingga saat ini 191.

Sepanjang karirnya ia mengumpulkan tiga medali perak Olimpiade pada 2008, 2012, dan 2016, dan tiga kali menjadi runner-up pada Kejuaraan Dunia (2011, 2013, 2015).

Baca juga: Lee Chong Wei bercerita pengalaman Ramadhan

Baca juga: Sembuh dari kanker, Lee ingin kembali tampil

Baca juga: Lee Chong Wei absen di Asian Games dan Kejuaraan Dunia, kenapa ya?

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lee Chong Wei akan nikmati waktu bersama keluarga

Jakarta (ANTARA) – Bintang bulu tangkis Malaysia Lee Chong Wei mengatakan akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga setelah pensiun.

Dikutip dari AFP, Kamis, peraih tiga medali perak Olimpiade itu mengatakan, ia sekarang akan beristirahat dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Ia bahkan akan mengajak istrinya, yang juga mantan bintang bulu tangkis Malaysia, Wong Mew Choo, untuk berbulan madu. Perjalanan yang tertunda sejak mereka menikah pada 2012.

Saat ini mereka sudah dikaruniai dua anak.

Lee Chong Wei mengumumkan pensiun dari bulu tangkis, Kamis, mengakhiri karirnya yang cemerlang, meskipun ia belum pernah menjuarai Olimpiade maupun Kejuaraan Dunia.

“Keputusan saya untuk pensiun, adalah keputusan berat. Saya sangat mencintai olahraga ini. Namun ini aladah olahraga yang menuntut. Saya berterima kasih kepada semua warga Malaysia selama 19 tahun terakhir,” kata Lee (36), yang berlinang air mata, pada konferensi pers tersebut.

Lee, ayah dua anak itu didiagnosa kanker hidung tahap awal tahun lalu dan setelah menjalani pengobatan intensif di Taiwan, mengatakan ia ingin bermain lagi.

Namun ia tidak berlatih sejak April dan setelah kehilangan serangkaian tenggat waktu yang ditentukannya sendiri untuk kembali berkompetisi, harapannya untuk bisa mengikuti Olimpiade tahun depan pun semakin jauh.

Baca juga: Lee Chong Wei gantung raket
Baca juga: Lee Chong Wei bercerita pengalaman Ramadhan
Baca juga: Sembuh dari kanker, Lee ingin kembali tampil

Indonesia kirim tiga wakil di final bulu tangkis

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tontowi/Winny terhenti di babak pertama Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow gagal melangkah ke babak dua turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia.

Dalam pertandingan babak pertama yang berlangsung pada Selasa (4/6), Tontowi/Winny ditaklukkan oleh pasangan asal Hong Kong Chang Tak Ching/Ng Wing Yung dalam dua gim yang berjalan selama 36 menit dengan skor 19-21, 20-22.

Dengan hasil tersebut, maka Tontowi/Winny tidak dapat melanjutkan ke babak dua turnamen bulu tangkis yang berlangsung mulai 4 hingga 9 Juni 2019 dengan total hadiah sebesar 150.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, berbeda dengan Tontowi/Winny, dua perwakilan Indonesia lainnya di sektor ganda campuran, yakni Akbar Bintang Cahyono/Annisa Saufika dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti berhasil meraih kemenangan.

Akbar/Annisa berhasil mengalahkan pasangan ganda campuran asal Chinese Taipei Lu Ching Yao/Lee Chia Hsin dalam tiga gim yang berjalan selama kurang lebih 50 menit dengan skor berturut-turut 21-19, 17-21, 21-17.

Sedangkan Praveen/Melati sukses menumbangkan Kohei Gondo/Ayane Kurihara yang berasal dari Jepang dalam dua gim selama 35 menit dengan skor 23-21, 21-11, berdasarkan laman resmi BWF.

Pada Rabu (5/6) besok, masih ada satu pasangan ganda campuran Indonesia yang akan berlaga di babak pertama, yaitu Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja berhadapan dengan Yang Po-Hsuan/Hu Ling Pang asal Chinese Taipei.

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua tunggal putri Indonesia lolos ke babak dua Australia Open 2019

Jakarta (ANTARA) – Dua pemain Indonesia dari sektor tunggal putri berhasil melangkah ke babak kedua turnamen bulu tangkis Crown Group Australia Open 2019 yang diselenggarakan di Quaycentre, Sydney, Australia pada Selasa (4/6).

Pemain pertama Tim Merah Putih yang lolos ke babak dua, yaitu Choirunnisa yang sukses menaklukkan lawan asal Chinese Taipei Sung Shuo Yun dalam pertandingan yang berlangsung selama 23 menit dengan skor 21-11, 21-12.

Kemenangan berikutnya diraih oleh Yulia Yosephin Susanto usai mengalahkan pebulu tangkis asal Chinese Taipei Chiang Ying Li dalam dua gim yang berjalan selama 44 menit dengan skor 21-17, 21-19.

Selanjutnya di babak dua, berdasarkan laman resmi BWF, Choirunnisa akan berhadapan dengan Pusarla V Sindhu dari India, sedangkan Yulia akan melawan pebulu tangkis asal Hong Kong Cheung Ngan Yi.

Sementara itu, pada Rabu (5/6), masih ada empat perwakilan tunggal putri Indonesia yang akan berlaga, yaitu Lyanny Alessandra Mainaky melawan Busanan Ongbamrungphan asal Thailand dan Ruselli Hartawan menghadapi atlet Jepang Aya Ohori.

Kemudian, Gregoria Mariska Tunjung yang akan berhadapan dengan Michelle Li dari Kanada serta Fitriani melawan pebulu tangkis asal Cina Zhang Yiman.

Turnamen bulu tangkis bertajuk Crown Group Australia Open 2019 berlangsung mulai 4 hingga 9 Juni 2019 di Quaycentre, Sydney, Australia dengan total hadiah yang diperebutkan mencapai 150.000 Dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Tontowi/Winny terhenti di babak pertama Australia Open 2019

Kapal AL Australia sandar di pelabuhan Makassar

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Praveen sudah ada firasat turun di partai penentu lawan Taiwan

Nanning, China (ANTARA) – Praveen Jordan mengaku sudah memiliki firasat jika dia dan Melati Daeva Oktavianti harus turun di partai kelima sebagai penentu babak perempat-final melawan Taiwan di Piala Sudirman 2019, Jumat.

“Ketika tahu tertinggal 1-2 nih, padahal pengennya menang 3-0. Tapi kalau 3-0 sejarah saya dengan Meli tidak akan ada,” ungkap Praveen usai mengalahkan ganda campuran Taiwan Wang Chi-Lin/Hsieh Pei Shan.

“Hanya saja setelah kak Greysia dan Apriyani menang, kok saya malah gugup… ada gugupnya tapi berani juga,” kata Praveen.

Pasangan ganda putri Indonesia itu menyamakan kedudukan 2-2 di partai keempat sehingga Praveen/Melati menjadi senjata pamungkas Indonesia dan dalam waktu 50 menit mampu meredam pasangan Taiwan 21-17 21-15.

Praveen/Melati tampil lebih percaya diri di pertandingan keduanya di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China itu. Justru pasangan Taiwan yang gugup dan kehilangan banyak poin berharga karena pengembalian bola yang kurang matang berkat bola-bola sulit dari Praveen/Melati.

“Kami memang lebih siap dari hari pertama, tapi semuanya bisa terjadi,” ungkap Praveen.

Salah satu hal yang mendukung ketenangan permainan Praveen/Melati adalah mengesampingkan semua beban di partai penentu itu.

“Ada sedikit tegang karena ini penentu. Mereka juga pasti sama. Tapi kami tak pikirkan itu, kami berusaha main semaksimal mungkin dan sebisa mungkin menang,” timpal Melati.

Dengan kemenangan itu, Indonesia akan menghadapi Jepang, yang mengalahkan Malaysia 3-0 di pertandingan babak perempat-final lainnya di hari yang sama.

Baca juga:Lolos ke semifinal, ini evaluasi bagi tim Indonesia

Baca juga:Bermain tertekan, Jojo tak berdaya melawan Chou Tien Chen

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jepang merata di semua lini, Indonesia coba bermain lepas di semifinal

Kita tidak perlu lihat di atas kertas atau head to head seperti apa. Semua bisa terjadi di lapangan

Nanning, China (ANTARA) – Indonesia menatap ujian berat namun akan mencoba bermain lebih lepas ketika menghadapi tim unggulan Jepang di laga semifinal bulu tangkis Piala Sudirman 2019, Sabtu.

Kepada bidang pembinaan dan prestasi PB PBSI Susi Susanti sadar jika sang lawan dari Asia Timur itu memiliki kekuatan yang merata di semua sektor.

“Kita tidak perlu lihat di atas kertas atau head to head seperti apa. Semua bisa terjadi di lapangan. Itu yang kita tekankan, bahwa semangat berjuang, kerja keras di lapangan itu yang harus dijalankan untuk besok. Apa pun hasilnya,” kata Susi usai kemenangan Indonesia atas Taiwan di perempat-final.

Indonesia akan mengandalkan sektor ganda putra untuk mencuri poin lewat duo Kevin/Marcus atau Hendra/Ahsan, keduanya belum terkalahkan di Piala Sudirman 2019.

Minions mempunyai kesempatan untuk membalas dendam jika bertemu kembali dengan Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, yang membantai pasangan Indonesia itu 21-18 21-3 ketika final Badminton Asia Championships 2019 di China.

Di kubu Jepang, Takeshi Kamura/Keiko Sonoda juga memiliki musim yang baik usai menjadi juara Singapore Open selain sejumlah penampilan konsisten lolos final tiga kali dari empat turnamen terakhir, juga semifinal dari All England dan kejuaraan bulu tangkis Asia.

Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, yang menjuarai kejuaraan bulu tangkis Asia beberapa pekan lalu juga Yonex German Open awal tahun ini akan siap mengawal ganda putra Jepang.

“Di ganda putra kita ramai lah,” ungkap Susi.

Baca juga: Lolos ke semifinal, ini evaluasi bagi tim Indonesia

Namun di sektor ganda putri, Susi mengakui itu menjadi salah satu kelemahan Indonesia.

Nozomi Okuhara dan Akane Yamaguchi akan menjadi pagar yang harus dihadapi oleh Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani.

“Kita enggak tahu apa Nozomi atau Yamaguchi. Akane itu juga pernah cukup ramai mainnya bahkan kalau kita lihat Jorji pernah kalahan satu kali.”

Greysia Polii/Apriyani Rahayu akan menjadi tumpuan di sektor ganda putri, sedangkan Jepang memiliki pilihan tiga pasang ganda putri terbaik mereka.

Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara sebagai peringkat 1 dunia akan memimpin sektor itu, diikuti oleh Yuku Fukushima/Sayaka Hirota, yang tampil konsisten dengan lima semi-final di enam turnamen terakhir.

Kemudian terakhir ada juara Olimpiade Misako/Matsutomo/Ayaka Takahashi.

“Ganda putri memang secara head to head kita lebih banyak kalah. Tapi di pertandingan kali ini kita belum tahu dengan performa Grace/Apri juga sedang mulai naik, tak terkalahkan dari awal. Mudah-mudahan menambah kepercayaan diri, tambah berani,” ungkap Susi.

Di Nanning, Indonesia mendapati pasangan ganda campuran mereka Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti sedang bersemangat setelah menjadi penentu kemenangan mereka atas Taiwan di perempat-final.

“Paling tidak kepercayaan diri juga sedang naik, mudah-mudahan bisa tampil bukan hanya baik tapi bisa lebih baik lagi untuk besok.”

Sementara Yuta Watanabe/Arisa Higashino akan selalu siap memimpin sektor ganda campuran Jepang.

Baca juga: Praveen sudah ada firasat turun di partai penentu lawan Taiwan

Di saat Jepang memiliki Kento Momota, juara dunia dan mempersembahkan Thomas Cup (2014), yang terbukti menemukan kesuksesan baik di ajang individu maupun tim, Indonesia justru menemui tunggal putra andalan mereka, Jonathan Christie, berada tampil di bawah performa di Piala Sudirman tahun ini.

Jojo, yang diturunkan pertama kali di turnamen itu, tampil gugup dan berada di bawah tekanan ketika kalah dari Chou Tien Chen di perempat final.

Sementara Anthony Sinisuka Ginting, memastikan kemenangan Indonesia atas Inggris di babak penyisihan Grup 1B dengan menyingkirkan Toby Penty, namun cukup mampu meladeni praktisnya permainan Viktor Axelsen walaupun akhirnya harus tunduk di tangan tunggal putra Denmark itu.

“Buat kita sendiri pokoknya bermain lepas saja…berusaha raih poin per poin, pokoknya ketat. Kita tidak tahu hasilnya seperti apa. Di setiap pertandingan kita maunya lawan dulu saja, kita ingin bertarung dengan semuanya,” pungkas Susi.

Laga semifinal Indonesia melawan Jepang akan digelar Guangxi Sports Center Gymnasium pada Sabtu pukul 18:00 waktu setempat (17:00 WIB), sementara laga semifinal lain antara China dan Thailand akan berlangsung pada pukul 11:00 atau 10:00 WIB.

Baca juga: Bermain tertekan, Jojo tak berdaya melawan Chou Tien Chen

Baca juga: Pratinjau – Statistik Piala Sudirman 2019

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Formasi pemain laga semifinal Indonesia vs Jepang

Nanning, China (ANTARA) – Indonesia dan Jepang telah menurunkan formasi pemainnya untuk laga semifinal Piala Sudirman 2019 di Nanning, China, Sabtu sore.

Dilansir laman resmi BWF, ganda putra peringkat 1 dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo akan turun di partai pembuka melawan ganda putra peringkat 2 Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

Kedua pasangan itu pernah bertemu 13 kali dengan rekor 8 kemenangan bagi ganda putra Indonesia.

Setelah itu, di partai tunggal putri, Gregoria Mariska Tunjung (15) akan kembali mencoba peruntungannya ketika berhadapan dengan Akane Yamaguchi (4), yang pernah dia kalahkan ketika di Asian Games 2018. Namun di dua turnamen terakhir, tunggal putri Jepang itu tercatat mampu membungkam permainan Jorji.

Di partai tunggal putra, Indonesia menurunkan Anthony Sinisuka Ginting (7) setelah mendapati Jonathan Christie tampil di bawah performa di perempat-final lawan Taiwan.

Ginting akan menantang peringkat 1 Kento Momota yang memiliki rekor kemenangan 7-3 atas tunggal putra Indonesia itu.

Di partai keempat, Indonesia akan bertumpu kepada Greysia Polii/Apriyani Rahayu (5) ketika Jepang menurunkan pasangan nomor wahid mereka Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara.

Greysia/Apriyani belum pernah menang lawan ganda putri Jepang dalam dua kali pertemuan mereka.

Sementara Praveen Jordan/Melati Daeve Oktavianti (7) berangkat ke semifinal dengan moral yang tinggi usai menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Taiwan.

Jika skor laga Indonesia melawan Taiwan terulang, Praveen/Melati akan menjadi skenario terakhir Indonesia untuk lolos ke final namun terlebih dulu harus melewati ganda campuran peringkat 3 Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Kepada bidang pembinaan dan prestasi PB PBSI Susy Susanti sadar jika sang lawan dari Asia Timur itu memiliki kekuatan yang merata di semua sektor.

“Kita tidak perlu lihat di atas kertas atau head to head seperti apa. Semua bisa terjadi di lapangan. Itu yang kita tekankan, bahwa semangat berjuang, kerja keras di lapangan itu yang harus dijalankan.”

Baca juga: Jepang merata di semua lini, Indonesia coba bermain lepas di semifinal

Baca juga: Lolos ke semifinal, ini evaluasi bagi tim Indonesia

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

China menunggu di final

Nanning, China (ANTARA) – Tim bulu tangkis China lolos ke final Piala Sudirman 2019 setelah mengalahkan Thailand 3-0 pada Sabtu siang.

China akan menunggu pemenang laga semifinal antara Indonesia dan Jepang pada sore harinya.

Ganda putri China Li Junhui/Liu Yuchen mengunci kemenangan bagi China setelah dalam waktu 44 menit menyingkirkan Tinn Isriyanet/Kittinupon Kedren 21-14, 21-17 pada partai ketiga.

Dua poin dari China datang dari ganda campuran di laga pembuka. Zheng Siwei/Huang Yaqiong menang mudah 21-18, 21-17 dari pasangan Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dalam pertandingan selama 39 menit.

Tunggal putra peringkat dua China Shi Yuqi juga masih terlalu tangguh bagi Kathaphon Wangcharoen (18) yang menyudahi perlawanan peringkat 18 dari Thailand itu 21-14, 21-17 dalam waktu 44 menit.

Laga final Piala Sudirman 2019 akan digelar Minggu, pukul 13:00 atau 12:00 WIB

Baca juga: Formasi pemain laga semifinal Indonesia vs Jepang

Baca juga: Jepang merata di semua lini, Indonesia coba bermain lepas di semifinal

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Marcus/Kevin buka keunggulan Indonesia atas 1-0

Nanning, China (ANTARA) – Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menyumbangkan poin pertama bagi Indonesia dengan mengalahkan pasangan Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda di babak semifinal Piala Sudirman 2019, di Nanning, China, Sabtu.

Ganda putra peringkat satu dari Indonesia itu mengalahkan peringkat dua dari Jepang dalam dua gim langsung 21-14, 21-18 dalam waktu 43 menit di Guangxi Sports Center Gymnasium.

Marcus/Kevin langsung tancap gas di gim pertama dengan bola-bola bawah yang terbukti efektif mencuri poin dari pasangan Jepang.

Gim kedua menciptakan peluang poin bagi kedua pasangan yang lebih memilih bermain di depan net. Di paruh terakhir gim kedua, Minions melancarkan serangan lewat smes-smes keras dan ketika match poin, challenge Kevin/Marcus sukses untuk mengunci kemenangan dengan selisih tiga poin.

Baca juga: Formasi pemain laga semifinal Indonesia vs Jepang

Baca juga: China menunggu di final
 

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minions akui masuk partai pembuka usung tekad wajib menang

Nanning, China (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo mengungkapkan jika mereka diberi kewajiban untuk membuka kran poin bagi Indonesia dalam laga semifinal melawan Jepang di Piala Sudirman 2019.

Ganda putra peringkat satu dunia itu mengalahkan peringkat dua dari Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dalam dua gim langsung 21-14 21-18 dalam waktu 43 menit di Guangxi Sports Center Gymnasium, Sabtu.

“Kita target wajib menang. Senang bisa menyumbang satu poin bagi Indonesia,” kata Marcus usai laga.

Pasangan yang akrab disapa “Minions” itu langsung tancap gas di gim pertama dengan bola-bola bawah yang terbukti efektif mencuri poin dari pasangan Jepang.

Gim kedua menciptakan peluang poin bagi kedua pasangan yang lebih memilih bermain di depan net. Di paruh terakhir gim kedua, Minions melancarkan serangan lewat smash-smash keras dan ketika match poin, challenge Marcus/Kevin sukses untuk mengunci kemenangan dengan selisih tiga poin.

“Kami lebih siap dari start awal…kami sudah tahu kekurangan masing-masing,” kata Kevin.

Sementara itu di samping lapangan ada sang pelatih Herry Iman Pierngadi yang didampingi pelatih tunggal putri Rionny Frederik Mainaky.

Kevin mengungkapkan tak ada strategi khusus yang diberikan ketika menghadapi pasangan Jepang.

“Tidak ada strategi khusus. Paling kami harus lebih sabar, jangan buru-buru matiin lawan,” Kevin.

Baca juga: Marcus/Kevin buka keunggulan Indonesia atas 1-0

Baca juga: China menunggu di final

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jepang samakan kedudukan atas Indonesia 1-1

Nanning, China (ANTARA) – Jepang menyamakan kedudukan 1-1 melawan Indonesia pada semifinal Piala Sudirman 2019 ketika Akane Yamaguchi mengalahkan Gregoria Mariska Tunjung di partai kedua, Sabtu.

Peringkat empat dunia asal Jepang itu membutuhkan waktu 34 menit untuk menumbangkan peringkat 15 asal Indonesia dalam dua gim 21-13, 21-13

Lagi-lagi Gregoria harus jatuh bangun di Guangxi Sports Center Gymnasium. Jorji baru panas setelah Yamaguchi sudah unggul enam poin di awal gim pertama. Namun, lawannya asal Jepang itu masih terlalu tangguh bagi tunggal putri Indonesia, yang pernah mengalahkannya pada Asian Games 2018 lalu.

Di gim kedua, perubahan permainan mampu membawa Jorji unggul di awal, menciptakan sejumlah peluang dari kesalahan Yamaguchi dalam pengembalian bola.

Tak lama, Yamaguchi tampaknya melihat kelemahan Jorji dalam mengatasi pukulan backhand di depan net juga bola-bola silang untuk mencuri poin.

Jorji juga kehilangan sejumlah poin berharga berkat bola-bola mati dari pengembalian yang kurang matang.

Bola out dari Jorji menutup gim kedua untuk kemenangan Yamaguchi.

Baca juga: Marcus/Kevin buka keunggulan Indonesia atas 1-0

Baca juga: Minions akui masuk partai pembuka usung tekad wajib menang

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gregoria akui permainannya terbaca dan terantisipasi Yamaguchi

Nanning, China (ANTARA) – Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, mengakui permainannya sudah terbaca dan terantisipasi oleh lawannya asal Jepang, Akane Yamaguchi, sehingga ia kehilangan poin dalam semifinal Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center, Nanning, China, Sabtu.

Kekalahan dari Gregoria di Asian Games 2018 silam, rupanya jadi pelajaran penting bagi Yamaguchi. Pebulu tangkis peringkat empat dunia itu sukses merebut poin bagi tim Jepang lewat kemenangan dua gim langsung, 13-21, 13-21 dalam waktu 34 menit.

“Dari pada pertemuan sebelumnya dia kali ini tahu cara bagaimana melawan saya. Sementara dari saya sendiri tidak ada perubahan,” ungkap Gregoria usai laga.

Jorji, demikian sapaan akrab Gregoria, cukup terlambat panas di awal laga dan baru menemukan ritme permainannya ketika Yamaguchi sudah unggul enam poin di gim pertama.

“Di gim pertama kelihatan banget saya telat masuk dan startnya kalah,” kata Gregoria.

Baca juga: Jepang samakan kedudukan atas Indonesia 1-1

Di gim kedua, perubahan permainan mampu membawa Jorji unggul di awal, menciptakan sejumlah peluang dari kesalahan Yamaguchi dalam pengembalian bola.

Tak lama, Yamaguchi tampaknya melihat kelemahan Jorji dalam mengatasi pukulan backhand di depan net juga bola-bola silang untuk mencuri poin.

Jorji juga kehilangan sejumlah poin berharga berkat bola-bola mati dari pengembalian yang kurang matang.

Sebuah pengembalian yang jatuh di luar lapangan menutup gim kedua untuk kemenangan ketiga Yamaguchi atas Jorji.

“Di dua pertemuan sebelumnya bedanya mungkin dia lebih mempercepat tempo sementara ketika di Asian Games dia lebih mengikuti tempo saya,” katanya.

“Ketika tertinggal seharusnya saya memiliki bola-bola untuk meng-clear-kan. Tapi pengembalian saya pun mentah,” ujar Gregoria melengkapi.

Sebelumnya, di partai pembuka, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menyumbangkan poin pertama bagi Indonesia usai mengalahkan ganda putra Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-14 21-18. 

Baca juga: Minions akui masuk partai pembuka usung tekad wajib menang

Baca juga: Marcus/Kevin buka keunggulan Indonesia atas 1-0

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ginting tumbang, Indonesia tertinggal 1-2 dari Jepang

Nanning, China (ANTARA) – Indonesia tertinggal 1-2 dari Jepang setelah tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dikalahkan Kento Momota 17-21,  19-21 di babak semifinal Piala Sudirman 2019 di Nanning, China, Sabtu.

Pada penampilan ketiganya di turnamen ini, Ginting tampaknya harus lebih cermat dalam menyarangkan bola-bola smes, yang beberapa kali terlalu melebar di awal gim sehingga tunggal putra peringkat tujuh itu kehilangan sejumlah poin berharga.

Di interval kedua gim pertama, Ginting mampu memperbaiki akurasinya yang terbukti mampu merepotkan lawan yang merupakan peringkat satu  itu dan mencuri sejumlah poin dari sana.

Namun, Momota memiliki start yang lebih baik, ditambah bola-bola mati dari Ginting, menguntungkan Jepang di gim pertama.

Ginting, yang nampaknya tak hanya mendapat dukungan dari suporter Indonesia namun juga sebagian besar penonton yang mendatangi Guangxi Sports Center Gymnasium, kali ini lebih gesit meladeni permainan net di gim kedua juga dengan smes-smes yang lebih tajam untuk menyulitkan Momota.

Setelah interval gim kedua Ginting menyamakan kedudukan 11-11. Sepuluh poin terakhir menjadi start baru bagi kedua pemain.

Tak banyak WNI yang berada di Nanning, tapi Guangxi Gymnasium bergemuruh lebih kencang setiap kali Indonesia mencetak poin atas Jepang.

Satu demi satu poin dikumpulkan dalam pertandingan gim kedua yang sangat ketat. Pelatih Hendry Saputra Ho di pinggir lapangan tampak memberikan isyarat tangan bagi Ginting untuk tetap tenang hingga skor 18-18.

Keberuntungan bagi Momota yang bolanya menyentuh net tapi masuk ke area lawan untuk poin ke-19, ditambah pengembalian tanggung dari Ginting membuat match poin bagi Jepang.

Smes Momota terlalu tajam bagi Ginting yang tak bisa mengembalikan bola melalui net dan mengakhiri partai ketiga untuk kemenangan Jepang.

Baca juga: Gregoria akui permainannya terbaca dan terantisipasi Yamaguchi

Baca juga: Marcus/Kevin buka keunggulan Indonesia atas 1-0

Baca juga: Jepang samakan kedudukan atas Indonesia 1-1

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Piala Sudirman Indonesia vs Jepang

Pebulu tangkis ganda putri Indonesia Greysia Polii (kiri) berpasangan dengan Apriyani Rahayu mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara pada babak semi final Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Sabtu (25/5/2019). Gim pertama Greysia/Apriyani kalah 15-21 dari Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara . ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp.

Ginting sesalkan “lucky ball” dalam duel melawan Momota

Nanning, China (ANTARA) – Anthony Sinisuka Ginting memandang pebulu tangkis Jepang Kento Momota diuntungkan dengan lucky ball ketika mengalahkan tunggal putra Indonesia itu di semifinal Piala Sudirman 2019 di Nanning, China, Sabtu.

Satu demi satu poin dikumpulkan dalam pertandingan gim kedua yang sangat ketat. Pelatih Hendry Saputra Ho di pinggir lapangan tampak memberikan isyarat tangan bagi Ginting untuk tetap tenang hingga skor 18-18.

Keberuntungan bagi Momota yang bolanya menyentuh net tapi masuk ke area lawan untuk poin ke-19, ditambah pengembalian tanggung dari Ginting membuat match poin bagi Jepang.

Smash Momota terlalu tajam bagi Ginting yang tak bisa mengembalikan bola melalui net dan mengakhiri partai ketiga untuk kemenangan Jepang.

“Ketika 18 sama ada lucky ball itu kami sama-sama tegang. Waktu lucky ball itu sayang aja. Saya merasa masih bisa mengejar,” kata Ginting usai kalah 17-21 19-21 di dua gim ketat selama 1 jam 6 menit itu.

Namun, secara keseluruhan itu merupakan permainan terbaik Ginting di turnamen Piala Sudirman 2019 setelah sebelumnya berhadapan dengan Toby Penty asal Inggris dan Viktor Axelsen asal Denmark.

“Sebelumnya melawan Momota juga selalu ketat. Hari ini ketat juga dari awal sampai akhir.”

“Namun di poin-poin kritis dia lebih inisiatif ambil (kesempatan) untuk menyerang.”

Melawan Momota, Ginting harus menerapkan reli-reli panjang.

“Dibawa reli dulu, tapi waktu saya menyerang malah mati sendiri,” sesal Ginting.

Sebelumnya, di partai pembuka, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menyumbangkan poin pertama bagi Indonesia usai mengalahkan ganda putra Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-14 21-18.

Sementara tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung tunduk di tangan Akane Yamaguchi 13-21 13-21.

Jepang sementara unggul 2-1 atas Indonesia.

BI Malang alokasikan Rp53 miliar penukaran uang baru

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Langkah Indonesia terhenti di semifinal

Nanning, China (ANTARA) – Langkah Indonesia terhenti di babak semifinal Piala Sudirman 2019, Sabtu, setelah ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu tunduk di tangan pasangan Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara 15-21, 17-21.

Jepang melaju ke final setelah menang 3-1 atas Indonesia dan akan bertemu dengan China, yang mengalahkan Thailand 3-0 di semifinal.

Sebelumnya, di partai pembuka, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menyumbangkan poin pertama bagi Indonesia usai mengalahkan ganda putra Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-14, 21-18.

Sementara tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung tunduk di tangan Akane Yamaguchi 13-21, 13-21.

Di partai ketiga tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dikalahkan Kento Momota 17-21, 19-21.

Di partai keempat ganda putri peringkat satu dari Jepang itu masih terlalu gesit dan tanggung bagi pasangan Indonesia dan menutup gim pertama dengan unggul margin 7 poin.

Berangkat dengan kekalahan 15-21 di gim pertama, Greysia/Apriyani itu mencoba untuk meraih poin sedini mungkin di awal gim. Namun, serangan dan lini pertahanan Jepang yang rapat masih terlalu tangguh bagi ganda putri peringkat lima asal Indonesia itu.

Setelah poin 8 sama, Matsumoto/Nagahara tak terkejar sementara Indonesia jatuh bangun untuk menempel ketat.

Langkah Indonesia terhenti setelah pasangan Jepang menutup match poin mereka dengan smes keras yang terlalu cepat bagi Apriyani untuk mengembalikannya.

Baca juga: Ginting sesalkan “lucky ball” dalam duel melawan Momota

Baca juga: Ginting tumbang, Indonesia tertinggal 1-2 dari Jepang

Baca juga: Gregoria akui permainannya terbaca dan terantisipasi Yamaguchi
 

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Piala Sudirman: Indonesia gagal melaju ke final setelah dikalahkan Jepang

Ekspresi pebulu tangkis ganda putri Indonesia Greysia Polii (kiri) dan Apriyani Rahayu seusai kalah dari ganda Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara pada babak semi final Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Sabtu (25/5/2019). Apriyani/Greysia kalah 0-2 (15-21 dan 17-21) dari Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara dan akhirnya Indonesia gagal melaju ke final Piala Sudirman 2019 setelah kalah 1-3 dari Jepang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp.

Ini evaluasi bagi Indonesia usai disingkirkan Jepang

Nanning, China (ANTARA) – Indonesia tersingkir di babak semifinal Piala Sudirman, setelah dipaksa mengakui keunggulan Jepang di hampir semua lini dan menelan kekalahan 1-3 di Nanning, China, Sabtu (25/5) malam.

Ganda putra andalan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo sempat memupuk asa Indonesia untuk lolos ke final, ketima mengamankan poin pertama dengan menundukkan pasangan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-14, 21-18.

Namun Jepang kemudian berbalik meraih tiga poin berikutnya untuk memastikan satu tempat di final menghadapi tuan rumah China, usai memenangi nomor tunggal putri, tunggal putra dan ganda putri.

Di nomor tunggal putri, Akane Yamaguchi tak membiarkan Gregoria Mariska Tunjung mengulangi kejutan laiknya di Asian Games 2018 dan menang dua gim langsung 13-21, 13-21.

Baca juga: Minions akui masuk partai pembuka usung tekad wajib menang

Anthony Sinisuka Ginting yang diharapkan memberikan poin kedua bagi Indonesia memberikan perlawanan ketat kepada Kenta Momota, namun dipaksa menyerah di tangan peringkat satu dunia itu 17-21, 19-21.

Harapan Indonesia mengulangi skenario melawan Chinese Taipei dengan bertumpu pada sektor ganda, mendapati kenyataan pahit ketika pasangan Greysia Polii/Apriani Rahayu masih defisit tenaga dan kalah gesit dari pasangan nomor satu dunia, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, 15-21, 17-21.

Harapan Indonesia melangkah ke babak final sama nasibnya dengan mimpi membawa kembali trofi Piala Sudirman ke Tanah Air setelah tiga dasawarsa lamanya. Kandas.

Baca juga: Gregoria akui permainannya terbaca dan terantisipasi Yamaguchi

“Hari ini ketika melawan Indonesia kami tahu jika kami memiliki peluang lebih baik dari Indonesia, tapi Indonesia selalu tampil kuat di team event. Kami sedikit takut karenanya,” kata pelatih kepala tim Jepang Park Joo Bong usai laga.

Duel Ginting dan Momota menjadi titik balik bagi tim Jepang yang mampu meraih tiga poin kemenangan setelah tertinggal terlebih dahulu.

Jepang akan menghadapi tim tuan rumah China di final pada Minggu siang nanti.

Catatan lini per lini
Seperti yang sudah diantisipasi oleh Susi Susanti, sebagai kepala bidang pembinaan dan prestasi PB PBSI, Jepang memiliki kekuatan merata di semua lini.

“Secara keseluruhan kita harus akui keunggulan Jepang, mereka tampil maksimal dan cukup baik dan kuat. Atlet kita sudah berusaha keras. Pertandingan pertama kita bisa kuasai tapi di tiga pertandingan berikutnya kita harus akui keunggulan mereka meski kita harus berusah keras,” ungkap Susi.

Indonesia memang mencapai target PBSI yakni semifinal, namun mimpi membawa pulang Piala Sudirman setelah 30 tahun berpisah harus berlanjut lagi, setidaknya untuk dua tahun ke depan.

“Dua tahun lalu kita tidak sampai ke delapan besar, tapi tahun ini bisa masuk ke semifinal, lebih baik lagi,” kata Susi.

Baca juga: Ginting sesalkan “lucky ball” dalam duel melawan Momota

Catatan untuk tunggal putra Indonesia dari Susi adalah harus meningkatkan konsistensi.

“Kalau peringkat mereka sudah, namun konsistensi pada saat mereka main itu yang harus ditingkatkan…baik Jojo (Jonatan Christie) maupun Ginting yang menjadi evaluasi kita,” ujarnya.

Untuk tunggal putri, “masih butuh kerja keras dan penanganan lebih lagi,” kata Susi melengkapi.

Meski menilai sektor ganda putri sudah memperlihatkan kekompakan tim yang solid, Susi menyoroti kebutuhan peningkatan kekuatan dan ketahanan baik fisik maupun mental.

“Para pemain putri Jepang saat ini memiliki ketahanan yang tinggi, itu yang jadi pembenahan untuk kita. Harus bisa seperti mereka,” pungkas Susi.

Baca juga: Pratinjau – Statistik Piala Sudirman 2019

Mahasiswa Indonesia bakar semangat Timnas di Piala Sudirman

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Piala Sudirman, ganda campuran optimistis hadapi Inggris dan Denmark

Jakarta (ANTARA) – Pemain bulu tangkis ganda campuran Gloria Emanuelle Widjaja mengaku optimistis tim ganda campuran Indonesia mampu menghadapi Inggris dan Denmark di babak penyisihan grup B Piala Sudirman 2019.

Di sektor ganda campuran, tim Garuda mengirimkan tiga pasangan, yakni Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow.

“Persiapan kami cuma sekitar tujuh hari saja. Jadi, kami harus berlatih total selama persiapan. Namun, yang paling penting, kami harus all out di lapangan. Saya optimistis tim Indonesia bisa mengatasi Inggris dan Denmark,” kata Gloria melansir laman badmintonindonesia.org, Kamis.

Menurut dia, hasil yang diperoleh tim ganda campuran dalam beberapa turnamen terakhir dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bahwa sektor ganda campuran juga bisa diandalkan untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya bagi Indonesia.

Beberapa capaian terakhir itu, di antaranya pasangan Hafiz/Gloria yang berhasil menjadi runner up di turnamen German Open 2019. Selain itu, Hafiz/Gloria juga menjadi semifinalis di India Open 2019, Singapore Open 2019, serta New Zealand Open 2019.

“Memang hasil yang diperoleh ganda campuran itu lumayan, tidak terlalu timpang dengan yang lain, sehingga rasa percaya diri kami meningkat. Kami juga punya peluang untuk sumbang poin. Ini bisa dijadikan bahan pertimbangan,” tutur Gloria.

Babak penyisihan grup akan dilaksanakan pada Minggu (19/5) dan dimulai dengan laga Indonesia melawan Inggris. Jelang laga tersebut, Gloria memohon doa kepada segenap masyarakat Indonesia agar pertandingan itu berjalan lancar dan berakhir dengan kemenangan bagi Indonesia.

“Saya yakin tim Indonesia bisa juara grup. Kami mohon doanya supaya bisa dapat hasil terbaik. Walaupun saingan kami berat-berat, seperti China dan Jepang, namun tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha dan timnya solid,” ungkap Gloria.

Sama seperti Indonesia, tim Inggris juga membawa tiga pasangan ganda campuran, yaitu Chris Adcock/Gabrielle Adcock, Marcus Ellis/Lauren Smith dan Ben Lane/Jessica Pugh.

Sementara itu, tim Denmark diperkuat pasangan Niclas Nohr/Sara Thygesen. Akan tetapi hingga hari ini, tidak ada nama pasangan Mathias Bay-Smidt/Rike Soby yang merupakan Juara Swiss Open 2019. Namun, nama Soby masuk di tim inti, begitu pula Mathias Christiansen yang sebelumnya berpasangan dengan Christinna Pedersen yang telah gantung raket.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pesan mantan pemain bulu tangkis Indonesia untuk tim Piala Sudirman

Jakarta (ANTARA) – Juara dunia tunggal putra bulutangkis 1995 Hariyanto Arbi mengimbau pada pemain yang tergabung dalam tim Indonesia menjaga kekompakan menjelang pertandingan Piala Sudirman di Nanning, China, 19-26 Mei.

“Saya kira tinggal menjaga kondisi biar pas turun kondisi mereka lebih bagus dan fit. Jaga kekompakan,” kata Hariyanto Arbi di Jakarta, Kamis.

Menurut juara dua kali All England itu, kekompakan pemain berperan penting dalam kejuaraan dunia beregu campuran yang dilaksanakan dua tahunan itu.

Mantan atlet yang memiliki julukan “smash 100 watt” itu menilai Indonesia berpeluang membawa pulang Piala Sudirman jika melihat kekuatan pemain tunggal putra, ganda putra dan putri serta campuran.

Senada dengan Hariyanto, mantan pemain ganda putra Luluk Hadiyanto juga mengharapkan seluruh pemain harus saling mendukung dalam sistem kejuaraan beregu yang memiliki tekanan cukup tinggi.

“Jangan sampai hal kecil, nonteknis mempengaruhi di lapangan. Itu yang harus dijaga termasuk kekompakan tim,” katanya.

Hal nonteknis tersebut, lanjut dia, di antaranya makanan hingga menjaga stabilitas emosi dan mood atlet.

Melihat kekuatan tim Indonesia, ia menyebutkan Indonesia memiliki kesempatan besar merebut kembali Piala Sudirman.

Meski demikian, kekuatan tim negara lain seperti Jepang dan China agar tidak dianggap remeh.

“Jepang memiliki kekuatan merata di semua sektor, begitu juga tuan rumah China,” kata mantan atlet yang pernah berpasangan dengan Alvent Yulianto Chandra dan Chandra Wijaya itu.

Luluk sendiri dua kali memperkuat tim Indonesia pada Piala Sudirman pada 2003 dan 2005.

Indonesia berhasil memenangkan Piala Sudirman pada 1989 saat ajang itu pertama kali digelar di Jakarta. Pada kejuaraan tahun ini, Indonesia berada di Grup 1B bersama dengan Denmark dan Inggris.

Baca juga: Piala Sudirman, ganda campuran optimistis hadapi Inggris dan Denmark

Baca juga: Indonesia segera jajal arena Piala Sudirman 2019

Baca juga: CdM: Indonesia berpeluang juara Piala Sudirman di China

Pewarta: Dewa Wiguna
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tania ingin cari pengalaman di Piala Sudirman 2019

Jakarta (ANTARA) – Pemain sparring tim ganda putri Indonesia Tania Oktaviani Kusumah mengaku ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di kejuaraan bulu tangkis Piala Sudirman 2019 yang diselenggarakan di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China.

“Walaupun jadi sparring, saya senang sekali, bersyukur bisa melihat langsung perjuangan tim Indonesia di Piala Sudirman. Ini bisa jadi pengalaman saya kalau nanti saya masuk tim inti,” kata Tania melalui siaran pers PBSI yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Tania menjadi sparring tiga pemain ganda putri Indonesia, yaitu Greysia Polii, Apriyani Rahayu dan Ni Ketut Mahadewi Istarani. Dalam kejuaraan tersebut, dia pun ditugaskan Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI Eng Hian untuk membantu senior-seniornya di ganda putri.

Meskipun demikian, pemain besutan klub bulu tangkis PB Djarum itu mengaku siap apabila mendapat tugas-tugas tambahan dari para senior, misalnya membawa makanan, membawa shuttlecock untuk latihan dan sebagainya.

“Bantu-bantu senior itu sudah biasa. Membawakan makanan, minuman dan lain-lain saat latihan memang sudah jadi tugas yang muda-muda. Saya juga siap jadi suporter, siap habiskan suara buat tim Indonesia,” tutur Tania.

Lebih lanjut, berkaitan dengan peluang tim Indonesia dalam Piala Sudirman 2019, perempuan yang saat ini berusia 20 tahun itu mengaku optimistis sektor ganda putri akan menyumbangkan poin bagi kemenangan tim Garuda.

“Sebagai bagian dari tim ganda putri, saya yakin kalau ganda putri pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin. Di ganda putri ada Kak Greysia, Apriyani dan mbak Ketut. Jadi buat apa takut? Ganda putri juga bisa sumbang poin,” ungkap Tania.

Sebelumnya, Tania pernah berkiprah menjadi bagian dari tim Indonesia di ajang Tong Yun Kai Cup 2019 serta turnamen bulu tangkis beregu junior di kejuaraan Asia Junior Championships dan World Junior Championships.

Baca juga: Pesan mantan pemain bulu tangkis Indonesia untuk tim Piala Sudirman

Baca juga: Piala Sudirman, ganda campuran optimistis hadapi Inggris dan Denmark

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia waspadai cuaca panas di Nanning

Jakarta (ANTARA) – Manajer Tim Bulu Tangkis Indonesia Susy Susanti menyatakan cuaca panas merupakan salah satu hal yang diwaspadai oleh Tim Indonesia di lokasi penyelenggaraan Piala Sudirman 2019 di Nanning, Cina.

“Cuaca panas di Nanning menjadi salah satu hal yang kami waspadai. Kami juga sudah mengingatkan kalau ada yang merasakan gejala mau sakit, cepat-cepat bilang, supaya cepat ditangani, jangan menunggu sampai parah,” kata Susy melansir laman resmi PBSI, Kamis

Meskipun demikian, perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI itu mengatakan sampai dengan saat ini, seluruh atlet berada dalam kondisi sehat. Tim Piala Sudirman juga sudah mulai menjalani latihan teknik pertama pada Kamis (16/5).

“Semua atlet dalam kondisi fit. Walaupun tadi agak panas saat latihan, tapi penanganannya cepat, sehingga tidak dehidrasi. Tim kita sudah menjalani sesi latihan teknik hari ini selama dua jam, dari pukul 16.00-18.00 waktu Nanning dengan menggunakan lima lapangan,” ujar Susy.

Lebih lanjut, dia menuturkan jelang pertandingan babak penyisihan pertama yang akan dillaksanakan pada Minggu (19/5), semuanya berjalan dengan lancar. Inggris akan menjadi lawan pertama Tim Indonesia di grup B, kemudian dilanjutkan dengan Denmark pada Rabu (22/5).

“Sampai sekarang, semuanya berjalan lancar. Para atlet semangat dan kompak. Mudah-mudahan mereka bisa lebih fokus dalam menghadapi pertandingan. Kami juga selalu menjaga suasana agar jangan sampai mereka merasa tegang,” tutur Susy.

Sementara itu, berkaitan dengan laga perdana melawan Inggris, peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 itu optimistis Tim Indonesia akan mampu mengatasi lawannya. Di fase penyisihan, dia juga berharap Tim Garuda bisa menjadi juara grup.

“Bukan takabur, tapi kalau melihat kekuatan, seharusnya kami bisa mengatasi Inggris. Semua sektor kami harapkan bisa menyumbang poin, tidak hanya mengandalkan satu sektor saja. Kami minta semua sektor bisa kasih kontribusi menyumbang poin,” ungkap Susy.

Untuk selanjutnya, dia menambahkan Tim Merah Putih berencana menjajal arena pertandingan Piala Sudirman 2019 yang berlokasi di Guangxi Sports Center Gymnasium pada Jumat (17/5) mulai pukul 09.40 hingga 10.20 waktu Nanning.

Baca juga: Tania ingin cari pengalaman di Piala Sudirman 2019
Baca juga: Pesan mantan pemain bulu tangkis Indonesia untuk tim Piala Sudirman
Baca juga: Indonesia segera jajal arena Piala Sudirman 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

JK tengok seragam Susi Susanti di Museum Olimpiade Lausanne

Laussane, Swiss (ANTARA) – Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menyambangi Museum Olimpiade di Lausanne, Swiss melihat seragam bulu tangkis yang dikenakan atlet Susi Susanty waktu memenangkan pertandingan bulu tangkis dalam kejuaraan Olimpiade 1992.

Antara melaporkan dari Lausanne, Swiss pada Kamis, Wapres menyempatkan diri melihat museum itu usai melakukan pertemuan dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach.

Wapres bersama Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman D Hadad melihat kaos yang dipamerkan bersama dengan raket milik peraih emas dalam Olimpiade yang diselenggarakan di Barcelona itu.

Dalam papan keterangan baju dan raket itu tertulis “perlengkapan badminton milik Susi SUSANTI (INA) juara Olimpiade Barcelona 1992. Terima kasih untuk gerakan gesit dan hebatnya serta teknik pukulan yang elegan. Susi SUSANTI dianggap sebagai wanita atlet terbaik dalam sejarah badminton”.

Di dalam museum itu dipamerkan sejumlah benda-benda milik atlet yang pernah berlaga di pertandingan Olimpiade.

Terdapat juga sejumlah obor yang telah digunakan untuk membawa api Olimpiade. Bendera Olimpiade dan benda-benda yang dipamerkan di Museum Olimpiade, Laussane, Swiss pada Kamis (17/5/2019). (Bayu Prasetyo)
Sejarah dari Olimpiade juga dijelaskan di museum tersebut.

Museum itu memadukan peragaan perlengkapan olahraga yang pernah dipakai atlet, serta instalasi teknologi pewarnaan lampu maupun teknologi digital dan simulasi alat-alat olahraga secara digital. ***3***

Baca juga: Teaser “Susi Susanti – Love All” dirilis, ingatkan kejayaan Indonesia

Pewarta: Bayu Prasetyo
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menpora optimistis PBSI akan berjuang maksimal di Piala Sudirman

Bawalah Piala Sudirman ke pangkuan Ibu Pertiwi yang sudah lama tidak bisa diraih

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi optimistis timnas bulutangkis dan PBSI akan berjuang maksimal untuk merebut gelar juala di Piala Sudirman 2019, meski persaingan diperkirakan akan berlangsung secara ketat.

“Negara lain persiapannya juga luar biasa, pasti ketat. Tapi ini jadi tantangan bagi kita untuk mengembalikan kejayaan itu. Memang tidak mudah, tapi pebulu tangkis nasioal akan mati-matian membawa piala ke Tanah Air,” ujar Menteri Imam saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Oleh sebab itu, katanya, jajaran PBSI agar memastikan persiapan dan latihan bisa dilaksanakan dengan sempurna mengingat lawan-lawan yang akan dihadapi juga tidak ringan.

Selain itu, Menpora juga mengingatkan untuk saling dukung antaranggota tim karena akan berpengaruh pada mental juang atlet.

“Bawalah Piala Sudirman ke pangkuan Ibu Pertiwi yang sudah lama tidak bisa diraih. Saya yakin PBSI akan bekerja dengan baik,” katanya.

Berdasarkan data dari PBSI, Indonesia mengirimkan 12 atlet putra dan delapan atlet putri untuk bertarung di Piala Sudirman 2019.

Susunan atlet putra, yaitu Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Shesar Hiren Rhustavito, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Tontowi Ahmad, Praveen Jordan, dan Hafiz Faizal.

Susunan atlet putri, yaitu Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani, Greysia Polii, Apriyani Rahayu, Ni Ketut Mahadewi Istarani, Gloria Emanuelle Widjaja, Melati Daeva Oktavianti, dan Winny Oktavina Kandow.

Sedangkan untuk tim pelatih terdiri dari Hendry Saputra Ho (tunggal putra), Rionny Frederik Mainaky (tunggal putri), Minarti Timur (tunggal putri), Herry Iman Pierngadi (ganda putra), Eng Hian (ganda putri), Richard Leonard Mainaky (ganda campuran), Ary Subarkah (pelatih fisik), Ricky Susiono (pelatih fisik)

Untuk ketua kontingen adalah Achmad Budiharto, sedangkan posisi manajer tim diisi oleh Susy Susanti.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Korea Selatan kehilangan Sung Ji Hyun

Jakarta (ANTARA) – Tunggal putri andalan Korea Selatan Sung Ji Hyun menarik diri dari Kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman yang akan berlangsung 19-26 Mei di Nanning, China karena cedera pergelangan tangan.

Dikutip dari laman Federasi Bulu tangkis Dunia (BWF), Rabu, Sung membutuhkan dua sampai tiga minggu untuk sembuh dari cederanya itu.

Absennya Sung membuat tanggung jawab tunggal putri juara bertahan Korsel akan jatuh pada remaja berusia 17 tahun An Se Young dan Kim Ga Eun.

Korsel berada dalam Grup 1C bersama Taiwan dan Hong Kong.

An Se Young adalah juara di Selandia Baru pekan lalu setelah mengalahkan mantan juara Olimpiade Li Xuerui pada final.

Sedangkan penampilan terbaik Kim Ga Eun musim ini adalah memenangi Lingshui China Masters pada Maret lalu. Ia juga memaksa Carolina Marin bermain tiga gim pada Indonesia Masters.

Korea mempunyai beberapa pemain yang membawa timnya meraih kemenangan di Gold Coast, meskipun beberapa pasangan telah diubah.

Baca juga: PBSI umumkan skuat Indonesia di Piala Sudirman 2019

Chae YuJung, misalnya, yang memenangi final ganda campuran bersama Choi Solgyu, telah membangun pasangan yang sukses bersama Seo Seung Jae. Choi sendiri telah berpasangan dengan pemain yang berbeda-beda.

Korea mempunyai pemain-pemain ganda putri yang kuat seperti Chang Ye Na, Shin Seung Chan, Kim So Yeong dan Kong Hee Yong.

Tunggal putra akan mengandalkan Heo Kwang Hee dan Lee Dong Keun.

Sementara itu, Taiwan mempunyai tim yang seimbang, dengan pemain tunggal yang kuat, Chou Tien Chen, Wang Tzu Wei dan Tai Tzu Ying, serta pemain ganda seperti Wang Chi-Lin, Lee Yang, Lu Ching Yao, Yang Po Han dan lainnya.

Kekhawatiran mereka saat ini hanyalah ganda putri. Pasangan peringkat 40 dunia Hsu Ya Ching dan Hu Ling Fang tidak ada dalam daftar pemain mereka, namun peringkat 44 Chang Ching Hui/Yang Ching Tun masuk dalam tim.

Adapun Hong Kong mempunya beberapa nama besar seperti Ng Ka Long Angus (tunggal putra) dan Tang Chun Man/Tse Ying Suet (ganda campuran).

Meskipun tidak satu pun ganda putra Hong Kong berada di peringkat atas (Yonny Chung/Tam Chun Hei adalah ganda putra berperingkat tertinggi di urutan 64), mereka punya beberapa pilihan di kelompok itu.

Baca juga: Susy Susanti: Indonesia berpeluang juara Piala Sudirman 2019

Berikut ini tim Piala Sudirman dari Grup 1C:

Korea:
Putra: Choi Solgyu, Heo Kwang Hee, Kang Min Hyuk, Kim Won Ho, Lee Dong Keun, Na Sung Seung, Seo Seung Jae
Putri: An Se Young, Chae YuJung, Chang Ye Na, Kim Ga Eun, Kim So Yeong, Kong Hee Yong, Shin Seung Chan

Taiwan:
Putra: Chou Tien Chen, Lee Yang, Liao Min Chun, Lu Ching Yao, Su Ching Heng, Tseng Min Hao, Wang Chi-Lin, Wang Tzu Wei, Yang Chih Chieh, Yang Po Han
Putri: Chang Ching Hui, Chen Su Yu, Hsieh Pei Shan, Liang Ting Yu, Pai Yu Po, Tai Tzu Ying, Wu Ti Jung, Yang Ching Tun

Hong Kong:
Putra: Yonny Chung, Law Cheuk Him, Lee Cheuk Yiu, Ng Ka Long Angus, Or Chin Chung, Tang Chun Man, Tam Chun Hei, Yeung Shing Choi
Putri: Chau Hoi Wah, Cheung Ngan Yi, Ng Tsz Yau, Ng Wing Yung, Tse Ying Suet, Yeung Nga Ting, Yip Pui Yin, Yuen Sin Ying

Baca juga: Menpora optimistis PBSI akan berjuang maksimal di Piala Sudirman

Pewarta: Fitri Supratiwi
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Piala Sudirman 2019, Greysia/Apriyani yakin tampil prima

Hingga kini, pasangan yang paling konsisten dan stabil hanya Greysia/Apriyani

Jakarta (ANTARA) – Kepala Pelatih Ganda Putri Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Eng Hian mengaku yakin pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu mampu tampil prima dalam ajang Piala Sudirman 2019 yang akan digelar pada 19-26 Mei 2019 di Nanning, Cina.

Dia juga mengaku tidak khawatir dengan kondisi Greysia/Apriyani jika harus diturunkan hingga partai final, terlebih mengingat kondisi Greysia sempat mengalami bengkak pada tangan kanannya sehingga harus mundur dari turnamen New Zealand Open 2019.

“Menurut saya itu biasa. Kalau sampai final, berarti main lima kali. Sejauh ini, kondisi Greysia sudah membaik. Waktu itu tangannya hanya over-use saja. Dia sudah ke dokter dan memang instruksi dokter adalah diistirahatkan dulu tangannya,” kata Eng melalui siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu, sambung dia, usai mengikuti Badminton Asia Championships pada April lalu, Greysia sempat libur beberapa hari untuk memulihkan kondisi tangannya.

Sementara itu, pelatih berusia 41 tahun itu menilai Greysia/Apriyani merupakan pasangan yang mampu menunjukkan konsistensi dan prestasi yang stabil sehingga dipilih menjadi satu-satunya perwakilan ganda putri Indonesia dalam ajang Piala Sudirman 2019.

“Hingga kini, pasangan yang paling konsisten dan stabil hanya Greysia/Apriyani. Saya hanya ingin menurunkan perwkilan ganda putri yang terbaik. Akan tetapi, semua pertimbangan itu juga dilihat dari kebutuhan tim, yang terbaik untuk tim,” tutur Eng.

Selain Greysia/Apriyani, PBSI juga memasukkan satu pemain cadangan putri, yaitu Ni Ketut Mahadewi Istarani. Menurut Eng, Ketut dipilih karena penampilannya yang fleksibel, sehingga dapat dipasangkan dengan siapa saja.

“Ketut dipilih karena dia yang paling fleksibel, bisa dipasangkan dengan siapa saja, termasuk Greysia dan Apriyani. Kemungkinan untuk mengubah kombinasi itu ada. Tapi kalau keadaan darurat, saya tetap ingin menurunkan pemain-pemain yang terbaik,” ungkap Eng.

PBSI telah mengumumkan nama-nama pemain yang masuk dalam tim inti Piala Sudirman 2019. Berdasarkan data dari PBSI, Indonesia akan membawa 20 pemain yang terdiri dari 12 pemain putra dan delapan pemain putri.

Di sektor ganda putri, hanya ada satu wakil Indonesia, yaitu Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Sedangkan Ni Ketut Mahadewi Istarani masuk sebagai pemain cadangan.

Baca juga: Susy Susanti: Indonesia berpeluang juara Piala Sudirman 2019

Baca juga: Indonesia optimistis atasi Denmark dan Inggris di Piala Sudirman

Baca juga: PBSI umumkan skuat Indonesia di Piala Sudirman 2019

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ketut senang masuk tim inti Piala Sudirman 2019

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis putri Indonesia Ni Ketut Mahadewi Istarani mengaku senang bisa masuk dalam daftar susunan pemain tim inti Piala Sudirman 2019 yang akan diselenggarakan pada 19-26 Mei 2019 di Nanning, Cina.

“Saya kaget, tidak menyangka bisa masuk tim Piala Sudirman sebagai pemain ganda putri ketiga. Pastinya saya senang. Kalau diturunkan, mudah-mudahan saya bisa memberikan hasil yang terbaik,” kata Ketut dilansir laman resmi PBSI, Kamis.

Lebih lanjut, perempuan berusia 24 tahun itu juga mengaku siap untuk dipasangkan dengan siapa saja, termasuk dengan Greysia Polii maupun Apriyani Rahayu yang merupakan satu-satunya perwakilan ganda putri Indonesia dalam kejuaraan tersebut.

“Kalau sudah terpilih masuk tim, artinya sudah punya tanggung jawab. Jadi, saya harus siap dipasangkan dengan siapa saja, sudah tidak ada alasan lagi, harus siap bermain dan memberikan hasil yang maksimal,” ujar Ketut.

Sementara itu, jelang keberangkatannya ke Nanning, Cina yang dijadwalkan pada Rabu (15/5), pebulutangkis kelahiran Tabanan, Bali itu mengaku saat ini sudah mendapat program latihan khusus dari Pelatih Kepala Ganda Putri PBSI Eng Hian.

“Program latihan lebih banyak ke penguatan daya tahan di lapangan dan menambah tenaga supaya bisa lebih tahan lama. Kami juga mendapat jadwal latihan tambahan. Programnya lebih spesifik untuk memperbaiki kekurangan individu masing-masing,” tutur Ketut.

Meskipun hanya mengandalkan satu pasangan di sektor ganda putri, yakni Greysia/Apriyani, Ketut tetap berharap tim ganda putri bisa tampil maksimal sekaligus menyumbang kemenangan bagi Indonesia dalam kejuaraan Piala Sudirman 2019.

“Saya berharap sektor ganda putri bisa menyumbang poin untuk Indonesia di setiap pertandingan. Saya percaya dengan teman-teman semua yang sudah terpilih masuk tim inti Piala Sudirman 2019, menurut saya kali ini Indonesia punya peluang untuk jadi juara,” ungkap Ketut.

Sebelumnya, Ketut pernah berduet dengan Della Destiara Haris di Piala Uber 2018 dan menyumbang kemenangan untuk tim Indonesia dalam laga penyisihan grup melawan Prancis. Ketut juga pernah dipasangkan dengan Rizki Amelia Pradipta dan duduk di peringkat 18 dunia.

Baca juga: Piala Sudirman 2019, Greysia/Apriyani yakin tampil prima

Baca juga: Menpora optimistis PBSI akan berjuang maksimal di Piala Sudirman

Baca juga: Korea Selatan kehilangan Sung Ji Hyun

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganda putra miliki strategi khusus di ajang Piala Sudirman

Jakarta (ANTARA) – Ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto memiliki strategi khusus menghadapi kejuaraan dunia bulu tangkis beregu campuran Piala Sudirman yang akan digelar di Nanning, China, 19-26 Mei 2019.

“Lihat video pemain pasti. Kita ada timnya, itu lumayan pengaruh. paling tidak kita tahu kelemahan dan kelebihan (lawan), seperti ada ancang-ancang bagaimana permainan lawan,” ujar Fajar ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis.

Selain itu, kata Fajar, semua yang terlibat juga harus meningkatkan kekompakan, tidak hanya dengan pasangannya, tetapi juga dengan para pemain di sektor lain.

“Karena ini pertandingan beregu, kekompakan harus lebih baik karena kita tidak bermain perorangan. Menjaga kekompakan dengan ngobrol bareng sama pemain lain, juga harus banyak diskusi dengan pemain,” kata Fajar.

Ia juga optimistis sektor ganda putra akan menyumbang poin untuk tim Indonesia. “Ganda putra harus sumbang poin dan kita optimistis menyumbang poin,” ujar dia.

Sementara itu, pemain ganda putra Indonesia lainnya Mohammad Ahsan mengantisipasi performa dari tim Denmark dan Inggris.

“Selain Denmark, Inggris juga bagus, saya berharap siapapun yang diturunkan harus siap,” kata Ahsan.

Senada dengan Fajar, Ahsan mengatakan kekompakan adalah kunci dalam menghadapi Piala Sudirman mendatang.

“Persiapan tinggal sepekan lagi, tinggal jaga kondisi dan menguatkan otot, yang penting jaga kondisi. Kita juga harus menjaga kekompakan. Persiapan dari sektor masing-masing sudah maksimal, yang penting kompak, saling mendukung satu sama lain,” ujar Ahsan.

Indonesia berada dalam Grup 1 bersama 11 negara lainnya yang terbagi dalam empat subgrup masing-masing Grup 1A: Jepang, Thailand, Rusia. Grup 1B: Indonesia, Denmark, Inggris, Grup 1C: Taiwan, Korea, Hong Kong, dan Grup 1D: China, India dan Malaysia.

Untuk sektor ganda putra, pada babak grup Indonesia akan menghadapi ganda Denmark dan Inggris. Pada Piala Sudirman 2019, Denmark akan diperkuat pasangan peringkat delapan dunia Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen serta pemain ganda senior Mathias Boe.

Sementara Inggris membawa pasangan ranking 17 dunia yang juga peraih medali perunggu Olimpiade Brasil Marcus Ellis dan Chris Langridge.
   

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gregoria Mariska fokus pelajari permainan lawan jelang Piala Sudirman

Jakarta (ANTARA) – Atlet bulu tangkis tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung fokus mempelajari pola permainan calon lawan menjelang kejuaraan Piala Sudirman 2019 di Nanning, China, 19-26 Mei mendatang.

“Sebelum bertanding harus sudah tahu akan bermain seperti apa. Kalau ada perubahan harus cepat tahu dan segera adaptasi,” ujar Gregoria usai latihan di Pelatnas PBSI, Jakarta Timur, Kamis.

Pada kejuaraan Piala Sudirman 2019, tim Indonesia di babak pertama akan menghadapi Denmark dan Inggris. Denmark bakal diperkuat  tunggal putri Line Hojmark dan Mia Blichfeldt, sedangkan tim Inggris diperkuat pemain tunggal putrinya, Chloe Birch.

Selain mempelajari pola permainan lawan melalui video pertandingan sebelumnya, Gregoria juga memaksimalkan latihan fisik dan kecepatan kaki.

Sebelumnya, pemain yang akrab dipanggil Grego ini gagal melaju ke babak semifinal kejuaraan level 300, New Zealand Open 2019 setelah kalah dari wakil Jepang, Akane Yamaguchi.

“Kemarin kendalanya antisipasi dan baca pola lawan kurang, kadang terbawa pola main lawan dan blank,” kata Grego menambahkan.

Hal senada diungkapkan asisten pelatih tunggal putri Indonesia Minarti Timur. Menurutnya, permainan Grego pada New Zealand Open 2019 sudah baik, namun masih terkendala pada adaptasi pola permainan.

“Permainannya bola agak pelan, jadi Akane mempercepat temponya. Grego baru menguasai pada akhir pertandingan,” ujar mantan pemain nasional itu.

Lebih lanjut, Minarti menyampaikan pemain kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah itu sudah diberi program latihan yang tepat agar bisa menyumbang poin pada Sudirman Cup yang akan berlangsung pada 19-26 Mei mendatang.

“Kita sudah evaluasi dan meningkatkan intensitas latihan. Tinggal nanti di lapangan, mereka harus lebih yakin dengan pola main mereka,” kata Minarti.

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ahsan tetap puasa di tengah latihan jelang Piala Sudirman

Jakarta (ANTARA) – Pemain bulu tangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan tetap menjalani ibadah puasa Ramadhan di tengah latihan menjelang kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman yang akan digelar di Nanning, China, 19-26 Mei 2019.

“Saya baru latihan hari ini, Insya Allah saya coba (puasa), yang penting kan niatnya dulu,” ujar Ahsan saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis.

Meski berpuasa, katanya, tidak ada perubahan jadwal latihan.

Ahsan dan pasangannya Hendra Setiawan yang pekan lalu meraih gelar di Selandia Baru, akan memperkuat tim Merah Putih  di Piala Sudirman.

Berbeda dengan Ahsan, pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto memilih untuk tidak menjalankan ibadah puasa saat Ramadhan kali ini.

“Enggak (puasa) hari ini. Kemarin coba setengah hari puasa, habis itu malamnya agak lemes gitu,” kata Rian.

Hal senada juga disampaikan Fajar. Dia mengatakan akan berpuasa pada hari libur, Sabtu dan Minggu. Fajar berencana untuk mengganti puasa usai Lebaran nanti.

“Bingung juga. Kita berpuasa, di sisi lain kewajiban kita sebagai atlet harus menjaga kondisi. Hari lain saat latihannya padat mungkin kita enggak puasa, bukannya enggak mau puasa, tapi stamina kita persiapkan,” ujar Fajar.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti mengatakan PBSI memberikan kebebasan kepada semua atlet untuk menjalankan ibadah puasa atau tidak.

Namun, Susy berharap para atlet bersikap profesional, mengetahui kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri agar tidak sakit.

“Karena kita tahu ini tugas negara, kita tahu atlet itu harus profesional, harus tanggung jawab, harus mengerti kondisi diri masing-masing pribadi. Kita kembalikan lagi ke atletnya masing-masing,” ujar Susy.

Tim bulu tangkis Indonesia akan berlaga pada kejuaraan Piala Sudirman pada 19-26 Mei di Nanning China. Pada babak penyisihan grup, Indonesia akan menghadapi tim Denmark dan Inggris. Dua tim teratas lolos ke perempat final.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia bertekad pulangkan Piala Sudirman setelah 30 tahun lepas

Jakarta (ANTARA) – Tim bulu tangkis Indonesia bertekad memulangkan Piala Sudirman ke Tanah Air setelah salah satu trofi prestisius di ajang kejuaraan tepuk bulu internasional itu terlepas sejak 30 tahun lalu.

“Tujuan utama kita pasti mengembalikan Piala Sudirman karena sudah 30 tahun ya. Jadi semangat itu yang menjadi motivasi kita,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti di Jakarta, Kamis.

Indonesia merebut Piala Sudirman pada gelaran kejuaraan beregu campuran dua tahunan itu untuk pertama kalinya pada 1989. Saat itu Indonesia menjadi tuan rumah dan di final mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2.

Meski pada Piala Sudirman 2017 langkah Indonesia harus terhenti pada fase grup, Susy yakin tekad kuat atlet bisa membawa Indonesia menuju kemenangan.

“Sekarang ini kekuatan badminton merata. Di New Zealand Open kita juara umum, tapi China dan Jepang tidak dapat gelar. Jadi tergantung kondisi terakhir atletnya, strategi yang pas dan paham kondisi lapangan,” kata Susy.

Menurut Susy, kejuaran Piala Sudirman yang menggunakan sistem beregu ini, segala kemungkinan bisa terjadi karena pemenang ditentukan melalui perolehan poin dari tim bukan kemenangan perorangan.

Susy mengatakan PBSI sudah menyusun strategi dengan menurunkan tim terbaik guna membawa pulang piala dua tahunan yang akan berlangsung di Nanning, China, 19-26 Mei mendatang.

“Kita akan turunkan tim sesuai kebutuhan dan melihat dari siapa kita bisa mengumpulkan poin. Setiap sektor punya tanggung jawab dan tugas yang sama untuk menyumbang poin,” kata Susy.

Terkait persiapan menuju Piala Sudirman, Susy menyampaikan jika selama pelatnas tidak mengadakan uji coba karena jadwal atlet yang terlalu padat. PBSI berfokus pada peningkatan kekompakan tim dan kualitas permainan termasuk akurasi pukulan.

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019